Pemes dari 'Tujuh Belas' itu karakter yang bikin penasaran banget. Awalnya aku kira dia antagonis karena sikap dingin dan manipulatifnya, tapi semakin dibaca, ternyata dia punya latar belakang traumatik yang bikin kita bisa relate. Dia nggak sepenuhnya jahat, tapi juga nggak bisa dibilang baik. Kayanya lebih tepat disebut antihero—berbuat buruk demi tujuan yang (menurut versinya) benar.
Yang bikin menarik, Pemes sering bikin audiens galau antara benci atau kasihan. Pas dia ngelakuin sesuatu yang kejam, eh tau-tiba ada flashback masa kecilnya yang miserable. Dulu sempet ngerasa penulisnya terlalu maksa 'redeem' karakternya, tapi setelah ngulik lebih dalem, ternyata kompleksitasnya justru bikin cerita lebih hidup.
Pertanyaan ini mengingatkanku pada diskusi seru di forum manga bulan lalu. Dalam banyak cerita, pare memang sering digambarkan sebagai sosok antagonis klasik, tapi bukan berarti selalu jadi musuh utama. Misalnya di 'Naruto', Zetsu hitam adalah pare tapi Orochimaru lebih dominan sebagai villain awal. Justru yang menarik, beberapa karya seperti 'Demon Slayer' malah memposisikan pare sebagai karakter kompleks dengan motivasi ambigu.
Tren terakhir juga menunjukkan pare mulai sering jadi antihero. Lihat saja Thorfinn di 'Vinland Saga'—awalnya antagonis, lalu berkembang jadi protagonis traumatis. Atau Guts dari 'Berserk' yang awalnya musuh Griffith, tapi narasinya justru berbalik. Tergantung bagaimana penulis memainkan perspektif dan kedalaman karakter.
Di antara tumpukan cerita yang pernah kubaca di Penana, yang paling nyatu di kepala biasanya bukan satu nama tertentu, melainkan tipe antagonis yang dibangun dengan lapisan trauma dan motivasi yang masuk akal. Aku suka ketika penulis menghadirkan musuh yang bukan sekadar jahat karena ingin jahat, tapi punya latar belakang — korban yang berubah menjadi predator, atau pemikir dingin yang percaya tindakannya akan membawa ‘kebaikan’ meski caranya brutal. Tipe ini sering bikin debat di kolom komentar, dan itu yang membuatnya ikonik.
Sebagai pembaca yang gampang terbawa emosi, aku paling terkesan kalau antagonisnya punya momen kecil yang humanis: sebaris monolog, tindakan penuh ragu, atau kilasan masa lalu yang menjelaskan segala kebengisan. Bukan hanya aksi besar yang membuat mereka mengerikan, tapi juga detil-detil kecil itu yang membuat pembaca terus memikirkan mereka setelah cerita selesai.
Kalau harus menyebut satu nama jadi 'paling ikonik', aku akan menolak memilih karena tiap komunitas di Penana cenderung punya favorit sendiri. Lebih tepat kalau aku bilang: karakter antagonis paling berkesan adalah yang mendapat pembangunan karakter yang konsisten, konflik batin yang nyata, dan efek panjang pada protagonis — karena karakter seperti itu yang masih kukanvas ketika malam gelap, entah saat aku lagi scrolling atau menulis fanficku sendiri.