Kafan Hitam
panggil Kiai yang masih tak bergerak dari posisinya, “segera persiapkan rencana untuk nanti malam. Kalian harus berangkat bakda isya nanti. Semakin cepat kalian menjemput Rojali, semakin cepat kita bisa mengorek informasi darinya. Jangan biarkan kejadian yang menimpa Lukman dan Deni juga menimpa pada Rojali.”
Setelah berkata demikian, Kiai keluar dari ruangan, memasuki kamar, meraih sesuatu dari dalam lemari. Tokoh yang paling dihormati di pesantren itu lantas duduk di pinggiran kasur, mengamati dua lembar foto dengan saksama.
Kiai mengembus napas panjang, fokus mengamati satu per satu potret yang ada dalam genggaman. Dilihat dari sudut mana pun, tak ada perbedaan sama sekali.
Bab Populer