Selir Yang Terlupakan
Kepala menunduk rendah, jepit rambut wisteria perak di rambutku memantulkan cahaya lilin sekejap, berkilau lembut.
"Yang Mulia," ucapku dengan suara jernih namun penuh hormat, cukup keras untuk didengar beliau tanpa melanggar aturan kesopanan. "Hamba Lianhua menyampaikan salam hormat atas kembalinya Yang Mulia dengan selamat."
Hening sejenak. Tak ada jawaban. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah desis lilin yang terbakar dan gumaman samar dari kejauhan.