MasukPapa menatapku dengan tatapan protektif. "Jangan nak, jangan kamu yang bergerak sendiri. Biar Papa saja yang mengatur semuanya. Masalah Adit, biar dia masuk ke dalam lubang yang dia gali sendiri.""Tapi Pa, Sabrina di sana sendirian. Dia pasti menderita," potongku dengan nada cemas.Adrian menggeleng pelan. "Sabrina sedang kuliah, Bima. Tidak mungkin kita menjemputnya begitu saja tanpa rencana matang, itu malah akan membuat Adit curiga dan bisa membahayakan kalian berdua. Biarkan dia di sana dulu sementara Papa memutus semua 'napas' bisnis ayahnya. Mengenai identitasmu, biarkan Adit tahu dengan sendirinya. Papa ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa orang yang dia rendahkan adalah anak kandung dari pria yang selama ini menghidupi perusahaannya."Aku menghela napas panjang, mencoba menekan ego dan amarahku. "Baiklah kalau begitu, Pa. Tapi aku rindu Ibu dan Alisa. Aku ingin menemui mereka, tapi aku bingung caranya agar tetap aman.""Untuk saat ini, sabar dulu. Ini semua demi kebaik
Udara malam mulai terasa dingin saat aku melangkah gontai meninggalkan villa Eliana. Eliana, Rani, dan Maya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta Pusat, sementara Clarissa juga harus pulang.Tadi, Clarissa sempat merengek, memintaku ikut menginap di apartemennya, namun aku menolak dengan tegas."Ada urusan mendesak, Cla. Lain kali saja," kataku pendek. Aku sengaja tidak ingin dia tahu di mana aku tinggal sekarang. Bagiku, apartemen pemberian Papa Adrian adalah benteng pertahanan terakhirku.Aku tiba di apartemen saat langit benar-benar gelap. Tubuhku terasa lengket dan kotor, bukan hanya oleh keringat setelah melayani empat wanita sekaligus, tapi juga oleh rasa bersalah yang menyesakkan dada. Aku segera masuk ke kamar mandi, membiarkan guyuran air dingin membasuh raga ini, mencoba menghapus bayangan tangis Sabrina aku tahu ini semua adalah tangis pengorbanan.Selesai mandi, aku hanya melilitkan handuk di pinggang. Baru saja aku hendak mengambil pakaian, bel pintu berbunyi. Aku
Aku menepuk pundaknya dengan lembut namun bertenaga."Tante," bisikku tepat di telinganya.Tante Diana tersentak, wajahnya memucat melihatku. "B-Bima? Kamu.... "Sebelum dia sempat berteriak atau melarikan diri, aku menatap matanya dengan dalam. Aku menyalurkan energi batin melalui tatapan mata, sebuah teknik hipnotis tingkat tinggi yang kupelajari di desa untuk menenangkan pikiran."Ikuti saya ke mobil, Tante. Kita perlu bicara tenang," perintahku.Tante Diana seperti kehilangan kesadarannya sendiri. Matanya kosong, dia mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku duduk di kursi kemudi, memastikan jendela tertutup rapat."Ceritakan tentang Sabrina. Bagaimana keadaannya di Melbourne?" tanyaku langsung."Dia... dia baik-baik saja," jawabnya kaku karena pengaruh hipnotis."Jangan bohong. Apakah dia bahagia dengan Mark? Apakah mereka akan bertunangan?"Tante Diana terdiam sejenak, bibirnya bergetar. "Maunya Mas Adit begitu... tapi...""Tante, ceritakan semuanya! Rahasia apa yang k
"Aku ingin kalian semua menemaniku malam ini," bisikku dengan suara berat penuh otoritas.Maya dan Rani sempat saling lirik, namun melihat kejantananku yang sudah menonjol sangat keras di balik celana pendek, mereka tak kuasa menolak.Aura kejantananku yang dominan seolah menghipnotis mereka semua.Aku menarik Clarissa dan Eliana sekaligus, melumat bibir mereka bergantian dengan rakus. Tanganku dengan liar meremas buah dada mereka yang kenyal.Clarissa mengerang, tangannya langsung merobek singlet yang kukenakan hingga tubuh berototku terpampang nyata."Ahhh Mas Bima... gede banget badannya..." desah Maya yang mulai mendekat, tangannya mulai berani meraba pangkal pahaku.Aku sudah tidak bisa menahan diri. Aku lepaskan celana pendekku, membiarkan benda pusakaku yang sudah merah meradang dan berdenyut hebat terpampang di depan mata mereka berempat.Mereka semua terkesiap, mata mereka membelalak melihat ukuran yang tidak masuk akal itu."Siapa dulu yang mau merasakan 'berkah' hari ini?"
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk, lalu bergegas kembali ke apartemenku. Sesampainya di sana, aku segera mengganti pakaianku dengan celana pendek dan singlet hitam.Tubuhku terasa ringan, namun rasa kantuk yang sangat berat segera menyerang. Aku pun tertidur pulas karena hari sudah sangat larut.Kegelapan menyelimuti pandanganku, hingga perlahan muncul sebuah taman yang sangat indah.Di sana, aku melihat Sabrina. Dia berdiri membelakangiku, bahunya berguncang hebat. Dia sedang menangis."Sabrina?" panggilku pelan.Dia berbalik, wajahnya sembab dan matanya merah. Begitu melihatku, dia langsung berlari dan memelukku erat. "Bima... tolong aku, Bima... aku terpaksa," isaknya pilu.Hatiku sempat luluh. Aku ingin memeluknya kembali, melindunginya seperti dulu.Namun, tiba-tiba bayangan dia bersama pria lain muncul di kepalaku.Aku teringat pengkhianatannya.Dengan perlahan namun tegas, aku melepaskan pelukannya."Kamu sudah punya hidup baru, Sabrina. Kamu sudah memilih dia," kataku d
Aku mengedit video itu dengan teliti, menambahkan musik yang sedang tren dan efek yang menonjolkan bentuk otot tubuhku yang kini semakin tebal dan padat. Setelah selesai, aku langsung mengunggahnya.Selesai dengan urusan konten, aku mencoba semua alat gym di sana. Rasanya luar biasa bisa kembali mengangkat beban berat dengan gizi dan suplemen yang terpenuhi.Waktu berjalan cepat hingga sore hari.Perutku mulai lapar.Aku memasak steak wagyu dan sayuran yang tadi dibawakan, makanan berprotein tinggi untuk menjaga massa ototku.Sambil makan, aku mengirim pesan pada Ardi.[Di, sudah pulang kantor?][Belum, Bim. Masih ada urusan sebentar lagi, paling sebentar lagi sampai rumah. Kenapa?] balas Ardi.[Gue kirim makanan ya buat lu. Lu tunggu saja di rumah.]Aku segera menghubungi orang kepercayaan Papa untuk mengirimkan paket makanan dan bahan makanan mentah untuk stok Ardi di rumah. Tak lama, bel pintu apartemenku berbunyi.Dua orang pria anak buah Papa berdiri di sana. Aku menyerahkan bun







