首頁 / Romansa / Terjebak Hasrat Sang Pemburu / Sentuhan di Atas Meja Kayu

分享

Sentuhan di Atas Meja Kayu

last update publish date: 2026-07-16 10:10:56
Pipi Avery langsung memanas dan memerah. "Perkakas itu antik. Kualitasnya masih bagus."

"Itu cuma karat dan nostalgia," balas Oliver datar. "Dan kamu memukul balok penyangga dengan kunci inggris."

"Aku berimprovisasi!" bentak Avery, dada terasa panas. "Kepala palunya lepas mendadak."

"Karena barang itu sudah rongsokan." Oliver menyesap kopi pelan, tatapannya tertuju padanya dari balik bibir mug. Mata hijau lumut itu seolah membedah setiap pikirannya. "Kenapa kamu ada di sini, Avery?"

"Sudah
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Fondasi yang Retak

    Suara ritmis hantaman kapak yang membelah kayu di luar sana ternyata tidak cukup kuat untuk meredam kebisingan di dalam kepala Oliver.Napasnya mengembus membentuk kabut putih tebal di udara yang membeku, seperti hantu-hantu kecil yang melarikan diri dari paru-parunya sebelum akhirnya disapu bersih oleh angin malam. Jam dua pagi. Badai sudah mulai mereda, tapi keheningan yang tersisa justru terasa lebih menyiksa daripada raungan angin itu sendiri.Oliver tidak keluar demi kayu bakar.Satu jam yang lalu, tangannya secara refleks bergerak hendak meraih senapan laras panjang yang sebenarnya tidak ada di sana. Tenggorokannya tersumbat oleh rasa debu kering dan sisa bubuk mesiu. Hantu dari prajurit pirang berambut pendek itu kembali muncul dari kegelapan sudut kamar tidur, menatapnya dengan mata kosong yang penuh tuduhan.Lalu, Oliver mendengar gerakan halus dari dalam kabin.Suara helaan napas lembut Avery seketika menarik kesadarannya kembali ke masa sekarang, mengunci jangkar logikanya.

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Melindungi Harta Paling Berharga

    Oliver mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Avery, menarik tubuh gadis itu lebih rapat hingga tidak ada lagi jarak di antara punggungnya dan dadanya. Setiap kali bayangan dua bajingan kota itu melintas di kepalanya—cara mereka menendang kayu lapuk, cara mereka memandang kabin Avery seolah itu hanya mangsa empuk—darahnya kembali mendidih.Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh mungil yang kini bersandar pasrah padanya, ada keberanian yang sanggup membuatnya berlutut semalaman."Oliver?" Avery berbisik pelan, memiringkan kepala untuk menatapnya dari balik bahu. Sumpit kayu di tangannya masih tertahan di atas wajan besi. "Kamu melamun. Ada apa?""Tidak ada," gumam Oliver, menekan kecupan singkat di garis rahang gadis itu sebelum melepaskan pelukan secara perlahan. Ia harus menjaga jarak jika ingin sarapan ini selesai tanpa melibatkan meja dapur lagi. "Balik dagingnya. Sisi bawahnya sudah terlalu kering."Avery mendengus, tapi buru-buru membalik potongan

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Rahasia Sang Pemburu

    Oliver mendorong pintu kabin dengan bahu, mantel tebalnya masih meneteskan sisa salju yang meleleh. Udara hangat di dalam langsung menyambut, membawa aroma kopi dan kayu bakar yang menenangkan. Tapi ketenangan itu hancur seketika saat matanya menangkap pemandangan di lantai dekat ruang depan.Avery duduk bersimpuh di lantai batu, dikelilingi barang-barang yang seharusnya terkunci rapat di dalam kotak kayu ek gelapnya. Pelat nama militer lama tergenggam erat di tangan gadis itu. Foto lama yang terlipat, lambang kesatuan dengan noda darah kering, dan secarik kertas kuning yang bertuliskan "Untuk sang Vanguard".Semua rahasia yang ia kubur dalam-dalam selama bertahun-tahun kini tergeletak terbuka di lantai seperti luka yang baru robek."Avery." Suaranya rendah, hampir bergetar. Bukan karena dingin.Avery tersentak, kepalanya mendongak cepat. Wajahnya pucat, mata birunya melebar penuh kejutan dan sesuatu yang lebih dalam—rasa bersalah yang bercampur rasa ingin tahu. Pelat nama di tanganny

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Kunci Pintunya

    Oliver menghabiskan sisa kopinya dalam sekali teguk. Dorongan kuat untuk kembali ke tempat tidur, menyeret Avery bersamanya dan menghabiskan sisa hari menjelajahi setiap inci tubuhnya, terus menarik fokusnya. Namun, rasa gatal di balik kepalanya tetap ada. Kebutuhan mutlak untuk mengamankan perimeter tidak bisa dikesampingkan."Aku akan pergi ke tempatmu sekarang," katanya sambil menegakkan tubuh. "Memeriksa kerusakan akibat badai semalam, sekalian mencatat daftar bahan bangunan yang kita butuhkan."Avery mendongak cepat. "Aku harus ikut denganmu.""Tidak." Oliver menjawab terlalu cepat, terlalu tajam. Menyadari perubahan ekspresinya, ia segera melembutkan nada. "Pergelangan kakimu masih sedikit bengkak. Istirahatkan tubuhmu hari ini. Jika kamu memaksakannya dan cedera itu memburuk, kamu tidak akan berguna bagiku di sini."Avery mengerutkan kening, menunduk menatap pergelangan kakinya sendiri. Memang masih ada sisa bengkak di sana."Baiklah," desahnya pasrah. "Tapi ambil beberapa foto

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Sumpah Tersembunyi di Puncak Gunung

    Oliver memajukan tubuhnya sedikit, menunduk untuk mengecup titik paling sensitif di bawah daun telinga Avery. Denyut nadi gadis itu melonjak drastis di bawah kulit halus dan hangatnya."Avery.""Hmm?""Kamu tidak akan kembali ke sana hari ini."Tubuh Avery menegang dalam dekapannya. "Oliver, aku harus kembali ke sana pada akhirnya. Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku perlu menelepon pihak kontraktor untuk memeriksa bagian atap, dan—""Tidak." Suara Oliver terdengar jauh lebih tegas dan mutlak daripada yang ia inginkan. "Lapisan salju di luar terlalu tebal. Seluruh jalur akses jalan atas terblokir total. Kamu tetap tinggal di sini."Avery memutar tubuhnya perlahan dalam pelukan, berbalik sepenuhnya menghadapnya. Mata birunya menyipit tajam, menatap penuh selidik. "Kamu sedang bertanya padaku atau sedang memberiku perintah?"Oliver balas menatap lurus ke manik mata itu. Ia bisa saja menceritakan semuanya sekarang—dua pengintai yang dipatahkan pergelangan tangannya, peta rute

  • Terjebak Hasrat Sang Pemburu   Siasat sang Penjaga

    Oliver memajukan tubuhnya sedikit, menunduk untuk mengecup titik paling sensitif di bawah daun telinga Avery. Denyut nadi gadis itu melonjak drastis di bawah kulit halusnya."Avery.""Hmm?""Kamu tidak akan kembali ke kabinmu hari ini."Tubuh Avery menegang dalam dekapannya. "Oliver, aku harus kembali ke sana pada akhirnya. Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku perlu menelepon pihak kontraktor untuk memeriksa bagian atap, dan—""Tidak." Suara Oliver terdengar jauh lebih tegas daripada yang ia inginkan. "Lapisan salju di luar terlalu tebal. Seluruh jalur akses jalan atas terblokir total. Kamu tetap tinggal di sini."Avery memutar tubuhnya perlahan dalam pelukan, berbalik sepenuhnya menghadapnya. Mata birunya menyipit tajam, menatap penuh selidik. "Kamu sedang bertanya padaku atau sedang memberiku perintah?"Oliver balas menatap lurus ke manik mata itu. Ia bisa saja menceritakan semuanya sekarang—dua pengintai yang baru saja dipatahkan pergelangan tangannya, peta rute pelarian

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status