登入Aku turun dari meja marmer rias dengan kaki yang agak bergetar, memunguti jubah mandi sutra hitamku yang berserakan di atas lantai. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, memakai kembali jubah itu, dan meraba kompartemen tas kerjaku. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan salinan dokumen Swiss masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. Aku menatap punggung tegap Arkana yang kini berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh kembali. "Aku akan menyelesaikan integrasi bursa itu, Arkana," ucapku dengan suara yang terdengar lebih dalam, lebih sepi, mengalir tanpa riak emosi yang biasa ia gunakan untuk memancing haskatku. "Aku akan memastikan seluruh modal Merlion Ventures masuk ke dalam sistem kita. Tapi ingat satu hal... angka-angka yang kau siapkan di peladen pusat itu bukan lagi rahasiamu sendiri. Kau boleh merasa menang karena telah menguasai
"Maka seret aku, Arkana! Aku tidak pernah takut mati bersamaku!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak ketenangan kaku yang kubangun sejak rapat komisaris selesai. Aku membalas cengkeramannya pada kulit bahunya dengan kuku-kukuku, merobek sisa kain kemeja hitamnya dengan sisa kekuatan yang kupunya, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. Ia tidak memberiku ruang lagi untuk bernapas atau memikirkan penerbangan jam sepuluh pagi menuju Singapura lusa. Arkana membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan tuntutan dominasi yang absolut. Lidahnya menjelajah dengan paksa, menghancurkan seluruh sisa pertahanan psikologis dan logika hukum di kepalaku dalam hitungan detik. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, meronta di bawah kungkungannya dengan keputusasaan yang liar, namun tubuhku, pengkhianat terbesar yang selalu merindukan rasa sakit dari se
Ia telah melepaskan jas tiga lapisnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang seluruh kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos dada bidangnya yang tegap dan urat lehernya yang menegang halus. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang sudah mencair setengahnya. Aroma cendana, tembakau mahal, dan alkohol yang pekat langsung menjajah indra penciumanku, mereduksi pasokan oksigen di sekitarku hingga dadaku terasa sesak. Arkana berhenti tepat di belakangku, menatap pantulan kami di cermin rias yang besar. Sepasang matanya yang sedalam palung obsidian menyisir garis leherku yang terekspos, sebelum tatapannya turun dan mengunci ponsel rahasia di atas meja marmer. Seringai tipis, senyum predator yang selalu memicu alarm bahaya di otakkku, perlahan muncul di sudut berduri bibirnya. "Kau bahkan tidak mencoba menyembunyikan senjatamu lagi malam ini, Anindya," ucapnya parau, suaranya yang bariton mengalun rendah, bergetar halus di dekat daun telingak
"Penerbanganmu kembali ke Singapura dijadwalkan lusa jam sepuluh pagi, Anindya," ucapnya datar, suaranya sudah kembali sedingin es korporat seolah keintiman brutal beberapa menit lalu tidak pernah terjadi di atas meja rapat ini. "Haryo sudah disingkirkan dari komite keuangan pusat. Sekarang, fokuslah pada penyelesaian integrasi bursa dengan Merlion Ventures, dan pastikan tidak ada lagi kurir swasta yang keluar dari menara ini tanpa sepengetahuan tim keamananku." Aku turun dari meja mahoni dengan kaki yang agak bergetar, memunguti pakaianku yang berserakan di atas lantai marmer. Aku melangkah mendekati sudut ruangan, mengambil blazer abu-abu gelapku yang kini kusut, dan meraba saku dalamnya. Ponsel rahasia, kertas manifes usang Nusantara Prima, dan buku catatan digital dari pengacara Pandu masih ada di sana, utuh, dingin, dan mematikan. Sentuhan logam dingin itu langsung mengembalikan seluruh kewarasanku yang sempat meleleh di bawah kuasanya tadi. Aku menatap punggung tegap Arkana
"Aku menikmati melihatmu menjadi apa yang seharusnya kau menjadi, Anindya. Seorang penguasa yang tidak lagi memiliki belas kasihan," bisiknya parau, tangan kanannya merayap kasar ke tengkukku, mencengkeram rambutku dengan erat hingga aku terpaksa mendongak menatap matanya yang memancarkan kegelapan mutlak. "Kau marah karena aku mengujimu? Skenario Haryo pagi ini adalah kepastian yang kubutuhkan untuk melihat apakah kau sudah cukup kuat untuk memegang Singapura tanpaku. Dan kau membuktikannya dengan sangat sempurna, Anindya. Kau membenciku, tapi tubuh dan logikamu telah sepenuhnya terbiasa dengan ritme kekuasaanku." "Aku membencimu karena kau telah merusak seluruh sisa kemanusiaanku, Arkana!" teriakku pelan, air mata frustrasi yang murni akhirnya mengalir di sudut mataku, merusak riasan tegas yang kupasang sejak subuh. Aku memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar, merasakan panas tubuhnya yang mulai meracuni sistem sarafku dengan kepatuhan biologis yang menjijikkan. "Kau meranca
Aku mengepalkan tangan kiriku di bawah meja mahoni hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku, meminjam rasa sakit fisik untuk mengunci amarah yang murni yang hampir meledak dari balik zirah blazerku. Aku menegakkan punggung, meletakkan pulpen montblanc-ku dengan denting kaku yang memotong seluruh kasak-kusuk di ruangan. "Pak Haryo, dan para pengacara yang terhormat," suaraku mengalir jernih, tenang, namun memiliki ketajaman yang sanggup merobek setiap jengkal keangkuhan di wajah mereka. "Dugaan yang Anda bawa ke meja ini hari ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kepanikan yang menggelikan dari sisa-sisa pengikut faksi Baskoro yang takut kehilangan sisa pengaruh mereka di menara ini." Aku menekan layar tablet di depanku, memproyeksikan sebuah dokumen legalitas bermaterai internasional langsung ke layar besar di ujung ruangan. "Selisih waktu transaksi yang Anda sebut sebagai 'di luar jam bursa resmi' adalah karena transaksi tersebut dieksekusi menggunakan sistem Over-Th







