Chapter: Bab 250 - Pintu Kesempatan dan Perlindungan Althea terdiam beberapa saat dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Informasi dari sekretaris utamanya terdengar sangat tidak terduga. Proyek raksasa yang dulu pernah digagas oleh almarhum ayahnya bersama konsorsium Eropa tiba-tiba kembali mencuat, dibawakan langsung oleh perwakilan tingkat tinggi yang rela terbang melintasi benua. Kael yang berada di sampingnya dapat merasakan perubahan keterkejutan dari tubuh Althea. Pria itu mengencangkan usapan jemarinya di pinggang Althea, menyalurkan rasa tenang secara instingtif. "Nyonya Althea? Apakah Anda terhubung?" suara sekretaris utama terdengar kembali dari seberang telepon, penuh dengan nada kehati-hatian. Althea menguasai diri, mengembuskan napas pelan sebelum merespons. "Ya, saya masih mendengarkan. Apakah mereka melampirkan berkas resmi dari konsorsium pusat?" "Sangat lengkap, Nyonya," jawab sekretaris itu cepat. "Seluruh dokumen verifikasi hukum dan legalitas perusahaan mereka sudah disahkan oleh kedutaan. Mereka meny
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: Bab 249 - Syukuran SederhanaMalam harinya, suasana mansion Dirgantara terasa begitu istimewa. Untuk merayakan kabar bahagia kehamilan Althea serta tuntasnya pengurusan sertifikat peninggalan orang tua Althea, Kael mengadakan acara syukuran kecil yang sangat privat di area taman belakang. Lampu-lampu temaram berdesain elegan menghiasi gazebo taman yang luas. Sebuah meja panjang tertata rapi dengan berbagai hidangan bernutrisi tinggi yang disiapkan khusus oleh koki pribadi. Acara syukuran ini hanya dihadiri oleh Kael, Althea, serta beberapa kerabat dekat dan staf kepercayaan yang selama ini sangat setia kepada keluarga Dirgantara. Althea tampil anggun dalam balutan gaun longgar berwarna krem berbahan sutra yang lembut. Rambutnya disanggul halus secara acak, memperlihatkan leher jenjang dan bahu anggunnya. Kael berdiri di sisinya dengan kemeja hitam yang pas di tubuh tegapnya, tidak pernah membiarkan tangannya lepas dari pinggang Althea. "Selamat untuk kehamilannya, Nyonya Althea, Tuan Kael," ucap kepala ko
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 248 - Genggaman Hangat Mobil mewah Kael berhenti dengan mulus di pelataran utama mansion Dirgantara. Beberapa pelayan bersiap menyambut kedatangan mereka, sementara Kael turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi Althea dengan gerakan yang amat cekatan. Althea menyambut uluran tangan Kael, melangkah keluar sambil tetap memegang erat amplop berisi foto cetakan USG pertama buah hati mereka. Wajahnya berseri gembira, memancarkan binar bahagia yang tak mampu disembunyikan. "Kamu kelihatan senang sekali dari tadi," gumam Kael rendah, menyandarkan kecupan singkat di pelipis istrinya saat mereka melangkah masuk melewati pintu ganda utama. "Tentu saja aku senang," sahut Althea manis. Dia menatap Kael dengan binar mata yang penuh rasa syukur. "Mendengar detak jantungnya tadi membuat semuanya terasa makin nyata. Ada kehidupan kecil di dalam sini yang tumbuh karena cinta kita." Kael tersenyum tipis, merangkul pinggang Althea lebih erat. Sentuhan jemari besarnya di pinggang sang istri mengalirkan dominasi y
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 247 - Usapan Lembut dan Langkah PertamaPagi harinya, suasana mansion utama terasa sangat tenang dan hangat. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden tinggi di kamar utama.Kael sudah terbangun lebih awal. Pria itu berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Althea yang masih tertidur lelap. Usapan jemari besarnya yang hangat menyusuri pipi halus sang istri dengan penuh kelembutan.Althea bergerak pelan, kelopak matanya perlahan terbuka. Senyum tipis langsung terukir saat wajah tampan suaminya menjadi hal pertama yang dilihatnya."Pagi, Kael," sapa Althea dengan suara khas bangun tidur."Pagi, Nyonya Dirgantara," sahut Kael rendah. Pria itu menunduk, mengecup bibir Althea dengan sentuhan hangat yang teratur. "Bagaimana perasaanmu pagi ini? Ada rasa mual?"Althea menggeleng pelan di atas bantal. "Tidak ada. Tubuhku terasa sangat segar."Kael tersenyum puas. Telapak tangannya turun ke perut datar Althea, mengusapnya perlahan di balik piyama sutra. "Bagus. Karena hari ini kita
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 246 - Lingkaran Hangat dan Rahasia di Balik Lemari Suasana di dalam mansion utama terasa amat hening dan menenangkan. Pendar cahaya lampu gantung bernuansa hangat menerangi ruang keluarga yang megah, menciptakan kesan aman yang menyelimuti seluruh sudut ruangan. Kael masih merangkul Althea di atas sofa empuk, tidak memberikan celah sedikit pun bagi rasa cemas untuk kembali merayap di pikiran istrinya. Telapak tangan besarnya yang hangat terus mengusap lembut punggung Althea, mengalirkan kekuatan yang perlahan mengembalikan ketenangan wanita itu. Althea menghela napas panjang di dada bidang Kael. Kehangatan yang disalurkan sang suami benar-benar menjadi penawar ampuh atas kabar mengejutkan mengenai Inara. "Aku tidak tahu harus merasa kasihan atau sedih," bisik Althea lirih, memecah keheningan di antara mereka. "Dulu wanita itu begitu membenciku dan selalu menganggapku tidak pantas berada di dekat anaknya. Sekarang dia justru menghancurkan dirinya sendiri karena keserakahannya." Kael menunduk, mendaratkan ciuman lembut di puncak ke
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 245 - Topeng di Balik Tragedi Kael merebut ponsel dari tangan Althea dengan gerakan cepat. Matanya yang tajam membaca pesan singkat dan mengamati foto cincin ukir zamrud di layar tersebut. Binar mata Kael mendadak mengeras. Dia mengenali bentuk perhiasan itu. Itu adalah cincin peninggalan almarhum ibu kandung Althea yang dilaporkan hilang tepat saat peristiwa kecelakaan tragis belasan tahun lalu. Althea berdiri mematung di samping Kael. Tubuhnya perlahan gemetar, bukan hanya karena terkejut melihat foto perhiasan milik almarhum ibunya, melainkan karena memori kelam yang mendadak menyeruak hebat memenuhi pikirannya. "Cincin itu..." bisik Althea dengan suara lirih dan bergetar. "Kael... itu cincin yang dipakai ibuku di hari kecelakaan mobil itu." Kael langsung merangkulkan tangannya di bahu Althea, menarik istrinya ke dalam dekapan hangat yang protektif. "Tenang, Sayang. Jangan biarkan pesan ini membuatmu terguncang." Althea menyandarkan kepalanya di dada Kael, namun napasnya mulai terasa sesak oleh penyesalan
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 17"Aku harus pergi," bisik Alina pelan namun tegas. Dia memundurkan langkahnya dari hadapan Dewa. "Aku harap kamu nggak perlu ikut campur lagi. Aku mau lihat dengan mata kepalaku sendiri apa benar Mas Elang berselingkuh." Tanpa menunggu balasan Dewa, Alina berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga. Dia melangkah lebar melintasi ruang tengah lalu keluar melewati pintu depan tanpa menoleh lagi. Dewa tidak tinggal diam. Pria itu menyambar kunci mobil dari meja, lalu melangkah cepat mengejar Alina yang baru saja sampai di halaman depan. Sebelum Alina sempat membuka pagar, Dewa menyambar pergelangan tangan wanita itu dan menariknya menuju mobil hitamnya yang terparkir. "Dewa!" seru Alina panik saat Dewa membukakan pintu penumpang depan dan mendorongnya masuk secara paksa. Alina menghempaskan tangan Dewa saat pria itu hendak memasangkan sabuk pengaman. "Aku bilang aku bisa pergi sendiri!" Dewa tidak terpengaruh. Dia mengunci pintu dari samping pengemudi, lalu memasang sabuk pengamannya
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: Bab 16Alina tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya. Tanpa menjawab pertanyaan Dewa, dia berbalik dan berlari kencang menaiki tangga menuju kamarnya. Pintu kamar dihempaskan dan dikunci rapat. Alina meluruh di balik pintu, memeluk lututnya dengan air mata yang menetes menahan rasa hina atas ucapan Elang. Di bawah, Dewa masih berdiri kaku. Rahangnya mengeras halus dan tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Di balik sikap tenang dan pembawaannya yang santai, ada gairah yang membakar sekaligus dorongan kuat untuk menghajar abangnya sendiri yang sudah bersikap sekasar itu pada Alina. Dewa menyusul naik ke lantai atas. Langkah footstep-nya tenang namun mantap. Pria itu berhenti di depan pintu kamar Alina, lalu menggetok kayunya pelan. Tok. Tok. Tok. "Alina, buka pintunya," ucap Dewa pelan dari luar. Tidak ada jawaban dari dalam, hanya hening yang mencekat. "Alina, jangan menangis sendirian di dalam. Buka pintunya, kita bicara baik-baik," bujuk Dewa lagi dengan suara rendah yang telaten.
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 15Dewa menarik cangkir kopinya perlahan, namun pandangannya sama sekali tidak terlepas dari wajah Alina. Matanya mengunci Alina dengan tatapan yang tajam, dalam, dan penuh intensitas. Alina berusaha keras mengalihkan pandangan ke arah lain, tetapi aura dingin dan intimidatif dari adik iparnya itu seakan mengikat geraknya. Tubuh Alina gemetar pelan, dadanya makin berdesir hebat hingga dia benar-benar tidak kuat lagi untuk menatap balik mata Dewa.Elang membalik lembaran dokumennya dengan acuh, sama sekali tidak menyadari ketegangan panas yang terjadi di depan matanya."Paket apa ya?" gumam Elang seraya memijat pelipisnya. "Aku juga lupa pernah pesan apa. Lin, coba kamu ambilkan paketnya, jangan lama-lama.”Alina mengangguk kaku, buru-buru membalikkan badan untuk melarikan diri dari tatapan Dewa. Jemarinya yang masih bergetar menyambar kotak paket berukuran sedang yang semalam diletakkan di dekat pintu, lalu membawanya kembali ke meja makan."Ini, Mas," ucap Alina pelan, menyerahkan kot
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: Bab 13Alina membeku di tempatnya, menahan napas dengan dada yang naik turun tajam. Tangannya buru-buru membetulkan letak gaun tidurnya di balik selimut, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih berpacu liar. Elang di sampingnya hanya bergumam pelan dalam tidurnya, membalikkan badan tanpa terbangun sedikit pun.Dengan langkah pelan dan gemetar, Alina turun dari kasur. Dia berjalan mendekati celah pintu kamar yang agak terbuka, menyibak sedikit kayu pintu untuk melihat siapa yang berdiri di sana.Dewa berdiri di ambang pintu yang remang. Pria itu hanya mengenakan celana panjang santai tanpa atasan, memegang sebuah kotak paket berukuran sedang di tangannya."Dewa?" bisik Alina halus, menahan getaran di suaranya. "Ada apa?"Dewa mengangkat paket di tangannya sedikit. "Ada paket datang. Kurir instan baru saja antar ke depan. Karena pintunya digedor pelan, aku yang ambil. Sepertinya ini punya Mas Elang."Alina mengernyit pelan. "Malam-malam begini ada paket?""Begitulah," sahut Dewa pelan.
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 12Suara dering telepon dari arah meja depan memecah keheningan di ruang laundry. Bunyi itu berulang beberapa kali, memotong suasana kaku di antara mereka.Dewa menghentikan gerakannya. Pria itu tidak menunjukkan raut kaget sedikit pun. Ujung jarinya mengusap bibir bawah Alina sekali lagi dengan pelan, sebelum akhirnya menarik tangannya kembali.Dewa memutar kunci pintu laundry, membiarkan pintunya terbuka lebar. Dia melangkah keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan Alina yang langsung terduduk lemas di lantai samping mesin cuci. Alina memegangi dadanya yang naik turun tajam, merutuki reaksi tubuhnya sendiri yang selalu menyerah tiap kali Dewa mendekat.**Malam harinya, Elang pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu langsung berbaring di atas ranjang utama dengan kemeja kerjanya yang baru dilepas separuh. Matanya tetap tertancap pada layar ponsel yang dipegangnya dengan posisi agak miring, seolah sengaja menutup akses pandangan dari arah pintu.Alina keluar
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 11"Aku cuma mau minum," bisik Alina cepat, suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya terangkat di udara, ragu untuk mendorong dada telanjang Dewa yang memancarkan hawa panas."Geser, Dewa. Jangan bikin aku teriak."Dewa tidak bergeming sedikit pun. Pria itu justru mengamati wajah Alina dari jarak sejengkal.Ujung jarinya bergerak sangat perlahan, menempel di leher Alina yang basah oleh keringat dingin, lalu menyusuri garis rahangnya sampai berhenti di sudut bibir. Tatapannya turun perlahan, menyapu gaun satin tipis yang menempel ketat di dada Alina yang naik turun tak beraturan."Bibirmu bilang begitu," bisik Dewa rendah. Ibu jarinya menekan lembut bibir bawah Alina yang basah karena gigitannya sendiri, menahan wanita itu agar tetap menatap matanya."Tapi tubuhmu nggak bisa bohong, Alina."Alina memejamkan mata rapat-rapt. Sentuhan jemari Dewa terasa hangat di kulit lehernya, sementara hembusan napas pria itu berembus pelan di pipinya. Usapan lembut ibu jari Dewa di bibirnya membuat napa
Last Updated: 2026-08-04