Chapter: Chapter 7: Ruang Tanpa PilihanJarak yang tersisa di antara kami hanya hitungan milimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam dan mint dari napas Arkana, bercampur dengan wangi maskulin yang kini mulai masuk ke dalam mimpinya setiap malam. Pria ini baru saja mengunci pintu kantor, mengubah ruangan mewah ini menjadi penjara pribadi bagi kami berdua.Aku mencoba mengatur napas, namun dadaku naik turun dengan tidak beraturan. Tatapan Arkana tidak lagi sedingin es; ada percikan api yang menyala di sana, jenis api yang siap menghanguskanku jika aku berani melangkah lebih dekat."Pak Arkana, ini kantor," bisikku parau, mencoba mengembalikan sisa-sisa kewarasanku.Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang besar justru berpindah dari telingaku ke tengkuk, mencengkeramnya dengan tekanan yang pas, tidak menyakitkan, namun penuh peringatan bahwa aku tidak punya jalan untuk kabur."Di kantor ini, aku adalah hukumnya, Anindya," suaranya rendah, menggetarkan saraf di tulang belak
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-01
Chapter: Chapter 6: Meja yang Berjarak Suasana kantor pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menderu di langit-langit. Aku duduk di meja kecilku di sudut ruangan Arkana, mencoba fokus pada layar laptop meski aku tahu puluhan pasang mata sedang membicarakan keberadaanku di balik pintu kaca ini.Tadi pagi, saat aku berjalan melewati meja divisi pemasaran, tidak ada lagi sapaan hangat atau tawaran kopi dari rekan-rekanku. Mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk dengan bisik-bisik yang terhenti saat aku menoleh. Aku kini bukan lagi bagian dari mereka; aku adalah "mata-mata" yang dibawa oleh sang algojo."Anindya, bawa dokumen ini ke bagian keuangan," suara Arkana memecah lamunanku.Aku berdiri, mengambil map yang ia sodorkan tanpa berani menatap matanya terlalu lama. Jemariku sempat bersentuhan dengan kulitnya yang hangat saat mengambil map itu, dan sensasi listrik yang familiar kembali menjalar, membuatku hampir menjatuhkan dokumen tersebut.Lantai keuangan ber
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-01
Chapter: Chapter 5: Bayangan Sang AlgojoAku terbangun tepat saat cahaya abu-abu fajar menyusup melalui celah gorden kamar hotel yang asing. Kepalaku berdenyut, sisa dari ketegangan semalam yang tidak kunjung surut. Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong, menyadari Arkana benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menyentuhku lebih jauh semalam.Pukul enam pagi lewat dua menit, aku sudah berdiri di ruang tengah dengan pakaian yang sedikit kusut namun tetap rapi. Arkana sudah di sana, duduk di sofa sambil menyesap kopi hitam tanpa gula, matanya tertuju pada tablet yang menampilkan grafik penurunan saham perusahaanku."Kamu terlambat dua menit dari jadwal bangun yang saya instruksikan di kepala saya," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.Aku tidak menjawab, hanya berdiri kaku sambil menunggu instruksi selanjutnya. Pria ini tidak butuh asisten yang pintar menjawab; dia butuh asisten yang patuh dan bisa bergerak cepat.Perjalanan menuju kantor terasa seperti menuju tiang gantungan. Begitu kami melangkah masuk ke lobi, s
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-23
Chapter: Chapter 4: Koneksi Yang SalahLampu-lampu kota Jakarta tampak seperti aliran cahaya yang kabur dari balik jendela mobil Arkana. Aku duduk membatu di kursi penumpang, meremas jemariku yang terasa dingin sementara pria di sampingku mengemudi dengan ketenangan yang memuakkan.Kami tidak menuju ke kantor lain, melainkan ke hotel bintang lima di mana ia menyewa kamar suite permanennya. Aku tahu apa yang mungkin terjadi, dan anehnya, ada bagian dari diriku yang lebih memilih kehancuran ini daripada harus pulang ke apartemen sepi dan mengingat wajah Pandu."Turun," ucapnya singkat setelah mobil berhenti sempurna di lobi pribadi.Aku mengikutinya masuk ke dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai teratas. Keheningan di antara kami terasa begitu tebal hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar.Begitu pintu kamar terbuka, Arkana melemparkan kunci mobilnya ke atas meja marmer. Ia berbalik, menatapku dengan sorot mata yang tidak lagi sedingin saat di ruang rapat tadi siang."Kamu punya waktu
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-23
Chapter: Chapter 3: Perjanjian Di Atas MejaHujan turun membasahi Jakarta tepat saat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku berdiri di depan lobi gedung perkantoran yang sudah mulai sepi, meremas tali tas bahuku hingga jemariku memutih.Lantai paling atas gedung ini adalah tempat di mana Arkana Wijaya menghabiskan malamnya untuk membedah nasib perusahaan orang lain. Aku sempat berpikir untuk lari, memblokir nomornya, dan menghilang dari kota ini selamanya.Namun, wajah rekan-rekan setimku yang tadi pagi menatapku penuh harap terus terbayang di kepala. Jika aku tidak datang, besok pagi mereka semua akan menjadi pengangguran karena kesalahanku di malam itu.Aku melangkah keluar dari lift dan disambut oleh keheningan koridor yang terasa mencekam. Di ujung ruangan, melalui dinding kaca yang luas, aku bisa melihat sosok Arkana yang sedang berdiri membelakangiku, menatap lampu-lampu kota."Anda terlambat dua menit, Anindya," suaranya memecah kesunyian tanpa perlu menoleh sedikit pun.Aku menelan ludah, mencoba mengatu
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-23
Chapter: Chapter 2: Algojo Ruang RapatAku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak. Di depan cermin, aku memoles lipstik merah sedikit lebih tebal untuk menutupi bibirku yang masih terasa sensitif akibat kejadian semalam."Kamu bisa, Anindya. Jangan biarkan dia menang," bisikku pada bayangan di cermin, meski jantungku berdegup tidak keruan.Tepat jam delapan pagi, aku sudah berdiri di depan pintu ruang rapat utama. Seluruh rekan timku tampak pucat karena mereka tahu hari ini adalah penentuan apakah divisi pemasaran akan tetap ada atau dilikuidasi selamanya.Pintu terbuka, dan aroma yang sangat kukenali itu kembali menyerang indra penciumanku. Di sana, di kursi utama, duduk pria yang semalam menekanku ke dinding penthouse-nya dengan penuh gairah.Arkana Wijaya tampil s
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-23