Compartir

Bab 199

Autor: Wei Yun
last update Última actualización: 2026-02-21 17:15:08

Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan.

Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.

​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci se
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 198

    Lembah perbatasan yang biasanya sunyi senyap, kini bergetar hebat di bawah derap ribuan kuku kuda yang menghantam bumi. Kabar mengenai invasi "Serigala-Serigala Utara", sebutan bagi pasukan Kasgan yang haus darah, telah menyebar secepat api yang melahap rumput kering. Namun, Mingyue tidak lagi terpecah. Raja-raja wilayah yang selama ini saling berselisih, kini bangkit bersatu di bawah satu panji kehormatan, membentuk aliansi perkasa: Pasukan Longyan.​Han Feng berdiri tegak di atas bukit kecil, sebuah titik strategis yang memungkinkannya memantau bentangan cakrawala. Di seberang sungai yang menjadi garis batas terakhir, hamparan tenda kulit bangsa Kasgan tampak memenuhi lembah seperti barisan sisik naga purba. Di belakang Han Feng, barisan infanteri dan kavaleri gabungan Mingyue membentang luas, nyaris tanpa ujung. Hutan tombak berkilauan tertimpa sinar matahari yang pucat, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang memandangnya.​Namun, di balik sepasang ma

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 197

    Angin barat menderu ganas, membawa butiran pasir ke daratan wilayah perbatasan gurun. Di antara deretan tenda kulit binatang yang kokoh dan panji-panji , dua sosok tampak berjalan tertatih, menyeret bayangan mereka sendiri yang rapuh di bawah sinar bulan. ​Cao Bing, sang pengkhianat yang dulu diagungkan di istana, kini tampak seperti gelandangan terhina. Jubah mewahnya sobek di sana-sini, tercemar oleh debu dan darah kering. Di sampingnya, Jin Peng tampak jauh lebih menyedihkan. Sang master pedang itu menekan luka di perutnya yang terus merembeskan cairan merah pekat, wajahnya sepucat kertas, dan napasnya terdengar seperti gesekan logam karatan. ​Mereka telah sampai di markas besar pasukan Kasgan, sebuah benteng tenda yang luas, dipenuhi oleh prajurit-prajurit bertubuh raksasa. ​"Identitas kalian!" gertak seorang penjaga gerbang dengan tombak menyilang. Suaranya berat, khas dialek bangsa padang pasir yang kasar. ​"Aku ... Cao Bing," desis Cao Bing sambil mengangkat sebuah lencana

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 196

    Hening malam di Paviliun Gunung Song terasa begitu menekan bagi Wen Mei. Di dalam kamar yang luas namun terasa dingin itu, ia duduk termenung di atas ranjang kayu yang keras. Pikirannya berkecamuk, menari-nari di antara bayang-bayang masa lalu keluarganya yang kelam dan masa depannya yang kini tampak seperti kabut tebal tanpa ujung. Baginya, setiap embusan angin yang masuk melalui celah jendela terdengar seperti bisikan kutukan atas dosa-dosa ibundanya yang telah menghancurkan hidup keluarga Bai Xiang. ​Tok, tok, tok. ​Suara ketukan pintu memecah kesunyian. Wen Mei menyeka air matanya dengan ujung lengan baju, mencoba mengatur napas agar suaranya tidak terdengar parau. Ia mengira itu adalah Bai Xiang, yang mungkin datang untuk membawakannya teh hangat atau sekadar memastikan kondisinya. ​"Masuklah, Xiang. Pintunya tidak dikunci," ucap Wen Mei lirih, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi. ​Pintu berderit terbuka, namun langkah kaki yang terdengar bukan milik seorang wanita. Langka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status