
PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN
Menikah dengan mantan sendiri bukan sesuatu yang pernah Karuna Respadi Atmaja tulis dalam daftar keinginannya.
Apalagi jika mantan itu adalah Rajendra Keenan Witjaksana; pria yang tujuh tahun lalu pergi dengan cara paling kejam, lalu kembali dengan wajah terlalu tenang dan satu alasan yang membuat dada Karuna terasa ditikam.
“Saya harus menjadi pimpinan Witavest Group.”
Karuna nyaris tertawa.
Jadi, begitu?
Pernikahan mereka hanya jalan lain agar Rajendra berdiri di puncak rantai keluarga Witjaksana?
“Pernikahan bukan mainan, Rajendra!”
Namun, Rajendra tetap berdiri di sana; dingin, stabil, dengan sorot mata yang jelas membuatnya muak.
“Kalaupun kita menikah,” tanyanya, “apa kamu bisa mencintai saya–lagi?”
Dua tahun.
Satu rumah.
Satu pernikahan yang katanya hanya kewajiban.
Karuna pernah mencintai Rajendra. Pernah juga membencinya dengan seluruh tenaga yang ia punya. Naasnya, ketika keluarganya nyaris bangkrut, kebencian saja tidak cukup untuk membuatnya menolak pernikahannya.
Maka ia harus berbagi hidup pria yang dulu menghancurkannya; terikat oleh kepentingan keluarga, luka lama, dan keintiman yang datang tanpa sempat ia duga. Karena mungkin, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada masa lalu mereka.
Bukan pernikahan dadakan ini.
Melainkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang sama… bisa terjadi dua kali.
Read
Chapter: BAB 135 - USAHA MENGABULKANKaruna termenung sepanjang sarapan; makanan yang biasanya ia santap dengan lahap pagi itu hanya diaduk-aduk menggunakan ujung garpu. Nasi di piringnya berpindah dari satu sisi ke sisi lain, sementara beberapa lauk yang tersaji nyaris tidak disentuh. Rajendra yang duduk di seberangnya akhirnya menoleh. “Jika tidak berselera, jangan diaduk seperti itu, Karuna,” tegasnya.Rajendra memang tak menyukai kebiasaan menyia-nyiakan makanan, terlebih ketika Natri telah menyiapkan berbagai macam hidangan sejak pagi. Baginya, makanan yang sudah diambil ke dalam piring seharusnya dihabiskan, bukan disentuh berkali-kali lalu dibiarkan.Karuna mengangkat wajah–sengit menatap Rajendra.Rajendra membalas tatapan itu dengan kening berkerut, tak memahami dari mana kekesalan tersebut datang. Semalam mereka tak bertengkar, pun berada di kamar yang sama seperti biasa. Karuna memang lebih banyak diam, tetapi Rajendra mengira gadis itu kelelahan setelah pulang agak malam karena berbelanja bersama Rhea.“Kamu
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: BAB 134 - PEMANDANGAN TAK DIDUGA“Siapa suruh lo iya-iya aja!”“Ya, gue kira itu nggak masalah?!” Rhea mendelik sambil mendorong pelan kening Karuna dengan telunjuknya. Sementara yang diberi perlakuan ikut mendengus kesal, “IH!” adunya.Mereka sedang berada di pusat perbelanjaan setelah jam kantor selesai. Awalnya, rencana mereka sederhana saja; makan sejenak, lihat-lihat baju, kemudian pulang sebelum terlalu malam. Rhea memang ingin mencari sweater baru sementara Karuna bilang ia hanya ingin menemani–meskipun sejak masuk ke toko pertama tadi, tangannya sudah siap siaga memuaskan hasrat belanjanya.Dan siapa juga yang menyangka, sesi belanja itu berubah menjadi sesi curhat dadakan milik Karuna karena wajahnya yang terus ditekuk sepanjang hari; hasil dari pada pikiran negatif yang dihasilkan kejadian kemarin pagi.“Kalau gue jadi lo, nggak akan tuh gue kayak gitu, toh Rajendra juga kedengeran nggak pengen ada di proyek itu, ‘kan?” potong Rhea sambil memutar bola matanya.“Itu ‘kan perusahaan Ayahnya Serena, bukan Ser
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: BAB 133 - UNTUK SUAMIKU“Kalau begitu… ayo kita sarapan dulu,” usul Karuna lembut; suara yang cukup untuk memecah sesuatu yang sejak tadi menggantung pekat di ruang antara mereka.“Ayah pasti belum makan,” lanjutnya, menoleh sejenak ke arah Hartono. “Bibi sudah menyiapkan sarapan,” ujarnya.Ada jeda yang menggantung kosong selama beberapa saat, terutama saat Hartono menoleh ke arah putra bungsunya. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang tegang. Barulah kemudian Hartono mengangguk kecil–menyerah pada keputusan yang tak terucap.Rajendra tidak mengatakan apa-apa. Namun saat Karuna menyentuh punggung tangannya lembut, pria itu akhirnya berdiri meski enggan.Karuna mendudukkan diri tepat di sebelah Rajendra. Natri datang membawa sarapan untuk mereka–croissant hangat dengan permukaan keemasan yang renyah, sepiring besar potongan buah segar yang berkilau, juga satu teko kaca berisikan jus jeruk dingin. Sebagai menu utamanya, Natri juga meletakkan sepiring kecil nasi goreng hangat yang aromanya menyebar. “Ter
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: BAB 132 - MAAF DARI KARUNAPagi itu terasa ringan juga hangat sebab cahaya matahari menyusup lembut melalui jendela ruang tengah, membasuh sofa dengan sedikit bias teriknya. Karuna duduk bersila di tengah sofa, semangkuk sereal di pangkuannya. Wajahnya berseri, netranya berbinar penuh kegembiraan, pipinya naik karena tertawa lepas. Bibirnya yang mungil itu terbuka lebar, tawa kecilnya keluar tanpa beban, seolah pagi ini berhasil meluruhkan semua beban yang sempat menggelendoti hatinya.Tak lama kemudian, Rajendra keluar dari area dapur. Wajahnya masih datar seperti biasa, namun ada kelembutan halus di sudut matanya saat melihat Karuna tertawa. Garis rahangnya yang tegas sedikit melunak, tatapannya tertahan lama di wajah dahayunya–menikmati pemandangan yang jarang ia lihat.Kemudian ia mengambil tempat di samping Karuna, tubuh besarnya membuat sofa berderit pelan.“Kenyang hanya dengan sereal?” tanyanya kala melihat yang Karuna makan sejak tadi hanya itu. Berbeda dengannya yang sudah menandaskan satu porsi nasi
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: BAB 131 - HADIAH DARI BANDUNGMereka kini duduk berdampingan di sofa kamar–Karuna yang membawanya. Ia tidak mungkin melanjutkan topik yang dibawa sang adam untuk dihabiskan di dalam kamar mandi tertutup.Setidaknya mereka perlu udara segar untuk bisa berpikir jernih.“Memaafkan… kesalahan keluarga kamu?” ulang Karuna pelan, suaranya nyaris hilang.Rajendra mengangguk pelan. Matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi badai yang kelam.“Kamu sempat ketemu Ayah kemarin?”“Iya,” jawab Rajendra, suaranya rendah. “Saya tidak bisa menahan diri.”Karuna merasakan dadanya sesak. Ada rasa takut yang pelan merayap, seolah ia sudah tahu bahwa apa yang akan didengarnya akan mengguncang damai yang baru ia bangun kembali.“Terus Ayah bilang apa?”Rajendra menarik napas dalam-dalam, seolah bahkan udara lepas di sekitarnya tiba-tiba menipis. Ia menatap bola mata Karuna cukup lama, ada luka, amarah, dan kelelahan yang begitu kental di netranya.“Ayah meminta maaf,” katanya getir. “Beserta semua alasan yang dia bawa. Tapi saya belum b
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 130 - BERCUKUR DAN SATU TANYAKaruna bangun perlahan, matanya menyipit menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyusup lembut melalui celah tirai. Saat ia menoleh ke samping, napasnya tertahan.Lengan Rajendra menjadi bantalan kepalanya. Tubuh mereka begitu dekat–berhadapan, nyaris saling menempel. Telapak tangan Karuna tanpa sadar berada di dada bidang pria itu, merasakan naik-turun napasnya yang teratur. Di pucuk kepalanya, ia bisa merasakan hembusan napas hangat Rajendra yang pelan dan dalam.Sejak kapan mereka tidur seperti ini?Karuna mengerjapkan netranya lambat, membiarkan kesadarannya kembali satu demi satu. Posisi ini terlalu intim–dan hangat. Lengan Rajendra melingkar longgar di pinggangnya, seolah sepanjang malam tubuh mereka saling mencari tanpa disadari.Ketika ia bergerak sedikit, lengan Rajendra yang tadinya berada di pinggangnya ikut bergerak, seolah enggan melepaskan. Setelahnya barulah lengannya naik–pria itu mengucek matanya pelan, suaranya serak khas bangun tidur.Karuna spontan menjauh, memi
Last Updated: 2026-06-14