Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Aku Hampir Mati di Pesta

Aku Hampir Mati di Pesta

Setelah kekasih masa kecil tunanganku tahu aku memiliki penyakit jantung bawaan, dia dengan sengaja mencampurkan minuman energi konsentrasi tinggi ke dalam sampanyeku. Setelah aku meminumnya, detak jantungku tiba-tiba meningkat, rasa sakit di jantung menerpaku. Aku dengan panik merobek satu-satunya obat darurat yang aku bawa, namun air untuk aku minum obat telah diganti dengan air lemon berkonsentrasi tinggi. Setelah aku meminumnya, seketika wajahku menjadi pucat pasi, akhirnya tidak tahan dan terjatuh ke lantai. “Air lemon mengandung Vitamin C, lebih membantu mengatasi mabuk dan menjaga kesehatan.” Charlotte tertawa terbahak-bahak, dia menyilangkan tangannya sambil menatap ke arah tunanganku, bos Geng Rock Roller. “Ethan, akting tunanganmu yang seorang aktris ini benar-benar hebat.” “Selama bertahun-tahun aku menjadi dokter, tidak pernah lihat orang yang minum sedikit sampanye dan air lemon, malah bisa merasa tidak enak badan seperti ini.” Aku menggigit bibirku hingga hampir berdarah, menahan air mata yang muncul di mataku karena kesakitan dan menggenggam celana Ethan yang ada di depanku. “Sayang, cepat panggil ambulans, aku sudah tidak tahan!” Sedikit keraguan terlihat di mata Ethan, namun dengan cepat terhentikan oleh para tamu di sekitar. “Sudahlah, jangan akting lagi, mana ada orang yang mati karena minum sedikit sampanye dan air lemon.” “Ya benar, kamu hanya iri dengan Charlotte yang naik jabatan, tidak ingin bersulang untuknya, kan?” Seketika Ethan kembali ke ekspresi dinginnya, dia melangkah maju, langsung melepaskan tanganku yang menggenggam celananya. “Charlotte itu dokter, ada dia di sini, kamu tidak akan kenapa-napa di pesta.” Aku pun tidak memohon padanya lagi, langsung mengirim pesan darurat kepada ayahku.
Cerita Pendek · Mafia
8.2K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Skandal Terlarang Sang Pria Arogan

Skandal Terlarang Sang Pria Arogan

Marrygoldie
☣️PERINGATAN!!!!☣️ Cerita ini mengandung adegan dewasa yang sangat tidak cocok dibaca untuk anak dibawah umur. Jadi yang sudah masuk kategori dewasa, silahkan masuk dan menikmati cerita. Jika ada yang melanggar peringatan ini, Marry tidak bertanggung jawab dengan reaksi yang akan kalian alami. * * * * * "Lepaskan pakaianmu!” "Pakaianku?” Maria mengulangi ucapan Alex. "Apakah kau mulai berubah pikiran? Sudah kukatakan sangat terlambat jika ingin berubah pikiran sekarang, Maria.” Maria menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak berubah pikiran. Aku akan membukanya.” Dengan tangannya wanita itu meraba resleting yang berada di samping tubuhnya. Setelah menemukannya, Maria menurunkan benda itu sehingga gaunnya pun mulai melonggar. Dengan wajah yang memerah Maria membiarkan gaun itu meluncur ke bawah dan jatuh di sekitar kakinya. Alex terdiam mematung melihat tubuh indah Maria. Tidak ada penghalang yang menutupi kulit putih halus Maria kecuali celana dalam merah muda lembut yang dikenakannya. Maria menunduk merasa malu. Dia menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Kaki Alex melangkah menghampiri wanita itu. Dia meraih kedua tangan Maria dan menyingkirkannya dari dada wanita itu. "Sudah terlambat untuk merasa malu, Maria. Mulai malam ini kau adalah milikku.” Tepat setelah Alex mengatakan hal itu dia mendaratkan bibirnya di atas bibir Maria. * * * * * "Asalkan kau bersedia bercinta denganku, menghangatkan ranjangku setiap malam.” Permintaan yang sulit bagi seorang pianis tunanetra bernama Maria Goulart. Terutama permintaan itu keluar dari mulut kakak tirinya, Alex Feldman. Ketika status keluarga perlahan menguap membuat dua manusia jatuh dalam hubungan yang tidak seharusnya. Alex yang begitu dingin berubah menjadi lembut kepada Maria. Namun saat wanita itu mengetahui alasan mengapa sikap Alex berubah padanya, membuat kepercayaan Maria hancur. Bisakah Maria terlepas dari sang kakak? Atau dia justru terjatuh semakin dalam?
Romansa
1024.3K DibacaTertahan
Baca
Tambahkan
He Froze Me Out, so I Made His Legacy Burn

He Froze Me Out, so I Made His Legacy Burn

As the quality control supervisor of an import company, I need to finish up the storage of the final batch of king crabs before the Independence Day festivities. Just after entering the subzero freezer, the door is immediately locked shut. The alarm system also fails. When I realize I'm starting to lose body heat, I immediately take out the hand warmers from the emergency kit. However, the moment I apply them, a chilling sensation makes me instantly realize something is wrong. I scream from the cold, and the walkie-talkie transmits the boisterous laughter of my fiance, Martin Clay. "We're live-streaming and challenging the company's 'Ice Queen' to be locked in the freezer. Let's see how long she lasts!" The flirty voice of his female colleague, Lilian Saunders, also comes through, "Sierra, smile for the folks in the live stream! The number one donor wants to see it!" I instantly understand that they're live-streaming a prank on me. Not only did they lock me in the freezer, but they've also replaced my life-saving hand warmers with cooling patches meant for fevers! I grit my teeth, trying hard to stay calm as I call out to them for help. "The spare… spare hand warmers… Give them to me!" My fiance's voice rings out from the walkie-talkie, sounding unconcerned, "Oops! Lily gets cold easily, and it's her time of the month. The spares are all being used to keep her belly warm! "You're so healthy that you can just jump around a little and you'll warm up! You might even get some tips from the number one donor!" I stop arguing with them. With frozen hands, I pull out the signal flare gun and aim it at the most valuable and mysterious cargo in the freezer—a tube of frozen sperm worth 200 million dollars.
Baca
Tambahkan
La Falsa Susurradora de Cadáveres

La Falsa Susurradora de Cadáveres

Tras presentar mi solicitud para dejar el cargo de jefa de Medicina Forense y pedir el traslado a un puesto administrativo, en la comisaría a todos se les iluminó la cara. Sonrisas por todas partes. Aprobación unánime. Solo Olivia Montoya, la nueva forense… la "mejor amiga de la infancia" de mi novio, se vino abajo. La que se hace llamar la "Susurradora de Cadáveres". Entró hecha una fiera, me agarró con fuerza de la bata y, con los ojos enrojecidos, soltó: —Aunque tu técnica ya está pasada de moda, de verdad espero que te quedes. ¡Que sigas dándoles voz a las víctimas! Le aparté la mano con frialdad, recogí mis cosas y me di la vuelta para irme. Porque en mi vida pasada, ella se presentaba igual: decía que podía oír los susurros de los muertos y saber lo que habían vivido antes de morir. Yo me mataba trabajando: autopsia tras autopsia, revisando una y otra vez, redactando informes de autopsia con cada detalle. Ella, en cambio, solo necesitaba echarle un vistazo al cadáver… y podía recitar mi informe palabra por palabra, sin equivocarse ni una coma. Las familias de las víctimas la veneraban como si fuera un milagro andante. A mí me miraban con desprecio. Decían que yo profanaba al difunto, que no lo respetaba. No lo acepté. Me negué a rendirme. Me dejaba la vida en cada autopsia… pero ella siempre se me adelantaba, escupiendo toda la verdad como si ya la tuviera en la palma de la mano. Hasta que una familia, llevada al límite, me odió por ultrajar a su difunto. Me secuestraron. Me descuartizaron. Y me abandonaron en un baldío. Cuando volví a abrir los ojos… Había renacido justo el día en que Olivia anunció, por primera vez, que era la "Susurradora de Cadáveres".
Baca
Tambahkan
Gravidez vs. Bomba: Vendo Ele Enlouquecer

Gravidez vs. Bomba: Vendo Ele Enlouquecer

Giorgo era o Don da família Romero Ele foi emboscado por um lunático suicida que tinha bombas presas ao próprio corpo. Naquele momento, meu marido, Fábio Lopez, já havia levado seus homens para um desfile de moda ao lado de seu primeiro amor, Reina Digiorno, com a intenção de protegê-la durante o evento. Em vez de apertar o botão de sinal no anel que eu usava, eu me lancei contra Giorgo, mesmo estando com a gravidez bastante avançada. Foi assim que consegui usar meu próprio corpo para protegê-lo da explosão. Na minha vida anterior, eu havia apertado o botão. Fábio abandonou Reina às pressas e foi correndo ao local do atentado para salvar a vida de Giorgo. Graças a essa contribuição, ele foi promovido ao cargo de sottocapo. Mas Reina enlouqueceu de raiva por Fábio tê-la deixado antes do fim do evento. Movida apenas pelo ressentimento, ela atravessou a rodovia de forma imprudente e acabou sendo atropelada, morrendo no local. Embora Fábio não tivesse dito uma única palavra, ele escolheu me enviar para uma casa de leilões subterrânea exatamente no dia em que eu entrei em trabalho de parto. — O Don tinha vários soldados para protegê-lo! Por que você me obrigou a voltar naquele momento? — Ele me encarou com frieza, e sua voz estava carregada de desprezo. — Não foi só porque você queria a glória de ser a esposa do sottocapo? Se não fosse por você, Reina não teria morrido! — Ele continuou, sem qualquer piedade, os olhos cheios de ódio. — Você vai sofrer mil vezes mais do que ela sofreu! Eu só pude assistir enquanto os convidados faziam lances, um por um, pelos meus órgãos. Nem mesmo o cordão umbilical do meu recém-nascido foi poupado do leilão. No fim, eu morri de uma infecção causada durante a remoção dos meus órgãos. Quando abri os olhos novamente, eu já havia retornado ao dia em que Giorgo foi emboscado.
Cerita Pendek · Máfia
1.4K DibacaTamat
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status