Chapter: Mainnya Kasar SekaliOliver menyilangkan lengan di dada dan bersandar di meja konter. Sisi predator dalam dirinya menikmati pemandangan ini terlalu dalam—melihat Avery bersusah payah, melihat keras kepalanya yang murni.Ujung obeng murahan itu dimasukkan ke kepala sekrup. Alat itu langsung tergelincir. Avery mengumpat pelan, kata-kata makian yang terdengar lembut tapi kreatif. Ia mencoba lagi. Kali ini ia berdiri di ujung jari kaki, lengan terentang tinggi. Kemeja flanel milik Oliver terangkat sedikit, memperlihatkan lekukan halus pinggul pucatnya.Mulut Oliver terasa kering."Kamu malah merusak ulir sekrupnya," katanya datar."Tidak, aku tidak merusaknya.""Kamu merusaknya, Avery. Doronganmu tidak cukup kuat.""Aku sudah mendorong sekuat tenaga!" Avery mendengus, memutar tubuh setengah ke arahnya. Obeng terlepas dan membentur pintu dengan bunyi keras. Ia menurunkan tangan yang mulai lelah. "Sialan."Oliver mendorong diri dari konter. Langkahnya melebar mendekati Avery. "Minggir.""Tidak. Aku ingin menyel
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Bagian TerlarangBara di tungku sudah meredup, tetapi Oliver tetap terjaga.Ia berbaring telentang di sofa yang terlalu pendek untuk tubuhnya, menatap balok-balok kayu tua di langit-langit. Angin menghantam dinding kabin tanpa henti. Kadang terdengar seperti geraman. Kadang seperti sesuatu yang berusaha masuk.Biasanya suara badai tidak mengganggunya.Malam ini berbeda.Ada orang lain di dalam rumah.Avery.Kesadaran itu terus mengisi pikirannya sepanjang malam.Bukan karena ia takut gadis itu akan mencuri sesuatu atau mencelakainya. Justru kebalikannya.Kehadiran Avery mengacaukan keseimbangan yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan susah payah.Kehidupannya sederhana.Pekerjaan.Bengkel.Hutan.Keheningan.Lalu seorang perempuan keras kepala muncul dari badai salju dan dalam waktu kurang dari dua hari berhasil mengubah ritme seluruh rumah.Oliver menghela napas panjang lalu duduk.Pegas sofa berdecit protes.Ia mencuri pandang ke arah pintu kamar tidur yang masih tertutup.Sunyi.Setidaknya Aver
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Pintu yang Sengaja Tak TerkunciAvery berusaha berdiri, menopang tubuh pada kaki yang cedera. Rasa sakit masih berdenyut dari pergelangan kakinya, tetapi ia memaksa diri melangkah menuju rak buku di dekat perapian.Apa saja lebih baik daripada terus memandangi Oliver.Pria itu sedang membereskan dapur seolah kehadiran seorang perempuan asing di rumahnya bukan sesuatu yang aneh. Gerakannya tenang. Efisien. Terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa jam lalu menemukan tamu tak diundang di tengah badai salju.Avery berhenti di depan rak buku.Koleksinya membuat alisnya terangkat.Buku-buku teknik struktur.Metalurgi.Arsitektur pertahanan.Beberapa novel klasik.Dan cukup banyak buku filsafat."Kamu banyak membaca.""Dulu lebih banyak," jawab Oliver dari dapur.Avery menarik satu buku usang dari rak.The Odyssey.Sampulnya sudah aus karena sering dibuka."Aku mengira kamu tipe orang yang menghabiskan waktu dengan kapak dan gergaji.""Aku juga membaca."Nada datarnya membuat Avery tersenyum."Ternyata."Ia mengamati r
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Terperangkap Bersama Serigala"Kamu Vanguard," bisik Avery. Sebutan itu terasa seperti peringatan yang bergema di benaknya. "Aku mendengar cerita tentangmu di toko perkakas bawah lembah. Keluarga Gunnar bukan cuma tinggal di gunung ini. Mereka menguasainya."Ia menatap Oliver lekat-lekat.Selama ini nama Gunnar hanya terdengar seperti legenda lokal. Cerita yang disampaikan dengan nada setengah kagum, setengah takut oleh penduduk Peak District. Orang-orang membicarakan mereka seperti membicarakan cuaca buruk. Sulit dihindari. Lebih baik tidak memancing masalah.Dan sekarang ia duduk hanya beberapa langkah dari salah satu anggota keluarga itu.Kesadaran tersebut membuat perutnya menegang."Sepupuku yang menjalankan klub motor," gerutu Oliver pelan.Ibu jarinya masih bergerak samar di sekitar pergelangan kaki Avery, memastikan bengkaknya tidak bertambah parah. Sentuhan itu begitu ringan hingga hampir tidak terasa, namun cukup membuat sarafnya menjadi terlalu sadar akan keberadaan pria itu."Tugasku memastikan setiap
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Sentuhan di Atas Meja KayuPipi Avery langsung memanas dan memerah. "Perkakas itu antik. Kualitasnya masih bagus.""Itu cuma karat dan nostalgia," balas Oliver datar. "Dan kamu memukul balok penyangga dengan kunci inggris.""Aku berimprovisasi!" bentak Avery, dada terasa panas. "Kepala palunya lepas mendadak.""Karena barang itu sudah rongsokan." Oliver menyesap kopi pelan, tatapannya tertuju padanya dari balik bibir mug. Mata hijau lumut itu seolah membedah setiap pikirannya. "Kenapa kamu ada di sini, Avery?""Sudah kubilang. Aku tinggal di sini.""Bukan itu maksudku." Oliver mengayunkan tangan samar ke jendela, ke arah badai yang mengamuk. "Kenapa memilih tempat ini? Gadis kota sepertimu memegang palu seolah benda itu bisa menggigit. Kamu tersentak setiap angin menderu. Kamu takut gelap, tapi malah memilih lembah paling gelap."Avery menunduk, menatap permukaan kopi pekat. Uap hangat membasahi bulu matanya. "Karena itu satu-satunya hal yang benar-benar kumiliki," bisiknya."Ada banyak apartemen murah di kota
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Aroma TubuhmuKain kemeja flanel Oliver terasa berat di tubuh Avery, lebih mirip selimut tebal daripada pakaian. Setiap gerakan mengingatkannya bahwa pria itu hanya berada beberapa langkah jauhnya.Ia berdiri membeku di depan cermin kecil kamar mandi. Rambut hitamnya basah dan kusut, menempel di leher pucat. Matanya membelalak lebar, mencerminkan wajah seseorang yang lelah dan kebingungan. Tangan Avery mencengkeram ujung kemeja yang menjuntai hingga pertengahan paha, lalu menggulung lengan baju yang kepanjangan hingga tiga kali agar telapak tangannya bisa keluar."Tenangkan dirimu, Avery," bisiknya parau. Suaranya terdengar asing di ruangan berubin dingin.Ia berada di rumah pria asing. Pria bertubuh raksasa yang menggendongnya menembus badai seolah ia tak lebih berat dari ransel. Logika mengatakan ia seharusnya panik, mencari benda tajam, atau merencanakan pelarian. Tapi hawa hangat dari ventilasi lantai dan aroma pinus serta musk yang tertinggal di kain kemeja ini justru membuat otot-ototnya rile
Terakhir Diperbarui: 2026-07-15