author-banner
Jesi Sanctuary
Jesi Sanctuary
Author

Novels by Jesi Sanctuary

Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu

Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu

Gendhis Kalarasati menemukan seorang pria terluka dan tak sadarkan diri di gubuk dekat ladang miliknya. Pria itu Bhaskara Jatikusumo, polisi intel yang kehilangan sebagian ingatannya setelah diserang saat menyelidiki jaringan mafia. Demi menyelamatkan Bhaskara dari orang-orang yang memburunya, Gendhis terpaksa mengaku sebagai istrinya. Sejak itu, setiap malam ia menambal dusta dengan dusta lain, sementara pria yang ia tipu menggenggamnya semakin erat dan memercayainya sepenuh hati. Namun, ketika ingatan Bhaskara perlahan kembali, kebohongan itu terancam terbongkar. Sebenarnya, siapakah pria itu?
Read
Chapter: BAB 51 - UDANG GORENG MENTEGA
Siang itu, Gendhis tiba di rumah dengan membawa wadah besar berisi udang bakar mentega. Aroma gurihnya masih tercium kuat di balik penutup rantang, bahkan sejak ia membuka pintu dapur. Sesaat sebelum pulang, Sumiyati sempat memberikan beberapa petuah, “Sudah, Ndhis. Sekarang kamu pulang saja. Jangan lupa jari yang tadi jangan dipakai buat macam-macam dulu, masih seger itu luka goresnya!” pesan perempuan itu sambil menunjuk telunjuk Gendhis yang sudah ditempeli plester.Gadis itu mengangguk sambil terkekeh, “Iya, Mbok. Makasih banyak, ya, sudah bantuin dari pagi.”“Lho, sama-sama. Nanti kalau Bhaskara suka, bilang sama Mbok. Biar Mbok tahu resepnya berhasil.”“Pasti! Nanti aku ceritakan semuanya.”“Ceritakan juga bagian Mbok yang memberikan resep iku, lho …” ujar Sumiyati–yang sejujurnya berisi candaan, dan Gendhis pun mengetahuinya.“Tapi yang mengulek, membumbui, sama memanggang siapa?” Gendhis mengangkat telunjuknya yang diplester, membalasnya jenaka. “Ini, lho, buktinya. Sampai te
Last Updated: 2026-11-09
Chapter: BAB 50 - SEPORSI HARAPAN
Pagi itu, pasar desa sudah ramai ketika Gendhis tiba bersama Sumiyati. Suara para pedagang yang menawarkan dagangan bersahutan dengan riuh percakapan pembeli, sesekali diselingi bunyi timbangan dan kantong plastik yang beradu. Aroma rempah, sayuran segar, hingga ikan yang baru diturunkan dari pemasok bercampur menjadi satu. Kali ini, ia punya misi khusus.Tangan Gendhis menggandeng lengan Sumiyati ketika mereka menyusuri lorong pasar yang mulai dipadati pembeli. Sesekali gadis itu melambatkan langkah untuk memperhatikan dagangan di kiri dan kanan, memastikan tidak ada bahan yang terlewat dari daftar belanja yang sudah ditulisnya sejak sebelum berangkat.“Ayo cari udangnya dulu, Ndhis, cari yang gendut-gendut. Jangan sampai keduluan sama warga lain!” kata Sumiyati.“Hahahaha, ayo, Mbok!”Di tengah perjalanan, Sumiyati menoleh, “Buat siapa, sih, memangnya?” “Y-ya, bu-buat makan di ru-rumah, Mbok.”Ah, Gendhis, ketahuan sekali kikuknya!“Iya, tapi yo kamu jaraaang banget kepingin masak
Last Updated: 2026-11-08
Chapter: BAB 49 - DINGINMU, PRIA YANG BERHARGA
Pagi itu, Gendhis terbangun oleh suara berisik dari arah dapur. Ada bunyi denting peralatan masak, disusul suara air yang mengalir dan sesuatu yang diletakkan di atas meja. Ia sempat mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur.Siapa yang sudah sibuk di dapur sepagi ini?Ketika keluar kamar, ia mendapati Bhaskara sedang berdiri di depan kompor. Pria itu mengenakan kaus rumah berwarna gelap dengan celana panjang santai. Satu tangannya memegang gagang ketel, sementara tangan lainnya sibuk mematikan api.Gendhis mendekat dengan rambut yang masih sedikit berantakan. “Mas sedang merebus apa?” tanyanya.Bhaskara tidak menjawab sebab ia sibuk mengangkat ketel dari atas kompor, kemudian membawanya ke meja makan. Barulah Gendhis menyadari ada sebuah cangkir berisi bubuk kopi di sana.“Oh, air panas buat kopi?”“Iya.”Singkat sekali.Gendhis memperhatikan cangkir itu, lalu menatap pria di hadapannya. “Mas … mau bikin kopi sendiri?” tanyanya sekali lagi.Bhaskara
Last Updated: 2026-11-08
Chapter: BAB 48 - KEPERCAYAAN MANUSIA
“Perempuan yang ada di kepalaku kemarin, itu memang bukan kamu.”Bhaskara melirik orang-orang yang lalu-lalang di sekitar jalan yang terlihat dari ladang belakangnya. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak ingin pertengkaran mereka menjadi tontonan. Namun, alih-alih meminta Gendhis mengikutinya baik-baik, ia justru meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya pergi. “Mas—”Gendhis tersentak, matanya kian melebar. Langkahnya nyaris tersandung ketika Bhaskara membawanya dengan tergesa-gesa menuju pintu belakang rumah yang terhubung dengan ladang. Sandal jepitnya berkali-kali menyangkut di tanah yang tidak rata.“Mas, tunggu dulu. Aku bisa jelasin—”Pria itu itu tetap bergeming terhadap keluhan Gendhis. Cengkeramannya justru semakin erat hingga Gendhis meringis dan sebisa mungkin berpasrah mengimbangi langkahnya. “Mas, s-sakit!”Baru setelah mereka sampai di dalam rumah, Bhaskara melepaskan tangannya. Pintu di belakang mereka tertutup dengan bunyi
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: BAB 47 - STATUSKU, CERAI MATI
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Gendhis tak benar-benar bisa lepas dari percakapannya dengan Kartika. Jika dugaan Kartika benar, mungkin pria itu memang seseorang yang mengenal Bhaskara. Seseorang yang peduli kepadanya. Seseorang yang mungkin tahu di mana keluarga lelaki itu berada.Namun, jika memang demikian, mengapa mereka tak kunjung memperlihatkan diri?“Kalau memang keluarga Mas Bhaskara ada di sekitar sini, kenapa mereka nggak datang menemuiku saja?” gumam Gendhis–ia bahkan tak menyadari dirinya sedang berbicara sendiri.Ia mengeratkan pegangan pada tas yang dibawanya. “Kenapa harus diam-diam, sih? Kenapa ikut membiarkan aku semakin jauh membohongi Mas Bhaskara?” keluhnya.Bukankah akan jauh lebih mudah jika mereka datang dan menjelaskan semuanya? Gendhis bisa menyerahkan Bhaskara kepada orang-orang yang memang mengenalnya. Ia tak perlu lagi menebak-nebak siapa pria yang tinggal bersamanya selama ini, apalagi terus mempertahankan kebohongan yang semakin hari semakin sulit d
Last Updated: 2026-11-04
Chapter: BAB 46 - ORANG-ORANG YANG JUJUR
Kartika menghembuskan napas lega setelah memastikan tidak ada siapa pun yang mengikuti Gendhis dari belakang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Retno yang masih berdiri di dekat pintu.“Retno, tolong tutup pintunya, ya? Setelah itu, kamu bisa lanjut bekerja.”“Oh, iya. Baik, Dok!” ujar Retno.Wanita itu mengangguk sebelum menarik pintu hingga tertutup rapat. Suara langkahnya perlahan menjauh menyisakan Kartika dan Gendhis di dalam ruangan.Gendhis masih berdiri di tempatnya ketika ia memperhatikan tingkah Kartika yang sejak tadi terlihat tidak tenang. Bahkan, wanita muda itu beberapa kali melirik ke arah pintu seolah memastikan–benar-benar tidak ada orang lain yang akan masuk.“Mbak, sebenarnya ada apa?” tanya Gendhis akhirnya.Kartika menunjuk kursi di hadapan mejanya seraya memaksakan satu senyum tipis–yang Gendhis tahu sebagai formalitas saja. “Duduk dulu, Ndhis. Ada yang perlu Mbak ceritakan sama kamu,” katanyaGendhis menurut untuk kemudian menarik kursi dan meletakkan t
Last Updated: 2026-11-04
PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN

PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN

Menikah dengan mantan sendiri bukan sesuatu yang pernah Karuna Respadi Atmaja tulis dalam daftar keinginannya. Apalagi jika mantan itu adalah Rajendra Keenan Witjaksana; pria yang tujuh tahun lalu pergi dengan cara paling kejam, lalu kembali dengan wajah terlalu tenang dan satu alasan yang membuat dada Karuna terasa ditikam. “Saya harus menjadi pimpinan Witavest Group.” Karuna nyaris tertawa. Jadi, begitu? Pernikahan mereka hanya jalan lain agar Rajendra berdiri di puncak rantai keluarga Witjaksana? “Pernikahan bukan mainan, Rajendra!” Namun, Rajendra tetap berdiri di sana; dingin, stabil, dengan sorot mata yang jelas membuatnya muak. “Kalaupun kita menikah,” tanyanya, “apa kamu bisa mencintai saya–lagi?” Dua tahun. Satu rumah. Satu pernikahan yang katanya hanya kewajiban. Karuna pernah mencintai Rajendra. Pernah juga membencinya dengan seluruh tenaga yang ia punya. Naasnya, ketika keluarganya nyaris bangkrut, kebencian saja tidak cukup untuk membuatnya menolak pernikahannya. Maka ia harus berbagi hidup pria yang dulu menghancurkannya; terikat oleh kepentingan keluarga, luka lama, dan keintiman yang datang tanpa sempat ia duga. Karena mungkin, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada masa lalu mereka. Bukan pernikahan dadakan ini. Melainkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang sama… bisa terjadi dua kali.
Read
Chapter: BAB 151 - BOLEHKAH BERGABUNG?
Mereka memasuki sebuah steakhouse. Aroma daging panggang dan sausnya menyugar indra pembau, memenuhi rongga dengan kehangatan yang menggugah selera. Rajendra menuntun langkah Karuna, tungkainya bergerak pelan di samping raganya, sampai di salah satu meja di dekat jendela–menghadap ke arah langit yang sudah mulai terik karena mentari yang naik.Beberapa saat setelahnya, Karuna tak kuasa menghela napas begitu satu-per satu menu itu datang.“Ini tuh cocoknya buat dinner nggak, sih?” tanyanya.Meja mereka tampak penuh.Mulai dari tomahawk steak andalan restoran, creamed spinach yang katanya menu pendamping paling populer, truffle mac & cheese yang menarik perasa Karuna, serta dua gelas jus apel dingin dan menu perintilan lainnya.Rajendra melirik, kemudian mulai memotong daging besar itu menjadi beberapa bagian. “Kamu tidak suka?” tanyanya. “Kita bisa pindah jika iya.”Betapa pandai pria itu bicara sekarang.“Bukan nggak suka.” Karuna masih memegang garpu dan pisau di udara, sementara piri
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: BAB 150 - BUKU, DEBU, DAN TATAPANMU
Rajendra menatap punggung itu dari belakang. Netranya memperhatikan bagaimana empunya tampak sibuk dengan telunjuk yang menyentuh setiap sampul buku. Rambutnya yang digerai membuatnya tampak ayu, begitu sederhana dalam celana jeans biru cerah dan kemeja putih pendek.Rajendra bersekedap dada. “Ketemu?”“Sebentar.” Nada gadisnya memang belum sepenuhnya ramah, namun Rajendra tahu–suntuknya sudah mulai tergantikan.Buku memang bukan favorit Karuna. Akan tetapi, bisa menjadi penyembuhnya saat gadis itu sedang tidak tahu ingin kemana. Karuna bukan si kutu buku yang senang membaca–Rajendra yang lebih cocok disebut begitu. Namun, Karuna-nya tetap menyukai harumnya.“Novel? Tumben sekali.” Untuk gadis yang sedang beku hatinya, tentu itu bukan genre pilihan yang berkeliaran di kepala Rajendra. Karuna mendengus, kala menyadari bahwa Rajendra sudah berdiri di sampingnya.“Terserah aku. Kamu bilang kamu bakal ikutin apa aja mauku, ‘kan? Masa pilihan buku punyaku aja masih kamu komentarin.”“Ya. B
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: BAB 149 - DUA RUMAH BERBEDA
Karuna mendengus pelan manakala akhirnya ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Raganya melemah, seolah seluruh tenaga yang sedari tadi ia paksa untuk tetap utuh luruh begitu saja bersama embusan napas yang keluar dari belah bibirnya. Maniknya kosong, menatap layar televisi yang baru saja Rajendra nyalakan.Pikirannya riuh.“Karuna.”“Karuna.”Satu panggilan itu berhasil membuat bahu Karuna sedikit berjengit. Jemarinya yang berada di atas pangkuan meremas ujung pakaian; ia berusaha menahan reaksi itu, menelan apapun yang tiba-tiba menggumpal di pangkal rungunya, lalu hanya membalas dengan deham pelan. Karuna menarik bantalan sofa, memeluknya erat benda mati itu. Tungkainya naik ke atas sofa–bersila. Dagunya ia letakkan di ujung bantal, sementara netranya menghindari sosok Rajendra yang berada tidak jauh darinya. “Karuna,” panggil Rajendra sekali lagi ketika sudah di sisi dahayunya–meski dengan jarak yang ketara.Karuna yang kini pun hanya berdeham membuat Rajendra menghela napas. “Saya
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: BAB 148 - DUA KEADAAN BERBEDA
“Ah!”Satu pekik kecil meluncur dari ranum Karuna.Gelas keramik yang berada di atas pantry nyaris bergeser kala jemarinya refleks menarik diri. Dari arah belakang, terdengar langkah tergesa yang menyambangi rungunya. Belum sempat Karuna benar-benar memahami apa yang terjadi, pergelangan kecilnya sudah lebih dahulu diraih. Daksanya tertarik mundur setengah langkah, membuat Karuna menurut tanpa banyak daya. “Ya Tuhan, Karuna,” suara serak khas sosok yang baru bangun tidur itu menyita inderanya. Rajendra.Pria itu menariknya ke arah wastafel, membuka keran dengan gerakan cepat, kemudian menahan telunjuk Karuna di bawah air mengalir. Punggungnya hampir menyentuh dada Rajendra. Lengan pria itu mengurung dari sisi tubuhnya, satu tangan menahan jemari Karuna agar tetap berada di bawah air, sementara tangan lainnya bertumpu di tepi wastafel. Alis Rajendra sudah menekuk tajam, “Ceroboh,” ucapnya. Karuna menunduk, menatap telunjuknya yang mulai memerah. Perihnya sedikit reda karena air din
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: BAB 147 - DUSTA YANG MENANG
Serena menegakkan raganya di hadapan debur ombak yang merajai kedua netranya.Pantai kota Jakarta–pantai buatan manusia, dengan lautan yang tidak sepenuhnya lahir dari kebebasan alam, yang sanggup menyajikan deru sekaligus gelisah pada batin manusia. Angin malam berhembus sejuk, mampu membuat helaian rambut Serena terbang, menari tak beraturan di sisi wajah campurannya.Lengannya bertumpu di atas pagar pembatas. Jemarinya saling mengunci lemah, sementara netranya memandang jauh pada garis air yang terus bergerak. Di atas sana, bulan sudah menggantung. Benderang menumpahkan kilau pucat pada permukaan laut yang beriak pelan.“Long time no see, Serena.”Suara seorang pria menyambangi rungunya dari arah belakang.Serena tidak terlonjak. Hanya saja, tubuhnya sempat menegang, sementara jemari yang bertumpu pada pagar diam-diam meremat lebih kencang. Suara milik seseorang yang beberapa kali hadir dalam masa lalu, berdiri di sudut-sudut yang tidak pernah benar-benar Serena perhatikan.Serena b
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: BAB 146 - MELANKOLISNYA KARUNA
Karuna menegakkan tungkainya di dalam kamar lama yang sudah berbulan-bulan tak lagi ia tempati sebagai tempat pulang. Netra ayunya menatap gelap kamar yang menyambut tanpa banyak suara. Hanya ada dingin yang perlahan merambat dari lantai menuju sela tulang.Padahal, Karuna yang meminta.Karuna yang memulainya.Karuna yang dengan suara kecil bertanya apakah malam ini ia boleh tidur di kamar lamanya.Namun, setelah Rajendra mengangguk, setelah pria itu tidak menahan dan tidak ada satupun kalimat larangan yang keluar dari ranum tegasnya, ada sesuatu di dalam dada Karuna yang justru merosot tanpa aba-aba. “Gue kenapa, sih…”Aneh.Sangat aneh.Karuna tidak pernah membayangkan bahwa diberi ruang bisa terasa semenyedihkan ini.Bunyi klik yang kecil itu seperti ketetapan. Yang padahal, jika Karuna cukup tidak punya malu, ia hanya perlu membuka pintu lagi, menapaki lorong, kemudian kembali ke kamar utama dan berkata ingin bermalam saja dengan sang pria. Dan sukmanya–sialan–masih penuh oleh Ra
Last Updated: 2026-07-11
You May Also Like
The Golden Switch
The Golden Switch
Romansa · Alna Selviata
227 views
Istri Polos Kesayangan Tuan CEO
Istri Polos Kesayangan Tuan CEO
Romansa · Nytheria_Blue
225 views
Sangkar Emas Nyonya Arlando
Sangkar Emas Nyonya Arlando
Romansa · Puti sunshine
223 views
My Other Happiness
My Other Happiness
Romansa · Pipit_vie
222 views
RENJANA
RENJANA
Romansa · Junatha Rome
221 views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status