LOGINPerjanjian Pra-nikah tak menjamin rumah tangga baik-baik saja. Mengetahui berbagai rahasia dari selingkuhan suami terasa sangat konyol bukan? Ini yang dirasakan oleh Dea di masa lalu. Icha, selingkuhan suaminya tiba-tiba mengajak bertemu. Perempuan itu mengungkap berbagai fakta mengejutkan yang dilakukan suami hingga kakak kandungnya sendiri. Padahal ia sudah menyiapkan gugatan cerai pada Kevin, suaminya. Sayangnya setelah bertemu dengan Icha, ia mengurungkan niatnya karena rencana awal yang sudah ia susun sedemikian rupa hancur lebur tak ada arti. Kini ia akan membalas dendam dari rasa sakit yang ia dapatkan selama pernikahan. Satu kenyataan pahit yang tak diduganya adalah ia merupakan istri taruhan dari permainan konyol Kakak kandung dan suaminya. Berhasilkah Dea membalaskan dendam atas semua penderitaannya selama ini? Apakah karma akan berlaku pada semua orang yang telah menyakitinya? Untuk mengetahuinya, Anda bisa membaca “DENDAM ISTRI TARUHAN” berikut ini.
View More"Master, this is the third time we are going to resurrect him. Are you sure we should continue?"
"Please continue."
"Master, this is our final chance."
"Continue, please, I beg of you, continue." I knelt before the elderly man, pleading.
It was the first time in my life that I had to beg someone, beseeching our family's magician butler to once again revive a human man.
The first time, my dominance and brutality had led to his demise; the second time, my deceit and selfishness had caused his death; and now, the third time, my delusions and recklessness had resulted in his demise once more.
His gradually cooling body lay before me once again.
The magician butler had warned me beforehand that if we were to resurrect him, his life would become even more arduous, his personality would become simpler. Despite knowing this, I had agreed without hesitation, confident in my ability to protect him. I had assured the magician butler that there wouldn't be a next time, that I would cherish him, love him, and guard him. Yet, here we were, at our last chance. I couldn't afford to make another mistake.
What had he done wrong? When would I ever get it right?
"Master, I cannot bear to see you beg like this, please rise."
"No, you can bear it. As long as you help me, I'll do anything you ask, anything you want, I'll give it to you."
"Master, I don't need anything. As the butler of the Lucas family, fulfilling the master's orders is my duty."
"No, you're not just a butler, you're my benefactor, the benefactor of this useless person."
"Master, you..."
"I'm useless, I can't even protect him."
"You're not, you are..."
"Useless! I'm the most useless person in the world!"
It was the first time I admitted to my own incompetence. Previously, I had exuded confidence, self-love, arrogance even, to an extent where others wouldn't dare criticize or mock me, because I wasn't just an ordinary person, I was Ryan.
Ryan Lucas. I hailed from the Lucas family, a fairly successful business dynasty, not exactly a household name, but well-known among peers.
Since childhood, everyone I encountered, whether familiar or stranger, would utter the same phrase to me - "You're really good-looking." Undeniably, there were times when I looked in the mirror and thought I was quite handsome indeed. With my golden eyes, prominent nose, lips that many women coveted, skin healthier and more alluring than any vampire's, and a robust physique inherited effortlessly through family lineage, I attracted admirers wherever I went—men and women alike, old and young. While options were plentiful, discerning who was genuine became a daily challenge. But that wasn't the extent of my troubles.
My true anguish began when I reluctantly joined a club in college. Disinterested in most things and only somewhat interested in football, I joined the football club, thinking it would be a tolerable option. However, from the moment I started training, I felt disaster looming. The football field was overcrowded to the point of nearly being demolished, I endured harsh exhortation from the coach, and eventually, I was banned from training in public. In essence, joining or not joining the club made little difference.
Despite my seemingly perfect exterior, I carried two secrets.
Firstly, I was not entirely human, I was a werewolf, and not just any werewolf, but the most noble of the werewolf lineage, a white wolf.
Secondly, I did not harbour affection for women. While I had engaged in relationships with women in the past, they never elicited any genuine response from me. As for men, those who pursued me were often too clingy for my liking, and any relationship with them ultimately dissolved—except for him.
These secrets, while significant, do not trouble me greatly. Even with my non-human nature and lack of attraction to women, I was still able to live the life I desire. However, his presence had transformed me from the pursued to the pursuer, awakening within me desires and emotions I never thought possible, changed me from someone who could have anything to someone consumed by control and possessiveness. He drove me to madness, leading me to commit terrible deeds, resulting in his death, and not just once.
I didn't know if he understood every action and sentiment of mine. But even if he didn't, it didn't matter. No matter what he became, he was the person I wanted to protect, the person I loved most.
My love for him began in my second year of college….
"Perutku sakit banget, Sayang. Seperti kontraksi," jawab Dea dengan suara gemetar.Andre segera memeriksa jam tangannya. "Tapi ini belum waktunya, kan? Masih beberapa minggu lagi!" Namun, melihat ekspresi Dea yang pucat, ia tak berani menunda. "Kita ke rumah sakit sekarang. Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil."Dea mengangguk, meski tubuhnya terus menggeliat karena rasa sakit. Andre kembali dengan mantel dan payung, membantunya bangun dengan hati-hati.Di perjalanan menuju rumah sakit, Dea terus mencengkeram lengan suaminya. Pria itu pun dibuat kalap dengan satu tangan memegang kemudi. "Aduh, Mas sakit banget. Aku nggak kuat," keluhnya.Andre berusaha tetap tenang, meskipun dadanya terasa sesak melihat istrinya kesakitan. "Sayang, bertahan ya. Kita sebentar lagi sampai," katanya sambil mempercepat laju mobil.Setibanya di rumah sakit, para perawat langsung membawa Dea ke ruang bersalin. Andre mendampingi dengan wajah penuh kecemasan. Dokter masuk dan memeriksa kondisi Dea dengan ce
“Waalaikumsalam,” jawab Icha cepat-cepat sambil membuka pintu. Berdiri di sana, Kevin dengan setelan kerjanya yang rapi, wajahnya tampak lelah, tetapi ada senyum tipis yang terukir.“Kamu baru pulang?” tanya Icha langsung, nada suaranya sedikit tajam meski ia mencoba menahannya. Evan yang masih dalam gendongannya mulai merengek lagi, membuatnya semakin frustasi.Kevin mengangguk sambil melepas sepatu. “Iya, maaf lama. Ada kerjaan tambahan tadi. Stok baju menumpuk dan harus di display. Ditambah, aku juga menambah manekin sesuai idemu. Aku sudah memasang banyak setelan yang kamu atur.” Ia mendekati mereka, mengusap kepala Evan yang langsung melenguh kecil, tetapi tetap rewel.“Aku hampir gila sendiri di rumah, tahu nggak?” keluh Icha sambil membawa Evan ke ruang tamu. Namun, ada kebahagiaan sendiri karena ide yang sempat ia katakan pada Kevin, sekarang telah teralisasikan. Dia yang dulunya suka shopping dan selalu memakai outfit kece, ternyata bisa merembak ke bisnis toko baju yang mere
Beberapa hari setelah kabar kehamilan itu, Andre dan Dea memutuskan untuk mengundang kedua keluarga mereka untuk makan malam di rumah. Andre telah mengatur semuanya, dari makanan hingga dekorasi sederhana yang akan digunakan untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.Dea berdiri di depan cermin, mengenakan gaun longgar yang sengaja dipilih karena ia mulai merasa tak nyaman dengan pakaian yang ketat di perut. Ia menyentuh perutnya yang masih datar dengan perasaan takjub, seolah tak percaya bahwa kehidupan baru tengah tumbuh di dalamnya.“Kamu cantik,” komentar Andre yang muncul dari balik pintu kamar. Ia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Dea.“Kamu yakin mereka akan senang?” tanya Dea sambil menatap Andre lewat pantulan cermin.Andre tertawa kecil, mencium kening Dea dengan lembut. “Ayah dan Mama pasti akan sangat senang. Apalagi Oma. Dia sudah lama menunggu kabar seperti ini.”Dea mengangguk, meski hatinya tetap berdebar. Ia masih merasa gugup untuk menyampaikan kabar terse
Setelah hampir dua minggu menikmati bulan madu yang penuh kenangan di Maldives, Dea dan Andre akhirnya kembali ke rumah mereka yang megah. Malam itu, mereka tiba di bandara dengan suasana hati yang lelah tetapi bahagia.“Welcome home, Pak Andre, Bu Dea,” sapa seorang pelayan ketika mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Bagi Dea rumah itu terasa lebih besar dari tempat yang selama ini ia tinggali, tetapi kehangatan dari staf yang menyambut mereka membuat Dea merasa nyaman.“Terima kasih,” jawab Andre singkat. Ia menoleh ke arah Dea, yang terlihat sedikit pucat. “Kamu capek? Mau langsung istirahat?”Dea mengangguk sambil tersenyum kecil. “Sepertinya begitu. Perjalanan panjang tadi bikin aku sedikit mual.”Andre mengernyit, menunjukkan kekhawatirannya. “Kamu yakin cuma capek? Jangan-jangan kamu sakit.”Wanita itu hanya tertawa kecil. “Nggak kok, mungkin hanya masuk angin. Besok juga pasti sembuh.”Andre menghela napas, tapi akhirnya mengangguk. “Kalau gitu, ayo naik. Aku bawakan kopermu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews