Bukan Cinta, Hanya Balas Budi Semata
Setiap kali warga Salatikan memuji wanita cantik di abad itu, semua orang selalu tertawa secara serentak.
"Bukan hanya cantik, dia juga sangat lapang dada. Dia sampai membesarkan dua anak dari selingkuhan suaminya."
Oleh karena itu, saat aku mengajukan perceraian, tidak ada seorang pun yang menganggap ucapanku serius. Keanu bahkan tidak berkedip. Dia hanya melemparkan selembar cek padaku dengan santai. "Jangan bikin ulah, sana pergi beli dua tas sendiri."
Anak sulung hanya sibuk main game. "Jangan ganggu papaku. Kalau mau pergi, ya cepat pergi. Nggak usah pura-pura lagi."
Anak kedua malah langsung menelepon ibu kandungnya. "Penyihir tua itu sepertinya sudah mau pergi. Ma, siap-siap ya."
Bahkan para pelayan pun menggelengkan kepala dan menasihatiku agar berhenti main tarik ulur.
Namun saat menghadapi semua keraguan itu, aku tidak merasa sedih ataupun marah. Aku hanya menekan nomor yang sudah aku hafal di luar kepala dengan tenang. "Bu Lenna, janji sepuluh tahun itu sudah tiba. Aku sudah balas utang budi karena kamu selamatkan nyawa adikku."