Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
CINTA YANG TAK TERMILIKI

CINTA YANG TAK TERMILIKI

“Makan mah makan aja Neng. Jangan sambil ngomong. Kata orang jaman dulu mah pamali. Ngomongnya nanti kalau udah beres makan.” Dhira mengulum senyumnya mendengar Bi Asih mengatakan pamali. Kata ini menjadi semacam mantra bagi Bi Asih. Sesuatu yang tidak elok dilakukan, oleh Bi Asih pasti akan diiringi dengan kata pamali. Anehnya, Dhira serta kakak-kakaknya cenderung menurut tanpa membantahnya sedikitpun. Hanya si bungsu Kaivan saja yang selalu mempertanyakan arti dibalik kata pamali. Tentu Bi Asih tidak dapat menjelaskannya. Selesai makan, Dhira yang masih duduk menghadapi meja makan mengerutkan dahi saat dilihatnya ada seseorang yang tidak dia kenal masuk ke dalam dapur begitu saja.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai uncommon artinya
Baca
+Pustaka
Dipaksa Nikah

Dipaksa Nikah

Aku masih menyodorkan donat itu kepada Lea. “No! Undwe!” Ia berucap istilah korea yang benar-benar aneh menurutku, aku tahu jelas artinya apa, tapi cara ia mengucapkannya membuatku tertawa. Ia mengucap ‘Un’ seperti pengucapan ‘owl’ bibirnya monyong sempurna. Apa itu gayanya biar terlihat kiyowo, alias imut?
1021.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 526 kali sebagai uncommon artinya
Baca
+Pustaka
Ditikam Cinta

Ditikam Cinta

Ujar Elard “Namun yang harus kau ingat, aku berbeda dengan kakakku. Dimana aku tidak suka cara yang licik untuk mendapatkan sesuatu.” Ujar Elard, lalu Elard melihat sebuah lukisan yang tidak asing baginya. Elard bangun dari tempatnya dan ia berjalan kearah lukisan itu. Aarav terus memandangi Elard yang melangkah kearah lukisan itu. “Bukankah Ini Lukisan.” Ujar Elard
105.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 115 kali sebagai uncommon artinya
Baca
+Pustaka
Tukang Pijat Tampan

Tukang Pijat Tampan

Setiap gambar menunjukkan posisi yang berbeda; ada yang sederhana, ada yang rumit, ada yang terlihat mustahil untuk dilakukan di dunia nyata. Ukiran itu sangat artistik, tidak vulgar dalam arti yang kasar; lebih seperti seni suci, seperti ritual yang sakral. Tapi tetap saja, melihat semua itu membuat Adit dan Laras diam-diam merasa malu juga. Wajah keduanya memerah, mata mereka tidak berani bertemu. "Dit..." Larasati akhirnya berbicara, suaranya pelan dan ragu. "Kayaknya kita... duh gimana ya jelasinnya..."
10579.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18.5K kali sebagai uncommon artinya
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status