Compartir

Clara Difitnah

Autor: Miss Wang
last update Fecha de publicación: 2026-02-12 18:42:30

Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya.

Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”

Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”

Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar.

Sementara itu, Ellen be
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Musuhnya Kali Ini Adalah Takdir

    Keheningan menyelimuti ruang tunggu VIP di lantai khusus rumah sakit itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar dengungan lembut pendingin ruangan dan suara langkah samar para tenaga medis yang berlalu-lalang di koridor luar. Raymond berdiri tepat di hadapan dokter. Tubuhnya tegak. Tatapannya lurus. Namun sorot matanya perlahan kehilangan fokus. Seakan otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengarnya. "Preeklampsia..." ulangnya lirih. Suara itu terdengar asing. Serak. Kosong. Dokter senior di hadapannya mengangguk pelan. "Dan kami juga menemukan indikasi sindrom HELLP." Raymond berkedip lambat. Rahangnya mengeras. Namun bukan karena marah. Melainkan karena berusaha mempertahankan ketenangan yang mulai retak sedikit demi sedikit. "Aku tidak mengerti." Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan. "Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti." Dokter menarik napas panjang. Ia sudah menangani banyak keluarga pasien selama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sakit

    Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut," ujar dokter itu. “Sekarang?” tanya Raymond dengan bibir bergetar. “Sekarang.” “Kenapa?” “Karena saya tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap ibu maupun bayinya.” Ruangan langsung sunyi. Bahkan Noah yang tidak memahami sepenuhnya pembicaraan orang dewasa itu ikut terdiam. Sementara Bu Eli menggenggam kedua tangannya erat. “Apakah berbahaya?” tanyanya pelan. Dokter tidak langsung menjawab. Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup. --- Kurang dari lima belas menit kemudian... Iring-iringan mobil hitam keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan tinggi. Hujan tipis mulai turun membasahi jalanan kota. Lampu kendaraan membelah lalu lintas sore yang padat. Di kursi belakang mobil utama, Raymond duduk sambil memangku kepala Clara. Tangannya menggenggam jemari wanita itu erat. Seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik. “Clara...” Tidak ada jawaban. “Bangunlah.” Tetap tidak ada respons. Untuk pertama

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Komplikasi?

    “CLARA!” Suara Raymond menggema keras di seluruh mansion, memantul di dinding marmer dan lorong-lorong luas yang biasanya tenang. Dalam hitungan detik, pria itu sudah berlutut di lantai dapur. Pecahan kaca berserakan di sekeliling tubuh Clara. Segelas jus yang tadi dipegang wanita itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di atas lantai marmer putih. Cairan berwarna oranye menyebar membentuk noda tidak beraturan di dekat kakinya. Namun Raymond bahkan tidak melihat semua itu. Dunianya hanya tertuju pada satu hal. Clara. “Clara, bangun, Clara.” Tangannya yang biasanya mantap saat memegang senjata atau menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah kini bergetar saat menyentuh pipi istrinya. Kulit Clara terasa dingin. Terlalu dingin. Wajah wanita itu pucat. Kelopak matanya tertutup rapat. Tubuhnya terkulai tanpa respons. Untuk sesaat, jantung Raymond terasa berhenti berdetak. “Clara... buka matamu.” Nada suaranya berubah serak. Penuh ketakutan. Ketakutan yang bahkan t

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   ABC

    Teriakan Noah sampai terdengar ke seluruh rumah. Dan beberapa langkah di belakang Noah, Clara selalu berdiri di beranda. Tersenyum. Menunggu. Hal sederhana. Namun bagi Raymond, itu adalah hal yang tidak pernah ia miliki selama puluhan tahun hidupnya. Rumah. Keluarga. Seseorang yang menunggu kepulangannya. Dan ternyata perasaan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan bisnis sebesar apa pun. *** Waktu berlalu tanpa terasa. Musim berganti. Hari demi hari berjalan tenang. Dan kehamilan Clara perlahan memasuki bulan kelima. Perutnya mulai membulat dengan jelas. Noah menjadi orang yang paling bersemangat. Setiap hari, anak itu punya ritual khusus. Menempelkan telinganya ke perut Clara. Lalu berbicara dengan adiknya. “Adik.” Hening. “Kalau dengar, tendang dua kali.” Tidak ada respons. Noah mengangguk serius. “Berarti adik malu.” Clara selalu tertawa setiap kali melihatnya. Sementara Raymond diam-diam merekam momen itu dengan ponselnya. Untuk pertama kalinya da

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Siaga

    Tatapan Raymond langsung terpaku pada ujung jari Clara. Hanya ada setitik darah di sana. Merah kecil, nyaris tak terlihat jika seseorang tidak benar-benar memperhatikannya. Namun bagi Raymond, pemandangan itu terasa seperti alarm darurat yang tiba-tiba berbunyi di seluruh mansion. Suasana ruang keluarga yang beberapa detik lalu dipenuhi tawa mendadak berubah. Rahang pria itu mengeras. Tatapannya berpindah dari jari Clara ke pisau kecil di atas meja, lalu kembali lagi ke jari istrinya. “Clara.” Nada suaranya rendah. Terlalu rendah. Dan Clara langsung mengenali nada itu. Nada yang biasanya muncul ketika Raymond menghadapi situasi berbahaya. Padahal saat ini yang terjadi hanyalah goresan kecil akibat pisau buah. Clara mengangkat tangannya sedikit. “Ray, ini cuma luka kecil—” “Tidak.” Raymond sudah melangkah cepat menghampirinya. “Darahnya bahkan tidak sampai—” “Tidak.” “Raymond.” “Tidak.” Clara menghela napas panjang. Bu Eli yang berdiri di samping meja langsung men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Malu

    Tatapan Clara tidak lepas dari buah-buah hijau kecil yang baru saja diletakkan Raymond di atas meja ruang keluarga. Namun sebenarnya, yang membuat matanya perlahan berkaca-kaca bukanlah mangga itu. Melainkan pria yang berdiri tepat di depannya. Raymond Antonio. Pria yang namanya cukup membuat banyak orang menundukkan kepala. Pria yang biasanya selalu tampil sempurna dengan setelan mahal, rambut rapi, dan aura dingin yang sulit didekati. Kini berdiri di tengah ruang keluarga dengan kondisi yang benar-benar menyedihkan. Rambut hitamnya berantakan ke segala arah. Kemeja putih mahal yang pagi tadi disetrika sempurna sekarang penuh kusut dan bercak tanah. Bagian lengannya tergulung tidak beraturan. Ada goresan tipis di punggung tangannya. Dan yang paling parah... Sepotong rumput liar masih tersangkut santai di bahu jasnya. Clara menggigit bibir kuat-kuat agar tidak tertawa. Sayangnya gagal. Sudut bibirnya sudah terangkat lebih dulu. "Ray..." Raymond yang sedang berusaha me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Canggung

    Raymond masih menatap ke arah pintu kaca hotel itu, matanya mengikuti dua sosok yang semakin menjauh di trotoar seberang jalan.Ken menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas ke luar melalui kaca besar lobby.“Ya, Tuan,” jawabnya setelah beberapa detik. “Namanya Amanda… pegawai front office yang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Meeting

    Beberapa pegawai langsung saling berpandangan dengan wajah tegang. Meeting langsung dengan CEO bukanlah hal yang biasa. Biasanya pertemuan seperti itu hanya dihadiri para manajer atau kepala departemen.Namun kali ini berbeda.Jennifer berdiri tegak di tengah lobby, matanya menatap seluruh staf den

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ceo Hotel Genio

    Kalimat itu seolah menjadi pemicu bagi kepanikan yang lebih besar. Para pegawai yang sebelumnya sudah tegang kini benar-benar bergerak dengan cepat.Ada yang merapikan meja resepsionis, ada yang mengecek bunga di meja lobby, dan ada pula yang memperbaiki posisi karpet yang sedikit miring.Sella ber

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Cemoohan

    Setelah pemberitahuan itu, suasana hotel yang sebelumnya masih berjalan normal berubah seketika, seperti langit cerah yang tiba-tiba tertutup awan badai. Para pegawai yang beberapa menit lalu masih berdiri santai sambil mengobrol kini bergerak cepat ke sana kemari, langkah mereka tergesa, suara sep

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status