Baru saja selesai membaca 'Terjebak Hasrat Terlarang Tetangaku' minggu lalu, dan langsung penasaran dengan sosok di balik cerita yang bikin deg-degan ini. Ternyata, penulisnya adalah Riawani Elyta, salah satu penulis wattpad yang karyanya sering diangkat menjadi novel fisik. Gaya tulisannya khas banget—dialognya natural, konfliknya relatable, tapi tetep bikin tegang. Aku suka cara dia membangun ketegangan seksual tanpa jadi terlalu vulgar, dan karakter utamanya selalu punya depth yang bikin pembaca investasi emotionally.
Elyta juga punya ciri khas dalam memadukan romance dengan kehidupan sehari-hari yang kadang absurd. Di 'Terjebak Hasrat...', latar tetangga itu jadi semacam microcosm yang memperbesar dinamika power play antara karakter utama. Worth it buat yang suka romance dengan sedikit psychological undertone!
Kalau ngomongin Tenseigan di 'The Last: Naruto the Movie', ada beberapa kelemahan yang bikin nggak terlalu OP dibanding dojutsu lain. Pertama, pengaktifannya ribet banget, harus ada chakra dari klan Hyuga yang udah punah. Kedua, walaupun bisa ngeliat chakra kayak Byakugan, jangkauannya lebih terbatas. Nggak bisa sampe radius beberapa kilometer kayak Byakugan standar.
Yang paling ngeselin sih durasinya pendek. Hamura bisa pake Tenseigan terus-terusan karena dia Otsutsuki, tapi manusia biasa kayak Toneri bakal kehabisan chakra cepat banget. Belum lagi efek sampingnya yang bikin tubuh lemes habis mode ini mati. Jadi, ya, keren sih visually, tapi praktisnya kurang efisien buat pertarungan jangka panjang.
Ada sesuatu yang unik dari 'Berondong Tengil' yang membuatnya punya tempat khusus di hati penggemarnya di Indonesia. Meskipun tidak sepopuler karakter mainstream seperti Doraemon atau Shinchan, dia punya basis penggemar setia yang biasanya ditemukan di forum-forum komik indie atau grup Facebook pecinta komik lokal. Aku sendiri pertama kenal 'Berondong Tengil' dari teman yang koleksi komik lawas, dan sejak itu, aku suka carinya di pasar loak atau event komik kecil-kecilan. Karakternya yang nakal tapi polos itu bikin nostalgia sama masa kecil dulu, di mana komik lokal masih sering dibaca.
Yang menarik, komunitas penggemarnya sering bagi-bagi scan komik lama atau buat fan art. Mereka juga aktif di media sosial, meski skalanya nggak besar. Jadi, meski 'Berondong Tengil' bukan nama besar, dia tetap hidup lewar komunitas yang genuinely mencintai karya-karya lokal.
Ada suatu malam di Chiang Mai ketika aku memutuskan untuk menguji nyali dengan menginap di 'The Haunted Mansion', hotel yang disebut-sebut sebagai salah satu tempat paling angker di Thailand. Dari luar, bangunan kolonial bergaya Prancis itu terlihat megah tapi sekaligus mengintimidasi dengan pintu kayu besar yang berderit.
Begitu masuk, suasana langsung terasa berbeda. Resepsionis tersenyum tapi matanya kosong, seolah sudah terbiasa dengan tamu yang kabur sebelum subuh. Kamar 303—nomor yang sengaja kuminta karena konon paling sering 'dikunjungi'—memiliki cermin antik retak di sudut. Tengah malam, aku terbangun karena suara ketukan ritmis dari cermin itu. Anehnya, ketika kubuka, tak ada siapa-siapa... hanya bau melati kuat yang tiba-tiba muncul. Pengalaman itu membuatku sadar: hantu Thailand tidak selalu menakutkan, tapi mereka pasti tahu cara membuatmu merasa seperti tamu yang tidak diundang.