Kakak Ipar, Jadikan Aku Milikmu Lagi
"Mau aku buat hamil?"
Setelah dua tahun menikah tanpa kasih sayang, Keiko masih bertahan bersama suaminya demi mempertahankan panti asuhan peninggalan kakeknya. Dia diberi kehidupan yang berkecukupan, tetapi sebagai gantinya, Keiko harus menerima pernikahan tanpa cinta.
Namun, Keiko justru kembali bertemu dengan Kafka, mantan kekasih yang telah berusaha dia lupakan selama bertahun-tahun. Pria itu ternyata adalah kakak dari suami Keiko yang dua tahun lalu pindah keluar negeri.
Keiko pikir Kafka pasti telah melupakannya. Setelah mendengar kabar Kafka bertunangan di luar negeri, dia yakin bahwa pria itu memang telah memilih wanita lain. Keiko ingin menjaga jarak dan menutup masa lalu, tapi Kafka malah menariknya ke dalam dekapan yang tidak pernah Keiko dapat dari lelaki selain dirinya.
“Jangan menolak, Keiko... Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”
Basahin
Chapter: Bab 84 - Keiko sudah BerubahRumah itu tampak sunyi. Lampu di lantai bawah hanya dinyalakan separuh, menyisakan sudut-sudut remang yang justru membuat suasana terasa dingin. Tidak terdengar suara televisi ataupun percakapan dari ruangan lain.Begitu ia mendorong pintu masuk, langkahnya langsung terhenti.Di ruang tengah, Raffa sedang duduk sendiri di atas sofa panjang. Jas kantornya sudah dilepas, kemejanya berantakan dengan beberapa kancing atas terbuka, dan di atas meja di hadapannya terdapat sebuah gelas kosong serta botol wiski yang isinya sudah berkurang separuh.Pria itu menengadah saat mendengar suara pintu. Matanya yang sedikit merah menatap tajam ke arah Keiko.Keiko tidak langsung melangkah lebih jauh. Ia mengamati posisi suaminya sebentar, mencoba memperkirakan suasana hati pria itu dari ekspresinya. Raffa tampak sedang menunggu seseorang, dan melihat keberadaannya di sana, Keiko tahu bahwa orang yang ditunggu itu tidak lain adalah dirinya."Dari mana saja kamu jam segini?" suara Raffa terdengar parau,
Huling Na-update: 2026-11-05
Chapter: Bab 83 - Karena Kamu"Masih mau di sini sebentar, atau mau turun?" tanya Kafka lembut, ibu jarinya mengusap bibir bawah Keiko yang sempat tergigit tadi.Keiko menunduk sejenak, lalu kembali menatap pria itu dengan sorot mata yang menyiratkan kerinduan sekaligus keengganan berpisah. "Jangan suruh aku turun sekarang, Kak."Kafka tersenyum tipis. Ia memahami maksud perempuan itu tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Sejak beberapa waktu terakhir, setiap kali mereka harus berpisah, Keiko selalu menunjukkan keengganan yang sama. Bukan karena tidak ingin pulang, melainkan karena rumah yang harus dimasukinya tidak pernah memberikan ketenangan seperti yang ia rasakan saat bersama Kafka.Tanpa banyak bicara, Kafka membuka sabuk pengaman Keiko, lalu menarik tubuh perempuan itu berpindah ke pangkuannya. Gerakan itu natural, seolah tubuh mereka sudah terbiasa menyatu tanpa perlu aba-aba.Keiko melingkarkan kedua lengannya di leher Kafka. Ia membiarkan wajahnya dibenamkan di ceruk leher pria itu, menghirup aroma maskul
Huling Na-update: 2026-11-05
Chapter: Bab 82 - Percaya pada KafkaMobil Kafka terparkir di sebuah sudut halaman Kediaman Utama yang agak gelap, terlindung oleh rimbunnya pohon mangga tua dengan batang besar dan cabang-cabang yang menjulur lebar. Letaknya cukup jauh dari pintu utama sehingga keberadaan mobil tersebut tidak akan langsung terlihat oleh siapa pun yang berada di dalam rumah. Hanya sebagian kecil cahaya lampu teras yang menembus sela-sela dedaunan, jatuh samar di atas kap mobil yang sudah lama tidak bergerak.Mesin telah dimatikan beberapa menit lalu. Namun, lampu kabin yang redup masih memancarkan cahaya temaram ke wajah Keiko. Perempuan itu duduk diam di kursi penumpang, menatap lurus ke arah pintu depan rumah suaminya. Lampu teras berwarna kuning terlihat menyala, seolah menyambut kedatangannya untuk kembali memasuki tempat yang selama ini lebih menyerupai penjara daripada rumah.Ada perasaan enggan yang sulit disembunyikan. Bahkan setelah beberapa menit berlalu, Keiko belum juga mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu mobil dan tu
Huling Na-update: 2026-11-05
Chapter: Bab 81 - Telepon yang Mengganggu Keiko tersenyum kecil, tubuhnya masih basah dan panas di pangkuan Kafka. Namun sebelum ia sempat menarik napas lega, Kafka sudah membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang tegas. Ia memposisikan Keiko menghadap ke depan, tubuh perempuan itu menempel ke setir, sementara Kafka tetap berada di belakangnya. "Kak…?" suaranya kecil, sedikit terkejut. "Belum cukup," gumam Kafka di tengkuknya, suaranya serak dan rendah. Tangannya merayap naik di bawah blus yang sudah terbuka, meremas lembut dadanya dari belakang sambil bibirnya mengecup dan menggigit pelan di leher Keiko. "Aku masih lapar. Mau merasakanmu lagi." Keiko menggigit bibirnya sendiri ketika Kafka menarik pinggulnya ke belakang, menempelkan tubuh mereka lebih erat. Ia merasakan kekerasannya yang sudah tegang lagi menekan di celahnya. Dengan satu tangan menahan pinggang Keiko, Kafka mendorong masuk perlahan dari belakang—sangat dalam—sampai Keiko terlonjak dan mengeluarkan suara kecil yang manis. "Mmmhh… Kakak…" Kafka mengg
Huling Na-update: 2026-11-04
Chapter: Bab 80 - Keduanya Sangat BernafsuMalam sudah semakin larut ketika Keiko akhirnya keluar dari rumah sakit. Pemeriksaan lanjutan dan beberapa urusan administrasi membuatnya harus menunggu lebih lama dari perkiraan.Namun, bukan itu yang membuatnya kesal.Ibu Martha sudah pergi lebih dahulu.Perempuan itu bahkan tidak merasa perlu menunggu Keiko menyelesaikan urusannya. Sopir keluarga hanya meninggalkan pesan bahwa ia mendapat perintah mengantar Ibu Martha pulang karena ada keperluan mendadak.Keiko menghela napas sambil memeriksa ponselnya.Tidak ada pesan dari Ibu Martha. Hanya ada satu pesan masuk dari Kafka.[Aku di parkiran. Dekat pintu keluar sebelah timur.]Keiko segera berjalan menuju tempat yang dimaksud.Sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari pintu keluar. Begitu Keiko mendekat, pintu penumpang terbuka dari dalam.Kafka duduk di balik kemudi dengan kemeja gelap dan lengan yang tergulung sampai siku. Tatapannya langsung tertuju kepada Keiko."Masuk."Keiko menurut. Begitu pintu tertutup, Kafka mengamati w
Huling Na-update: 2026-11-04
Chapter: Bab 79 - Pemeriksaan KeikoDokter yang menangani Keiko tampak memeriksa beberapa berkas sebelum mengangkat wajah. Ruangan itu cukup luas dan bersih, dengan aroma antiseptik yang samar. Martha duduk di kursi dekat meja pemeriksaan, sementara Keiko berada di hadapan dokter dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan. "Baik, Nyonya Keiko. Sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai riwayat kesehatan dan kehidupan reproduksi Anda." Keiko mengangguk. "Sudah berapa lama Anda menikah?" "Hampir dua tahun, Dokter." "Selama itu, apakah Anda pernah hamil?" "Belum." Dokter mencatat jawabannya. "Bagaimana dengan hubungan intim bersama suami? Apakah dilakukan secara teratur?" Pertanyaan itu membuat Keiko terdiam. Jari-jarinya spontan saling meremas. Ia tahu pertanyaan semacam ini mungkin akan muncul, tetapi tetap saja ia tidak siap menghadapinya. Selama hampir dua tahun menjadi istri Raffa, ia bahkan tidak pernah sekali pun melakukan hubungan intim dengan pria
Huling Na-update: 2026-11-04
Chapter: Bab 288 - Puncak BahagiaSuasana ruang keluarga utama kediaman Dirgantara terasa teramat teduh, diiringi harum semerbak bunga melati segar dari vas kristal di sudut ruangan serta alunan musik klasik ber-volume rendah yang menenangkan. Di atas sofa empuk berlapis kain beludru krem, Althea duduk bersandar dengan nyaman. Gaun katun panjang berwarna putih gading yang dikenakannya tampak serasi dengan tataan interior ruangan. Di pangkuannya, Kalathea yang kini makin menggemaskan sedang sibuk memegang mainan kayu berbentuk mobil-mobilan kecil. Pipi merahnya yang empuk dan matanya yang bulat jernih dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Kael melangkah masuk dari arah ruang kerja pribadi. Pria itu sudah melepas jas formal serta dasinya, kini hanya mengenakan kemeja putih yang digulung rapi sampai ke siku dan celana bahan hitam. Sosok tegap yang dulu selalu terlihat kaku dan dingin itu melangkah dengan tatanan raut wajah yang begitu hangat begitu matanya menangkap keberadaan istri dan anaknya. "Bagaimana kond
Huling Na-update: 2026-08-27
Chapter: Bab 287Setelah menghabiskan waktu berlibur yang begitu menenangkan di villa tepi pantai, rombongan keluarga Dirgantara kembali ke mansion utama. Suasana rumah megah itu kini terasa jauh lebih hidup. Lorong-lorong marmer yang dulu terasa dingin dan sepi kini setiap harinya dipenuhi oleh kehangatan tawa serta nuansa domestik yang menenangkan. Pagi hari di area taman belakang mansion, sinar matahari hangat menembus celah-celah dedaunan hijau. Burung-burung berkicau riang di sekitar kolam air mancur. Di atas rumput sintetis yang bersih dan tebal, sebuah alas karpet piknik telah tergelar rapi. Althea duduk berselonjor di atas karpet, mengenakan gaun santai katun berwarna merah muda lembut. Di depannya, Kalathea yang kini sudah makin menggemaskan duduk di atas pangkuan khusus seraya memainkan mainan klintingan kayu berukir halus. Suara tawa gusi dan cicitan kecil terus terdengar dari mulut mungil bayinya. Kael melangkah keluar dari teras belakang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk sega
Huling Na-update: 2026-08-26
Chapter: Bab 286Malam hari di villa pribadi tepi pantai berlangsung dengan sangat tenang. Angin malam berembus perlahan membelah keheningan, membawa aroma khas laut yang menyejukkan. Di teras atas yang menghadap langsung ke arah hamparan laut lepas, pendar lampu hias berwarna kuning temaram menciptakan suasana intim dan hangat. Althea duduk santai di atas kursi panjang berlapis busa empuk, berselimut kain rajut tebal hingga batas dada. Di dalam boks bayi portabel di dekatnya, Kalathea sudah tertidur lelap setelah diminumi susu malam. Wajah mungilnya tampak tenang dengan napas yang teratur. Kael melangkah keluar dari dalam ruangan membawa dua cangkir cangkir keramik berisi teh herbal hangat. Pria itu mengenakan sweater rajut hitam berpotongan simpel yang dipadukan dengan celana bahan santai. Kael meletakkan satu cangkir di meja kecil dekat Althea, lalu mendudukkan tubuh tegapnya tepat di samping istrinya. Kael melingkarkan lengan besarnya di bahu Althea, menarik tubuh halus istrinya merapat ke d
Huling Na-update: 2026-08-26
Chapter: Bab 285Matahari sore mulai condong ke arah barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat melintasi teras luas villa pribadi tepi pantai. Angin laut berembus sepoi-sepoi membawa kesegaran alami. Setelah menghabiskan waktu bersantai di pagi hari, kini dinamika domestik keluarga kecil itu berlanjut di dalam ruang keluarga utama villa yang berdinding kaca transparan. Althea tampak duduk berselonjor di atas sofa empuk berlapis kain linen putih. Di sampingnya, satu set perlengkapan menyusui dan botol-botol ASI steril tertata rapi di atas meja. Sementara itu, Kalathea kecil yang baru saja terbangun dari tidur siang mulai mengeluarkan dengusan halus seraya menggerakkan kedua kaki mungilnya ke udara. Kael melangkah keluar dari kamar mandi dalam dengan handuk kecil tersampir di bahunya. Pria itu sudah membasuh wajah dan menggulung lengan kemeja lineng putihnya hingga ke siku. Begitu melihat Kalathea mulai menggeliat gelisah, langkah Kael langsung mengarah cepat menuju sofa tempat anak dan i
Huling Na-update: 2026-08-25
Chapter: Bab 284 - Waktu Luang Keluarga KecilDeru angin laut yang lembut berembus perlahan menerpa pepohonan kelapa di sekitar halaman villa pribadi keluarga Dirgantara. Villa megah yang terletak di atas tebing tepi pantai selatan itu menyajikan pemandangan hamparan laut biru yang membentang luas tanpa batas. Suasana di sekitar properti sangat tenang, terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk perkotaan dan hiruk-pikuk bursa saham yang biasa mengelilingi kehidupan Kael. Di teras lantai dua yang dilapisi kayu jati berpelitur halus, Althea berdiri menghirup udara segar pagi hari. Wanita itu mengenakan gaun santai lengan panjang berwarna krem yang longgar. Garis pantai dan deburan ombak di bawah sana memberikan ketenangan luar biasa yang sudah lama tidak dirasakannya. Dari arah dalam villa, Kael melangkah keluar menuju teras. Pria itu tampil sangat santai tanpa setelan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja katun linen putih yang dibiarkan terbuka dua kancing teratas serta celana kain santai berwarna abu-abu. Di dalam dekapannya, K
Huling Na-update: 2026-08-25
Chapter: Bab 283 - Momen Kecil yang BerhargaPukul tiga sore, suasana gedung utama Dirgantara Group berjalan sibuk seperti biasa. Di ruang rapat lantai lima puluh, puluhan direktur eksekutif berdiri rapi mengelilingi meja kaca besar, mendengarkan paparan proyek investasi baru yang diproyeksikan untuk kuartal mendatang.Kael duduk di kursi utama, mengenakan setelan jas hitam elegan. Tatapan matanya tajam memindai grafik di layar proyeksi, sesekali mengangguk pelan menilai angka-angka yang dipaparkan.Di samping kursi Kael, Bayu melangkah mendekat secara sangat perlahan, menundukkan tubuhnya untuk berbisik di dekat telinga sang CEO."Tuan Kael, waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit," bisik Bayu penuh rasa hormat. "Mobil sudah siap di pelataran parkir bawah."Kael melirik jam tangan kustom di pergelangan tangan kirinya. Pria itu mengatupkan berkas laporan di depannya, lalu berdiri tegak dari duduknya. Seluruh direktur di dalam ruangan seketika menghentikan pembicaraan dan berdiri membungkuk hormat."Lanjutkan detail t
Huling Na-update: 2026-08-24
Chapter: Hari Bahagia Alina dan DewaPagi yang cerah menyelimuti sebuah area vila bernuansa alam di daerah pegunungan yang sejuk. Angin berembus pelan membawa aroma kesegaran rumput dan bunga-bunga segar. Hari ini, tempat itu disulap menjadi lokasi janji suci dan resepsi pernikahan bernuansa putih dan krem yang sangat anggun. Di dalam kamar rias utama, Alina berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pernikahan berwarna putih bersih dengan potongan elegan dan aksen renda halus yang menjuntai cantik. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati kecil yang menyebarkan aroma harum. Raut wajah Alina terlihat sangat tenang. Tidak ada lagi rasa cemas atau ketakutan yang dulu pernah mengikis jiwanya. Cermin di hadapannya kini memantulkan sosok wanita yang tangguh, bahagia, dan penuh rasa syukur. Pintu kamar rias terbuka pelan. Dewa melangkah masuk dengan setelan jas pernikahan berwarna hitam klasik yang sangat pas di tubuhnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu, terpana menatap Alin
Huling Na-update: 2026-10-06
Chapter: Kebersamaan dan Kejutan ManisSore hari di halaman belakang rumah Alina terasa begitu hangat. Cahaya matahari yang mulai menyengat lembut berwarna keemasan menerobos celah daun-daun pohon kamboja, memantulkan bayangan indah di atas rumput hijau yang baru dipangkas.Alina duduk di kursi kayu teras, memegang sebuah buku sketsa kecil di pangkuannya. Jemarinya sibuk menggerakkan pensil, menggoreskan garis demi garis untuk merancang tata letak galeri seni milik almarhum ibunya yang akan kembali dibuka bulan depan.Suara langkah kaki yang pelan menghentikan fokus Alina. Ketika ia mendongak, Dewa sudah berjalan mendekat dari arah samping rumah. Pria itu menanggalkan jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam santai. Di tangan kanannya, Dewa membawa sebuah kotak kayu berukir klasik yang cukup besar."Masih sibuk menggambar, Lin?" tanya Dewa lembut seraya mengulas senyum hangat.Alina menutup buku sketsanya dan meletakkannya di atas meja kecil. "Cuma coretan
Huling Na-update: 2026-10-06
Chapter: Kekecewaan yang Tak BeralasanSuasana kamar tidur yang mewah di kawasan perumahan elite itu terasa sangat menggepit. Pecahan kaca dari cangkir porselen berserakan di atas karpet bulu tebal, berdampingan dengan beberapa majalah busana yang koyak.Dinda berdiri di dekat meja rias dengan napas memburu. Kedua tangannya gemetar hebat, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Di layar ponsel yang tergeletak di atas kasur, panggilan telepon dari mamanya baru saja terputus beberapa detik lalu.Suara mamanya masih terngiang jelas di telinganya, menyampaikan kabar yang meruntuhkan seluruh harga diri dan harapannya. Dewa, pria yang selama ini selalu ia kejar dan ia anggap akan menjadi milik penuhnya, telah resmi melamar Alina."Tidak mungkin," bisik Dinda dengan suara parau. "Ini tidak mungkin terjadi!"Dinda menyapu seluruh botol parfum mahal dan alat rias di atas meja hingga jatuh membentur lantai dengan suara gaduh. Air mata kemarahan dan kekecewaan meluncur deras menelusuri pipinya.Selama ini Dinda meras
Huling Na-update: 2026-10-06
Chapter: Dekapan Hangat Pria Milik AlinaSinar matahari pagi merambat perlahan melewati celah dedaunan pohon kamboja tua di halaman depan. Kelopak-kelopak bunga melati yang bermekaran di sepanjang jalan setapak menebarkan aroma harum yang lembut, terbawa angin sepoi-sepoi yang berembus pelan. Rumah peninggalan orang tua Alina kini berdiri anggun dengan balutan cat putih yang bersih. Suasana sepi yang menenangkan menyelimuti setiap sudut tempat itu. Alina berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan kedua lengannya pada pembatas besi yang dingin. Jemarinya mengusap permukaan besi itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa begitu lapang saat menghirup udara pagi. Rasa cemas yang biasa menekan impitan dadanya setiap kali mendengar langkah kaki atau suara pintu kini telah sepenuhnya menguap. Dari arah dalam, terdengar derap langkah kaki yang teratur menapak tangga kayu. Alina tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Bau harum teh melati hangat yang familier lebih dulu menyapa penci
Huling Na-update: 2026-10-05
Chapter: Bukan Pria SembaranganSuasana Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan penuh sesak oleh awak media dan pengunjung. Kamera pers berkali-kali menyala, menyorot dua terdakwa yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat pasi. Elang dan Hadisti duduk berdampingan, namun tidak ada lagi interaksi hangat di antara mereka. Sepanjang persidangan, keduanya justru saling lempar tuduhan demi menyelamatkan diri masing-masing.Alina duduk tenang di barisan kursi pengunjung depan bersama Dewa. Tangannya berada dalam genggaman erat Dewa yang hangat. Alina memperhatikan bagaimana Elang tampak berantakan dengan kemeja putih yang kusut dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Ketampanan dan keangkuhan yang dulu membumbung tinggi kini sirna tanpa sisa.Hakim Ketua mengetukkan palu kayu tiga kali, memutus kebisingan di ruang sidang."Memutuskan, menyatakan Terdakwa Satu, Elang Wiraatama, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana KDRT, penggelapan dana perusahaan, serta tindak pidana
Huling Na-update: 2026-10-05
Chapter: Hak Alina yang dikembalikanAlina berdiri di samping Dewa di bawah naungan pohon kamboja tua halaman depan. Gulungan dokumen kepemilikan tanah dan bangunan yang sah berada dalam dekapan Alina. Matanya menatap bangunan bergaya klasik itu dengan rasa haru yang membuncah. Rumah yang selama dua tahun ini dijadikan ajang pamer oleh Elang dan ibunya kini sepenuhnya telah kembali ke tangan pemilik aslinya."Semua kunci pintu depan, samping, dan belakang sudah selesai diganti, Bu Alina," ujar kepala petugas keamanan seraya memberikan seikat kunci baru kepada Alina."Terima kasih banyak, Pak," balas Alina tulus. Ia menerima seikat kunci tersebut dengan jemari yang bergetar pelan."Bagaimana dengan sisa barang pribadi Elang di dalam, Lin?" tanya Dewa lembut seraya merangkul pelan bahu Alina. "Petugas sudah mengemas semuanya ke dalam beberapa kardus rapi di teras.""Biarkan saja di teras, Dewa. Aku tidak ingin ada satu pun barang milik pria itu tersisa di dalam rumah orang tuaku," sahut Alina datar.Belum sempat Dewa memba
Huling Na-update: 2026-10-05