Share

Rubah Licik

Penulis: Miss Wang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 18:42:00

Tanpa aba-aba, ia maju. Tangannya meraih pinggang Clara, menariknya mendekat, dan bibirnya menekan bibir Clara—dalam namun singkat. Ciuman itu berhenti sebelum Clara sempat bernapas.

Raymond memejamkan mata. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya gelap. Clara membeku, membalas tatapan itu tanpa mampu bergerak.

Rahang Raymond mengeras. Ia melepaskan Clara, ia terdiam sejenak, lalu pria itu berbalik, dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.

Pintu tertutup.

Clara masih mematung. Ja
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hari H

    Tuan… bagaimana ini?” suara Ken panik. “Apa kita keluarkan saja dia dari sana?”Raymond berdiri kaku, mata hitamnya menahan sesuatu yang beriak di dada. “Tidak.” Suaranya rendah dan dan tegas, seperti palu yang jatuh satu kali. “Panggil dokter ke ruang bawah tanah.”Ken mengangguk cepat. “Baik, Tuan.” Ia bergegas pergi, langkahnya cepat namun senyap.Di ruang bawah tanah, Clara meringkuk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipis. Nafasnya pendek-pendek, terasa sesak. Ketika dokter datang bersama Ken, lampu kecil dinyalakan, menerangi wajah pucat itu. “Pasien demam tinggi,” gumam dokter sambil memeriksa nadi Clara. “Dehidrasi dan kelelahan. Dia butuh istirahat dan banyak cairan.”Ken menyelubungi Clara dengan selimut tebal, gerakannya hati-hati. Di ambang pintu, Raymond berdiri. Tangannya terkepal keras di sisi tubuh, urat-uratnya menegang. Ia tidak melangkah lebih dekat.Kelopak mata Clara bergetar. Ia membuka mata sedikit, pandangannya buram. Di balik cah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Persiapan Pernikahan

    Mansion Baker sudah mulai sibuk—penuh kilau palsu yang menutup bau busuk di baliknya. Aula utama dipenuhi contoh undangan berlapis emas, daftar tamu panjang yang memuat nama-nama keluarga mafia lintas kota, dan maket venue pernikahan yang megah. Charles mondar-mandir dengan senyum puas, sesekali memberi instruksi, sesekali tertawa keras, seolah pernikahan ini adalah mahkota terakhir kekuasaannya.Di sudut lain, Baker mengawasi dengan tatapan tajam. Setiap detail harus sempurna—itulah wajah yang ia pamerkan pada dunia. Sementara Veronika, anggun dalam gaun gelapnya, sesekali mendekat pada Baker, berbisik, lalu menjauh lagi. Senyum mereka saling bertukar, cepat, dan rahasia.Sementar itu, Ellen tenggelam dalam dunia yang berbeda. Ruang ganti dipenuhi gaun-gaun pengantin—sutra, renda, kilau mutiara. Ia berjalan perlahan, menyentuh kain-kain itu seolah menyentuh masa depan. Ketika Raymond masuk, Ellen langsung berbalik, matanya berbinar.“Ray,” panggilnya manja. “Bantu aku memilih gaun.”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kartu Merah

    Keesokan harinya, mansion itu masih dibungkus sunyi yang berat. Raymond melangkah di koridor belakang ketika mendapati Bu Eli berdiri di dapur kecil, menata makanan di atas nampan—sup hangat, nasi lembut, dan segelas air.Bu Eli terkejut saat bayangan tinggi menjulang muncul tepat di belakangnya. Ia berbalik cepat. “T-Tuan…” suaranya bergetar. “Ini… ini untuk Nona Clara. Maaf jika… jika tidak boleh, aku akan—”Raymond hanya diam. Tatapannya jatuh pada nampan itu cukup lama, seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah melewati Bu Eli.Ken yang menyusul di belakangnya berhenti sejenak. Ia memberi anggukan kecil pada Bu Eli, nyaris tak terlihat, lalu berbisik singkat, “Lanjutkan,” sebelum kembali mengikuti Raymond.Bu Eli menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar, namun langkahnya mantap saat ia membawa nampan itu menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.Di bawah, udara lembap dan dingin menyelimuti. Clara meringkuk di sudut ruangan, memelu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara Difitnah

    Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya. Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar. Sementara itu, Ellen berdiri anggun di dekat sofa, dagunya terangkat, sorot matanya penuh percaya diri. Clara berdiri di antara para pelayan. Jantungnya tak kalah berdegup keras seperti yang lainnya. Ada firasat buruk yang menekan dadanya sejak ia dipanggil turun.Tak lama, Raymond melangkah masuk. Setiap langkahnya mantap. Ia berdiri di tengah ruangan, tatapannya menyapu semua orang—dingin, menilai, seperti sedang menghitung siapa yang akan jatuh.“Sebuah berkas penting,” ucap Raymond akhirnya, memecah keheningan, “

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rubah Licik

    Tanpa aba-aba, ia maju. Tangannya meraih pinggang Clara, menariknya mendekat, dan bibirnya menekan bibir Clara—dalam namun singkat. Ciuman itu berhenti sebelum Clara sempat bernapas.Raymond memejamkan mata. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya gelap. Clara membeku, membalas tatapan itu tanpa mampu bergerak.Rahang Raymond mengeras. Ia melepaskan Clara, ia terdiam sejenak, lalu pria itu berbalik, dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.Pintu tertutup. Clara masih mematung. Jantungnya berdentum tak beraturan. “Ada apa dengannya…?” gumamnya pelan, kebingungan. Keesokan paginya, mansion terasa lebih sunyi dari biasanya.Clara baru keluar dari kamar dengan pakaian kampus dan beberapa buku di pelukannya ketika pintu kamar Raymond terbuka—Raymond dan Ellen melangkah keluar bersama. Ellen merapikan dasi Raymond dengan sikap intim, seolah itu haknya.Langkah Clara terhenti, ia berdiri kaku di depan pintu. Raymond dan Ellen menoleh. Ellen sengaja merapat lebih dekat, lalu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berpura-pura

    Raymond menepati kata-katanya. Sejak saat itu, ia mulai memainkan perannya—ia mulai bersikap manis pada Ellen di depan orang-orang, menggenggam tangannya sedikit lebih lama dari yang perlu, mencondongkan tubuhnya ketika berbicara, menyematkan perhatian kecil yang tampak tulus. Namun di balik semua itu, matanya tetap datar seolah sedang bertransaksi bisnis gelap. Makan malam romantis diatur Veronika dengan sempurna.Meja panjang dihiasi lilin-lilin ramping, kristal berkilau memantulkan cahaya ke dinding marmer. Musik mengalun pelan, cukup untuk menenangkan, cukup untuk menipu. Raymond duduk di seberang Ellen, jas hitamnya rapi, posturnya tegap. Ia mengangkat gelas anggur, menyesapnya sedikit—gerakannya sangat terukur.“Kau terlihat berbeda malam ini,” ujar Ellen lembut, pipinya merah merona. “Kau lebih… hangat.”Raymond mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis, “Aku akan mencoba lebih baik padamu.”Kata-kata itu membuat Ellen terdiam sesaat, lalu tersenyum lebih lebar. Ia menyukai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status