Chapter: Bab 72Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Menunggu seseorang yang kini terasa sangat penting bagiku. Seseorang yang kini menjadi harapan untuk kesembuhan anakku. Sementara Revan sudah mulai dipindahkan ke ruang operasi. Begitu Mas Evan datang, aku menatapnya penuh kelegaan. Namun, bibirku bungkam, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk, memintanya mengikutiku untuk bertemu dengan perawat. Proses itu terasa cukup panjang. Jarum akhirnya ditarik dari lengan Mas Evan. Perawat menempelkan kapas, lalu membalutnya dengan perban tipis. Mas Evan duduk diam beberapa detik, menatap lengannya sendiri seolah baru saja melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami maknanya. Aku berdiri tidak jauh darinya. Tidak berani terlalu dekat. Tidak berani terlalu jauh. “Terima kasih,” ucapku pelan. Hanya itu yang sanggup kukatakan. Mas Evan menoleh. Tatapannya singkat, datar, tapi ada kelelahan yang jelas di sana. “Yang penting Revan bisa selamat.” Aku mengangguk, menjaga lidah untu
Última actualización: 2026-01-13
Chapter: Bab 71Kak Rafael dan Kak Ravindra sudah di sampingku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada Vania dan orang suruhannya. Mungkin saja orang-orang kakakku sibuk melawan para penculik itu. Kini di hadapanku yang ada hanya darah. Tubuh kecil yang terlalu ringan. Dan rasa bersalah yang menghantamku lebih keras daripada apa pun.Aku mendekap Revan erat-erat, mengguncangnya pelan. “Bertahan, Nak… Mama mohon… Mama mohon…”Di belakangku, suara teriakan dan langkah-langkah berlarian kembali pecah. Tapi dunia sudah runtuh lebih dulu. Karena kali ini, aku tidak tahu apakah pelukanku cukup kuat untuk menahannya tetap hidup."Kita tidak punya waktu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Kak Ravindra, dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menggendong tubuh Revan menuju pintu keluar.Aku mengikutinya bersama derai air mata yang terus tumpah. Begitu pula Kak Rafael. Ia berjalan di sisiku, menopang tubuhku saat langkahku hampir goyah, separuh jiawaku hampir menghilang dari raga. Aku
Última actualización: 2026-01-09
Chapter: Bab 70Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se
Última actualización: 2026-01-08
Chapter: Bab 69Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De
Última actualización: 2026-01-05
Chapter: Bab 68Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg
Última actualización: 2026-01-02
Chapter: Bab 67Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya
Última actualización: 2026-01-01
Chapter: GTM 31 : PelepasanMasih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa
Última actualización: 2026-04-10
Chapter: GTM 30 : Menghancurkan BatasCiuman Ardan berlanjut, tidak lembut, tapi juga tidak menuntut. Itu adalah desakan dari seseorang yang menahan semuanya terlalu lama. Tak ada bayangan Ratih dalam benaknya, apalagi rasa bersalah. Yang ada hanya Lastri dan perasaan yang ia benarkan dalam hati.Sementara bayangan Arman masih hadir dalam benak Lastri. Tapi bayangan itu tak lagi jelas, tersamarkan oleh rasa nyaman akan kehangatan Tuan Ardan.Jemari tangan Lastri yang menarik kuat ujung gaun, perlahan melemah, berpindah pada dada bidang dan pundak Tuan Ardan—bukan lagi untuk mendorong, tapi bertahan dari gelombang gairah yang mulai pasang.Ketika ciuman itu perlahan terlepas, Ardan tidak langsung menjauh.Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang memerah-napasnya masih belum teratur, bibirnya sedikit terbuka, matanya setengah terpejam seolah masih tertinggal di dalam ciuman tadi.Ada campuran rasa malu… dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.Ardan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lastri dengan punggung jari. Lembut. Hamp
Última actualización: 2026-04-06
Chapter: GTM 29 : Batas yang Semakin Tipis Malam berikutnya hadir lebih cepat dari yang Lastri harapkan. Kata-kata Tuan Ardan semalam—sebelum mereka berpisah setelah adegan pelepasan Lastri—terus menghantuinya bagai bayangan. Dan ia berharap kata-kata itu tak perlu diwujudkan, entah malam ini atau malam-malam yang akan datang.Setelah sebagian lampu telah diredupkan, menyisakan cahaya hangat di ruang keluarga yang terasa tenang. Lastri bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan, harapannya bisa menghindari Tuan Ardan. Tapi rasanya tetap saja terlambat. Tuan Ardan bahkan sudah tahu jika ia baru saja selesai membereskan dapur, bagai mata-mata yang sudah mengintai mangsanya sejak lama.“Lastri, kemari sebentar.”Suara Tuan Ardan memanggilnya dari ruang tengah.Lastri ragu sejenak sebelum melangkah mendekat. Ia berhenti di ambang ruang keluarga, melihat Tuan Ardan duduk santai di sofa dengan televisi yang sudah menyala.“Tuan memanggil saya?” tanyanya hati-hati.Ardan menoleh dan tersenyum tipis. Di tangannya ada sebuah kotak persegi
Última actualización: 2026-04-05
Chapter: GTM 28 :Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri
Última actualización: 2026-03-12
Chapter: GTM : 27 Awal Malam PanasBeberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu
Última actualización: 2026-03-12
Chapter: GTM 26Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be
Última actualización: 2026-03-10