Share

Clara Difitnah

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-02-12 18:42:30

Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya.

Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”

Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”

Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar.

Sementara itu, Ellen be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keajaiban

    Kemudian... Mereka berdua menggeleng pelan. "Tidak, Sayang." Suara ibunya begitu lembut. "Belum." Clara membeku. "Belum...?" Ayahnya mengangguk. "Masih ada orang-orang yang menunggumu pulang." "Kau belum menyelesaikan perjalananmu." Ibunya tersenyum semakin hangat. "Suamimu..." "...sedang menangis." Air mata Clara kembali mengalir. "Raymond..." Ia hampir bisa membayangkan wajah pria itu. Pria yang selama ini selalu berusaha tampak kuat di depan semua orang. Pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Pria yang diam-diam mencintainya dengan seluruh jiwa. Ibunya mengangguk pelan. "Dia sangat mencintaimu." Ayahnya melanjutkan dengan suara tenang. "Dan ada seorang anak kecil..." "...yang sejak tadi memanggil mamanya." "Noah..." bisik Clara. Wajah putra sulungnya langsung terbayang jelas. Tangisan bocah itu. Pelukannya. Tawanya. Senyumnya. Kemudian sang ibu mengarahkan pandangannya ke perut Clara. "Masih ada satu kehidupan kecil..." "...yang bahkan bel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Sudah Waktunya Pergi?

    Sementara di tempat yang tak lagi mengenal siang ataupun malam... Tak ada matahari. Tak ada bulan. Tak ada batas cakrawala. Yang terbentang di hadapan Clara hanyalah hamparan cahaya putih yang seolah tidak memiliki ujung. Cahaya itu lembut, tidak menyilaukan mata, justru menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Di kejauhan, dua sosok berdiri berdampingan. Semakin lama... Semakin jelas. Seorang pria paruh baya dengan senyum teduh yang selalu membuatnya merasa aman. Di sampingnya berdiri seorang wanita berwajah lembut dengan mata penuh kasih sayang. Air mata Clara langsung memenuhi pelupuk matanya. Dadanya sesak oleh kerinduan yang selama ini hanya mampu ia simpan dalam diam. "Papa..." Suara itu keluar begitu lirih. Hampir seperti bisikan. "Mama..." Bibirnya bergetar hebat. Ia bahkan tidak menyadari air mata telah lebih dulu mengalir membasahi kedua pipinya. Sudah bertahun-tahun ia memendam keinginan sederhana itu.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara...

    Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. Lelah. Bukan karena mengurus perusahaan. Bukan karena menghadapi musuh. Bukan karena memimpin organisasi sebesar keluarga Antonio. Melainkan karena rasa takut yang terus menggerogoti hatinya sejak Clara jatuh pingsan. Tatapannya masih lurus ke depan. Kosong. "Aku selalu berpikir..." "...selama aku cukup kuat..." "...aku bisa melindungi semua orang yang kusayangi." Ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. Hampa. "Ternyata aku tidak sekuat itu." Ken menggigit bagian dalam pipinya. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini bukan kesalahan Raymond. Bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melawan penyakit seperti ini. Namun kalimat-kalimat itu terasa terlalu kecil. Tidak akan mampu mengurangi rasa sakit yang sedang dialami pria di sampingnya. Di balik pintu ICU... Suasana semakin menegangkan. "Kadar trombosit?" "Masih terus menurun!" "Bagaimana fungsi hati?" "Enzim hati men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    BIPPPPPPPPPPP...Suara panjang dari monitor jantung memecah keheningan koridor rumah sakit.Nadanya melengking tajam.Dingin.Menusuk.Menggema sepanjang lorong ICU yang diterangi cahaya lampu putih kebiruan.Setiap orang yang berada di sana spontan menghentikan langkahnya.Beberapa perawat saling berpandangan.Seorang dokter muda mempercepat langkah memasuki ruang ICU.Sementara di luar...Raymond Antonio masih berdiri membelakangi pintu ruang perawatan intensif.Tubuhnya tegak.Namun ketegangan yang sejak tadi menopang dirinya perlahan mulai runtuh.Kedua tangannya yang semula terkepal erat di sisi tubuh mulai mengendur sedikit demi sedikit.Buku-buku jarinya yang memutih perlahan kembali berwarna.Bukan karena ia mulai tenang.Melainkan karena seluruh tenaga di tubuhnya seakan habis terkuras.Ia tidak lagi mencoba mengejar dokter.Tidak lagi bertanya.Tidak lagi memaksa siapa pun menjelaskan keadaan Clara.Tatapannya kosong menembus lantai granit mengilap di bawah kakinya.Seolah s

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mama, Papa

    Sementara, itu di Mansion Antonio... Malam semakin larut. Hujan turun tipis membasahi taman belakang. Butiran air memantulkan cahaya lampu taman hingga terlihat seperti kristal-kristal kecil yang berjatuhan dari langit. Namun suasana hangat yang biasanya memenuhi rumah besar itu telah menghilang. Ruang keluarga terasa sunyi. Jam antik di dinding berdetak pelan. Noah duduk meringkuk di sofa dengan kedua lutut dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sesekali ia mengusap hidungnya menggunakan lengan piyama dinosaurus kesayangannya. Di meja depan mereka, Bu Eli menyalakan sebuah lilin kecil. Nyala apinya bergoyang pelan tertiup embusan angin dari jendela. "Nenek..." Suara Noah terdengar lirih. "Mama pasti sembuh, kan?" Bu Eli menoleh. Senyumnya berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal dadanya sendiri dipenuhi kecemasan. Wanita itu menggenggam kedua tangan kecil Noah. "Iya." Jawaban itu keluar dengan suara yang sedikit bergetar. "Mari kita berdoa.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gawat

    "Kondisi Nyonya Clara memburuk." Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibir dokter senior, tetapi dampaknya menghantam Raymond jauh lebih keras daripada ledakan peluru yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seakan kehilangan suara. Koridor VIP yang sejak tadi dipenuhi langkah kaki perawat mendadak terasa begitu jauh. Cahaya lampu putih di langit-langit terlihat menyilaukan. Bahkan suara pendingin ruangan yang terus berdengung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah wajah dokter di hadapannya. Dan kalimat itu. Kondisi Nyonya Clara memburuk. Raymond berdiri membeku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya kehilangan fokus. "Apa..." Suaranya terdengar parau, nyaris tidak keluar. "Apa maksudmu, Dokter?" Dokter senior itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia sudah bertahun-tahun menangani pasien dalam kondisi kritis, tetapi menyampaikan kabar buruk kepada keluarga tidak pernah menjadi hal yang mudah.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berpapasan

    Tanah masih bergetar di bawah kaki mereka. Getaran itu menjalar melalui papan-papan kayu rumah tua yang sudah rapuh dimakan usia. Dinding berderit, kaca jendela bergetar keras, dan debu berjatuhan dari langit-langit seperti hujan abu yang tidak pernah diundang.Clara memeluk tubuh Kakek Charly yang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Desa Terpencil

    Di mana?” suaranya rendah, namun tajam seperti pisau.Di seberang telepon terdengar napas ragu-ragu anak buahnya. “Di sebuah desa terpencil, Tuan.”Raymond menegang dengan matanya menyempit.“Desa apa?”“Kami masih memastikan koordinatnya, tapi informasinya datang dari seseorang yang mengaku pernah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mayat Wanita

    Malam-malam berikutnya di mansion terasa semakin panjang, seolah waktu sendiri ikut terjebak dalam kecemasan sang pemilik. Pencarian Clara tidak pernah benar-benar berhenti.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi di langit, mobil-mobil hitam milik Raymond sudah kembali menyusuri jalanan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Clara

    Malam itu, kota seakan bergerak di bawah satu perintah.Konvoi mobil hitam milik Raymond meluncur ke berbagai arah, memecah jalanan yang mulai lengang. Mesin meraung rendah, lampu-lampu sorot memotong gelap seperti mata para pemburu yang tak ingin kehilangan jejak mangsanya.Di dalam salah satu mob

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status