Banyak yang nggak tahu kalau Devan Alana itu ternyata punya hobi unik: koleksi kaset rekaman lawas dari tahun 90-an. Rumahnya di Bandung punya ruangan khusus buat nyimpen ribuan kaset mulai dari pop Indonesia sampai indie label yang super langka. Dia pernah cerita di podcast favoritku gimana dulu waktu kecil sering nebeng ke studio rekaman omnya, jadi jatuh cinta sama proses produksi musik analog.
Yang bikin tambah keren, Devan ternyata jago main alat musik tradisional Sunda. Ada video viral pas dia main kecap di acara komunitas budaya lokal, bikin netizen kaget karena selama ini publik cuma kenal sisi modernnya. Katanya, itu cara dia tetap connect sama akar budaya sendiri meskipun berkarya di industri hiburan yang serba digital.
Ada sesuatu yang magis tentang dekapan dalam cerita cinta yang bikin adegan itu selalu berhasil menyentuh hati. Mungkin karena sentuhan fisik adalah bahasa universal untuk menunjukkan kehangatan dan rasa aman. Dalam 'Normal People', misalnya, dekapan antara Marianne dan Connell terasa lebih intim daripada dialog panjang—itu momen di mana mereka benar-benar 'berbicara' tanpa kata.
Dekapan juga sering jadi simbol resolusi konflik. Bayangkan adegan klasik di mana pasangan bertengkar lalu berpelukan—rasa marah menguap karena tubuh mereka saling menemukan ritme yang sama. Bukan cuma romantis, tapi juga humanis. Kita semua butuh pelukan, dan cerita cuma mengingatkan hal itu.
Dekapan dalam film drama seringkali lebih dari sekadar gestur fisik—ia menjadi bahasa universal yang bisa menggantikan ribuan dialog. Ada adegan di 'The Notebook' di mana dekapan antara Allie dan Noah di tengah hujan tidak hanya menunjukkan cinta, tapi juga pergolakan emosi, pengorbanan, dan harapan yang terpendam. Gestur sederhana ini bisa menjadi klimaks dari sebuah konflik atau titik balik hubungan karakter.
Di sisi lain, dekapan juga bisa menjadi simbol kehilangan atau perpisahan. Bayangkan adegan di 'Titanic' ketika Jack memeluk Rose untuk terakhir kalinya—itu bukan sekadar pelukan, melainkan perwujudan dari cinta yang harus berakhir karena tragedi. Dalam konteks ini, dekapan menjadi pisau bermata dua: menghangatkan sekaligus menyayat hati penonton.