author-banner
Li Pena
Li Pena
Author

Novel-novel oleh Li Pena

Belenggu Membara Sang Penguasa

Belenggu Membara Sang Penguasa

Livia dan Raka saling membenci sejak awal. Bagi Livia, Raka adalah pria yang membunuh ayahnya. Sedangkan bagi Raka, Livia hanyalah kelemahan berbahaya yang bisa menghancurkan kekuasaannya. Namun takdir memaksa mereka berada di bawah atap yang sama, bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai tawanan dan pemilik. Tujuan hidup mereka berlawanan. Livia ingin bertahan hidup sambil menunggu kesempatan membalas dendam. Sementara Raka ingin menjaga Livia tetap hidup demi rahasia besar yang ia bawa, sekaligus menjadikannya umpan untuk musuh-musuhnya. Karena ancaman dari dunia luar, Raka menetapkan satu keputusan mutlak bahwa Livia harus tinggal di bawah perlindungannya selama waktu tertentu, mengikuti semua aturannya, dan tidak pernah keluar dari jangkauan pengawasannya. Selama hidup bersama, konflik tak terhindarkan. Pertengkaran, kebencian, dan ketegangan terus terjadi. Namun di balik itu, Livia mulai melihat sisi Raka yang tidak ia duga, berupa perlindungan tanpa pamrih, kemarahan yang muncul karena takut kehilangan, dan kesetiaan mematikan pada orang yang ia anggap miliknya. Tanpa disadari, kebencian mereka mulai goyah. Kehadiran satu sama lain menjadi candu yang berbahaya. Livia membenci dirinya sendiri karena merasa aman di sisi musuhnya, sementara Raka kehilangan kendali karena mulai mencintai wanita yang seharusnya hanya ia manfaatkan. Ketika kebenaran tentang kematian ayah Livia terungkap, perjanjian perlindungan itu harus berakhir. Livia diberi pilihan untuk pergi dan bebas. Raka dipaksa melepaskan satu-satunya hal yang mampu meluluhkan hatinya. Namun saat mereka berpisah dan menjalani hidup masing-masing, satu hal menjadi jelas, bahwa Dunia tanpa satu sama lain terasa jauh lebih kejam. Di tengah perang terakhir dan ancaman kematian, mereka memilih untuk saling mengejar... bukan sebagai musuh, bukan sebagai pemilik dan tawanan, melainkan sebagai dua orang yang memilih untuk tetap bersama, meski dunia menentang. Karena bagi mereka, cinta yang lahir dari kebencian mungkin berbahaya, akan tetapi kehilangannya jauh lebih mematikan.
Baca
Chapter: 39 > Sisa Yang Tak Bisa Dikubur
Pintu ICU tertutup perlahan. Bunyi itu cukup pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang barusan merenggut separuh dunia Livia. Lampu merah di atas pintu menyala stabil, dingin, seolah tidak peduli pada darah yang masih mengering di tangan wanita itu.Livia berdiri terpaku dengan tubuhnya yang basah. Rambut hitamnya menggumpal di leher dan punggung, gaun gelapnya berat oleh air dan noda merah yang belum sempat ia sadari. Tangannya masih gemetar, jari-jarinya kaku, seolah lupa bagaimana cara melepaskan sesuatu.Sementara di balik pintu itu, Raka bertarung sendirian. Dan ia… tidak bisa ikut menemani pria yang ia cintai. "Duduk, Liv," ucap Maya pada wanita yang tak ingin terlihat rapuh itu.Suara Maya terdengar dekat. Lebih lembut dari biasanya. Namun Livia tetap tidak menoleh. Matanya masih setia menatap lantai putih rumah sakit yang memantulkan cahaya pucat. Pantulan bayangannya terlihat cukup asing. Ia tampak kurus, rapuh, seperti versi dirinya yang belum sempat ia kenali. "Aku baik-bai
Terakhir Diperbarui: 2026-02-10
Chapter: 38 > Titik Balik
"DOR!"Suara tembakan itu memecah dunia. Bukan kerasnya yang paling menyakitkan, tapi sunyi yang menyusul setelahnya. Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu kosong.Livia merasa tubuhnya kehilangan berat. Seolah hujan tak lagi jatuh ke tanah, tapi langsung ke dadanya, seolah menghantam jantungnya berkali-kali. Udara tersedak di tenggorokannya. Dunia berputar, lampu helipad melebur jadi garis-garis cahaya yang goyah."Raka!" teriaknya. Nama itu keluar dari mulutnya seperti jeritan yang terlambat. Suaranya pecah di tengah hujan, tenggelam di antara langkah-langkah panik dan teriakan yang tak lagi ia dengar dengan utuh. Ia berlari.Langkahnya terpeleset, sepatu basah menghantam lantai dingin, tapi ia tak peduli. Gaun gelapnya terseret air, rambut hitamnya menempel di wajah pucat yang kini tak lagi menyimpan amarah... hanya ketakutan. Tubuh Raka tergeletak di dekat pintu lorong ICU.Tubuhnya mengeluarkan darah. Terlalu jelas dan bahkan terlalu nyata.Livia berlutut, tangannya gemetar saat me
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: 37 > Wajah Dari Masa Lalu
Hujan masih jatuh, tapi tak lagi terdengar oleh Livia. Dunia seolah menyempit pada satu titik... pria yang berdiri di bawah lampu darurat helipad itu. Tubuhnya tinggi, tegap, bahu lebar dibungkus mantel gelap yang basah. Rambutnya hitam dengan gurat abu tipis di pelipis, wajahnya tegas dengan rahang keras yang dulu sering muncul dalam foto-foto lama… foto yang sudah ia bakar sendiri bertahun-tahun lalu.Matanya. Mata itu tak berubah sama sekali. Hitam, tenang, dan ia terlalu mengenalnya."Livia," panggil pria itu lagi, kali ini suaranya lebih rendah, stabil, seolah mereka hanya bertemu setelah makan malam biasa. "Kamu kelihatan… lebih dewasa."Nafas Livia tercekat. Dadanya naik turun. Air hujan mengalir di sepanjang wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang asin... ia tak yakin apakah itu hujan atau ingatan yang bocor begitu saja."Itu nggak mungkin," gumamnya pada dirinya sendiri. Suaranya serak. "Kamu sudah lama mati."Mendengarnya, pria
Terakhir Diperbarui: 2026-02-06
Chapter: 36 > Saat Segalanya Dipertaruhkan
Hujan turun makin kejam, menghantam atap rumah sakit dan helipad dengan suara keras, seolah langit ikut murka. Angin memutar baling-baling helikopter yang masih melayang rendah, membuat udara bergetar dan rambut Livia berkibar liar di wajahnya. Gaun hitamnya menempel di tubuh ramping itu, memperjelas bahu tegas dan tulang selangka yang kini basah, dingin, tapi tak goyah.Lampu kota di kejauhan padam sebagian.Gelap menjalar seperti penyakit, menelan satu demi satu wilayah. Kekacauan yang ia lepaskan kini hidup, bernapas, dan bergerak.Damar mundur satu langkah. Untuk pertama kalinya, senyum tenangnya retak. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Pria itu masih berdiri tegap, tapi matanya tak lagi penuh kendali."Kamu gila," katanya, suaranya tenggelam oleh deru angin.Livia berdiri diam. Wajahnya pucat, tapi matanya hitam pekat, berkilat oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari amarah. Keyakinan. Keputusan yang sudah dibuat dan tak
Terakhir Diperbarui: 2026-02-06
Chapter: 35 > Di Antara Hidup Dan Perang
Bau antiseptik bercampur darah basah menyergap hidung, begitu Livia melangkah masuk. Lorong rumah sakit itu terlalu terang, dengan lampu putihnya yang kejam serta memantulkan wajah-wajah tegang, epatu yang berlari, dan genangan air hujan yang menetes dari ujung mantel hitamnya. Gaunnya menempel di tubuh rampingnya, basah dan robek, memperlihatkan kulit pucat di betis dan pergelangan. Rambut hitamnya yang panjang kini luruh menempel di leher, tapi langkahnya tetap tegak. Tidak ragu. Tidak goyah.Monitor jantung berbunyi dari segala arah. bip… bip… bip…Ritme itu cukup menusuk kepala.Maya berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia mengenakan jaket hitam dengan bahu tegap, dan mata awas. Tangannya sudah di dekat pinggang, siap untuk menyerang kapan saja."Mereka sengaja bikin rumah sakit ini sibuk, dengan ambulans keluar-masuk, keamanan lengah," ucap Maya, pelan. Livia tidak menjawab. Namun matanya menyapu papan digit
Terakhir Diperbarui: 2026-02-05
Chapter: 34 > Saat Dunia Tak Lagi Diam
Ledakan itu tidak hanya mengguncang tanah... namun ia juga merobek malam. Gelombang panas menyapu gudang, membuat udara mendesis. Dinding besi bergetar keras, debu runtuh dari langit-langit, dan tubuh-tubuh terhuyung oleh hentakan yang datang terlambat tapi mematikan. Lampu darurat padam total. Kali ini, bukan sekadar gelap… melainkan kegelapan yang disertai kekacauan. Livia tersandung satu langkah ke belakang. Tumit sepatu botnya nyaris tergelincir di lantai beton yang retak. Nafasnya tertahan, dadanya terasa sesak, bukan karena asap... melainkan karena satu nama yang bergaung di kepalanya.Raka."Timur...!" teriak seseorang dari luar, suaranya pecah oleh ledakan susulan.Maya refleks menarik Livia ke sisi dinding, menekan tubuhnya agar merunduk. Postur Maya pendek dan atletis, rambut pendeknya kini berantakan, wajahnya penuh jelaga tapi matanya tajam, fokus. "Ledakan itu bukan punya kita," katanya cepat. "Itu bom jarak deka
Terakhir Diperbarui: 2026-02-05
Istri Cerewet CEO Anti Skandal

Istri Cerewet CEO Anti Skandal

Satu kesalahan semalam mempertemukan Senara-gadis cerewet, galak, polos, dan sederhana... dengan Mahesa, CEO terkaya yang dingin dan anti skandal. Alih-alih melupakan, Mahesa memilih bertanggung jawab dengan menikahi Nara lewat pernikahan kontrak tanpa cinta. Namun di balik pertengkaran konyol, kecanggungan hidup bersama, dan jarak sosial yang terlalu jauh, keduanya justru menemukan perasaan yang tumbuh diam-diam, hingga memaksa mereka harus memilih antara berpisah sesuai kesepakatan atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
Baca
Chapter: Bab 12 > Setelah Klarifikasi
Mobil berhenti di halaman rumah tepat saat matahari mulai naik lebih tinggi. Udara pagi sudah tak sedingin tadi, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat tapi canggung. Kayak habis hujan tapi kaos kaki belum kering.Nara masih duduk. Ia tidak langsung turun. Begitupun dengan Mahesa, ia juga belum mematikan mesin.Hening.Bukan hening yang bikin kikuk. Lebih ke hening yang kayak, 'kita sama-sama capek, tapi nggak mau ngaku.''Aneh ya. Biasanya aku yang pengin cepet-cepet kabur dari orang dingin kayak dia. Sekarang kok malah pengin duduk sebentar lagi?' Nara bermonolog dalam kepalanya.Mahesa akhirnya mematikan mesin. Klik. "Itu… Omku jarang memuji orang," katanya tiba-tiba.Nara melirik. "Oh?""Iya." Mahesa menatap ke depan. "Biasanya kalau dia nggak setuju, dia langsung nyuruh putus," katanya lagi.Nara menegakkan punggung. "Berarti aku lolos tahap… audisi keluarga?" tanyanya."Kurang lebih." Mahesa menjawab singkat.Nara mendengus kecil. "Hebat juga aku. Padahal tadi aku ham
Terakhir Diperbarui: 2026-02-16
Chapter: Bab 11 > Klarifikasi Yang Tidak Sederhana
Pagi Hari... Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan sakit. Bukan malas. Tapi campuran antara gugup, kesal, dan penasaran yang bikin perut rasanya kayak diisi kupu-kupu yang salah masuk kandang.Saat ini ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. 'Oke, Nara. Tenang. Ini cuma klarifikasi. Bukan sidang skripsi. Bukan juga akad nikah kedua. Harusnya sih aman.' Ia bermonolog dalam lamunannya. Pintu kamar diketuk pelan, membuyarkan lamunannya. "Nara." panggil Mahesa dari luar kamarnya. Nara refleks langsung berdiri. Hampir nyenggol meja rias. "Iya!" jawabnya terlalu cepat.Pintu terbuka. Mahesa berdiri di sana dengan setelan hitam rapi... terlalu rapi untuk di pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya datar, seperti biasa. Macam kulkas seribu. "Kita berangkat setengah jam lagi," ucapnya."Oh." Nara menjawab singkat seraya mengangguk. "Lalu?" tanyanya, singkat."Kamu sarap
Terakhir Diperbarui: 2026-02-10
Chapter: Bab 10 >Ketika Istri Polos Salah Bicara
Pagi itu, rumah Mahesa mendadak tidak tenang.Bukan karena alarm kesiangan. Bukan juga karena Nara salah masuk kamar lagi... melainkan itu sudah jadi rutinitas kecil yang mulai dianggap wajar. Tapi karena satu hal yang paling dihindari Mahesa selama ini... media.Nara mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponsel seperti sedang menunggu vonis. Rambutnya dikuncir tinggi asal-asalan, kaos longgar dan celana training membuatnya tampak seperti mau lari pagi. "Aku nggak bisa," gumamnya.Ia berhenti. Lalu jalan lagi. "Aku beneran nggak bisa."Sedangkan Mahesa berdiri di dekat jendela sambil merapikan jam tangannya dengan gerakan rapi dan tenang. Melihat Mahesa yang tampak begitu tenang itu justru bikin Nara makin panas."Kamu cuma perlu jawab singkat," ujar Mahesa datar. "Jangan jujur berlebihan," tambahnya. "Itu menghina prinsip hidupku," balas Nara cepat."Aku alergi pura-pura," protesnya, tak terima. Mahesa menoleh. Tatapannya menyapu Nara dari ujung rambut sampai kaki...
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Bab 9 > Salah fokus
Pagi hari... Pagi datang dengan suara alarm yang tidak manusiawi."TING—TING—TING—!"Nara mengerang sambil meraba-raba kasur. Tangannya menghantam sesuatu yang keras. "ADUH!"Ia membuka mata setengah. Nara menyadari bahwa itu bukan bantal. Bukan pula guling. Melainkan itu… dada.DADA MANUSIA.Nara menjerit, "AAAAAAAA—!"Mahesa yang sedang setengah sadar refleks langsung duduk. "Apa—!"Kini dua pasang mata saling bertemu dalam jarak yang sangat, sangat tidak wajar. Nara terdiam. Rambutnya berantakan, kaos tidurnya naik sedikit, dan... yang paling fatal adalah saat tangannya masih menempel di dada Mahesa.Waktu seolah berhenti. "KENAPA KAMU DI KAMARKU?!" teriak Nara panik.Mahesa juga panik. Tapi versi tenang. "Ini kamar tamu."Nara menoleh cepat ke sekeliling. Lemari berbeda. Tirai berbeda. Warna sprei berbeda. Seketika ia langsung menutup wajahnya. "YA TUHAN. AKU SALAH KAMAR
Terakhir Diperbarui: 2026-02-07
Chapter: Bab 8 > Gengsi Level Dewa
Begitu pintu mobil tertutup, hujan langsung turun deras, seolah ikut kesal dengan suasana di dalam mobil. Nara duduk menyandar, kedua lengannya menyilang di dada. Bibirnya maju sedikit, dan itu pose khas orang ngambek. Sedangkan Mahesa fokus menyetir. Bahkan terlalu fokus seolah ia ingin menghindari percakapan. Kini waktu terus berjalan. Lima menit. Sepuluh menit. Hingga akhirnya Nara mendesah keras. Desah yang disengaja. Meski begitu Mahesa tetap diam. Dan itu membuat Nara mendesah lebih keras. Lagi-lagi Mahesa tetap diam. "Oke," gumam Nara. "Berarti aku yang mulai." Mahesa melirik sekilas. "Mulai apa?" "Mulai ceramah." "Silakan." Nara menoleh tajam. "Kamu nyebelin, tau nggak?" omelnya. "Baru tau." "Di acara tadi, kamu tuh dingin banget. Kayak kulkas seribu pintu," celetuk Nara. "Itu kelebihan," jawab Mahesa santai. Nara mendengus kesal. "Aku tuh disorot kayak barang diskonan." "Kamu nggak diskon," sahut Mahesa refleks. Nara menoleh pelan. "Hah?" kata
Terakhir Diperbarui: 2026-02-06
Chapter: Bab 7 > Acara Keluarga
Mobil hitam itu melaju mulus meninggalkan gerbang rumah. Di dalam mobil terasa begitu sunyi untuk dua orang yang duduk bersebelahan.Nara duduk tegak, dengan kedua tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuan. Dress sederhana warna biru pucat membalut tubuhnya, tidak mewah, tapi rapi. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang terlihat tegang. Sementara di sampingnya, Mahesa tampil seperti biasa... jas berwarna gelap, rahang tegas, tatapan lurus ke depan."Kak Mahesa," panggil Nara memecah keheningan, suaranya lebih pelan dari biasanya."Ada apa?" tanyanya, datar."Acaranya… tipe keluarga dekat atau keluarga yang kalau salah ngomong bisa viral?" tanyanya serius.Mahesa melirik sekilas. "Keluarga besar," jawabnya, singkat. "Itu jawaban paling menyeramkan," Nara bergumam pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit, kini mobil berhenti di depan rumah besar berarsitektur klasik. Lampu-la
Terakhir Diperbarui: 2026-02-06
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status