Share

Bab 8: Bising dan pusing

Penulis: Kusuma
last update Tanggal publikasi: 2026-04-14 21:37:21

"Aku sudah bilang, Raka. Data di bagian sortir ini tidak masuk akal. Ada selisih hampir dua ton antara hasil panen yang masuk dengan yang masuk ke penggilingan. Kamu tidak bisa cuma bilang ini 'penyusutan alami'," suara Ayu tajam, meski ia berusaha mengecilkan volumenya agar tidak menarik perhatian seluruh karyawan.

Raka mendengus, sebuah senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya. "Ayu, dengar. Bisnis itu bukan cuma soal angka di kertas yang kamu pegang dengan tangan gemetar itu. Ada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 19: Aksi pengejaran

    Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan udara lembap setelah hujan. Jalanan di sekitar gudang tua itu tampak lengang, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip. Di balik tembok yang mulai dipenuhi lumut, Raka dan Ayu mengamati setiap gerakan seorang pria yang sejak tadi terlihat gelisah."Aku yakin dia akan melakukan sesuatu malam ini," bisik Ayu sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan rekaman dari kamera kecil yang ia pasang beberapa jam sebelumnya.Raka mengangguk pelan. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok pria itu. "Tetap di belakangku. Kalau situasinya memburuk, jangan memaksakan diri."Ayu hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa mendengar kalimat itu dari Raka. Sejak mereka bekerja sama mengungkap berbagai kasus, Raka selalu menempatkan keselamatannya di atas segalanya. Namun kali ini Ayu memiliki rencana yang tak diketahui siapa pun.Beberapa menit kemudian, pria itu membuka bagasi mobilnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak besi berukuran sedang. Denga

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 18: Kedatangan yang tidak diinginkan

    Berita tentang pupuk palsu menyebar lebih cepat daripada angin yang melintas di hamparan sawah Desa Sumberjati. Sejak pagi, kelompok-kelompok kecil warga berkumpul di warung kopi, balai desa, hingga tepi pematang. Semua membicarakan hal yang sama, panen yang gagal, tanaman yang menguning, dan dugaan bahwa pupuk yang mereka beli selama beberapa bulan terakhir ternyata tidak sesuai kualitas yang dijanjikan.Di sudut warung Pak Darto, suara-suara gaduh saling bersahutan."Aku sudah curiga sejak awal," gerutu seorang petani tua sambil menyeruput kopi hitamnya. "Padi saya biasanya tinggi sampai pinggang. Sekarang baru setengahnya sudah layu.""Bukan cuma pupuk," sahut yang lain. "Katanya ada orang kota yang nyogok pejabat desa supaya barang itu bisa masuk ke sini."Kabar itu membuat suasana desa semakin panas. Nama beberapa perangkat desa mulai disebut-sebut. Tidak ada bukti yang jelas, tetapi desas-desus berkembang liar.Di tengah kekacauan itu, Raka berjalan menyusuri jalan desa menuju s

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 17: Identitas si pelaku

    Selama beberapa minggu terakhir, mereka telah mengumpulkan berbagai bukti terkait kerusakan lahan milik Pak Surya yang selama ini dianggap sebagai akibat hama dan kesalahan pengelolaan.Namun semakin banyak fakta yang mereka temukan, semakin jelas bahwa semua itu bukanlah kecelakaan."Aku masih tidak percaya kalau ada yang sengaja melakukan semua ini," gumam Ayu sambil menatap jalan setapak yang membelah hamparan sawah.Raka mengangguk pelan."Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi hasil laboratorium sudah membuktikan ada zat asing yang dicampurkan ke saluran irigasi. Itu bukan sesuatu yang terjadi secara alami."Ayu menghela napas panjang.Beberapa hari sebelumnya, sampel air dan tanah yang mereka kirim ke laboratorium pertanian kabupaten menunjukkan adanya kandungan bahan kimia tertentu yang mampu merusak kesuburan tanah secara perlahan. Dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka waktu beberapa bulan, hasil panen akan menurun drastis.Seseorang telah merencanakan semuany

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 16: Awal kedekatan

    Saat berhasil lolos dari si penjaga gudang, Raka kembali menyalakan senter kecilnya dan berjongkok di dekat salah satu karung.“Lihat ini,” bisiknya.Ayu ikut mendekat. Di sela jahitan karung, terlihat serbuk berwarna keabu-abuan yang berbeda dari pupuk biasa.“Ini campuran zat kimia itu?” tanya Ayu pelan.“Mungkin,” jawab Raka. “Aku pernah lihat yang seperti ini waktu bantu pamanku di kota.”Seno mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret beberapa karung sebagai bukti. Suasana gudang begitu sunyi hingga suara napas mereka sendiri terdengar jelas.Tiba-tiba—Krek.Suara pintu kembali terbuka. Kali ini datang orang kepercayaan pak Surya, gelagatnya sangat mencurigakan.Ketiganya langsung menegang, berkeringat dingin.Tanpa banyak bicara, Raka segera menarik tangan Ayu dan membawanya kembali bersembunyi di balik tumpukan karung paling besar. Seno ikut menyelinap di sisi lain, dan dengan Reya mengumpat dibalik punggung Seno.Langkah kaki terdengar mendekat, kian berat dan lambat.Ayu refl

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 15: Penyelinapan

    Langit malam menggantung rendah di atas desa. Angin dari hamparan sawah membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau pupuk menyengat. Di ujung jalan setapak yang gelap, empat sosok berjalan hati-hati sambil menundukkan kepala agar tidak mudah dikenali.Ayu menggenggam senter kecil di tangannya. Cahaya redup itu sesekali menyorot jalan berbatu di depan mereka. Di belakang Ayu, Raka berjalan sambil membawa tas ransel berisi kamera kecil dan beberapa alat sederhana untuk mengambil sampel. Reya, sepupu Ayu, tampak gelisah sejak tadi, sedangkan Seno justru terlihat terlalu santai untuk ukuran seseorang yang sedang menyelinap ke gudang koperasi desa.“Aku masih nggak yakin ini ide bagus,” bisik Reya sambil memeluk lengannya sendiri. “Kalau sampai ketahuan Pak Darto gimana?”Seno menyeringai kecil. “Tenang aja. Penjaga gudang biasanya tidur jam segini.”“Kalau ternyata belum tidur?” Reya membalas cepat.“Ya berarti kita lari.”“Astaga, Sen!”Raka menahan senyum melihat mereka berdua.

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 14: Penawaran

    Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan pucuk-pucuk padi yang mulai menguning. Di tengah hamparan itu, Ayu melangkah hati-hati, memastikan tak ada mata yang memperhatikannya.Ia membawa tas kecil berisi botol kaca, alat ukur sederhana, dan buku catatan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena lelah, melainkan karena apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang bisa ia ceritakan pada siapa pun, bahkan pada bapaknya sendiri.“Aku harus membuktikannya,” gumam Ayu pelan.Sejak beberapa minggu terakhir, hasil panen di desanya menurun drastis. Tanaman tampak sehat dari luar, tetapi saat dipanen, kualitasnya buruk. Ada yang busuk di dalam, ada pula yang kering sebelum waktunya. Ayu mencurigai sesuatu—pupuk atau pestisida yang digunakan bukanlah yang seharusnya.Ia berlutut di tepi petak sawah milik Pak Suryo—bapaknya sendiri. Dengan hati-hati, ia mengambil sampel tanah, memasukkannya ke dalam botol, lalu menandainya. Setelah itu, ia beralih ke saluran air kecil yang m

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 7: Tak terelakkan

    "Aku di sini hanya untuk memastikan investasi ayahku tidak jatuh ke tangan yang salah, Ayu. Terutama jika pengawas lapangannya lebih sibuk mencatat estetika pabrik daripada fungsionalitas mesinnya."sahut Raka dengan tengilnya.Ayu merasakan darahnya mendidih. Ia melangkah satu langkah lebih dekat,

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 6: Lanjut tugas (PABRIK) dan ketemu lagi

    Suasana pabrik bising dengan suara mesin yang berderu konstan. Aroma khas material produksi memenuhi ruangan. Ayu berjalan di samping Pak Seto (Kepala Pengawas). Ayu tampak profesional mengenakan atasan berwarna deep brown yang sangat kontras dengan kulitnya."Di sebelah sini adalah area pengemasan,

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 5: Di Bawah Terik Matahari

    Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah me

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 4: Udara Pagi

    Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status