LOGIN
"Hiksss… Ayah, Ibu, Kakak… bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian?" tangis seorang anak laki-laki. Ia berjalan di tengah hutan yang diguyur hujan lebat.
Langit hitam dengan kilatan petir dan suara angin kencang seolah menggambarkan isi hati anak laki-laki itu. Ia baru saja kehilangan keluarganya karena sebuah pembantaian. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh, yang membuatnya ingin terus menangis tanpa henti. Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak mengerti harus berbuat apa. Dengan segala perasaan yang membendung, ia terus melangkahkan kaki tanpa tahu arah. "Hiksss… Ibu…" Anak itu berhenti di bawah sebuah pohon besar. Ia duduk, memeluk kedua lututnya, dan menenggelamkan wajah di sana. Isak tangisnya semakin kencang. Sebuah gelombang energi tercipta dari tubuh anak itu, membuat genangan air dan dedaunan di sekitarnya terlempar menjauh. Hujan kembali turun dan menggenang di sekelilingnya. Selama beberapa menit, ia terus menangis tanpa henti dan terus menciptakan gelombang yang sama tanpa disadarinya. Setelah beberapa saat, tangisannya berubah menjadi isakan, dan hujan hanya menyisakan rintik-rintik. Tiba-tiba, sekelompok orang berbaju serba hitam muncul dari atas langit. Mereka mendarat tepat di belakang anak laki-laki yang masih meringkuk, tidak memedulikan sekeliling. "Itu dia anak kecil yang berhasil lolos. Cepat, habisi dia!" titah seorang pria yang memimpin kelompok tersebut. Seorang wanita dengan kipas besi dan cadar di wajah, serta seorang pria yang membawa pedang besar berwarna hitam pekat, maju ke depan. Pedang itu masih berlumuran sisa-sisa darah yang terlihat sangat jelas. "Anak kecil lemah seperti ini, bagaimana dia bisa mempersulit kita?" ucap pria pembawa pedang. "Kamu jangan meremehkannya, Xi. Pemimpin kita saja sepertinya tidak berani berhadapan langsung dengan anak ini. Jadi, kita harus berhati-hati," balas si perempuan, memperingatkan. Ia tahu betul mereka diutus ke sini oleh pemimpin mereka karena anak kecil ini sangat berbahaya, dan mereka hanya dijadikan umpan. Pria itu hanya mengangguk malas dan bersiap siaga. Ketika mereka hanya berjarak beberapa langkah dari anak itu, anak itu bergerak dan mengangkat kepalanya. Udara di sekitar mereka langsung berubah hening. Sebuah tekanan besar menyerang semua orang. Bahkan dua orang di depan anak itu sampai tidak bisa bernapas. Mereka saling melirik, memberi isyarat 'kita serang bersama'. Keduanya mengangguk dan mengangkat senjata masing-masing. Di sisi-sisi kipas wanita itu tiba-tiba muncul lelehan racun berwarna hitam pekat, dan pria itu mengangkat pedang besarnya. Mereka baru saja melangkah satu langkah, ketika anak itu menoleh dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Keduanya langsung hancur menjadi kabut darah saat anak itu menatap mereka. Tatapannya sangat sendu, tetapi di dalamnya terdapat kekuatan serangan yang sangat dahsyat dan tidak bisa ditahan. Serangan itu begitu mendadak. "Semuanya, berpencar dan kepung!" perintah sang pemimpin kepada yang lain. Meskipun mereka semua terkejut dan ketakutan, mereka sadar tidak akan selamat jika kabur. Jadi, mereka bertekad untuk menyerang saja daripada mati tanpa perlawanan. "Si… siapa kalian?" tanya anak itu. Sebuah gelombang berwarna kebiruan tercipta, dan dengan segera, semua orang berbaju hitam itu membentuk dinding pelindung dengan kekuatan masing-masing. "Sialan, ternyata bocah ini lebih kuat dan berbahaya daripada pemimpin dan tuan kita!" ucap salah seorang dari mereka. Yang lain mengangguk setuju. Tidak ada yang berani bersuara atau maju, karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tatapan dan suara anak itu saja sudah bisa membunuh prajurit elit paling berbakat di antara mereka. Lalu, bagaimana mereka bisa menyerang anak itu? Mata pemimpin kelompok itu terlihat gelisah. Ia melihat orang-orangnya dan berniat mengorbankan mereka agar ia bisa menyelamatkan diri. "Kalian semua, maju! Karena meskipun kita kabur sekarang dan kembali ke markas, nyawa kita tetap akan melayang!" teriak pemimpin itu, memberi perintah mutlak. 'Sialan,' batin semua orang. Mereka serempak menatap pemimpin mereka. Namun, karena tidak ada pilihan lain, mereka menyerbu maju. "Ayo maju!" teriak mereka bersamaan, mengerahkan kekuatan ekstrem yang mereka miliki. 'Ini saatnya aku pergi,' batin sang pemimpin, siap melangkah pergi. Anak laki-laki itu melihat hal tersebut dan menutup matanya. Bayangan pembantaian keluarganya kembali terputar di benaknya dengan sangat jelas. Ayahnya ditusuk banyak pedang oleh orang-orang berpakaian emas, kepala kakak-kakaknya dipenggal, dan ibunya disiksa dengan sangat kejam hingga mati. Semua itu terlihat begitu nyata. Urat-urat di kepalanya muncul dengan cahaya kebiruan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya semakin erat terpejam. Semakin jelas kejadian buruk yang dilihatnya, membuat jantungnya berdegup kencang, dan sebuah segel di dalam jantungnya hancur. Ia memegang telinganya dan kembali meringkuk. "Tidaaakkkk!" teriaknya sangat keras. Sebuah gelombang dahsyat dengan cahaya biru terang tercipta dari suaranya. Semua orang yang melihat itu membelalakkan mata. Meskipun ingin menghindar, mereka tidak sempat karena gelombang itu menyebar sangat cepat. Bahkan pemimpin kelompok yang akan kabur tidak lolos dari gelombang yang menghancurkan segalanya itu. Orang-orang berubah menjadi kabut darah, sedangkan pepohonan dan bebatuan di sana berubah menjadi abu hitam. Gelombang itu menciptakan lingkaran besar yang hanya menyisakan tanah dan abu hitam. Di tengah lingkaran, ada abu merah dan anak itu berada tepat di tengahnya. Kejadian tersebut ternyata disaksikan oleh tokoh-tokoh hebat dari berbagai negara dan sekte besar di dunia. Anak itu kini tidak sadarkan diri, dan perlahan menghilang tanpa ada yang tahu ke mana ia pergi. "Ayah… Ibu… Kakak… aku kangen kalian," itulah ucapan terakhirnya sebelum keberadaannya menghilang. Di sebelah barat, tepat di perbatasan hutan, seorang pria berpakaian serba putih dengan tudung di kepalanya, bersama seorang pria lain, menatap datar ke depan. "Bai Zhen, menurutmu apa yang akan terjadi sekarang? Dengan musnahnya keluarga bangsawan Ling, orang-orang yang bersembunyi karena takut pada keluarga Ling pasti akan kembali muncul," ucap pria berambut hitam pekat dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, dari ucapannya tersirat kekhawatiran akan kehidupan di dunia yang pastinya akan berubah menjadi lebih mengerikan. Pria bertudung itu menggeleng sedikit, "Semuanya akan sangat kacau. Kekejaman dan penindasan akan semakin merajalela. Kita hanya perlu membawa orang-orang dari sekte kita untuk mengasingkan diri dari kekacauan yang akan terjadi. Biarkan semuanya terjadi seperti yang telah tertulis dalam takdir, karena suatu hari nanti anak itu akan muncul kembali dengan seseorang yang membawa misi dari Sang Pencipta alam semesta, untuk membersihkan dunia ini dari kekacauan dan memperbaiki aturan dunia yang menyiksa orang-orang lemah dan tidak berdaya." Pria berambut hitam itu mengangguk. Meskipun ia tidak begitu mengerti tentang 'Sang Pencipta alam semesta,' ia percaya dengan apa yang akan terjadi. Ramalan Bai Zhen tidak pernah salah, berkat kekuatan penglihatan masa depan yang dimilikinya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Bai Xuan, secepatnya kita pergi dari sini dan membawa semua orang di sekte ke tempat pengasingan yang telah aku siapkan," ujar Bai Zhen. Ia melirik Bai Xuan. Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya mengangguk. Seketika mereka menghilang dari sana, menyisakan orang-orang dengan tatapan puas melihat sisa-sisa kehancuran yang anak kecil itu buat. Mereka mengira anak itu telah tiada bersama ledakan kekuatan terakhirnya. "Sekarang kita tinggal menata ulang hukum kehidupan di dunia ini, karena sudah lama sekali aku menunggu hari-hari ini," ucap pria berjenggot yang mengenakan pakaian emas dan mahkota. "Tentu saja Yang Mulia Raja Bei Cou, kami juga menantikan hari-hari ini. Dengan musnahnya keluarga Ling, kita bisa menata ulang kehidupan di dunia ini dengan aturan yang kita buat," balas seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup terbuka. Ucapannya terdengar menggoda, dan ia adalah salah satu dari enam orang berkuasa. "Selamat untuk semuanya," ucap mereka serempak, dengan senyuman yang memiliki makna berbeda bagi setiap orang.di sudut terjauh bagian bangunan sekte ilusi, terdapat sebuah rumah kayu yang sudah lapuk hampir reyot berdiri dengan sunyi. Dan itu adalah rumah kediaman keluarga Kaelan. Di dalamnya, terdapat seorang wanita tua, ibu dari Kaelan sedang tertidur lelap, dia tidak menyadari bahwa maut sedang merayap masuk ke halaman rumahnya. Muncul enam sosok berpakaian hitam di halaman rumah yang hampir rubuh itu, dan mereka adalah anggota dari faksi rahasia Elder Lin yang bergabung dengan Tetua Chang Min yang selalu menindas keluarga Kaelan. para kultivator itu bergerak dengan kelincahan predator. Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka di mata kirinya, memberi isyarat tangan. "Ingat instruksi Elder Lin," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang ditelan angin. "Jangan bunuh wanita penyakitan itu. Karena kita membutuhkan dia hidup-hidup untuk memastikan Kaelan tidak bisa melawan. Jika bocah itu berani bertindak, maka wanita ini akan menjadi taruhannya agar dirinya tidak berani
Larut malam telah tiba ketika Wo Long dan Thanzi melangkah menyusuri jalan setapak berbatuan menuju bukit tempat tinggal mereka yang terisolasi. Suara jangkrik dan desir angin di antara pepohonan bambu memberikan melodi ketenangan yang sudah lama tidak Wo Long rasakan. Setibanya di dalam bangunan kayu, Wo Long tidak langsung beristirahat. Ia menuju ke meja kerjanya yang dipenuhi dengan tanaman obat kering dan botol-botol kristal. Thanzi duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memperhatikan Wo Long dengan tatapan lembut. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, Thanzi melihat ketegangan di bahu Wo Long mulai mengendur. Tidak ada lagi api kemarahan yang meluap-luap seperti saat Wo Long berlatih di bawah air terjun tempo beberapa hari. "Kau akan mulai meracik lagi, Kak?" tanya Thanzi sambil tersenyum kecil. Wo Long mengangguk, tangannya dengan terampil memilah kelopak bunga Matahari Pagi. "Latihan fisik memang penting, tapi untuk seorang alkemis sejati, ketenangan dapa
Siang itu, matahari di atas wilayah perbatasan Kerajaan Angin terasa menyengat, namun di tepi sungai yang mengalir di kaki gunung dekat Sekte Ilusi, udara terasa lebih sejuk berkat rindangnya pohon-pohon kuno. Sekelompok murid perempuan, yaitu Mei-Mei, Xuan Ji putri Kepala Sekte, Han Lie, Wei, Zhee Lin, dan yang lainnya, yang baru saja menyelesaikan tugas harian mereka mengambil air dan mencuci jubah-jubah latihan. Suasana sangat riuh dengan tawa dan obrolan ringan. Mereka sedang membicarakan betapa pesatnya kemajuan kultivasi mereka sejak kedatangan kelompok Wo Long. "Kalian juga melihatnya bukan? Sejak meminum pil pemurni meridian dari Tetua Zee, gerakanku menjadi jauh lebih ringan," puji Xuan Ji sambil memeras kain. "Benar, rasanya seperti beban berat di tubuhku juga terasa seperti terangkat," jawab murid sekte perempuan lainnya dengan wajah berseri-seri, sedangkan Mei-Mei dan teman-teman kelas B perempuan lainnya hanya tersenyum geleng-geleng kepala. Namun, keceriaan itu m
Thanzi, yang kini telah mampu berdiri tegak dengan aura Ranah Raja Puncak yang tenang namun menindas, berjalan perlahan keluar dari bukit belakang setelah pamit terlebih dahulu kepada Wo Long. Di sampingnya, Komandan Ren berjalan dengan langkah tegap, menjalankan tugasnya untuk memperkenalkan dunia yang selama setahun ini hanya dirasakan Thanzi lewat sisa-sisa energi. "Tuan Muda Thanzi, selamat datang di sekte kami," ujar Komandan Ren dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Aku tahu dari Tuan Muda Eo Long kalau kalau tuan muda pasti bisa merasakan sekitar saat tertidur, tapi melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal yang berbeda." Dirinya di mintai oleh Tetua Bao Li agar memperkenalkan tempat ini kepada Thanzi, dan dengan senang hati dirinya melakukan hal tersebut. Thanzi mengangguk pelan, matanya yang berwarna perak tajam menatap ke sekeliling. "Kau benar, Komandan. Saat aku tertidur lelap, aku hanya bisa merasakan getaran energi dan aroma. Aku tahu tempat ini lua
Setelah setahun lebih terlelap dalam belenggu racun, Thanzi akhirnya terbangun. Ruangan alkimia yang biasanya panas dan penuh tekanan kini terasa dingin setelah tungku peracikan dipadamkan. Thanzi mendudukan dirinya di tempat tidur batu giok, ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Di depannya, terdapat Wo Long berdiri dengan tatapan penuh keharuan. Namun, di balik senyum hangat orang yang telah dirinya anggap sebagai kakaknya sendiri, Thanzi merasakan sesuatu yang mengganjal padanya, seperti ada sebuah kekosongan yang dalam, seolah-olah separuh jiwa Wo Long baru saja direnggut paksa. Thanzi menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mencium sisa-is aroma yang lembut, aroma yang tidak berasal dari bahan obat mana pun. "Kak..." suara Thanzi pelan, namun berwibawa. "Di mana perempuan yang selama ini bersamamu?" Wo Long tertegun sejenak. Tangannya yang sedang merapikan botol obat sedikit gemetar, namun ia segera meng
Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun tak terbendung di bukit belakang Sekte Ilusi. Satu tahun telah berlalu sejak Wo Long membawa Lin Xiao kembali dari kengerian Hutan Beracun. Satu tahun yang tidak hanya diisi oleh uap tungku alkimia dan aroma obat yang pahit, tetapi juga oleh untaian perasaan yang tumbuh di sela-sela perjuangan mereka berdua untuk menyelamatkan orang-orang tersayang mereka. Ruangan alkimia terlarang itu kini tidak lagi terasa dingin dan kaku. Berkat kehadiran Lin Xiao, tempat itu memiliki sentuhan kehidupan. Ada bunga-bunga liar yang diletakkan di dalam vas tanah liat, dan suara tawa kecil yang sesekali pecah di tengah keheningan malam saat mereka berdua beradu argumen tentang dosis tanaman obat. Selama satu tahun ini, Wo Long dan Lin Xiao bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Setiap malam, mereka duduk berseberangan di depan Tungku Naga Langit. Wo Long mengendalikan api emas yang ganas, sementara Lin Xiao, dengan tangan yang lembut namun







