เข้าสู่ระบบTidak ada seorang pun yang langsung berbicara.Mereka berdiri mengelilingi patok tua itu, membiarkan kenyataan baru perlahan meresap ke dalam pikiran masing-masing.Simbol lingkaran bersilang itu nyata.Bukan gambar di atas peta.Bukan coretan di arsip.Bukan petunjuk yang tersimpan dalam surat.Seseorang telah mengukirnya di sini.Di tengah hutan.Bertahun-tahun lalu."Jadi kita tidak sedang mengejar cerita hantu," gumam Austin.Logan meliriknya."Kau ikut sejak kapan?"Austin muncul dari balik batang pinus dengan secangkir kopi di tangannya."Aku bosan menunggu di markas.""Tidak mungkin kau membawa kopi mendaki sejauh ini.""Aku pria penuh bakat.""Aku ingin memukulnya," kata Tristan datar."Aku mendukung ide itu," sahut Oliver.Austin tersenyum bangga seolah baru menerima pujian.Avery menggeleng pelan.Beberapa hal tampaknya memang tidak akan pernah berubah.Logan berjongkok di dekat patok kayu.Dengan hati-hati ia membersihkan lumut yang menempel di permukaan ukiran.Simbol itu
Avery hampir tidak tidur malam itu.Tulisan tangan yang ditemukan di sudut dokumen tua itu terus berputar di dalam kepalanya.Jalur Utara. Rahasia.Tiga kata sederhana.Namun cukup untuk mengubah semuanya.Setiap kali memejamkan mata, Avery membayangkan Nathaniel Nolan duduk di meja yang sama puluhan tahun lalu, menandatangani dokumen yang kini terbentang di dapurnya.Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?Dan kenapa?Di sampingnya, Oliver masih tertidur. Salah satu lengannya terentang melewati pinggang Avery, seolah bahkan dalam tidur pria itu tetap memastikan tidak ada yang bisa mengambil sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.Avery tersenyum kecil.Lalu perlahan melepaskan diri dari pelukannya.Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat dia turun ke dapur.Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan pinus.Udara dingin.Sunyi.Damai.Avery menyeduh kopi lalu membuka kembali salinan dokumen yang dibawanya dari toko.Ia memeriksa setiap sudut halaman.Setiap kode.Setiap catat
Logan tiba kurang dari lima menit kemudian.Itu saja sudah cukup menjadi tanda bahwa situasinya serius.Biasanya pria itu akan menyelesaikan apa pun yang sedang dia kerjakan terlebih dahulu sebelum merespons panggilan siapa pun. Namun kali ini pintu ruang arsip langsung terbuka dengan hentakan keras."Apa yang kalian temukan?"Tatapannya berpindah dari Oliver ke Avery.Lalu ke tumpukan dokumen yang memenuhi meja.Avery menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya."Ini."Logan mengambil berkas teratas.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Satu halaman.Dua halaman.Tiga halaman.Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan yang muncul di dahinya."Kenapa aku baru melihat ini sekarang?" gumamnya."Karena tidak ada yang pernah mencarinya," jawab Avery.Logan mengangkat kepala."Itu bukan jawaban yang kusukai.""Tapi itu benar."Oliver tetap berdiri di samping Avery.Diam.Mengamati.Menunggu.Seperti biasa.Logan membolak-balik halaman berikutnya."SV-17..."Jarinya mengetuk salah sa
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Grizzly Peak, Avery terbangun tanpa suara angin yang menghantam dinding kabin.Keheningan menyelimuti lereng gunung.Bukan keheningan yang dingin.Bukan keheningan yang sepi.Melainkan jenis keheningan yang hanya muncul setelah badai akhirnya menyerah.Avery membuka mata perlahan. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai, menyinari kamar tidur dengan warna keemasan yang lembut. Di sampingnya, tempat tidur sudah kosong.Sisi kasur milik Oliver masih hangat.Sebuah senyum kecil muncul di wajah Avery.Beberapa hal ternyata tidak pernah berubah.Oliver selalu bangun lebih dulu.Selalu.Avery mengenakan sweter tebal dan berjalan keluar menuju ruang utama kabin.Aroma kopi langsung menyambutnya.Bersama aroma kayu pinus.Dan suara dentingan logam.Oliver berdiri di dekat meja kerja kecil yang berada di samping jendela. Punggung lebarnya membelakangi ruangan saat ia membongkar salah satu engsel pintu yang tampaknya sama sekali tidak bermasalah.Avery menya
Angin sore menerpa halaman markas Broken Halos saat Avery melangkah turun dari truk Oliver.Kalimat Logan masih bergema di dalam kepalanya."...ada kemungkinan pamammu mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kabin reyot itu."Avery mengikuti Logan masuk ke dalam bangunan utama. Aroma kopi, asap kayu, dan kulit tua memenuhi udara. Suasana di dalam jauh lebih tenang dibanding penampilan para penghuninya yang selalu tampak siap menghadapi perang.Austin sedang bersandar di meja panjang sambil memegang secangkir kopi.Chase duduk di dekat jendela.Tristan berdiri di belakang ruangan dengan kedua tangan terlipat.Tak seorang pun tampak sedang bercanda.Itu saja sudah cukup membuat Avery gugup."Baik," kata Austin sambil meletakkan cangkirnya. "Kalau semua orang sudah di sini, mari kita membuat hidup jadi sedikit lebih rumit.""Berhenti bicara dan tunjukkan," geram Oliver.Austin menyeringai."Senang melihatmu juga, sepupu."Logan menjatuhkan sebuah map tua ke atas meja.Map it
Desis statis dari radio itu hanya berlangsung sepersekian detik.Namun cukup untuk mengubah seluruh sikap Oliver.Senyumnya menghilang.Bukan karena marah.Karena waspada.Avery memperhatikan perubahan itu dengan saksama.Oliver tidak bergerak selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada perangkat radio yang tergeletak di sudut meja kerja, seolah mencoba memutuskan apakah gangguan itu penting atau tidak.Lalu radio kembali berbunyi.Kali ini lebih jelas."Vanguard. Jawab."Suara Logan.Oliver mengembuskan napas pelan."Kurasa kita tidak akan menikmati sore yang tenang."Avery menyandarkan pinggulnya ke meja kerja."Berita buruk?" muka tegang dan kepanikan terpancar dari wajahnya"Logan jarang menelepon hanya untuk menyapa."Oliver mengambil radio."Masuk."Suara statis kembali terdengar sebelum suara Logan muncul."Kami menemukan sesuatu."Avery melihat rahang Oliver mengencang."Tentang apa?""Tentang tanah milik Avery."Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Avery berdiri lebih tega







