Chapter: Kelompok Mafia Penguasa Kota"Ba... baik, Tuan," jawabnya terbata-bata, lalu berjalan tergesa-gesa mengantar rombongan itu menuju ruang ICU. Sementara itu, Jaka masih duduk di depan ruangan dengan wajah cemas, tangannya terus meremas rambutnya seolah sedang dikejar utang. Derrr... derrr... Ia merasakan lantai di bawah kakinya bergetar pelan. "Kenapa lantai bergetar? Apa jangan-jangan gempa?" gumamnya sambil berdiri cepat. Matanya langsung terbelalak melihat sekelompok orang berjalan mendekat dengan langkah tegap dan serempak. Slebbb! Jaka menelan ludah dengan susah payah, matanya melotot tak percaya. "Sudah habis riwayatku! Mereka pasti kelompok yang menembak pria itu tadi!" Lututnya langsung lemas, tubuhnya terduduk di kursi dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang seolah akan meledak, giginya gemeretuk menahan rasa takut yang luar biasa. Mungkin ia masih berani melawan dua orang preman biasa, tapi kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih berb
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Menolong Laki-laki Dengan Identitas Tidak BiasaSesampainya di ujung gang, mata Raga tertuju pada sebuah bak sampah besar yang tertutup rapat di sudut ruangan. Dengan langkah cepat ia menghampiri benda itu. Mungkin dia bersembunyi di dalam sini, pikirnya. Raga langsung mengangkat dan membuka tutup bak sampah besar itu dengan tenaga penuh. Kedua matanya seketika membelalak lebar dan melotot kaget. Di dalam sana, di atas tumpukan sampah yang bau dan kotor, terbaring tubuh laki-laki paruh baya yang tadi dilihatnya. Kondisinya sangat mengenaskan, wajah dan pakaiannya penuh dengan darah segar yang mengering, tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun. Raga segera mendekat, lalu menempelkan telinganya ke dada pria itu sekaligus meraba lehernya mencari denyut nadi. "Masih ada... dia masih bernafas lemah dan jantungnya masih berdetak!" seru Raga dengan perasaan lega luar biasa. Tanpa ragu sedikit pun, Raga langsung mengangkat tubuh pria itu keluar dari bak sampah. Otot-otot di lengan dan bahu Raga terlihat menonjol kuat saat ia membopong
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Awal Dari SegalanyaTiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap melaju dengan kecepatan sangat tinggi, lalu dengan keras menabrak tiang lampu jalan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk.Suara benturan yang sangat keras memekakkan telinga. Bagian depan mobil itu langsung penyok parah hingga hampir rata dengan mesin, uap panas dan asap putih mengepul keluar dari kap mobil yang pecah, sementara tiang lampu jalan itu tergoyang hebat hingga akhirnya roboh dan ambruk ke tanah.Pintu mobil terbuka paksa. Seorang laki-laki paruh baya berlari tergopoh-gopoh keluar dari dalam mobil tersebut. Darah segar mengalir deras membasahi wajahnya yang terlihat ketakutan luar biasa. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah koper kecil berwarna perak yang tampak kokoh dan mahal.Laki-laki itu tidak peduli dengan lukanya yang menganga di kepala, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju sebuah gang sempit di dekat sana seolah sedang dikejar maut.Raga dan Jaka hanya bisa mematung dan melongo menatap k
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Tembakan KematianKeesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Gelang Hitam MisteriusBu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Kekuatan Raja SerigalaSemua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19

Pewaris Kekuatan Alam Semesta
Di sebuah dunia di mana kekuatan elemen menentukan martabat dan derajat seseorang, Itachi tumbuh sebagai anak yang dianggap lemah dan tidak berbakat. Di desa Aokami, di mana anak-anak seusianya telah menguasai api, angin, atau tanah sejak kecil, Itachi hanya mampu menyalakan percikan kecil yang segera padam. Cemoohan, ejekan, bahkan penolakan menjadi makanan di setiap harinya.
Namun, takdir Itachi jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan siapa pun.
Pada ulang tahunnya yang ke-15, sebuah peristiwa langit yang langka terjadi.
Gerhana Kosmik. Pada malam itu, segel kuno yang tersembunyi dalam darahnya terpecah, membangkitkan kekuatan yang telah lama tersembunyi, kekuatan elemen alam semesta. Tidak hanya satu, tetapi seluruh elemen, yaitu api yang membara, air yang menenangkan, angin yang menggulung, tanah yang kokoh, petir yang menyambar, dan bahkan kekuatan langit dan bintang.
Dari seorang anak yang diremehkan, Itachi berubah menjadi kunci keseimbangan dunia. Namun, kekuatan besar selalu datang dengan ujian yang berat. Sekte Kegelapan yang selama ini mengintai kebangkitan kekuatan elemen alam semesta langsung bergerak ketika mengetahuinya.
Itachi harus belajar menguasai semua elemen, menemukan jati dirinya, dan membuktikan bahwa dirinya bukanlah anak yang lemah.
Perjalanan Itachi bukan hanya tentang kekuatan, tetapi tentang bagaimana seorang anak yang dianggap hina dapat menjadi pahlawan yang mengubah nasib dunia.
Baca
Chapter: 94Itachi berdiri beberapa saat di depan gerbang batu yang kini telah kembali tertutup. Permukaan batu itu terlihat biasa saja, seolah tidak pernah ada ujian apa pun di baliknya. Namun tubuh Itachi masih merasakan sisa dingin dari roh kegelapan yang menyatu dengannya.Aoka melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh Itachi, hanya berdiri di sampingnya, memastikan bahwa keberadaannya nyata.“Kau benar-benar berubah,” kata Aoka pelan. “Auramu… berbeda.”Itachi mengangguk. “Aku tidak merasa lebih kuat,” jawabnya jujur. “Tapi pikiranku lebih tenang. Suara-suara yang biasanya muncul saat aku ragu… sekarang lebih sunyi.”Aoka menatap wajah Itachi. Ia tahu perjalanan barusan bukan ujian biasa. Roh kegelapan tidak meninggalkan bekas luka fisik, tetapi selalu meninggalkan bekas di dalam diri.“Fenrir?” panggil Aoka.Cahaya biru pucat muncul di udara di depan mereka. Wujud Fenrir masih belum sepenuhnya solid, namun sinarnya lebih stabil dari sebelumnya.“Ujian roh kegelapan telah selesai,” kata Fenrir.
Terakhir Diperbarui: 2025-12-16
Chapter: Bab 93Gelap itu terus membesar sampai memenuhi seluruh ruang. Tidak ada lagi arah, tidak ada atas atau bawah. Itachi seperti berdiri di tengah pusaran kegelapan yang berubah menjadi dinding cair, mengalir pelan seperti tinta hidup.Perlahan-lahan, kegelapan itu mulai merayap ke kakinya. Bukan seperti kabut, tetapi lebih seperti tangan-tangan halus yang mencoba menariknya masuk, menggigit pikirannya dari bawah.Itachi menggertakkan gigi, memaksa tubuhnya tetap tegak. Namun setelah beberapa detik, lututnya mulai menekuk. Nafasnya terputus-putus. Setiap udara yang ia hirup terasa dingin dan berat, seperti sedang menarik asap tajam ke paru-parunya.“Jangan runtuh… jangan runtuh…” katanya pada dirinya sendiri.Tapi suara gulungan kegelapan itu semakin keras—seperti angin ribut tanpa arah, namun tanpa suara nyata. Hanya getaran di kepala.Tiba-tiba, dari dalam pusaran gelap, muncul dua mata. Bukan mata manusia. Mata itu seperti dua lubang hitam yang berputar pelan, menarik cahaya yang tidak ada.
Terakhir Diperbarui: 2025-12-04
Chapter: Bab 92Begitu kakinya masuk melewati batas bayangan, cahaya dari luar langsung menghilang. Itachi tidak bisa melihat lantai, dinding, atau bahkan tangannya sendiri. Ruangan itu benar-benar gelap total. Suara dari dunia luar juga langsung hilang. Tidak ada suara langkah, tidak ada suara tumbuhan, bahkan napasnya sendiri terasa teredam.“Tenang,” katanya pada dirinya sendiri. “Ini cuma ujian.”Namun, beberapa langkah kemudian… suara samar muncul.“Ta… chi…”Itachi menoleh cepat. Itu suara yang sangat ia kenal—suara Aoka. Suara itu terdengar seperti Aoka sedang terluka dan menahan tangis.“Kenapa… kamu tinggalkan aku?” suara itu berkata pelan.Itachi mengepalkan tangan.“Itu bukan nyata. Itu cuma ilusi.”Suara Aoka semakin jelas.“Aku selalu mendukungmu… tapi kau malah membiarkan aku mati…”Itachi menggertakkan gigi dan terus berjalan. Langkahnya mantap, namun dadanya terasa berat.Beberapa detik kemudian, muncul lagi suara lain—kali ini suara Guru Shunri.“Itachi… kau mengecewakanku. Aku menye
Terakhir Diperbarui: 2025-12-03
Chapter: Bab 91 Awan perlahan menutup kembali setelah ujian roh angin selesai. Ao Lie menggerakkan tangan, dan jembatan awan yang mereka injak mulai menyusut, kembali terurai oleh angin. Kini mereka berdiri di sebuah dataran kecil yang dipenuhi angin timur, namun suasananya jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Ao Lie memandang jauh ke arah barat tengah, ke tempat kabut hitam menggumpal seperti dinding besar. “Itu adalah batas menuju Titik Roh Kegelapan. Tidak ada elemen lain yang berkumpul di sana… hanya kegelapan murni.” Aoka menggigit bibirnya. “Kegelapan yang seperti apa? Apakah sama dengan yang menguasai kuil Guru Shunri?” Ao Lie menggeleng pelan. “Tidak. Kegelapan di kuil hanya pecahan kecil. Yang ini… adalah sumber dari semuanya.” Zentarion menghunus pedangnya. “Kalau begitu, kita harus siap dari sekarang.” Ao Lie menoleh pada Itachi. “Tubuhmu sudah menyatu dengan roh langit dan angin. Tapi titik roh kegelapan tidak akan menerima kekuatan itu dengan mudah. Jika kau masuk dengan car
Terakhir Diperbarui: 2025-12-03
Chapter: Bab 90Angin malam berhembus lembut di puncak altar awan setelah Itachi menuntaskan titik roh langit. Cahaya biru yang masih tersisa di tubuhnya perlahan mereda, namun alirannya tetap terasa sampai ke ujung jari. Ao Lie memandangi Itachi dengan tatapan penuh penilaian. “Bagus. Kau sudah membuka gerbang roh langit. Sekarang, kita menuju titik kedua—Titik Roh Angin.” Aoka menghela napas lega. “Untung angin bukan elemen yang agresif seperti api atau kegelapan…” Ao Lie memandangnya sekilas. “Angin bisa sangat berbahaya bila tidak dikendalikan. Ujiannya tidak kalah berat.” Zentarion mengangguk sambil menyampirkan pedang di bahunya. “Aku sudah merasakan getarannya sejak tadi. Angin timur sedang tidak wajar.” Ao Lie melangkah maju, menyapu udara dengan tongkatnya. Dalam sekejap, jalur putih memanjang terbentuk di udara, seperti jembatan dari awan. Itachi menatapnya dengan kagum. “Ini… jalur angin?” “Bukan. Ini celah antara dua arus udara,” jelas Ao Lie. “Hanya bisa dilewati mereka yang sudah
Terakhir Diperbarui: 2025-12-02
Chapter: Bab 89 Malam semakin dalam ketika rombongan Itachi turun dari puncak altar awan putih. Cahaya biru yang tersisa di tubuh Itachi masih terlihat samar, terutama di sekitar bahu dan dada. Fenrir tidak muncul dalam bentuk visual, namun auranya menempel kuat seperti pelindung besar yang tidak pernah tidur. Ao Lie berdiri di depan mereka, tongkatnya memancarkan cahaya tipis untuk menerangi jalan setapak menurun menuju lembah batu. “Titik Roh Bumi berada jauh di bawah tanah,” kata Ao Lie. “Jika Titik Langit menguji kestabilan roh, maka Titik Bumi akan langsung menguji tubuhmu.” Itachi mengangguk meski napasnya masih sedikit berat. Aoka memperhatikan wajah Itachi dengan cemas. “Kekuatan Fenrir baru saja aktif penuh. Apa tubuhmu tidak terlalu tertekan?” Itachi tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.” Zentarion menimpali sambil menepuk pedangnya. “Kalau ada bahaya, aku langsung tolong kau.” Ao Lie melirik mereka berdua sebentar. “Jangan terlalu banyak bicara. Kita belum melewati batas aman.”
Terakhir Diperbarui: 2025-12-02