Masa Lalu yang Meluruh Seperti Salju
Di kehidupan sebelumnya, Maya Asraf menikah dengan seorang "suami tak kasat mata".
Di hari dia bersalin, Maya mengalami perdarahan hebat hingga koma. Namun, panggilan teleponnya ke Howard Bandri tak pernah diangkat.
Setelah dokter menyadarkannya, dengan tangan gemetar dia menandatangani sendiri surat persetujuan operasi.
Saat anak-anaknya demam tinggi hingga 40 derajat, Howard tetap tidak menampakkan batang hidungnya.
Maya pun menggendong anaknya sendirian ke rumah sakit. Penjagaan selama tiga hari tiga malam, membuatnya sangat letih hingga jatuh pingsan di lorong.
Di hari orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Howard masih tidak ada.
Ketika dia membawa pulang kotak abu kedua orang tuanya, pamannya langsung menamparnya dan mencaci-maki dirinya yang tidak becus menjaga hati suami. Akibatnya, orang tuanya meninggal dengan tidak tenang karena menantu mereka tidak hadir di saat terakhir.
Hingga pada usia lima puluh delapan tahun, kanker stadium akhir merenggut sisa hidupnya.