ログインCahaya matahari pagi menghantam kelopak mata Avery, memaksa kesadarannya perlahan bangkit dari kegelapan tidur yang nyenyak tanpa mimpi. Dia mengedipkan mata, melenguh pelan sembari mencoba menyembunyikan kembali wajahnya ke balik bantal. Namun, permukaan di bawah pipinya sama sekali tidak terasa empuk. Permukaan itu terasa kokoh, hangat, dan menguar aroma pekat resin kayu pinus serta asap pembakaran kayu.Sepasang mata Avery seketika terbuka lebar. Dia tidak sendirian.Sebuah lengan yang kekar dan berat tampak melingkar protektif di atas pinggangnya, memaku tubuh Avery ke atas kasur. Oliver. Pria itu terasa bagaikan dinding bertenaga panas yang mendekap punggungnya. Suara napas Oliver terdengar lambat dan teratur, mengalirkan ritme detak jantung yang dalam dan bergetar hingga ke dada Avery sendiri. Avery mendadak membeku saat ingatan tentang kejadian tadi malam kembali membanjiri benaknya. Rasa takut. Penolakan. Rekonsiliasi emosional. Dan sepasang kunci itu.Avery mencoba menggeser
Napas Avery seketika tercekat di tenggorokan akibat ucapan Oliver. "Kamu... kamu menginginkanku untuk tetap tinggal di sini?""Aku sudah pernah mengatakannya padamu kalau aku adalah pria yang hancur dan berbahaya. Dan itu adalah kebenaran. Aku bukan pria yang lembut, Avery. Aku tidak tahu bagaimana cara bersikap halus. Aku mendeteksi ancaman di dalam bayangan dan selalu tidur dengan sebilah pisau di bawah kasurku." Oliver menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya langsung ke dahi Avery hingga dia bisa merasakan tubuh gadis itu yang sedikit bergetar. "Namun saat aku berada di bawah sana, memperbaiki berandamu... satu-satunya hal yang memenuhi isi kepalaku adalah fakta bahwa aku tidak ingin kamu berada di balik pintu gubuk itu. Aku ingin kamu berada di balik pintuku.""Kamu mendorongku menjauh kemarin," bisik Avery, tanpa ada nada amarah, melainkan kejujuran emosional yang mentah."Aku merasa takut," aku Oliver, dan kata itu terasa bagai abu kering di lidahnya. "Aku mengira jika kamu m
Perjalanan mendaki lereng gunung menguras habis sisa tenaga di sepasang kaki Oliver. Sisa adrenalinnya kini menguap, menyisakan rasa lelah yang meresap hingga ke tulang. Namun untuk pertama kalinya sejak dia menemukan pelat namanya berada di tangan Avery, isi kepala Oliver terasa sangat bersih dan jernih.Asap mengepul tebal dari cerobong kabinnya, menandakan bahwa Avery sudah terjaga. Oliver menghentakkan sepatunya di beranda untuk membersihkan sisa salju, lalu mengibaskan serbuk gergaji dari jaketnya. Pria itu menghirup udara pagi yang tajam, berusaha mempersiapkan dirinya sendiri. Kata-kata tidak pernah menjadi keahlian utama Oliver; dia lebih terbiasa berbicara melalui tindakan logistik dan pemeriksaan perimeter. Namun untuk Avery, dia tahu dia harus mencoba menggunakan suaranya.Oliver mendorong pintu kabin hingga terbuka. Hawa hangat langsung menyambutnya, membawa aroma pekat kopi dan kayu pinus yang terbakar. Avery berdiri mematung di tengah ruang tamu, kembali mengenakan kemej
Oliver tidak kembali ke kabinnya.Setelah meninggalkan Avery dalam kehangatan perapian, ia langsung berbelok menuju gudang peralatan dan menarik tas kanvas berat yang biasa dipakainya untuk pekerjaan besar. Tas itu mendarat di salju dengan bunyi tumpul. Di dalamnya terdapat bor, sekrup, pelat penguat, mata gergaji cadangan, dan berbagai perlengkapan yang jauh lebih berguna daripada barang-barang antik yang selama ini dipakai Avery.Ia menambahkan beberapa balok kayu ke atas pundaknya.Beban itu menekan bahu dan punggung bagian atas, tepat di area yang masih sering nyeri saat cuaca memburuk.Bagus.Rasa sakit membantunya tetap fokus.Ia mulai menuruni lereng menuju kabin Avery.Salju masih setinggi pinggang di beberapa tempat. Lapisan es tipis bersembunyi di bawah permukaan putih, membuat setiap langkah berisiko tergelincir. Namun Oliver sudah melewati jalur ini ribuan kali dalam hidupnya. Tubuhnya bergerak otomatis, menemukan pijakan aman tanpa perlu berpikir.Angin malam masih beremb
Suara ritmis hantaman kapak yang membelah kayu di luar sana ternyata tidak cukup kuat untuk meredam kebisingan di dalam kepala Oliver.Napasnya mengembus membentuk kabut putih tebal di udara yang membeku, seperti hantu-hantu kecil yang melarikan diri dari paru-parunya sebelum akhirnya disapu bersih oleh angin malam. Jam dua pagi. Badai sudah mulai mereda, tapi keheningan yang tersisa justru terasa lebih menyiksa daripada raungan angin itu sendiri.Oliver tidak keluar demi kayu bakar.Satu jam yang lalu, tangannya secara refleks bergerak hendak meraih senapan laras panjang yang sebenarnya tidak ada di sana. Tenggorokannya tersumbat oleh rasa debu kering dan sisa bubuk mesiu. Hantu dari prajurit pirang berambut pendek itu kembali muncul dari kegelapan sudut kamar tidur, menatapnya dengan mata kosong yang penuh tuduhan.Lalu, Oliver mendengar gerakan halus dari dalam kabin.Suara helaan napas lembut Avery seketika menarik kesadarannya kembali ke masa sekarang, mengunci jangkar logikanya.
Oliver mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Avery, menarik tubuh gadis itu lebih rapat hingga tidak ada lagi jarak di antara punggungnya dan dadanya. Setiap kali bayangan dua bajingan kota itu melintas di kepalanya—cara mereka menendang kayu lapuk, cara mereka memandang kabin Avery seolah itu hanya mangsa empuk—darahnya kembali mendidih.Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh mungil yang kini bersandar pasrah padanya, ada keberanian yang sanggup membuatnya berlutut semalaman."Oliver?" Avery berbisik pelan, memiringkan kepala untuk menatapnya dari balik bahu. Sumpit kayu di tangannya masih tertahan di atas wajan besi. "Kamu melamun. Ada apa?""Tidak ada," gumam Oliver, menekan kecupan singkat di garis rahang gadis itu sebelum melepaskan pelukan secara perlahan. Ia harus menjaga jarak jika ingin sarapan ini selesai tanpa melibatkan meja dapur lagi. "Balik dagingnya. Sisi bawahnya sudah terlalu kering."Avery mendengus, tapi buru-buru membalik potongan







