Share

Clara Difitnah

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-12 18:42:30

Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya.

Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”

Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”

Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar.

Sementara itu, Ellen be
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Runtuh

    Ketakutan membuat seseorang berlari. Keputusasaan membuat seseorang berhenti melangkah karena tidak tahu lagi harus menuju ke mana. Dan malam itu, wajah keputusasaan adalah Raymond Antonio. Hujan turun semakin deras di atas gedung rumah sakit. Butiran air menghantam lantai beton atap, menciptakan suara gemuruh yang bersahutan dengan desiran angin malam. Langit tampak pekat tanpa bintang. Awan hitam menggantung rendah, seolah ikut menanggung beban yang menekan dada pria itu. Raymond masih berlutut di tempat yang sama. Celana hitam mahalnya sudah basah kuyup. Kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini menempel pada tubuhnya karena diguyur hujan tanpa henti. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi sebagian dahi. Namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal kuat di atas lantai beton yang dingin. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun tidak beraturan seolah setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Selama hidu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuhnya Kali Ini Adalah Takdir

    Keheningan menyelimuti ruang tunggu VIP di lantai khusus rumah sakit itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar dengungan lembut pendingin ruangan dan suara langkah samar para tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor luar. Raymond berdiri tepat di hadapan dokter. Tubuhnya tegak. Tatapannya lurus. Namun sorot matanya perlahan kehilangan fokus. Seakan otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengarnya. "Preeklampsia..." ulangnya lirih. Suara itu terdengar asing. Serak. Kosong. Dokter senior di hadapannya mengangguk pelan. "Dan kami juga menemukan indikasi sindrom HELLP." Raymond berkedip lambat. Rahangnya mengeras. Namun bukan karena marah. Melainkan karena berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak sedikit demi sedikit. "Aku tidak mengerti." Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. "Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti." Dokter menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak keluarga pasien selama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sakit

    Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut," ujar dokter itu. “Sekarang?” tanya Raymond dengan bibir bergetar. “Sekarang.” “Kenapa?” “Karena saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap ibu maupun bayinya.” Ruangan langsung sunyi. Bahkan Noah yang tidak memahami sepenuhnya pembicaraan orang dewasa itu ikut terdiam. Sementara Bu Eli menggenggam kedua tangannya erat. “Apakah berbahaya?” tanyanya pelan. Dokter tidak langsung menjawab. Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup. --- Kurang dari lima belas menit kemudian... Iring-iringan mobil hitam keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan tinggi. Hujan tipis mulai turun membasahi jalanan kota. Lampu kendaraan membelah lalu lintas sore yang padat. Di kursi belakang mobil utama, Raymond duduk sambil memangku kepala Clara. Tangannya menggenggam jemari wanita itu erat. Seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik. “Clara...” Tidak ada jawaban. “Bangunlah.” Tetap tidak ada respons. Untuk pertama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Komplikasi?

    “CLARA!” Suara Raymond menggema keras di seluruh mansion, memantul di dinding marmer dan lorong-lorong luas yang biasanya tenang. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berlutut di lantai dapur. Pecahan kaca berserakan di sekeliling tubuh Clara. Segelas jus yang tadi dipegang wanita itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di atas lantai marmer putih. Cairan berwarna oranye menyebar membentuk noda tidak beraturan di dekat kakinya. Namun Raymond bahkan tidak melihat semua itu. Dunianya hanya tertuju pada satu hal. Clara. “Clara, bangun, Clara.” Tangannya yang biasanya mantap saat memegang senjata atau menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah kini bergetar saat menyentuh pipi istrinya. Kulit Clara terasa dingin. Terlalu dingin. Wajah wanita itu pucat. Kelopak matanya tertutup rapat. Tubuhnya terkulai tanpa respons. Untuk sesaat, jantung Raymond terasa berhenti berdetak. “Clara... buka matamu.” Nada suaranya berubah serak. Penuh ketakutan. Ketakutan yang bahkan t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   ABC

    Teriakan Noah sampai terdengar ke seluruh rumah. Dan beberapa langkah di belakang Noah, Clara selalu berdiri di beranda. Tersenyum. Menunggu. Hal sederhana. Namun bagi Raymond, itu adalah hal yang tidak pernah ia miliki selama puluhan tahun hidupnya. Rumah. Keluarga. Seseorang yang menunggu kepulangannya. Dan ternyata perasaan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan bisnis sebesar apa pun. *** Waktu berlalu tanpa terasa. Musim berganti. Hari demi hari berjalan tenang. Dan kehamilan Clara perlahan memasuki bulan kelima. Perutnya mulai membulat dengan jelas. Noah menjadi orang yang paling bersemangat. Setiap hari, anak itu punya ritual khusus. Menempelkan telinganya ke perut Clara. Lalu berbicara dengan adiknya. “Adik.” Hening. “Kalau dengar, tendang dua kali.” Tidak ada respons. Noah mengangguk serius. “Berarti adik malu.” Clara selalu tertawa setiap kali melihatnya. Sementara Raymond diam-diam merekam momen itu dengan ponselnya. Untuk pertama kalinya da

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Siaga

    Tatapan Raymond langsung terpaku pada ujung jari Clara. Hanya ada setitik darah di sana. Merah kecil, nyaris tak terlihat jika seseorang tidak benar-benar memperhatikannya. Namun bagi Raymond, pemandangan itu terasa seperti alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi di seluruh mansion. Suasana ruang keluarga yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa mendadak berubah. Rahang pria itu mengeras. Tatapannya berpindah dari jari Clara ke pisau kecil di atas meja, lalu kembali lagi ke jari istrinya. “Clara.” Nada suaranya rendah. Terlalu rendah. Dan Clara langsung mengenali nada itu. Nada yang biasanya muncul ketika Raymond menghadapi situasi berbahaya. Padahal saat ini yang terjadi hanyalah goresan kecil akibat pisau buah. Clara mengangkat tangannya sedikit. “Ray, ini cuma luka kecil—” “Tidak.” Raymond sudah melangkah cepat menghampirinya. “Darahnya bahkan tidak sampai—” “Tidak.” “Raymond.” “Tidak.” Clara menghela napas panjang. Bu Eli yang berdiri di samping meja langsung men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pesta Para Mafia

    Keesokan harinya, mansion terasa berbeda sejak pagi. Udara dipenuhi aroma bunga segar dan wewangian mahal. Clara duduk diam di depan meja rias, sementara dua penata sibuk mengatur detail terakhir. Tangannya dingin, tapi punggungnya tegak—ia memaksa diri mengingat setiap latihan, setiap langkah, se

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jangan Menyentuh Milik Raymond

    Raymond menyambut dingin mereka. “Masuk,” katanya pendek.Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap menuju ruang tengah. Ken memberi isyarat halus pada Clara, telapak tangannya terbuka, memintanya ikut. Clara menelan ludah, lalu melangkah. Setiap kali ia bertemu dengan Charles, ada r

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Membela Clara

    Clara berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di aspal. Tatapan Raymond jatuh tepat padanya—tajam, dingin. Udara di sekeliling mereka berubah tegang. Hans melirik bolak-balik, bingung. ‘Siapa pria ini?’ pikirnya. Ia ingin melangkah, tapi sesuatu pada cara Raymond berdiri—tenang namun mengancam—membu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Raymond Datang ke Kampus

    Raymond akhirnya melepaskan bibirnya.Gerakannya lambat, seolah ia sendiri harus memaksa dirinya berhenti. Ibu jarinya terangkat, mengusap ujung bibirnya sendiri yang basah. Clara tersentak.Ia berdiri hampir tersandung, napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Wajahnya pucat, matanya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status