LOGINSazleen Shanumi mendapat naas bertubi. Niat mencari dana cepat untuk ganti rugi kecelakaan akibat teledor, justru mendapat apes lagi. Dirinya ditangkap basah bersama Daehan, bos barunya di sebuah hotel dan mendapat sanksi dinikahkan. Tidak disangka, Intana, tunangan Daehan adalah korban kecelakaan yang sedang memerasnya. Daehan sama sekali tidak berminat pada sosok Shanumi yang di matanya adalah janda dengan wajah bengkak dan burik sebab suntik cantik. Namun, perjanjian berdua sebelum dipaksa menikah membuatnya terbelenggu.
View MoreI never thought this day would come. I’ve imagined a lot of things that could go wrong in my marriage, but I never even imagined that it would come to this. And I never thought I would see it with my own eyes.
But there it was— a picture of my husband holding another woman close, smiling in ways he never smiled at me. To make it worse, it was not just any woman. It was Eva Sterling. “Multibillionaire, Lucian Dhark, reunites with superstar, Eva Sterling.” When I first read the headline, I was so shocked I could barely stand on my feet . For a moment, it felt like the world was spinning. The name ‘Eva Sterling’ haunted me. Eva was the woman who lived on magazine covers and television screens, the golden girl admired by the whole world. I grew up watching Eva on TV, in my tiny dorm room, wondering how someone could look so flawless. How someone could be so wanted. She always seemed so perfect, so untouchable and glamorous, almost as if she wasn’t part of the same world as people like me. And Lucian… Lucian had once chosen her. That knowledge lived like a ghost in our marriage, even on the days I tried to forget. I didn’t even realize when my phone slipped out of my trembling fingers and landed on the kitchen counter. My eyes burned with anger and hurt as I stared at the picture. Lucian had never looked at me like that. Not in five years. Not in all the quiet mornings when I made his coffee just the way he liked it. Not in the nights when I whispered “I love you”, begging for something he no longer felt. But now, he looked at Eva like she was his world. Eva Sterling was everything I wasn’t—famous, breathtaking, loved, and accomplished in her career. I sank onto the couch, with my head in my hands, staring at the photo as if the longer I looked, the less real it would become. “Claire?” A gentle voice pulled me back. Camilla, the housekeeper, stood in the doorway. “Are you okay, dear?” I lifted my phone and turned the screen toward her. “Did you see this?” Her eyes widened. “Oh, Claire…” She sat beside me, placing her hand on my shoulder, the way a mother would comfort a scared child. “These pictures… they don’t necessarily mean—” I didn’t let her finish. “Yes, they do.” My voice cracked despite my effort to sound composed. “I can’t believe he would do this… and with Eva. His ex.” Camilla sighed softly. “I know it looks bad, but you don’t know the whole story yet.” “No.” My voice came out firmer than I expected, far stronger than I felt. “But I know this is real.” We sat in silence for a several moments. Camilla rubbed my back gently, and her voice lowered to a whisper. “You know… I remember how Lucian used to look at you,” she whispered. “During your first months here. He wasn’t exactly warm _ he never had been —but he noticed you. He cared and he showed it.” She paused. “He had this… softness in his eyes. I haven’t seen that in a long time.” Camilla’s words stirred the memories inside me. I remembered the early days, when Lucian would brush my hair behind my ear during a late-night conversation, how he’d asked if I had eaten when I forgot meals, how he’d held my wrist gently when he thought I was upset. The small gestures and quiet warmth was enough for me to believe I mattered. But the warmth faded and faded until it was completely gone. Camilla’s voice pulled me back. “Something changed, but it wasn’t your fault.” She said, rubbing small circles on my back. “It was his.” It hurt more because it was true. She bit her lip, unsure what else to say to comfort me. There were no words that could fix this. Later that evening, the front door opened. Lucian was home. I sat in the living room, waiting for him like I had done every evening for five years. Lucian walked in as if nothing had happened. His black tailored suit was perfect, his expression calm and unreadable. “Claire.” He always acknowledged me by simply saying my name. He glanced at me before removing his coat. I watched him for a several seconds, silently gathering the courage to speak. I needed my voice to be steady. “Lucian, I saw the photos.” Silence fell between us. Sharp, heavy silence. He tightened his jaw. “I see.” He simply said. I rose from the couch. “The photos are everywhere. You and her. Together.” I swallowed. “Who is she?” I knew exactly who she was. I had seen endless pictures of them together before we got married. Lucian tilted his head slightly, an amused expression formed on his face. “Eva. You know Eva. Everybody knows Eva.” His words stung. Yes, everyone knew the famous actress Eva Sterling. “Yes… I know Eva,” I said quietly. “But I didn’t know she was back in the country. I didn’t know the two of you…”My voice faltered. “Are you happy?” The question startled him, but only for a moment. A frown formed on his face and I could tell he was growing irritated. “Happy? Claire, what kind of silly question is that?” He exhaled sharply. “I’ve had a long day. I don’t have time for your drama.” My eyes burned, my shoulders dropped and my heart dropped even lower. Moments passed between us as we stared at each other—a couple whose marriage was slowly collapsing. One loved too much. One did not love enough. “Claire,” Lucian said at last, sounding detached and distant. “You and I come from two different worlds. You know that. We want different things.” “I thought we wanted each other,” I whispered. “You’ve always been naïve,” he muttered. “It’s time to grow up, Claire.” Lucian’s words struck me like a blow. “Do you still love me?” The silence that followed was unbearable, heavy and painful. I had my answer. After a long moment, he sighed and picked up his coat. “Go to bed, Claire. It’s late.” He walked past me without touching me. Without even looking at me. Just like that, he ended the conversation— leaving me standing alone in the middle of the room, with nothing but the image of my husband and another woman, arm in arm, burned into my mind.Kesibukan Anthony yang terlalu prioritas waktu itu, membuatnya jadi seorang suami sekaligus calon ayah yang lalai. Tidak memberi full support pada kehamilan istri dan semua hanya dipercayakan pada suster yang dibayar untuk mendampingi istrinya. Hingga sesal mendalam saat istrinya tiada, sebab kehabisan tenaga setelah begitu lama proses melahirkan putrinya yang sungsang. “Hei, paman Anthony!” tegur Erick. Anthony menoleh penuh tanya. “Sebaiknya segera bikin istrimu hamil lagi. Dia masih muda. Anak jangan cuma dua jika sudah tua. Tambahlah out put lagi satu atau dua! Jangan ditunda, keburu saraf-saraf senjatamu impoten!” ucap Erick begitu berani dan sengaja. Ingin menggoda Anthony yang terlihat muram dan diam. Lelaki yang diusik memandang dengan tatapan tajam. Tetapi wajahnya cerah kemudian. Dia tidak marah. “Aku sudah punya dua anak dan semua benar-benar hasil benihku. Kurasa itu cukup, aku tidak ingin merepotkan istriku.” Anthony berkata pada Erick dengan tersenyum masam d
Tujuh bulan sejak kematian Clara. __**__ Dua bayi yang masih belajar tengkurap bolak balik itu sangat menggemaskan dengan tubuh tebalnya masing-masing yang berusaha berguling di atas karpet empuk dalam playground. Dua bayi itu adalah paling kecil di antara banyak balita yang bermain bersama mereka di sana. Bukan siapa-siapa, dua bayi lelaki yang otewe merangkak tersebut adalah milik Yunita dan Amira. Jarak kehamilan serta kelahiran mereka berdua memang tidak jauh. Hanya hitungan minggu saja. Sedang balita lainnya di sana, adalah kepunyaan Shanumi, Intana, dan Osara. Meski mereka bertiga kini sudah terlihat berperut buncit lagi. Semua sedang hamil. Shanumi, hamil ke tiga kalinya bersama Daehan. Intana, hamil anaknya Juan yang pertama, dan Osara pun hamil anaknya Erick yang pertama. Intana dan Osara, usia kehamilan terpaut dua bulan. Perut buncit mereka terlihat cukup besar. Untuk Intana, kemungkinan akhir bulan ini melahirkan bayi laki-laki. Perkembangan kehamilannya sel
Osara baru saja mandi sore, menyuapi Irgi dan adiknya di ruang televisi. Bunyi denting di pintu besi apartemen membuatnya seketika menoleh. Ternyata Erick dan telah melemparkan salamnya. Tumben sekali, suaminya pulang kerja lebih cepat hari ini. “Ada apa, Pak Erick? Tak biasa balik cepat….” Osara berkomentar saat Erick sudah masuk melewati pintu besi. Mengulurkan tangan untuk disalim anak-anak setelah Osara pun demikian. “Osara, sebaiknya bersiap-siap, kamu kena ikut pergi denganku kali ini. Anak-anak biar di rumah dengan Suster.” Erick berbicara dengan ekspresi serius. Belum juga duduk.... “Kat mana…,” sahut Osara heran. Tidak mungkin rasanya Erick mengajak jalan-jalan sore dengan ekspresi seperti itu. “Kita ta'ziah. Clara meninggal dunia lepas ashar tadi.” Erick berkata dengan ekspresi yang sama. “Oh….” Osara merasa raganya seketika jadi lunglai di seluruh sendi. “Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.” Osara berbisik kemudian setelah menyadari sepenuhnya yang terjadi
Mama Hana sempat keluar sebentar dari kamar mendiang Daishin ketika Papa Sam kembali dari Osaka pukul dua siang lepas dzuhur. Mama Hana kecewa berat sebab kehilangan peluang terbang dua kali hari ini, yakni penerbangan pagi tadi dan penerbangan siang pukul dua. Padahal itu baru saja. Benar-benar membuatnya kesal. “Punya HP nggak guna banget! Disimpan dalam tas melulu buat apa! Buang saja HP kamu, Pa, gak ada gunanya!” Mama Hana sangat kesal. Dia naik tangga lagi meninggalkan suaminya. Ingin pergi ke kamar mendiang lagi. Perasaannya semakin tidak enak. Entah, biasanya tenang dan sabar, kini meledak-ledak dengan bising. Papa Sam garuk-garuk kepala merasa sangat bingung. Bagaimana lagi, dirinya pun tak berdaya dengan kelakuan pihak kereta cepat yang merubah total schedulenya. Hujan deras disertai angin kencang memang sangat berbahaya. Begitu amat nasib bapak-bapak yang berjuang demi bisa pulang. Eh, sampai di rumah, istri pun marah-marah. Sepertinya, seluruh babak-bapak di at






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore