MasukVia tak menyangka, pernikahan yang dia jalani dengan penuh pengorbanan ternyata palsu. Dia hanya dijadikan istri kedua bagi pria bernama Rendi. Menjadi pelakor tanpa sengaja.
Lihat lebih banyakKu lihat mbak Helen bergegas masuk. Memeriksa bunyi yang membuatnya curiga tadi. Sembari menahan napas seiring jantung yang berdegup kencang."Meaow."Langkah mbak Helen terhenti. Menatap galak kucing hitam yang mengeong. Duagh! Aku hampir memekik. Mbak Helen menendang kucing tak bersalah itu."Kucing sialan! Mengganggu saja. Minggir sana!"Kucing malang itu lari terbirit-birit. Maafkan aku kucing, kamu menjadi korban padahal tidak melakukan apa-apa.Mbak Helen masih mengomel. Jelas saja dia juga deg-degan mendengar suara benturan tadi. Kalau sampai yang tahu rencana liciknya itu mas Rendi, dia bisa habis. Kini wanita licik itu kembali ke kamarnya. Aku menyeringai miring. Ah, malang sekali nasib mas Rendi. Mempertahankan mbak Helen, padahal mbak Helen hanya mengincar hartanya saja.Sepertinya permainan akan semakin seru...Ku kembangkan usaha kue lebih maju lagi. Kami membeli ruko khusus di kota kecamatan dengan tema kue unik tradisional. Mengurusnya berempat pastinya. Kami sampai
Sesuai yang disarankan bu Rita, aku harus memulai aksiku. Ku selesaikan pekerjaan wajib di rumah ini. Mama masih mendiamkanku. Mungkin dia masih kesal dengan kejadian uangnya yang hilang itu, yang membuat mbak Helen mengomelinya. Syukurlah, setidaknya aku terbebas beberapa saat dari omelannya."Awas kamu, perempuan sialan. Aku pasti akan membuktikan kalau kamu malingnya," sungut mama saat berpapasan denganku. Aku menggendikkan bahu, tak peduli. Lagipula, dengan cara apa mama akan membuktikannya? Kejadian itu sudah lumayan lama. Tidak ada cctv, atau kamera perekam lainnya. Dan lagi, aku juga tidak pernah mengambil uang mama lagi untuk belanja. Sudah ada mas Rendi yang mengurusnya. Dia yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga."Mas Rendi tidak ke Tangerang lagi?" tanyaku memijit lengannya. "Kau ingin aku pergi, Vi?" tanyanya dengan raut kecewa."Em, bukan begitu. Tapi ..." aku sengaja menggantungkan kalimatku. Aku taksir, mas Rendi akan mengira aku pasti berkeinginan mengikuti dia k
"Gimana, Vi? Belum bisa?"Wajah Via memucat. Sedari tadi dia memasukkan password-nya, tapi belum juga berhasil. Ya, dia meminjam ponsel bu Rita untuk membuka aplikasi biru tersebut. Satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan. Karena untuk nomor, Via lupa semua. Meski dia sebenarnya sangsi Fadil akan membuka aplikasi biru tersebut. Karena aplikasi itu sekarang kurang diminati oleh kalangan anak muda-dewasa. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya itu cara yang bisa dia coba. Sayangnya, sedari tadi dia memasukkan password, tetap saja belum bisa. Terhitung sudah hampir sepuluh kali, dan semuanya password salah."Arrh!" Via frustasi. Dadanya yang sesak karena gejolak emosinya, semakin menjadi. Perempuan itu menelungkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Menumpu ke paha. Menangis terisak.Rita yang paham, menyuruh anaknya untuk bermain dengan teman sebayanya di luar."Kenapa mas Rendi jahat padaku, bu? Aku salah apa padanya?" adunya disela isakan. Rita menepuk pundak Via. Mengela napas. Keluarga it
Aku meletakkan ponsel itu gugup."I-itu tadi, a-ada pesan, Mas."Mas Rendi menatapku tajam. Berjalan ke arahku. Kurasakan hawa menegangkan yang menakutkan. Meraih ponsel itu kasar."Kau tahu, aku tidak suka ada yang menyentuh barang pribadiku."Aku mengangguk samar. "M-maaf, Mas."Mas Rendi langsung memeriksa ponselnya. Untung saja pesan baru tadi belum kubuka. Semoga saja mas Rendi tidak curiga padaku. Untung juga aku sempat menekan tombol keluar, kembali ke halaman beranda.Pria berstatus suamiku itu menatapku menelisik. Sementara aku meremat jemari tanpa sadar. Gugup, juga takut. "M-maaf, mas. Aku tadi sedang tiduran. Dan, terasa ada yang bergetar di bawah bantal. Jadi, aku periksa. Ternyata, itu ponsel mas Rendi."Pria itu justru mendekatkan wajahnya ke arahku. Netranya menusuk tajam netraku. Posisi yang menambah kegugupanku semakin menjadi. Aku menunduk takut."Mas maafkan. Tapi lain kali jangan begitu ya?" Sebuah usapan lembut mendarat di puncak kepalaku. Aku terperangah, mena
"Mas, tolong jelasin. Apa maksud semua ini?" Aku menginterogasi mas Rendi setelah kami dikamar kami. Mas Rendi menghela napas. Tadi hampir saja terjadi perang, bahkan wanita itu berhasil menampar pipiku, dan mengataiku 'pelakor', 'wanita sialan', dan kata kata berisi makian kotor lainnya, sebelum
Singkat cerita, aku dan mas Rendi resmi menikah. Sayangnya, kata mas Rendi orang tuanya tidak bisa datang. Aku memakluminya. Karena memang jarak yang sangat jauh.Sama sepertiku, mas Rendi juga merupakan perantau. Aku di ujung selatan pulau Sumatera, sedangkan mas Rendi berasal dari ujung pulau Jaw
"Kamu yakin Vi, sama keputusanmu?" Fadil menatapku tak percaya. Aku mengangguk. Aku baru saja mengatakan padanya untuk berhenti kuliah. Dan lihatalah reaksi sahabatku ini, dia kaget? Tentu saja. Tapi kubiarkan saja dia dengan pikirannya. Aku memilih menatap langit bertabur bintang yang rasanya lebi
Via, namaku. Gadis dua puluh satu tahun yang membiayai kuliahnya sambil bekerja di rumah makan Padang di kota ini. Aku berasal dari keluarga yang kurang mampu, karena itu segala macam pekerjaaan ku lakoni demi kelangsungan pendidikanku dibangku kuliah. Sesekali aku juga mengambil pesanan kue-kue un












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.