Pipit Chie kembali menghadirkan karya yang bikin jantung berdebar-debar dengan novel terbarunya yang berjudul 'Sayap yang Terluka'. Ceritanya mengisahkan tentang Rara, seorang gadis remaja yang punya mimpi besar menjadi penari balet, tapi harus berhadapan dengan kenyataan pahit setelah kecelakaan merenggut kemampuan kakinya untuk menari. Yang bikin menarik, Pipit Chie nggak cuma fokus pada drama sedihnya aja, tapi juga menggali proses penerimaan diri dan pencarian identitas baru di tengah keterbatasan.
Novel ini dibumbui dengan dinamika keluarga yang kompleks, di mana Rara harus menghadapi ekspektasi tinggi dari orangtuanya yang sudah mematok masa depannya sebagai penari profesional. Ada juga sosok Galang, terapis fisik yang awalnya cuma jadi 'musuh' Rara karena dianggap terlalu keras dalam latihan, tapi lambat laut justru jadi support system terkuatnya. Pipit Chie berhasil banget mencampurkan rasa frustasi, harapan, dan percikan-percikan romance dengan pacing yang pas—nggak terlalu cepat tapi juga nggak bikin jenuh.
Yang bikin fresh, setting ceritanya pindah ke dunia street art ketika Rara mulai explore bakat barunya di bidang mural. Di sini pembaca dikenalin dengan komunitas seni jalanan yang colorful dan penuh energi, jadi kontras banget sama kehidupan Rara sebelumnya yang serba teratur di studio balet. Beberapa twist di akhir cerita, terutama tentang rahasia keluarga Galang dan konflik internal Rara menghadapi tawaran operasi rehabilitasi, bikin novel ini layak buat dibaca dalam satu kali duduk. Pipit Chie emang jago banget bikin karakter yang flawed but relatable, dan kali ini dia memberikan sentuhan lebih dewasa dibanding karya-karya sebelumnya.