Chapter: BAB 78 - KEDATANGAN MAHENDRAMungkin, dari sekian banyak kemungkinan yang berputar di kepala Karuna hari itu, tidak satu pun yang menyertakan nama Mahendra Deenan Witjaksana sebagai tamu yang akan menginjakkan kaki di rumahnya.Dan lagi,Rajendra sedang tidak ada di rumah.Sebelumnya, Narti datang terburu-buru ke kamarnya. Mengetuk pintu dengan napas yang terengah-engah seperti habis berlali, kemudian mengatakan bahwa Mahendra datang–Kakak kandung dari suaminya itu, datang. Karuna sempat mengernyit, bingung setengah mati. Mungkin urusan kantor? Jikapun bukan perihal perusahaan, mungkin pria itu memang sedang mencari adiknya?Namun, Narti menggeleng, dengan wajah paruh bayanya yang ikut mengerutkan kening, “Katanya tidak cari Den Rajendra, Non.”Karuna menatapnya, menunggu kalimat Natri selanjutnya sebab wanita itu terlihat sednag menggantung katanya.“Beliau cari Non Karuna.”Maksudnya, bagaimana, ya?Karuna menarik napas panjang, kemudian membuangnya pelan-pelan. Entah kenapa, bahkan sebelum bertemu langsung, se
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: BAB 77 - DI HADAPAN AYAH, TANPA RUANGSiang itu, Rajendra datang ke kediaman keluarga Witjaksana dengan satu kesadaran yang bahkan sudah ia rasakan sejak mobilnya memasuki gerbang.Hartono tidak memanggilnya untuk percakapan sederhana. Benar saja, begitu pintu utama terbuka dan langkahnya masuk ke ruang tengah yang luas, Rajendra menemukan Hartono duduk pongah di sofa utama. Pria itu memegang koran, tatapannya terangkat pada Rajendra, tajam, keras, dan dingin dengan cara yang sudah lama tidak pria itu lihat dari jarak sedekat ini.Namun, sebelum Hartono sempat mengatakan apa pun, suara lain lebih dulu datang dari arah tangga.“Rajendra, Nak!”Dahlia menuruni beberapa anak tangga dengan langkah cepat, wajahnya langsung berubah ketika melihat putranya berdiri di ruang tengah. Berbeda jauh dari Hartono, wanita paruh baya itu menyambutnya dengan kedua tangan terbuka, kemudian menarik Rajendra ke dalam satu pelukan hangat.“Bunda kangen sekali,” adunya, suaranya penuh rindu. “Kamu ini susah sekali ditemui sekarang!”Rajendra me
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: BAB 76 - KEKACAUAN DAN RINDUKaruna terdiam, tidak menjawab apa-apa atas fakta yang sudah dilontarkan Rajendra. Bukan karena ia membuktikan prasangka sang pria, namun–ada terlalu banyak hal yang tiba-tiba berdiri di dadanya, saling dorong, saling berebut tempat, sampai tak satu pun berhasil keluar sebagai kalimat. Ia hanya menatap Rajendra dengan mata yang masih basah, dengan napas yang tertahan di tengah, dengan tubuh yang rasanya terlalu lelah.Tetapi Rajendra memang sudah terbelenggu dengan benak negatifnya.Itulah mengapa, saat Karuna tidak bicara, pria itu membuang muka dan tertawa kecil. Rajendra mengusap wajahnya kasar, cukup kasar hingga ketika telapak itu turun, wajahnya tampak lebih merah dari sebelumnya. Ada sesuatu yang patah untuknya, yang keluar karena ia tidak tahu harus melakukan apa lagi selain menertawakan dirinya sendiri.Dua sisi anak manusia yang sama-sama tidak saling mengerti.“Lihat,” ucapnya, ucapnya, suaranya rendah dan pecah di ujung kalimat. “Kamu diam saja–saya sudah bisa membayangkan
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: BAB 75 - SANGGUPKAH MENDENGAR?Sisa gerimis yang sempat jatuh terus-menerus, mampu membuat kaca jendela tampak buram dan jalanan di luar rumah memantulkan cahaya lampu dengan warna pucat. Karuna berdiri di dapur, sesekali melirik jam dinding, kemudian kembali menatap panci kecil di atas kompor. Sudah lewat dari waktu Rajendra biasanya pulang. Satu minggu terakhir, rumah itu lebih tepat disebut tempat Rajendra menukar pakaian, mengambil berkas, atau meneguk kopi sebelum kembali tenggelam pada pekerjaannya. Karuna tidak lagi menghitung berapa banyak percakapan mereka yang berakhir sebelum benar-benar dimulai. Namun, hari ini berbeda. Hari ini seharusnya ada pertemuan terakhir dengan pihak Singapura. Hari ini, ungkap Rajendra beberapa malam lalu, adalah kesempatan terakhir yang masih tersisa. Maka sejak siang, Karuna mencoba menahan dirinya untuk tidak terus memikirkan kemungkinan terburuk. Ketika suara pintu utama akhirnya terdengar, Karuna menoleh, dadanya berdebar gugup. Tidak ada sapaan atau suara langkah
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: BAB 74 - MEMILIH PERGIPukul dua dini hari, Rajendra membuka pintu kamar mereka diam-diam.Gerakannya nyaris tanpa suara, seperti bukan sedang masuk ke kamarnya sendiri, melainkan menyusup ke tempat yang sudah tidak sepenuhnya berhak ia datangi. Cahaya dari kristal lampu jatuh mengenai lantai, menyentuh ujung ranjang, lalu berhenti di punggung Karuna yang membelakanginya.Karuna sudah terlelap dalam mimpi.Atau setidaknya, Rajendra berharap begitu.Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di ambang pintu. Tangannya masih menggenggam kenop, matanya terpaku pada garis punggung Karuna yang tampak tenang di bawah selimut; membuat sesuatu di dadanya terasa semakin berat.Karuna tidak tahu.Belum tahu.Ada alasan yang selama ini Rajendra pendam, alasan yang membuatnya selalu berhenti setiap kali Karuna mencoba dekat. Bukan karena ia tidak ingin membiarkan perempuan itu masuk atau karena ia tidak percaya. Namun, karena ada bagian dari masa lalunya yang; jika akhirnya ia ucapkan, mungkin akan mengubah cara Karuna meman
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: BAB 73 - SELALU MELANGKAH MUNDURKaruna mengingat ucapan Rajendra; kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan pihak Singapura hanya tersisa satu minggu, sebab hanya selama itu mereka masih berada di Indonesia. Dan tiga malam setelahnya, Rajendra benar-benar menyerahkan dirinya hanya pada pekerjaan. Ia bergadang bersama tim di kantornya, menutup satu rapat hanya untuk membuka rapat berikutnya. Terkadang, setelah pulang pun, pembahasan itu belum selesai. Suara-suara dari ruang kerja masih terdengar sampai larut; nama-nama client, angka-angka, revisi strategi, dan kemungkinan-kemungkinan yang terus diputar dari segala sisi. Karuna melihat semuanya. Namun, hanya dari jauh. Ada keinginan besar dalam dirinya untuk ikut masuk, untuk berada di samping Rajendra bukan hanya sebagai istri yang menunggu, tetapi sebagai seseorang yang bisa membantunya memikul sedikit saja beban itu. Sayangnya, kesempatan yang ia punya selalu berhenti pada pertanyaan-pertanyaan singkat. “Sudah ada progresnya?” “Apa masih ada yang kurang?” “
Last Updated: 2026-05-02