Sanji dari 'One Piece' itu contoh karakter yang berkembang dengan sangat organik. Awalnya, dia sering digambarkan sebagai playboy yang suka mengganggu wanita, tapi seiring cerita, kita lihat dia punya sisi lebih dalam. Konflik dengan keluarga Vinsmoke dan latar belakangnya sebagai anak yang ditolak bikin karakter ini matang. Dia tetap romantis, tapi sekarang lebih bertanggung jawab dan punya harga diri. Oda, sang mangaka, piawai banget bikin karakter yang awalnya terlihat satu dimensi jadi kompleks.
Yang paling keren itu saat arc Whole Cake Island. Di sini, Sanji harus hadapi trauma masa kecil dan pilih antara kru atau darahnya sendiri. Adegan dia nangis sambil ngomong 'I want to go back to the Sunny' itu bikin banyak fans terharu. Perkembangannya dari sekadar koki mesum jadi sosok yang siap berkorban untuk teman-temannya bener-bener memorable.
Sanji memang punya reputasi sebagai 'si hidung darah' di 'One Piece', tapi sebenarnya lebih kompleks dari sekadar stereotip mesum. Karakternya didesain sebagai ladies' man yang romantis ala Prancis, terlihat dari sikapnya yang selalu memuji wanita dan menolak bertarung melawan mereka. Oda, sang mangaka, sengaja membangun persona ini untuk kontras dengan sifat brutalnya saat melawan pria.
Di balik itu, Sanji punya backstory menyentuh soal masakan dan hubungannya dengan Zeff yang membentuk prinsip 'hidangan adalah senjata'. Sayangnya, fans seringkali hanya ingat adegan komedi over-the-top seperti mimpi buruknya di Kamabakka Kingdom atau reaksi berlebihan saat bertemu Nami/Robin. Padahal, sisi loyalitas dan pengorbanannya untuk kru Just as Sahai seharusnya lebih diingat.
Sanji's 'flirty but never succeeds' shtick has become such a signature trait that fans mostly react with exasperated affection. There's a collective eye-roll whenever he nosebleeds into a coma over some random mermaid, but it's part of his charm—like how Zoro gets lost or Luffy eats everything. The fandom memes it relentlessly ('Sanji vs. any female character' compilations are gold), but deep down, people appreciate how even his perversion ties into his chivalry. Post-timeskip, when his antics got more extreme (that invisible DF obsession...), some called it repetitive, but Oda cleverly balances it with moments where his respect for women genuinely shines, like protecting Pudding without taking advantage. It's a love-hate quirk, but removing it would feel like losing a piece of his identity.
Interestingly, the anime's filler sometimes exaggerates it to cringe levels (looking at you, 'Sanji peeping on Nami' scenes), which sparks more debate. Manga readers often argue his portrayal is subtler there. Either way, the fandom collectively agrees: Sanji could cure cancer and still get distracted by a pretty nurse mid-sentence.