Canting Kirana
Pandanganku kabur. Kantuk yang janggal menyerang hebat saat aku menyetir di tepian jurang. Detik berikutnya, duniaku terbalik. Mobil beradu dengan batu. Tubuhku terhempas berkali-kali. Di sisa-sisa kesadaran, aku melihat cairan merah pekat mengucur deras di antara sela paha. Seketika hatiku hancur melebihi tulang-tulangku yang patah. Itu darah anakku! Buah hati yang baru akan kukabarkan pada suami tercinta.
Kupikir aku sedang sial hingga mengalami kecelakaan maut. Ternyata, fakta mengejutkan terkuak. Suamiku bersekongkol dengan adikku sendiri. Aku mati dengan dendam membara. Kali ini takkan ada cinta. Hanya ada rencana untuk menghancurkan mereka, mengirim keduanya ke dasar neraka.
805