Dia Gampang Dibujuk
Tujuh
Tunanganku, Arthur Kusnandi, adalah seorang bos mafia yang memerintah seluruh dunia mafia negara ini dengan tangan besi. Di mata orang-orang, dia adalah perwujudan kekuasaan. Namun di mataku, dia adalah perwujudan cinta.
Hanya saja, aku tidak pernah menyadari harga apa yang harus dibayar untuk mencintai pria seperti dirinya.
Pada hari Valentine, aku memasak sendiri hidangan yang paling disukai Arthur dan menunggunya pulang ke rumah.
Waktu terus berlalu, tetapi kursi Arthur tetap kosong.
Dengan perasaan gelisah, aku akhirnya membuka beranda media sosial adik angkatnya, Bella Atmaja.
[Mau memuji seseorang. Aku cuma bilang aku kesepian, eh dia langsung datang.]
[Bahkan ketika aku nggak sengaja menumpahkan anggur ke tubuhnya, dia sama sekali nggak keberatan. Arthur memang orang yang selalu menempatkan keluarga di urutan pertama. Meski kekasihnya diabaikan, dia tetap nggak pernah mengecewakanku. Terus pertahankan seperti ini.]
Di dalam foto itu, bagian pinggang kemeja Arthur basah kuyup. Sapu tangan di tangan Bella bergerak dengan berbahaya di area paling intim tubuh pria itu.
Arthur tidak menghindar. Dia hanya menatap Bella dengan tatapan penuh kasih dan memanjakan.
Aku tidak membuat keributan apa-apa. Aku hanya memberi tanda suka pada unggahan Bella itu.
Kemudian, aku mengirim pesan kepada Arthur. [Kita putus saja.]
Seperti biasanya, Arthur mengabaikan pesan itu.
Belakangan barulah aku tahu, saat pesan putusku muncul di ponselnya, Arthur hanya merespons dengan nada santai.
"Valerie Winata nggak mungkin bisa hidup tanpa aku. Dia cuma lagi ngambek, hanya pura-pura doang kok. Kalau dibiarkan beberapa hari, dia akan kembali sendiri ke sisiku. Dia itu memang gampang dibujuk."
Arthur tidak tahu, selama ini aku mudah dibujuk hanya karena aku mencintainya.
Namun setelah aku memutuskan untuk pergi, tidak peduli bagaimana Arthur berusaha membujukku, dia tidak akan pernah lagi bisa membuatku kembali.