ログインMobil berhenti di halaman rumah tepat saat matahari mulai naik lebih tinggi. Udara pagi sudah tak sedingin tadi, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat tapi canggung. Kayak habis hujan tapi kaos kaki belum kering.Nara masih duduk. Ia tidak langsung turun. Begitupun dengan Mahesa, ia juga belum mematikan mesin.Hening.Bukan hening yang bikin kikuk. Lebih ke hening yang kayak, 'kita sama-sama capek, tapi nggak mau ngaku.''Aneh ya. Biasanya aku yang pengin cepet-cepet kabur dari orang dingin kayak dia. Sekarang kok malah pengin duduk sebentar lagi?' Nara bermonolog dalam kepalanya.Mahesa akhirnya mematikan mesin. Klik. "Itu… Omku jarang memuji orang," katanya tiba-tiba.Nara melirik. "Oh?""Iya." Mahesa menatap ke depan. "Biasanya kalau dia nggak setuju, dia langsung nyuruh putus," katanya lagi.Nara menegakkan punggung. "Berarti aku lolos tahap… audisi keluarga?" tanyanya."Kurang lebih." Mahesa menjawab singkat.Nara mendengus kecil. "Hebat juga aku. Padahal tadi aku ham
Pagi Hari... Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan sakit. Bukan malas. Tapi campuran antara gugup, kesal, dan penasaran yang bikin perut rasanya kayak diisi kupu-kupu yang salah masuk kandang.Saat ini ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. 'Oke, Nara. Tenang. Ini cuma klarifikasi. Bukan sidang skripsi. Bukan juga akad nikah kedua. Harusnya sih aman.' Ia bermonolog dalam lamunannya. Pintu kamar diketuk pelan, membuyarkan lamunannya. "Nara." panggil Mahesa dari luar kamarnya. Nara refleks langsung berdiri. Hampir nyenggol meja rias. "Iya!" jawabnya terlalu cepat.Pintu terbuka. Mahesa berdiri di sana dengan setelan hitam rapi... terlalu rapi untuk di pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya datar, seperti biasa. Macam kulkas seribu. "Kita berangkat setengah jam lagi," ucapnya."Oh." Nara menjawab singkat seraya mengangguk. "Lalu?" tanyanya, singkat."Kamu sarap
Pagi itu, rumah Mahesa mendadak tidak tenang.Bukan karena alarm kesiangan. Bukan juga karena Nara salah masuk kamar lagi... melainkan itu sudah jadi rutinitas kecil yang mulai dianggap wajar. Tapi karena satu hal yang paling dihindari Mahesa selama ini... media.Nara mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponsel seperti sedang menunggu vonis. Rambutnya dikuncir tinggi asal-asalan, kaos longgar dan celana training membuatnya tampak seperti mau lari pagi. "Aku nggak bisa," gumamnya.Ia berhenti. Lalu jalan lagi. "Aku beneran nggak bisa."Sedangkan Mahesa berdiri di dekat jendela sambil merapikan jam tangannya dengan gerakan rapi dan tenang. Melihat Mahesa yang tampak begitu tenang itu justru bikin Nara makin panas."Kamu cuma perlu jawab singkat," ujar Mahesa datar. "Jangan jujur berlebihan," tambahnya. "Itu menghina prinsip hidupku," balas Nara cepat."Aku alergi pura-pura," protesnya, tak terima. Mahesa menoleh. Tatapannya menyapu Nara dari ujung rambut sampai kaki...
Pagi hari... Pagi datang dengan suara alarm yang tidak manusiawi."TING—TING—TING—!"Nara mengerang sambil meraba-raba kasur. Tangannya menghantam sesuatu yang keras. "ADUH!"Ia membuka mata setengah. Nara menyadari bahwa itu bukan bantal. Bukan pula guling. Melainkan itu… dada.DADA MANUSIA.Nara menjerit, "AAAAAAAA—!"Mahesa yang sedang setengah sadar refleks langsung duduk. "Apa—!"Kini dua pasang mata saling bertemu dalam jarak yang sangat, sangat tidak wajar. Nara terdiam. Rambutnya berantakan, kaos tidurnya naik sedikit, dan... yang paling fatal adalah saat tangannya masih menempel di dada Mahesa.Waktu seolah berhenti. "KENAPA KAMU DI KAMARKU?!" teriak Nara panik.Mahesa juga panik. Tapi versi tenang. "Ini kamar tamu."Nara menoleh cepat ke sekeliling. Lemari berbeda. Tirai berbeda. Warna sprei berbeda. Seketika ia langsung menutup wajahnya. "YA TUHAN. AKU SALAH KAMAR
Begitu pintu mobil tertutup, hujan langsung turun deras, seolah ikut kesal dengan suasana di dalam mobil. Nara duduk menyandar, kedua lengannya menyilang di dada. Bibirnya maju sedikit, dan itu pose khas orang ngambek. Sedangkan Mahesa fokus menyetir. Bahkan terlalu fokus seolah ia ingin menghindari percakapan. Kini waktu terus berjalan. Lima menit. Sepuluh menit. Hingga akhirnya Nara mendesah keras. Desah yang disengaja. Meski begitu Mahesa tetap diam. Dan itu membuat Nara mendesah lebih keras. Lagi-lagi Mahesa tetap diam. "Oke," gumam Nara. "Berarti aku yang mulai." Mahesa melirik sekilas. "Mulai apa?" "Mulai ceramah." "Silakan." Nara menoleh tajam. "Kamu nyebelin, tau nggak?" omelnya. "Baru tau." "Di acara tadi, kamu tuh dingin banget. Kayak kulkas seribu pintu," celetuk Nara. "Itu kelebihan," jawab Mahesa santai. Nara mendengus kesal. "Aku tuh disorot kayak barang diskonan." "Kamu nggak diskon," sahut Mahesa refleks. Nara menoleh pelan. "Hah?" kata
Mobil hitam itu melaju mulus meninggalkan gerbang rumah. Di dalam mobil terasa begitu sunyi untuk dua orang yang duduk bersebelahan.Nara duduk tegak, dengan kedua tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuan. Dress sederhana warna biru pucat membalut tubuhnya, tidak mewah, tapi rapi. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang terlihat tegang. Sementara di sampingnya, Mahesa tampil seperti biasa... jas berwarna gelap, rahang tegas, tatapan lurus ke depan."Kak Mahesa," panggil Nara memecah keheningan, suaranya lebih pelan dari biasanya."Ada apa?" tanyanya, datar."Acaranya… tipe keluarga dekat atau keluarga yang kalau salah ngomong bisa viral?" tanyanya serius.Mahesa melirik sekilas. "Keluarga besar," jawabnya, singkat. "Itu jawaban paling menyeramkan," Nara bergumam pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit, kini mobil berhenti di depan rumah besar berarsitektur klasik. Lampu-la







