Share

BAB 20

Author: arctrs_
last update publish date: 2026-09-08 11:49:05

Suara sirine ambulans menggelegar menembus riuhnya lokasi syuting. Di tengah kerumunan kru yang panik, Vivianne meraung-raung histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Beberapa staf terpaksa memegangi bahunya agar wanita itu tidak pingsan.

"Dion! Dion, kamu tidak apa-apa kan?! Sayang, jawab aku!" jerit Vivianne dengan suara serak menahan tangis.

Saat petugas medis hendak menutup pintu belakang ambulans, Vivianne merangsek maju. "Saya ikut! Saya pacarnya!"

"Maaf, hanya keluar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 24

    "Kenapa Pak Zayne bilang aku pacar Bapak?" tanya Sora penasaran begitu mereka berjalan meninggalkan gadis berseragam sekolah tadi. Zayne melirik Sora santai, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Biar dia cepat pergi. Saya tidak nyaman diajak bicara sama orang asing, apalagi kalau bukan kamu." Jawaban santai namun tajam itu membuat dada Sora berdesir hangat. Pipinya mendadak merona merah, namun ia memilih diam dan pura-pura sibuk memandangi jajaran mesin permainan di sekitar mereka. Langkah mereka terhenti di depan sebuah wahana Basketball Shootout pasangan—permainan lempar bola basket dua ring yang skornya diakumulasikan bersama untuk mendapatkan hadiah utama di bagian atas rak display. Zayne menunjuk sebuah boneka beruang cokelat berukuran sangat besar yang berdiri gagah di rak paling atas. "Kamu suka beruang?" Sora menoleh, matanya berbinar melihat boneka jumbo itu. "Suka! Lucu banget, Pak." "Sini," panggil Zayne seraya melambaikan tangan, melipat lengan kemeja putihnya

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 23

    Mobil sedan hitam Zayne membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang tenang, Sora melempar pandangannya keluar jendela. Langkah keputusannya meninggalkan kamar rawat Dion tadi masih menyisakan sedikit desiran lega di dadanya. Saat mobil melintasi pusat perbelanjaan di pinggir jalan raya, mata Sora tak sengaja menangkap papan lampu neon besar di lantai dua bangunan tersebut. Suara samar denting permainan dan warna-warni lampu bertuliskan Arcade Zone terlihat jelas dari kaca mobil. Sora menahan pandangannya di sana beberapa detik. "Pak Zayne... pernah ke tempat seperti itu?" tanya Sora tiba-tiba, menunjuk ke arah papan lampu neon tersebut. Zayne melirik sekilas lewat kaca spion tengah. "Tempat permainan? Belum pernah. Terlalu berisik." Sora tersenyum kaku lalu cepat-cepat menarik pandangannya. "Ah... begitu, ya. Yasudah, Pak, tidak jadi. Lain kali mungkin aku bisa pergi sendiri saja. Takutnya Pak Zayne nggak nyaman." Zayne tak membalas ucapan itu. Namun, detik berikutnya,

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 22

    Lewat celah sempit itu, pemandangan di dalam kamar terpampang jelas. Dion bersandar di bantal dengan tangan digips, sementara Vivianne duduk di tepi kasur, menundukkan tubuhnya rapat-rapat. Kedua orang itu sedang berciuman dengan sangat mesra dan intens. Nyuutttt. Jantung Sora mencelos. Ingatan kelam itu seketika berputar hebat di kepalanya—malam pertama saat Dion terpergok berselingkuh dengan Vivianne. Sensasi sesak, hancur, dan dikhianati yang dulu pernah merobek dadanya kembali membakar ingatan Sora. Melihat bahu Sora yang mendadak kaku dan napasnya yang tertahan, Zayne secara refleks mengulurkan telapak tangannya untuk menutup mata Sora. "Tidak perlu melihatnya," bisik Zayne di belakang punggung Sora. Namun, Sora tidak ingin membiarkan dirinya larut dan tenggelam dalam kelemahan masa lalu. Dengan gerakan mantap dan tegas, Sora menepis lembut tangan Zayne dari matanya. Ia menatap Zayne dengan binar mata yang kini berkilat penuh keberanian. "Saya tidak apa-apa, Pak Zay

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 21

    "Sayang, kamu sudah makan belum? Wajahmu pucat sekali lho ini," ujar Vivianne manja, menyentuh kening Dion yang dibalut perban. Dion menggeleng lemah, melirik jijik pada nampan bubur rumah sakit di atas meja. "Belum. Makanan di sini rasanya seperti kertas basah. Aku lagi pengen makan sup iga." "Aduh, tapi kan jauh dari sini, Sayang? Kalau pesan online gimana? Mau nggak, Sayang?" tanya Vivianne. "Nanti dingin dong," jawab Dion dengan nada manja. Sora menghela napas. Rasanya melihat pasangan di depannya ini membuat tensi darahnya naik seketika. "Aku saja yang pergi membelinya," sela Sora tenang seraya merapikan tali tas di bahunya. "Aku naik taksi ke sana. Supnya bisa dibungkus pakai wadah pemanas." Dion tersentak pelan. Pria itu menatap Sora sejenak—sadar betul bahwa wanita itu masih mengingat jelas restoran favoritnya—sebelum akhirnya membuang muka gengsi. "Terserah kamu." "Nah, gitu dong! Bagus kalau peka. Cepat ya, Sora!" seru Vivianne senang. Sora hanya mengangguk ti

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 20

    Suara sirine ambulans menggelegar menembus riuhnya lokasi syuting. Di tengah kerumunan kru yang panik, Vivianne meraung-raung histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Beberapa staf terpaksa memegangi bahunya agar wanita itu tidak pingsan."Dion! Dion, kamu tidak apa-apa kan?! Sayang, jawab aku!" jerit Vivianne dengan suara serak menahan tangis.Saat petugas medis hendak menutup pintu belakang ambulans, Vivianne merangsek maju. "Saya ikut! Saya pacarnya!""Maaf, hanya keluarga atau yang punya wewenang resmi saja yang boleh mendampingi pasien," tahan salah satu petugas tegas.Para kru menoleh pada Sora yang berdiri kaku di samping tandu. "Mbak Sora ini manajernya, kan? Ayo cepat naik!"Vivianne membelalak, hendak protes, namun pintu ambulans keburu ditutup rapat.Di dalam mobil yang melaju kencang, Sora duduk menatap Dion yang tak sadarkan diri di atas tandu. Napas Dion terengah pelan di balik masker oksigen. Sora mengusap jemarinya yang dingin dan gemetar hebat. I

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 19

    Dion masih menatap Sora menuntut, rahangnya mengatup rapat menantikan jawaban. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas panas Dion menyapu kulit wajah Sora.Kemudian terdengar suara ketukan sepatu dari luar pintu."Mas Dion kemana, ya? Kok tiba-tiba hilang sih. Takut banget sutradara ngamuk lagi ke kita.""Amit-amit! Eh ini ada pintu. Siapa tahu dia di dalam.""Ketuk pintunya, coba."Tok! Tok! Tok!"Mas Dion? Apa ada di dalam? Ayo siap-siap, sepuluh menit lagi adegan lompat mau diambil!" teriakan salah satu kru dari luar koridor seketika memotong ketegangan di antara mereka.Sora mendadak menahan napas. Lidahnya kelu, dadanya naik-turun menahan ketakutan luar biasa jika ada kru yang tahu ia berdua di ruang kosong ini bersama Dion. Bisa habis reputasinya jika sampai tersebar rumor aneh.Dion memutar bola matanya kesal, lalu mendengus kasar. Pria itu mengikis jarak terakhir, berbisik tepat di samping telinga Sora. "Urusan kita belum selesai."Klek.Dion membuka pintu, lalu melang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status