author-banner
RIANNA ZELINE
RIANNA ZELINE
Author

Novels by RIANNA ZELINE

Kusiapkan Perpisahan Terindah

Kusiapkan Perpisahan Terindah

Aku Dinara Alverina Wiratama, berpura-pura tidak mengetahui perselingkuhan suamiku, Evan Xavier. Aku tetap bersikap baik sebagaimana seorang istri pada umumnya. Namun, diam-diam aku menyiapkan sebuah perpisahan yang tidak akan pernah dia duga. Gugatan perceraian? Ah, itu terlalu biasa. Ini adalah sebuah perpisahan terindah yang akan selalu dikenangnya.
Read
Chapter: Bab 72
Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Menunggu seseorang yang kini terasa sangat penting bagiku. Seseorang yang kini menjadi harapan untuk kesembuhan anakku. Sementara Revan sudah mulai dipindahkan ke ruang operasi. Begitu Mas Evan datang, aku menatapnya penuh kelegaan. Namun, bibirku bungkam, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk, memintanya mengikutiku untuk bertemu dengan perawat. Proses itu terasa cukup panjang. Jarum akhirnya ditarik dari lengan Mas Evan. Perawat menempelkan kapas, lalu membalutnya dengan perban tipis. Mas Evan duduk diam beberapa detik, menatap lengannya sendiri seolah baru saja melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami maknanya. Aku berdiri tidak jauh darinya. Tidak berani terlalu dekat. Tidak berani terlalu jauh. “Terima kasih,” ucapku pelan. Hanya itu yang sanggup kukatakan. Mas Evan menoleh. Tatapannya singkat, datar, tapi ada kelelahan yang jelas di sana. “Yang penting Revan bisa selamat.” Aku mengangguk, menjaga lidah untu
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: Bab 71
Kak Rafael dan Kak Ravindra sudah di sampingku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada Vania dan orang suruhannya. Mungkin saja orang-orang kakakku sibuk melawan para penculik itu. Kini di hadapanku yang ada hanya darah. Tubuh kecil yang terlalu ringan. Dan rasa bersalah yang menghantamku lebih keras daripada apa pun.Aku mendekap Revan erat-erat, mengguncangnya pelan. “Bertahan, Nak… Mama mohon… Mama mohon…”Di belakangku, suara teriakan dan langkah-langkah berlarian kembali pecah. Tapi dunia sudah runtuh lebih dulu. Karena kali ini, aku tidak tahu apakah pelukanku cukup kuat untuk menahannya tetap hidup."Kita tidak punya waktu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Kak Ravindra, dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menggendong tubuh Revan menuju pintu keluar.Aku mengikutinya bersama derai air mata yang terus tumpah. Begitu pula Kak Rafael. Ia berjalan di sisiku, menopang tubuhku saat langkahku hampir goyah, separuh jiawaku hampir menghilang dari raga. Aku
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab 70
Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Bab 69
Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 68
Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 67
Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya
Last Updated: 2026-01-01
Godaan Tuan Majikan

Godaan Tuan Majikan

Lastri terpaksa menerima tawaran bekerja menjadi pembantu demi menghidupi keluarga. Namun, takdir mempertemukannya dengan majikan dingin yang terbiasa hidup dalam kesendiriannya. Lastri pikir itu bukan masalah besar asal ia bekerja dengan benar. Nyatanya, godaan demi godaan mulai ia rasakan datang dari sang majikan. Sebenarnya, godaan seperti apa yang diterima oleh Lastri? Mampukah Lastri menahan diri dari godaan itu? Atau justru terjerat semakin dalam pada godaan yang tak pernah ia bayangkan?
Read
Chapter: GTM 35 : Kecurigaan Reihan
Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening sesaat.Lastri makin salah tingkah. Ia buru-buru mengambil kembali ember pelnya. “Saya lanjut bersih-bersih dulu…”Namun saat ia hendak pergi, Ardan tiba-tiba berkata tanpa melihatnya,“Setelah ini siapkan makan malam.”"Baik, Tuan."Ardan kembali menatap putranya dengan serius."Sudah menemui ibumu?" tanyanya datar, namun dengan tatapan yang sulit dibaca. Seolah paham dengan kebiasaan bokapnya, Reihan langsung mengangguk cepat."Aku menemuinya sekarang."Reihan melangkah menaiki tangga dengan satu tangannya masih berada di saku jaketnya. Langkahnya tenang, tatapannya menelisik ke seluruh penjuru, seolah memastikan tidak ada yang berubah, kecuali asisten rumah.Sementara Ardan masih berdiri
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: GTM 34 : Kedatangan Reihan
Ardan menarik pinggang Lastri lebih dekat tanpa melepas lumatannya. Matanya ikut terpejam, merasakan kelembutan dan kekenyalan bibir Lastri yang berlapis lipstick tipis. Manis. Bagai madu yang membuatnya candu.Ia menjulurkan lidah, mendorongnya masuk ke rongga mulut Lastri. Lidah mereka saling beradu, menyesap lembut, sesekali saling menggigit tanpa benar-benar membuatnya sakit.Lastri mulai terengah. Tangannya terangkat cepat menyentuh dada Tuan Ardan. Lalu dengan sedikit paksaan, ia mendorong dada Tuan Ardan hingga ciuman itu akhirnya terlepas."Tuan..."Napas Lastri terengah. Dadanya naik turun seirama tarikan napasnya. Matanya berkedip cepat, seolah menyadarkan diri dari apa yang baru saja ia lakukan bersama majikannya.Ardan kembali mendekat, bukan untuk memulai lagi, tapi menyentuh bibir Lastri dan mengusapnya lembut untuk membersihkan sisa-sisa jejak percintaan mereka.Lastri terdiam. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini tidak seharusnya terjadi—terlebih di rumah yang sama, di bawah
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: GTM 33 : Setelah Pelepasan
Malam itu terasa berbeda setelah semuanya benar-benar terjadi. Hujan di luar masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Suaranya kini lebih pelan, seperti sisa-sisa badai yang belum sepenuhnya pergi.Di dalam kamar, hanya ada cahaya redup dari lampu tidur yang menyisakan bayangan lembut di dinding. Lastri duduk di tepi ranjang. Diam. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya, jemarinya sesekali bergerak gelisah tanpa arah. Napasnya sudah mulai teratur, tetapi dadanya masih terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Ia menunduk. Pikirannya kosong… sekaligus terlalu penuh.Baru beberapa menit lalu, ia masih berada dalam dekapan Tuan Ardan. Terhanyut dalam sesuatu yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam batas yang samar. Namun kini semuanya nyata. Terlalu nyata.Lastri menelan ludah. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa kehangatan yang tertinggal. Lalu, tanpa sadar, tangannya turun ke dadanya. Jan
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: GTM 32 : Pelepasan 2
Sedikit demi sedikit, pusaka itu berhasil masuk ke dalam lembah surgawi milik Lastri. Tenggelam dalam kehangatan sempit yang begitu menjepit."Ouhh... " Lastri kembali tersentak hebat saat merasakan pusaka itu mulai memenuhi lembah miliknya. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung ke atas, terangkat dari ranjang.Bukan rasa sakit, melainkan sengatan aneh yang begitu kuat pada inti lembah surgawinya, namun sengatan itu menjalar langsung ke seluruh saraf di tubuhnya.Ia belum pernah merasakannya, bahkan dengan Arman, suaminya. Rasa ini lebih dalam, lebih menekan, dan lebih membuatnya tak ingin berhenti untuk terus merasakan. Seperti zat adiktif yang terus membuatnya ketagihan.Ardan berhenti sejenak, tidak memaksakan lebih jauh untuk saat itu. Ia menatap Lastri lebih lama, ada ketegangan samar di balik sorot matanya. Namun, Ardan tak ingin menarik pusakanya keluar, justru membiarkan Lastri merasakannya lebih dulu sebelum pusaka itu benar-benar menghantam lebih dalam."Coba rasakan dul
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: GTM 31 : Pelepasan
Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: GTM 30 : Menghancurkan Batas
Ciuman Ardan berlanjut, tidak lembut, tapi juga tidak menuntut. Itu adalah desakan dari seseorang yang menahan semuanya terlalu lama. Tak ada bayangan Ratih dalam benaknya, apalagi rasa bersalah. Yang ada hanya Lastri dan perasaan yang ia benarkan dalam hati.Sementara bayangan Arman masih hadir dalam benak Lastri. Tapi bayangan itu tak lagi jelas, tersamarkan oleh rasa nyaman akan kehangatan Tuan Ardan.Jemari tangan Lastri yang menarik kuat ujung gaun, perlahan melemah, berpindah pada dada bidang dan pundak Tuan Ardan—bukan lagi untuk mendorong, tapi bertahan dari gelombang gairah yang mulai pasang.Ketika ciuman itu perlahan terlepas, Ardan tidak langsung menjauh.Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang memerah-napasnya masih belum teratur, bibirnya sedikit terbuka, matanya setengah terpejam seolah masih tertinggal di dalam ciuman tadi.Ada campuran rasa malu… dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.Ardan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lastri dengan punggung jari. Lembut. Hamp
Last Updated: 2026-04-06
You may also like
My Sugar Daddy, My Angel
My Sugar Daddy, My Angel
Romansa · Fitriani Nastar
61.6K views
Bukan Istri Bayaran
Bukan Istri Bayaran
Romansa · Nayla
61.4K views
WEDDING ON PAPER
WEDDING ON PAPER
Romansa · Alna Selviata
61.3K views
Okay, Boss!
Okay, Boss!
Romansa · Viallynn
61.2K views
Di Antara Dua (Istri)
Di Antara Dua (Istri)
Romansa · Ria Abdullah
61.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status