Share

Kartu Merah

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-02-13 15:59:06

Keesokan harinya, mansion itu masih dibungkus sunyi yang berat. Raymond melangkah di koridor belakang ketika mendapati Bu Eli berdiri di dapur kecil, menata makanan di atas nampan—sup hangat, nasi lembut, dan segelas air.

Bu Eli terkejut saat bayangan tinggi menjulang muncul tepat di belakangnya. Ia berbalik cepat. “T-Tuan…” suaranya bergetar. “Ini… ini untuk Nona Clara. Maaf jika… jika tidak boleh, aku akan—”

Raymond hanya diam. Tatapannya jatuh pada nampan itu cukup lama, seperti sedang meni
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ahmad Hasan Mad
sangat membosankan mau baca iklannya sangat banyak, tulisnya 2 iklan taunya sampai 7 iklan masih juga belum bisa baca
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gudang no 17

    Hujan mulai turun ketika konvoi kecil Raymond memasuki kawasan pelabuhan lama.Rintiknya mula-mula tipis, kemudian semakin deras, membasahi kaca mobil dan membuat lampu-lampu jalan terlihat seperti garis cahaya yang kabur. Kawasan itu sudah lama tidak digunakan. Sebagian besar bangunan gudang berdiri dalam keadaan gelap, dindingnya kusam, pintu-pintu besi dipenuhi karat, dan rumput liar tumbuh di sela-sela beton yang retak.Di kejauhan, suara ombak terdengar menghantam dinding pemecah gelombang.Raymond duduk diam di kursi belakang.Tangannya menggenggam kunci kecil yang diberikan Elena.Benda itu dingin.Namun anehnya, setiap kali melihatnya, Raymond selalu teringat pada ibunya.Maria.Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Wanita yang selama puluhan tahun diyakininya telah meninggal.Wanita yang wajahnya muncul kembali melalui Adriana.Dan sekarang...sebuah gudang tua yang m

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Akhirnya

    DOR!Pintu besi itu bergetar hebat.Raymond berdiri tepat di baliknya.Jas hitamnya sedikit basah akibat hujan. Rambutnya masih menyimpan titik-titik air, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan.John berdiri di sebelahnya bersama beberapa pengawal.“Buka pintunya.”Tidak ada jawaban.Raymond mengangkat tangan.“Hitung sampai tiga.”John langsung memberi isyarat.“Satu…”DOR!Sebelum hitungan selesai, salah seorang pengawal menghantam pintu dengan bahunya.Kunci pintu patah.Pintu terbuka keras.Raymond langsung masuk.Matanya bergerak cepat menyapu ruangan.Ken terbaring di atas ranjang.Wajahnya pucat.Di sebelahnya berdiri seorang pria berkemeja putih.Raymond mengenal wajah itu dari kartu identitas yang ditemukan sebelumnya.“Dr. Adrian Cole.”Adrian tidak bergerak.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hujan

    Hujan mulai turun ketika Raymond meninggalkan ruangan rahasia.Titik-titik air menghantam kaca-kaca tinggi mansion tua itu, menciptakan suara berirama yang justru membuat suasana semakin menekan.John berjalan beberapa langkah di belakangnya.“Tim sudah mulai melacak Dr. Adrian Cole.”“Berapa lama?”“Belum tahu, Tuan.”Raymond berhenti.“Jangan jawab dengan tidak tahu.”John menunduk.“Maaf.”Raymond menatap halaman mansion yang gelap.“Dokter itu menghilang tujuh tahun lalu.”“Ken diculik oleh orang yang menggunakan identitasnya.”“Dan sekarang nama yang sama muncul dalam catatan M-17.”Ia mengusap rahangnya.“Ini bukan kebetulan.”John mengangguk.“Saya juga berpikir begitu.”Raymond kembali berjalan.“Hubungi rumah sakit tempat Ken dirawat.”“Cari semua orang yang pernah menangani operasinya.”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebenaran yang Tersisa Bag 2

    Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.Raymond masih memegang foto lama tersebut. Jemarinya mencengkeram bagian tepinya hingga kertas yang sudah berusia bertahun-tahun itu sedikit melengkung.Tatapannya tidak beralih dari tulisan di belakang foto.AKU TIDAK PERNAH MATI.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.Raymond perlahan mengangkat wajah.“Siapa yang menulis ini?”Tidak ada yang menjawab.Charles berdiri diam.Elena menundukkan kepala.John memperhatikan keduanya dengan waspada.Raymond melangkah mendekati ayahnya.“Aku bertanya sekali lagi.”Suaranya rendah.“Siapa yang menulis ini?”Charles menarik napas panjang.“Aku tidak tahu.”Raymond tertawa hambar.“Menarik.”Ia mengangkat foto tersebut.“Foto ibuku ditemukan di kamar Adriana.”“Di belakangnya

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebenaran yang Tersisa

    Elena masih berdiri di dekat jendela.Kunci tua itu tersembunyi di dalam genggamannya. Permukaannya dingin, terbuat dari logam tua yang warnanya mulai menghitam dimakan usia.Charles memperhatikannya.“Apa yang kau pegang?”Elena tidak menjawab.Ia justru memasukkan kunci itu lebih dalam ke saku gaunnya.“Tidak ada.”Charles menatapnya curiga.“Jangan bohong kepadaku.”Elena tersenyum tipis.“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?”Charles terdiam.Kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Selama bertahun-tahun, Elena telah memberinya cerita tentang Maria. Tentang pengkhianatan. Tentang uang yang disembunyikan. Tentang bagaimana Maria meninggalkan keluarganya.Dan Charles mempercayainya.Terlalu lama.“Aku baru menyadari sesuatu,” ucap Charles pelan.Elena menoleh.“Apa?”“Mungkin selama ini aku tidak pernah me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebenaran yang Tersisa

    BAB SELANJUTNYA — KEBENARAN YANG TERSISABagian 2Lorong bawah tanah itu terasa semakin dingin.Raymond berjalan cepat mengikuti John. Suara langkah mereka memantul di antara dinding batu yang lembap, menciptakan gema panjang yang membuat suasana terasa semakin mencekam.Udara berbau tanah basah dan logam tua. Lampu-lampu kecil yang tertanam di dinding menyala redup, beberapa bahkan berkedip seolah sebentar lagi akan mati.“Di depan, Tuan.”John menunjuk sebuah pintu besi yang terbuka setengah.Raymond mempercepat langkah.Dua pengawal berdiri di depan pintu. Begitu melihat Raymond datang, mereka langsung menyingkir.Raymond masuk.Langkahnya mendadak berhenti.Di tengah ruangan, Ken terbaring di lantai batu.Tubuhnya masih mengenakan pakaian rumah sakit. Perban di kepalanya sudah sedikit bergeser, memperlihatkan noda darah kering di dekat pelipis. Kedua tangannya terikat di b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status