Share

Apakah Perlu Sebanyak Ini?

Author: Anna Frey
last update publish date: 2026-07-08 21:11:38

Alize menatap Greta dengan tenang.

“Lima menit saja.”

Greta masih tampak tidak yakin.

“Yang Mulia... Saya akan dimarahi Duke.”

“Aku hanya ingin menghirup udara segar tanpa merasa seperti sedang menuju medan perang.”

Alize mencoba bercanda, tetapi bahkan ia sendiri tahu ada sedikit kebenaran pahit di balik kalimat itu.

Sejak tiba di istana, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Dua pengawal selalu berada tidak jauh darinya. Jika ia berpindah ruangan, seseorang akan memastikan jalann
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Apakah Perlu Sebanyak Ini?

    Alize menatap Greta dengan tenang. “Lima menit saja.” Greta masih tampak tidak yakin. “Yang Mulia... Saya akan dimarahi Duke.” “Aku hanya ingin menghirup udara segar tanpa merasa seperti sedang menuju medan perang.” Alize mencoba bercanda, tetapi bahkan ia sendiri tahu ada sedikit kebenaran pahit di balik kalimat itu. Sejak tiba di istana, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Dua pengawal selalu berada tidak jauh darinya. Jika ia berpindah ruangan, seseorang akan memastikan jalannya aman. Jika ia ingin berjalan-jalan, akan selalu ada yang mengawasi. Ia tahu semua itu dilakukan demi keselamatannya. Tetapi terkadang... Ia merasa seperti burung yang ditempatkan dalam sangkar emas. Sangkar itu indah dan nyaman. Namun tetap saja sebuah sangkar. Greta menghela napas panjang. Alize sudah mengenal ekspresi itu. Ekspresi seorang pelayan yang tahu dirinya akan kalah dalam perdebatan. “Baiklah,” ujar Greta akhirnya. “Tetapi hanya sebentar, Yang Mulia.” Alize terse

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Mari Melarikan Diri

    Ada satu hal yang Alize perhatikan sepanjang pertemuan itu. Lady Helena semakin lama semakin gelisah. Setelah ia menceritakan pengalamannya pergi berziarah, akhirnya dia berdiam diri dan tidak ikut mengomentari pengalaman ziarah yang lainnya. “Baiklah,” ujar Lady Harwick akhirnya. “Sepertinya sampai di sini dulu pertemuan kita. Saya akan mengundang Anda semua untuk pertemuan berikutnya beberapa minggu ke depan, dengan topik yang lain.” Alize merasa lega. Pertemuan itu bukan acara yang cukup menyenangkan, tapi juga tidak terlalu membosankan baginya. Para wanita mulai berdiri satu per satu sambil masih melanjutkan percakapan kecil mereka. Beberapa membahas buku yang baru saja mereka diskusikan. Beberapa lainnya masih bertukar cerita tentang pengalaman mereka di Biara Dunholm. Alize memperhatikan semuanya dengan tenang. Aneh rasanya. Sebelum datang ke pertemuan ini, ia mengira Biara Dunholm hanyalah sebuah tempat suci yang menyimpan catatan sejarah dan mungkin beberapa ra

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Para Wanita yang Berziarah

    Lady Harwick tersenyum lembut, seolah tidak menyadari nada dingin dalam ucapan Lady Helena. “Atau justru Duchess akan menjadi orang yang paling menikmati pertemuan hari ini,” ujarnya menenangkan. Beberapa wanita tertawa kecil. Suasana yang sempat menegang kembali mencair. Lady Harwick lalu merapikan beberapa lembar catatan di hadapannya sebelum membuka sebuah buku tua bersampul hijau tua. “Baiklah,” katanya. “Mari kita mulai pertemuan kita.” Seluruh perhatian tertuju kepadanya. “Seperti biasa, klub buku kita dibagi menjadi dua sesi.” Jemarinya mengetuk pelan sampul buku itu. “Sesi pertama adalah bedah bacaan. Hari ini kita membahas perjalanan para wanita bangsawan Montveraine ke tempat-tempat suci, dengan fokus pada Biara Dunholm.” Alize menerima buku yang disodorkan Greta, tetapi matanya tetap tertuju kepada Lady Harwick. “Sedangkan sesi kedua...” Lady Harwick tersenyum lebih lebar. “Adalah bagian yang paling saya sukai. Berbagi pengalaman pribadi.” Beberapa

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Klub Buku di Ruang Oranye

    Greta dengan cekatan merapikan lipatan terakhir gaun berwarna biru pucat yang dikenakan Alize. Jemarinya kemudian bergerak membenarkan bros kecil berbentuk bunga lili di dekat bahu sang Duchess. “Sudah selesai, Yang Mulia.” Alize menatap bayangannya di cermin. Gaun itu cukup sederhana untuk sebuah pertemuan siang, tetapi tetap pantas dikenakan oleh seorang Duchess. Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan membingkai wajah. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pelan. Greta tersenyum. “Cantik seperti biasa.” Alize justru tertawa kecil. “Itu jawaban seorang pelayan yang terlalu setia.” Greta menunduk sopan, dan kali ini berkata dengan sungguh-sungguh. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Yang Mulia.” Dan lagi-lagi tanpa sengaja Alize membandingkannya dengan Mirelle. Mirelle terkadang sedikit lancang dan tidak segan menggodanya. Ia telah bersikap sejak mereka masih anak-anak. Senyum Alize memudar perlahan. Ia juga memikirkan keadaan

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Siasat musuh.

    Rahang Corentine langsung menegang. “Lord George sedang bertahan di sana.” Louis dan Corentine saling bertukar pandang. Tidak ada kepanikan, melainkan perhitungan. Beberapa detik kemudian Louis berkata pelan, “Pergilah. Aku tetap di halaman depan.” Putra Mahkota mengalihkan pandangan ke arah luar kastil. “Kalau dugaanku benar...serangan ini hanya umpan.” Ia menatap Corentine dengan sorot mata yang sama tajamnya. “Mereka ingin memecah pasukan kita. Kalau kita semua bergerak ke gerbang timur, sisi lain kastil akan terbuka.” Corentine memahami maksudnya seketika. Strategi seperti itu bukan hal baru dalam peperangan. Musuh menyerang satu titik dengan kekuatan yang cukup untuk memancing perhatian, sementara serangan sesungguhnya datang dari arah yang sama sekali berbeda. Ia mengangguk singkat. “Jangan ambil risiko.” Louis tersenyum tipis. “Itu tugasku mengatakan hal itu kepadamu.” Corentine nyaris membalas senyum itu. Namun detik berikutnya ia sudah berlari me

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Patuh atau Dibunuh

    Hugh menelan ludah. Tatapannya turun ke lantai batu yang dingin. Kedua tangannya yang masih terbelenggu saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Aku...” Suaranya serak. “Aku hanya menerima surat.” Louis tetap berjongkok di depannya. Tidak mendesak. Tidak meninggikan suara. Kesabarannya justru membuat Hugh sedikit demi sedikit kehilangan pertahanannya. “Surat apa?” tanya sang duke. Sekarang ia berusaha untuk tidak menginterogasi terlalu tajam. Metodenya untuk para tawanan yang putus asa seperti Hugh adalah... biarkan si tawanan cukup tenang dan akhirnya mengutarakan kegelisahannya. “Surat yang berisi perintah.” Sebelah alis Corentine naik. “Hanya itu?” Hugh mengangguk pelan. “Apa isi suratnya?” Tawanan itu terdiam sejenak. “Kadang... saya disuruh mengantar peti.” Ia terdiam lagi. Lalu melanjutkan dengan suara lirih. “Kadang disuruh mengambil sesuatu. Kadang menyewa gudang atas nama orang lain.” Louis mendekat karena mulai tertarik. “Kadang

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pilihan Untuk Mirelle

    Tyron menggeleng. “Sayangnya tidak, Tuan Troy. Sapu tangan ini polos.” Corentine mengamati sapu tangan itu. “Sutra kualitas tinggi,” gumamnya. Alize jadi teringat pada sobekan kain di surai Snow. “Mungkin sebaik Anda mencari tahu di mana biasanya bahan seperti itu dijual, Sir Tyron,” ujarnya.

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Nyonyamu Tidak Mati

    Suara benturan keras kembali menghantam sisi kereta. Kali ini disusul suara siulan tajam di udara. “Panah!” teriak salah satu pengawal. BRAKKK! Sebuah anak panah menembus jendela samping dan menghantam dinding bagian dalam kereta hanya beberapa inci dari tempat Alize duduk tadi. Alize membe

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Diserang

    Suasana hati Alize memburuk sore itu. Padahal ia sudah membersihkan diri dan memakai gaun makan malamnya yang paling bagus. Benaknya masih dipenuhi mantel abu-abu kebiruan yang tidak ditemukannya di lemari. Kalau saja bisa, ia ingin langsung berangkat ke Manor Deschanel dan mencari mantel itu d

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Yang Terlalu Dekat, Yang Menjatuhkan

    Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status