LOGINBowo Utomo. adalah sosok pemuda sederhana yang berasal dari desa. Ia mempunyai keinginan yang sangat tinggi, sehingga memutuskan untuk pergi merantau ke kota. Akan tetapi perjalanan hidupnya di kota tidak semudah yang dia bayangkan. Dia harus menghadapi berbagai macam masalah dalam pekerjaannya. Dengan kegigihannya, keberuntungan pun berpihak kepada Bowo Utomo. Ia di pertemukan dengan seorang pengusaha kaya yang mempunyai anak yang sangat cantik.
View MoreMichael's POV
I gripped the bedsheets as I gritted my teeth and buried my face into the soft mattress, feeling Marlo’s sweat falling on my back and soft moans escaping his lips while he continued thrusting with more strength than necessary. "Fuck, you're so tight" he said. I bit back the pain that was building within me and tried my best to endure whatever pain I could feel in my hole. This was all a means to an end. Before I could process my thoughts any further, he turned me around, his muscular arms wrapping around me. He knelt on the bed and raised me to sit on his hard cock. I stared at him, wondering what sex position he intended to do this time. After spending more than twenty minutes servicing his dick and nipples, I was already exhausted. He wiped the sweat on his forehead with the back on his hand and gave me one the ugliest smirk I have ever seen escape the lips of a man. "Ride me until I burst inside you" Marlo said, his breath resting on my face. He brought his lips to mine and I tried to avoid whatever he planned to do, but I wasn’t fast enough. Marlo sucked my lower lip while his tongue evaded my mouth and ran around my walls. "That's enough" I whispered, my disgust beginning to show no matter how much I tried to hide it. Thankfully, he released his hold on my lips and laid back, his hands placed behind his head as his eyes told me to begin the task he has given to me. Ugh. In the darkness, I rolled my eyes, my anger almost simmering beneath the surface. I raised my knees and instead of kneeling down, I squatted over his dick, my momentum building. I began slowly at first then increased my speed and watched as Marlo’s eyes rolled to the back of his head in ecstacy. His moans filled my ears and although I hated having sex with him, the fact that I held this much power over him at this instant was enough to make a smile appear on my face. "I'm close. I'm going to cum" he said. He attempted to jerk me off but I threw his hand away from my throbbing dick and allowed him to reach climax. Finally, it was over. I laid on my back, staring at the ceiling, my chest rising and falling in slow, controlled breaths. The sheets beneath me were damp with sweat, but the warmth of Marlo’s body next to mine made my skin crawl. The room smelled of sweat and whiskey, of regret and desperation. I turned my head slightly, watching him sleep, his face relaxed in the dim glow of the bedside lamp. He looked peaceful—satisfied. Meanwhile, I felt nothing but irritation gnawing at the edges of my patience. I hadn’t wanted this. I hadn’t enjoyed a single second of it. But I had needed to do it. Marlo wasn’t just another of Fernando Ramirez’s men—he was one of his highest-ranking lieutenants. He was a man with influence. A man with access. And that access was exactly what I, as well as the FBI, needed if I wanted to bring Fernando down. Fernando Ramirez. Just thinking his name sent a rush of fury through me. His Mafia crime family had spread like a plague across the city, untouchable, operating in the shadows while law enforcement remained powerless. My sister—my only family—had been caught in his violence and she lost her life. A victim of his greed, his brutality. She hadn’t deserved it. She hadn’t deserved any of it. I clenched my jaw, forcing my thoughts back to the present. Dwelling on the past wouldn’t help me now. Right now, my priority was getting to that exclusive party Fernando was throwing in a few days. Only his most trusted men would be allowed inside, and Marlo was one of them. That’s why I had done this. But now, I needed Marlo to wake the hell up. I nudged him with my elbow. “Hey.” He didn’t stir. I frowned, shifting to my side and shaking his shoulder. “Marlo.” A tired groan escaped his lips, but he barely opened his eyes. His arm was placed lazily over his stomach, his breathing slow and deep. “Marlo, wake up,” I tried again, this time a little more forceful. “We had a deal, remember?” Nothing. I rolled my eyes, frustration bubbling in my chest. “You said you would help me get in,” I reminded him, keeping my voice even. “I need that tag. You said you would vouch for me.” Marlo mumbled something that sounded like nonsense, shifting slightly before settling back into sleep. Useless. I exhaled sharply, running a hand through my hair. There was no point in trying to reason with him right now. He was out cold, probably from the alcohol he had drank earlier. I would have to handle this myself. My eyes flicked to the bedside table where his identification tag lay—his ticket to the party. His access to Fernando. Carefully, I slid out of bed, moving with the precision of a trained agent. My muscles were tense as I reached for the tag, keeping my movements slow, deliberate. One wrong move, and I would wake him. The metal tag was cool against my fingertips as I picked it up, slipping it into the pocket of my discarded jeans on the floor. I dressed quickly, shoving my arms into my shirt, buttoning it hastily. As I reached for the door, my heart pounded with a mix of adrenaline and anticipation. I had done it. I had what I needed. But the moment I pulled the door open, every cell in my body froze. Standing in the doorway, his figure looming in the dimly lit hallway, was Fernando Ramirez. His dark eyes locked onto mine, unreadable, terrifyingly calm. He was taller than I expected, broader, his presence suffocating. The air around him felt heavy, charged with something dangerous. I couldn’t move. I couldn’t breathe. His lips curled slightly—not quite a smirk, but something close. “Well, well well,” he said, his voice deep, smooth, laced with quiet authority. “Going somewhere?” My heart slammed against my ribs, but I forced my face to remain neutral, my mind racing. I was in trouble. Big trouble.Tapi Mak Ijah curiga dengan pakde Jono,karena untuk apa pakde Jono mengambil foto guci-guci di ruang tamu rumah majikan nya itu,Mak Ijah terus melanjutkan pekerjaan nya,seperti biasa Mak Ijah mengelap semua perabot yang berada di ruang tamu itu,lalu menyapu dan mengepel lantai nya hingga bersih,lalu Mak Ijah menyalakan wewangian elektrik yang di pasang di ruang tamu itu,agar ruang tamu selalu harum dan segar.Setelah Mak Ijah selesai membersihkan ruang tamu,dia pun menemui suami nya yaitu pak Tono yang sedang bersih-bersih rumput di halaman belakang."Pak,tau gak tadi Ibu lihat apa?"tanya Mak Ijah serius."Ya mana saya tau Bu,kan dari tadi bapak di sini,"jawab pak Tono yang masih sibuk dengan pekerjaan nya."Ibu tadi mergokin pakde satpam di ruang tamu pak,"sahut Mak Ijah serius."Terus kalau pakde satpam di ruang tamu kenapa Bu?"tanya pak Tono datar."Ya gak apa-apa sih pak,tapi yang aneh nya Ibu lihat,pakde satpam itu mengambil foto guci-guci mahal milik Den Bowo pak,"jawab Mak Ijah
Keesokan harinya setelah solat subuh Bowo pun mengecek kembali pintu gerbang rumah nya yang penyok itu,dia pun berfikir untuk memperbaiki nya dan memasang dengan bahan yang lebih tebal lagi,lalu datanglah pakde Jono yang menghampiri Bowo."Orang-orang itu kurang ajar sekali ya Le,"ucap pakde Jono yang berdiri di samping Bowo sambil menatap pintu gerbang yang penyok itu."Iya pakde,tapi yang buat saya bingung untuk apa mereka melakukan ini semua kepada saya?"sahut Bowo yang bingung dan bertanya-tanya sendiri."coba kamu ingat-ingat lagi,apa ada orang yang pernah kamu sakiti Le?"tanya pakde Jono serius,Bowo pun terdiam sejenak dan dia mengingat-ingat nya,tapi karena tidak pernah ada orang yang dia sakiti,maka dia pun bingung lagi."saya tidak pernah menyakiti siapa pun pakde,"jawab Bowo penuh keyakinan."kamu yakin Le?"pakde Jono pun meyakinkan sekali lagi."iya pakde saya yakin,"sahut Bowo dengan jelas.Dan mereka pun terdiam masih memandangi pintu gerbang itu,terlihat pakde Jono yang
"bagaimana Dok, Abah sakit apa?" tanya Bowo serius."Beliau kurang tidur Mas, dan banyak fikiran,"jawab Dokter Bram serius, mendengar Jawaban Dokter Bram seketika Bowo pun menarik nafas berat."Lalu bagaimana Dok?" tanya Bowo yang meminta solusi pada Dokter Bram."Saya akan berikan obat nya nanti, karena kondisi beliau sangat lemah, maka saya infus gak apa-apa ya Mas?" tanya Dokter Bram yang meminta persetujuan dari Bowo."Ok Dok,lakukan yang terbaik agar Abah sehat kembali Dok!" jawab Bowo tegas."Ok," dan dengan cekatan Dokter Bram pun memasang selang infus di tangan Abah Jaya karena Dokter Bram sudah mempersiapkan semua nya sebelum nya.Terlihat Abah Jaya yang sudah pasrah dengan apa yang Dokter itu lakukan karena beliau sudah merasa tubuh nya sangat lemah, Abah Jaya memang tidak pernah tidur sepanjang malam sejak Bulan sang putri kesayangan nya itu meninggal, beliau tidak henti-henti nya berdo'a dan berzikir setiap hari,beliau meratapi nasib nya yang kini hanya tinggal seorang dir
"Mili juga ikut dalam proyek itu,apa aku gak salah dengar?"tanya Seto kepada kedua teman nya itu."iya bro,mereka satu tim,"jawab Nero yang tau banyak tentang proyek itu."lalu apa peran cowok kampung itu di proyek pembangunan jembatan itu,apa elu tau Nero?"tanya Seto serius."dia punya peran penting di sana bro,"jawab Boy menimpali nya."ya apa peran dia di sana to*ol,"sahut Seto sambil menoel kepala Boy,hingga Boy nyengir kesakitan,karena dia menoel nya dengan kasar."yang gue tau,Bowo itu punya keahlian dalam bidang desain patung dan bangunan yang berskala besar,jadi dia bisa di bilang punya peran utama di proyek itu,"sahut Nero serius."oh,jadi dia punya keahlian,ok lah kalau begitu,kita lihat saja nanti,apa dia akan bertahan sebagai Mahasiswa teladan di kampus ini,"ucap Seto dengan tatapan bengis nya.Entah dendam apa yang Seto pendam kepada Bowo sehingga dia sebenci itu kepada Bowo,setelah itu mereka bertiga pun kembali ke kelas mereka untuk mengikuti mata kuliah.Sementara itu
Kereta yang mereka tumpangi mulai memasuki Ibu Kota Jakarta, mereka bertiga mulai membuka mata nya, setelah semalaman terlelap."Mas Bowo sebentar lagi kita turun!" ucap Parto yang mulai menyiapkan tas ransel yang dia bawa, begitu juga dengan Roni yang sudah menyiapkan tas ransel nya juga."Oh ngge
Terdengar jelas di telinga Bowo, saat ia tidak sengaja menguping pembicaraan tetangganya yang sedang membicarakan dirinya dan keluarganya tersebut."Itu loh Bu, keluarganya Bu Mini, hari gini masih aja ngutang di warung, apa gak malu ya ngutang belanjaan Mulu" ucap salah satu dari segerombolan ibu-i
Aji mulai kebingungan untuk mencari cara agar pembangunan cepat selesai, tapi dana yang pemilik rumah berikan sudah habis, tinggal sisa untuk para pekerja, mereka di bayar harian, akhirnya pun Aji memilih bahan bangunan dengan kualitas abal-abal, harga nya murah tapi bentuk sama,ide sudah Aji dapat
Mereka sudah berkumpul di depan rumah yang masih setengah jadi, Mandor bangunan yang biasa di panggil bang Aji itu menjelaskan tugas mereka ber tiga."Buat kalian bertiga yang biasa kerja bangunan seperti ini siapa?" Mandor itu berdiri dengan tegap seraya dia silangkan kedua tangan nya dada."Saya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews