Beranda / Romansa / Di Bawah Selimut Tetangga / Bagian 100 - Runtuhnya Istana Pasir

Share

Bagian 100 - Runtuhnya Istana Pasir

Penulis: Daisy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-20 11:53:34

Pukul tujuh pagi, udara Jakarta biasanya sudah mulai pengap oleh polusi, namun di dalam lobi apartemen mewah kawasan Sudirman, suasananya terasa sedingin es. Sagara berdiri di tengah lobi dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan mahalnya. Di belakangnya, Max dan dua pengacara dari firma hukum terkemuka berdiri dengan dokumen-dokumen di tangan.

Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Rania keluar dari lift dengan langkah terburu-buru, mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutr
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bab 103 - Pelarian di Atas Awan

    Suasana di dalam helikopter yang membawa mereka menuju bandara khusus begitu hening, hanya deru baling-baling yang memecah keheningan sore itu. Sagara tidak melepaskan dekapannya pada Aruna sedetik pun. Wanita itu tampak meringkuk kecil dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sagara.Sagara menatap ke bawah, melihat kemacetan Jakarta yang perlahan mulai mengecil. Rahangnya masih mengeras. Kata keluarga yang diucapkan tadi terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di benaknya.Siapa? Apakah ini tentang perebutan warisan? Ataukah ada pihak yang merasa Aruna adalah titik lemah yang bisa digunakan untuk menjatuhkan bisnisnya?"Pak, kita akan mendarat dalam tiga menit. Pesawat jet pribadi sudah siap di landasan," suara pilot melalui intercom membuyarkan lamunannya.Sagara hanya mengangguk singkat, lalu melirik Aruna yang tampak memejamkan mata, meskipun napasnya masih sulit."Na," bisik Sagara lembut sambil mengusap jemari Aruna yang masih sedingin es. "Sebentar lagi kita samp

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 102 - Detik-detik Menegangkan

    Kalimat terakhir Rania barusan bagaikan petir yang menyambar langsung ke pusat syaraf Sagara.Dang!Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum kemudian berpacu dengan kencang. Efek provokasi Rania bekerja dengan sempurna."Budi! Urus sisanya!" teriak Sagara tanpa menoleh lagi.Pria itu melesat keluar dari ruang interogasi dengan langkah lebar yang hampir menyerupai lari kecil. Di belakangnya, Budi tampak terkejut namun segera memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan pada Rania."Sagara! Tunggu!" seru Budi, namun Sagara sudah menghilang di balik pintu kaca markas kepolisian.Sagara merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, lalu segera menghubungi Nando, salah staf yang diperintahkan untuk menjaga Aruna selagi dirinya pergi. Satu nada sambung, dua nada sambung..."Selamat siang, Pak Sagara," suara Nando terdengar di seberang sana." Nando! Di mana posisi kamu sekarang?!" bentak Sagara saat ia sudah berada di dalam mobilnya.Pria itu segera menyalakan mesi

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 101 - Tikus Lain

    Sagara terdiam sejenak mendengar permintaan Aruna. Bandung. Mengingat beberapa hari lalu, mereka sudah ke Bandung untuk mengantar orang tua Sagara bertemu keluarganya setelah sekian lama menetap di Swiss.Pria itu mengeratkan dekapannya, mencium puncak kepala Aruna dengan lembut."Bandung? Kita kan sudah ke sana, Sayang. Memang kamu nggak bosan?” tanya lembut Sagara.Aruna menyandarkan kepalanya di dada bidang Sagara, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu."Aku cuma mau udara segar, Sa. Mau ketemu banyak orang baru biar kita bisa rileks dari kebisingan di sini. Mau ya?” Aruna mendongak untuk meminta persetujuan pria itu, kekasihnya.Sagara menarik napas panjang. Rasanya tidak mungkin, tapi melihat binar mata itu yang terbit, membuat Sagara tidak tega untuk menolak.“Bagaimana kalau tunggu kabar dari Budi lebih dulu? Kita pastikan dulu kalau Rania akan mendapat hukuman yang sepadan,” tawar Sagara.Rasanya hati tidak te

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 100 - Runtuhnya Istana Pasir

    Pukul tujuh pagi, udara Jakarta biasanya sudah mulai pengap oleh polusi, namun di dalam lobi apartemen mewah kawasan Sudirman, suasananya terasa sedingin es. Sagara berdiri di tengah lobi dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan mahalnya. Di belakangnya, Max dan dua pengacara dari firma hukum terkemuka berdiri dengan dokumen-dokumen di tangan.Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Rania keluar dari lift dengan langkah terburu-buru, mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang melilit lehernya. Wanita itu tampak sedang mencoba melarikan diri dengan sebuah koper kecil diseret oleh asisten pribadinya yang gemetar ketakutan.Langkah Rania terhenti seketika saat melihat Sagara. Rania mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya, meski bibirnya tampak sedikit bergetar."Sagara? Pagi-pagi begini sudah di sini? Sepertinya kita sudah tidak ada urusan lagi kan? Aku sedang terburu-buru ada jadwal ke Singapura," ucap Rania dengan nada yang dipaksakan ceria.Sagara tidak

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 99 - Bayang-bayang Dibalik Pintu

    Sagara menerjang pintu kamar dengan kencang. Jantungnya berdentum keras, memompa amarah dan ketakutan yang sudah bercampur aduk. Pria itumenyentak daun pintu hingga terbuka lebar, sesegera mungkin matanya menyapu koridor suite yang remang-remang.Kosong.Hanya ada keheningan koridor hotel yang dingin dan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Sagara keluar, menoleh ke kiri dan ke kanan. Ujung koridor yang panjang tidak menunjukkan tanda-tanda ada orang yang melarikan diri.Namun, satu hal yang pasti bahwa foto itu baru saja diambil."Sialan!" desis Sagara.Pria itu segera kembali ke dalam dan mengunci pintu kamar dengan semua sistem pengaman yang ada- kait manual, kunci elektronik, hingga menaruh kursi berat di balik pintu.“Bajingan,” desis Sagara lagi dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.Pria itu menghampiri ranjang di mana Aruna masih tertidur dengan napasnya teratur, tetapi raut wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan. Sagara bernapas lega, tapi tangannya yan

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 98 - Terungkap

    Malam itu, suasana di dalam mobil Sagara terasa sangat kontras dengan deru mesin yang dipacu kencang. Aruna duduk bersandar di kursi penumpang, matanya menatap kosong ke luar jendela. Tangannya masih memegang erat tas kerjanya, pikiran dan tubuhnya masih mengingat jelas bagaimana kejadian yang baru saja menghantamnya.Sagara sesekali meliriknya, rasa bersalah terus menghujam dadanya setiap kali ia melihat goresan ketakutan yang belum hilang dari wajah perempuan itu."Kita ke hotel saja. sekalipun apartemen tidak diketahui tapi bisa jadi teror juga akan muncul di sana. setidaknya hotel memiliki keamanan yang cukup ketat," suara Sagara memecah keheningan.Aruna tidak menjawab, perempuannya hanya mengangguk lemah. Menuruti semua keinginan Sagara yang mana menguarkan aura mengerikan. Meski tidak menunjukkan, tapi Aruna tahu bahwa pria di sampingnya itu tengah marah.Sagara segera mengarahkan mobilnya menuju salah satu hotel bintang lima dengan keamanan tingkat tinggi. Sepanjang jalan, pon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status