Chapter: Bab 288 - Puncak BahagiaSuasana ruang keluarga utama kediaman Dirgantara terasa teramat teduh, diiringi harum semerbak bunga melati segar dari vas kristal di sudut ruangan serta alunan musik klasik ber-volume rendah yang menenangkan. Di atas sofa empuk berlapis kain beludru krem, Althea duduk bersandar dengan nyaman. Gaun katun panjang berwarna putih gading yang dikenakannya tampak serasi dengan tataan interior ruangan. Di pangkuannya, Kalathea yang kini makin menggemaskan sedang sibuk memegang mainan kayu berbentuk mobil-mobilan kecil. Pipi merahnya yang empuk dan matanya yang bulat jernih dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Kael melangkah masuk dari arah ruang kerja pribadi. Pria itu sudah melepas jas formal serta dasinya, kini hanya mengenakan kemeja putih yang digulung rapi sampai ke siku dan celana bahan hitam. Sosok tegap yang dulu selalu terlihat kaku dan dingin itu melangkah dengan tatanan raut wajah yang begitu hangat begitu matanya menangkap keberadaan istri dan anaknya. "Bagaimana kond
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bab 287Setelah menghabiskan waktu berlibur yang begitu menenangkan di villa tepi pantai, rombongan keluarga Dirgantara kembali ke mansion utama. Suasana rumah megah itu kini terasa jauh lebih hidup. Lorong-lorong marmer yang dulu terasa dingin dan sepi kini setiap harinya dipenuhi oleh kehangatan tawa serta nuansa domestik yang menenangkan. Pagi hari di area taman belakang mansion, sinar matahari hangat menembus celah-celah dedaunan hijau. Burung-burung berkicau riang di sekitar kolam air mancur. Di atas rumput sintetis yang bersih dan tebal, sebuah alas karpet piknik telah tergelar rapi. Althea duduk berselonjor di atas karpet, mengenakan gaun santai katun berwarna merah muda lembut. Di depannya, Kalathea yang kini sudah makin menggemaskan duduk di atas pangkuan khusus seraya memainkan mainan klintingan kayu berukir halus. Suara tawa gusi dan cicitan kecil terus terdengar dari mulut mungil bayinya. Kael melangkah keluar dari teras belakang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk sega
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 286Malam hari di villa pribadi tepi pantai berlangsung dengan sangat tenang. Angin malam berembus perlahan membelah keheningan, membawa aroma khas laut yang menyejukkan. Di teras atas yang menghadap langsung ke arah hamparan laut lepas, pendar lampu hias berwarna kuning temaram menciptakan suasana intim dan hangat. Althea duduk santai di atas kursi panjang berlapis busa empuk, berselimut kain rajut tebal hingga batas dada. Di dalam boks bayi portabel di dekatnya, Kalathea sudah tertidur lelap setelah diminumi susu malam. Wajah mungilnya tampak tenang dengan napas yang teratur. Kael melangkah keluar dari dalam ruangan membawa dua cangkir cangkir keramik berisi teh herbal hangat. Pria itu mengenakan sweater rajut hitam berpotongan simpel yang dipadukan dengan celana bahan santai. Kael meletakkan satu cangkir di meja kecil dekat Althea, lalu mendudukkan tubuh tegapnya tepat di samping istrinya. Kael melingkarkan lengan besarnya di bahu Althea, menarik tubuh halus istrinya merapat ke d
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: Bab 285Matahari sore mulai condong ke arah barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat melintasi teras luas villa pribadi tepi pantai. Angin laut berembus sepoi-sepoi membawa kesegaran alami. Setelah menghabiskan waktu bersantai di pagi hari, kini dinamika domestik keluarga kecil itu berlanjut di dalam ruang keluarga utama villa yang berdinding kaca transparan. Althea tampak duduk berselonjor di atas sofa empuk berlapis kain linen putih. Di sampingnya, satu set perlengkapan menyusui dan botol-botol ASI steril tertata rapi di atas meja. Sementara itu, Kalathea kecil yang baru saja terbangun dari tidur siang mulai mengeluarkan dengusan halus seraya menggerakkan kedua kaki mungilnya ke udara. Kael melangkah keluar dari kamar mandi dalam dengan handuk kecil tersampir di bahunya. Pria itu sudah membasuh wajah dan menggulung lengan kemeja lineng putihnya hingga ke siku. Begitu melihat Kalathea mulai menggeliat gelisah, langkah Kael langsung mengarah cepat menuju sofa tempat anak dan i
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 284 - Waktu Luang Keluarga KecilDeru angin laut yang lembut berembus perlahan menerpa pepohonan kelapa di sekitar halaman villa pribadi keluarga Dirgantara. Villa megah yang terletak di atas tebing tepi pantai selatan itu menyajikan pemandangan hamparan laut biru yang membentang luas tanpa batas. Suasana di sekitar properti sangat tenang, terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk perkotaan dan hiruk-pikuk bursa saham yang biasa mengelilingi kehidupan Kael. Di teras lantai dua yang dilapisi kayu jati berpelitur halus, Althea berdiri menghirup udara segar pagi hari. Wanita itu mengenakan gaun santai lengan panjang berwarna krem yang longgar. Garis pantai dan deburan ombak di bawah sana memberikan ketenangan luar biasa yang sudah lama tidak dirasakannya. Dari arah dalam villa, Kael melangkah keluar menuju teras. Pria itu tampil sangat santai tanpa setelan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja katun linen putih yang dibiarkan terbuka dua kancing teratas serta celana kain santai berwarna abu-abu. Di dalam dekapannya, K
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 283 - Momen Kecil yang BerhargaPukul tiga sore, suasana gedung utama Dirgantara Group berjalan sibuk seperti biasa. Di ruang rapat lantai lima puluh, puluhan direktur eksekutif berdiri rapi mengelilingi meja kaca besar, mendengarkan paparan proyek investasi baru yang diproyeksikan untuk kuartal mendatang.Kael duduk di kursi utama, mengenakan setelan jas hitam elegan. Tatapan matanya tajam memindai grafik di layar proyeksi, sesekali mengangguk pelan menilai angka-angka yang dipaparkan.Di samping kursi Kael, Bayu melangkah mendekat secara sangat perlahan, menundukkan tubuhnya untuk berbisik di dekat telinga sang CEO."Tuan Kael, waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit," bisik Bayu penuh rasa hormat. "Mobil sudah siap di pelataran parkir bawah."Kael melirik jam tangan kustom di pergelangan tangan kirinya. Pria itu mengatupkan berkas laporan di depannya, lalu berdiri tegak dari duduknya. Seluruh direktur di dalam ruangan seketika menghentikan pembicaraan dan berdiri membungkuk hormat."Lanjutkan detail t
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 123 "Betul," sahut Rian. "Alina adalah istri sah dari seorang pria bernama Elang. Mereka menikah sekitar tiga tahun lalu." Dinda terhenyak di atas sofanya. Otaknya memproses informasi mengejutkan tersebut dengan sudut pandang yang sudah sangat terdistorsi oleh rasa cemburu. "Elang? kok namanya kayak ngga asing," gumam Dinda. "Dia punya suami... tapi dia berdua-duaan sama Dewa di rumah sakit?" bisik Dinda, senyum sinis dan puas perlahan mengembang di bibirnya. "Wanita ini sudah punya suami, tapi dia memanfaatkan Dewa buat mengurus hidupnya? Luar biasa..." "Din, dari laporan yang aku dapat, Alina ini sebenarnya korban," potong Rian mencoba meluruskan. "Suaminya yang bernama Elang itu main fisik dan punya banyak utang, makanya Dewa..." "Cukup, Rian!" potong Dinda tegas, mengibaskan tangannya di udara. "Aku tidak butuh analisis morilmu. Yang penting fakta hukumnya jelas: Alina ini masih istri sah orang lain!" Dinda menggenggam lembaran kertas tersebut kuat-kuat hingga pinggiranny
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 122"Siapa lagi kalau bukan Dewa dan tim hukumnya!" teriak Elang frustrasi, menghantamkan kepalan tangannya ke sofa. "Dewa itu benar-benar mau menghancurkan bisnisku! Semua jalur pendanaan ditutup sama dia!" Tiba-tiba pintu depan rumah terbuka kencang. Hadisti, wanita simpanan Elang, melangkah masuk dengan wajah cemberut dan gaya angkuh seperti biasanya. Ia menghentakkan tas mewahnya ke atas meja. "Mas Elang!" cerca Hadisti tanpa basa-basi. "Kenapa kartu kredit tambahan yang kamu kasih ke aku tiba-tiba diblokir, hah?! Aku mau bayar tas tadi di mall jadi malu setengah mati di depan kasir!" Elang menatap Hadisti dengan pandangan sharp penuh emosi. "Kamu bisa diam tidak?! Rumah tanggaku lagi hancur, bisnisku mau bangkrut, dan kamu cuma mikirin tas mewah?!" "Lho! Kamu kok malah membentak aku?!" balas Hadisti tidak terima, matanya melotot. "Kamu janji mau mencukupi semua kebutuhan hidupku waktu minta aku tinggalkan pekerjaanku dulu! Sekarang kamu malah memotong uang bulanan dan memblok
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 121Waktu terus bergulir hingga menunjukkan pukul lima sore di Rumah Sakit Medika. Cahaya matahari barat membiaskan warna jingga kemerahan yang tembus melalui celah jendela kamar rawat nomor 402. Pintu kamar ketuk pelan tiga kali sebelum terbuka. Dua orang pria berpenampilan rapi dengan membawa koper dokumen tebal melangkah masuk. Mereka adalah tim kuasa hukum yang ditunjuk langsung oleh Dewa untuk menangani kasus hukum Alina. "Selamat sore, Pak Dewa, Bu Alina," sapa pengacara senior bernama Pak Kusuma seraya membungkukkan badan sopan. Dewa berdiri dari kursinya dan menyalami kedua pengacara tersebut. "Selamat sore, Pak Kusuma. Terima kasih sudah datang tepat waktu." Alina mencoba membetulkan posisi duduknya agar lebih tegap, menyambut kedatangan tim hukum tersebut dengan raut wajah yang serius. Pak Kusuma duduk di kursi yang telah disiapkan di samping ranjang, lalu mengeluarkan beberapa tumpuk berkas bertuliskan logo lembaga hukum terkemuka dari dalam kopernya. "Bu Alina, ses
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 120Dewa membuka matanya, melangkah pelan mendekati ranjang Alina. Wajahnya yang semula tegang perlahan melunak saat menatap Alina. "Maafkan aku, Lin," ucap Dewa dengan nada penuh penyesalan. Ia duduk di kursi kayu samping ranjang. "Aku tidak menyangka Dinda bakal bertindak senekat ini sampai menyewa orang buat melacak keberadaanmu. Ini sepenuhnya kesalahanku karena kurang ketat mengawasi pergerakannya." Alina menggelengkan kepala lambat. "Bukan salahmu, Wa. Cuma... dari tatapan matanya tadi, dia kelihatan sangat tajam memusuhiku." Dewa mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. "Dinda itu dari dulu terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Dia menganggap posisinya di dekatku tidak boleh tersaingi oleh siapa pun. Tapi kamu tidak usah memikirkan ucapan atau tatapannya, Lin. Dinda tidak tahu apa-apa soal masalahmu, dan aku tidak akan biarkan dia mengganggumu lagi." Alina menyandarkan kepalanya pada bantal, menatap lurus pada deretan selang infus. "Aku makin merasa menjadi b
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 119Lantai empat Rumah Sakit Medika terasa sepi saat langkah kaki Dinda bergeser mendekati pintu kamar nomor 402. Derap tumit sepatu hak tingginya sengaja ia pelankan, mengendap di atas lantai hospital-grade yang licin. Dua pria berjas hitam yang semula berada di depan pintu kamar tampak bergeser beberapa langkah ke kanan, salah satunya membelakangi pintu untuk memeriksa kiriman berkas dari perawat di meja jaga. Dinda memanfaatkan momentum singkat itu. Dengan gerakan cekatan dan ekspresi wajah yang dipasang senatural mungkin, ia memutar gagang pintu kamar VIP tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Pintu kayu tebal itu berbunyi klik halus saat menutup kembali. Aroma antiseptik dan cairan infus mendadak menyeruak memenuhi indra penciumannya. Kamar rawat inap nomor 402 itu terasa dingin dan hening. Di atas ranjang medis bergaya modern, Alina terbaring menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal putih. Wajahnya yang pucat tanpa riasan menoleh seketika saat mendengar derit pintu. Ke
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 118Dewa tersenyum tipis, menggelengkan kepala. "Pekerjaan kantor bisa ditangani sama sekretaris dan wakil direktur. Lagi pula, berkas-berkas penting sudah dikirim lewat surel dan bisa aku cek dari laptop di sini." "Tapi kasihan kamu," cicit Alina. "Kamu pasti lelah sekali. Tidurmu semalam cuma sebentar di sofa." "Aku tidak apa-apa, Lin," sahut Dewa tenang. "Dulu waktu kita masih kecil dan tinggal di lingkungan yang sama, kamu sering bantu aku kalau aku lagi dimarahi sama keluarga Elang. Sekarang anggap saja ini balasan atas kebaikanmu yang dulu." Alina tersenyum samar, kenangan masa kecil mereka yang polos mendadak terlintas singkat. Namun kenangan indah itu cepat tergerus oleh kenyataan pahit bahwa hidupnya kini hancur di tangan Elang, pria yang justru merupakan saudara seayah Dewa sendiri. "Mas Elang berubah banget ya, Wa," gumam Alina pelan, pandangannya meredup menatap potongan apel di tangannya. "Dulu waktu awal kenal, dia tidak pernah bersikap kasar. Tapi begitu bisnisnya m
Last Updated: 2026-09-17