Pergi Dari Belenggu Cinta
Hari kedua setelah resmi menikah, aku berdiri di bandara sambil memegang dua lembar tiket pesawat, menunggu suamiku, Yoel.
Akhirnya dia datang, tapi ada Wenny di belakangnya, sahabat masa kecilnya.
“Sayang, Wenny baru putus cinta. Aku mengajaknya ikut biar dia bisa melepas penat.”
Ujar Yoel menjelaskan dengan nada hati-hati.
Wenny mengenakan gaun pantai yang sama persis denganku, lalu melemparkan senyuman penuh permohonan maaf.
“Kak, aku nggak mengganggu kalian, ‘kan? Aku hanya mau ikut biar kecipratan kebahagiaan kalian saja.”
Aku melirik tangan Yoel, ada tiket ketiga yang terselip di antara tiket kami.
Nomor kusinya 16B.
Sementara, kursiku 16A dan Yoel 16C.
Yoel sengaja menempatkan Wenny tepat di tengah-tengah kami.
Aku berdiri membeku dan amarahku langsung meluap ke kepala.
Aku menarik Yoel ke samping dan berkata pelan,
“Suruh dia pergi atau aku yang pergi.”
Wajah Yoel tampak serba salah dan agak pasrah, dia menjawab, “Sayang, bisa nggak agak pengertian?”
“Wenny bilang dia takut sendirian di rumah, makanya mau ikut biar suasana kita juga lebih ramai.”
“Lagipula, aku dan dia sudah kenal sejak kecil. Pergi liburan bersama juga nggak masalah….”
Aku langsung memotongnya,
“Kalau kamu nggak suruh dia pergi sekarang, kita cerai hari ini juga.”