Sungguh, tokoh yang ngeselin itu sering jadi bumbu kuat dalam novel—dan aku selalu kagum bagaimana penulis bisa membuat rasa kesal itu terasa begitu nyata.
Pertama, penulis sering 'menunjukkan' daripada 'menceritakan': lewat tindakan kecil yang berulang, gestur, dan dialog yang menyakitkan. Misalnya, karakter yang suka memotong pembicaraan atau selalu meremehkan orang lain akan terpatri dalam kepala pembaca karena pola perilakunya konsisten. Aku suka saat penulis memberi reaksi dari karakter lain sebagai cermin—lihat bagaimana sekelompok teman bereaksi, itu memantapkan impresi bahwa si tokoh memang menyebalkan.
Selain itu, sudut pandang sangat menentukan. Kalau cerita diceritakan lewat mata korban atau orang yang terganggu, rasa sebal itu terasa intens; sebaliknya, kalau penulis memakai sudut pandang si tokoh ngeselin, sering muncul humor gelap atau simpati meskipun pembaca masih terganggu. Aku sering terpesona oleh penulis yang bisa meramu iritasi jadi bahan refleksi—bukankah itu efektif sekaligus cerdas? Aku berakhir sering menunggu momen di mana si tokoh ini akhirnya tumbuh atau mendapatkan karma yang pas.