LOGINWulan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Wulan. Tatapannya beralih pada dokumen yang masih terbuka di atas meja. Ada beberapa bagian yang bahkan sampai sekarang masih membuatnya merasa ada yang disembunyikan oleh keluarga Wicaksono. "Mungkin," jawab Wulan, pelan. "Saya merasa bahwa ada seseorang yang membantu keluarga Wicaksono bangkit dan orang itu pasti bukan orang sembarangan." Wulan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya masih menatap lembaran dokumen di tangannya. "Karena tidak mungkin seseorang yang kehilangan segalanya bisa kembali menjadi keluarga besar hanya dalam beberapa tahun," ucapnya. Jonathan mengangguk. "Saya setuju Nyonya. Bahkan setelah kematian istri Bagas Wicaksono, perusahaan mereka hampir bangkrut. Banyak aset yang dijual, bahkan rumah lama mereka hampir disita karena hutang." "Namun beberapa tahun kemudian mereka kembali menjadi salah satu keluarga terkaya?" tanya Wulan memastikan. "Ya." Jonathan membuka dokumen lain. "Dan yang menarik adalah peru
Nerlina menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Reno. Ia menatap pria itu dengan ekspresi datar, sementara Zevran yang berdiri di sampingnya langsung memperhatikan perubahan suasana. "Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," jawab Nerlina tenang. Reno tersenyum tipis, tetapi tatapan matanya menyimpan banyak hal yang sulit ditebak. Ia melirik ke arah Zevran sebelum kembali menatap adiknya. "Aku tidak sedang berbicara denganmu sebagai tuan muda Hartono," ucapnya. "Aku berbicara sebagai kakakmu." Kata-kata itu membuat ekspresi Nerlina sedikit berubah. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Reno menyebut dirinya sebagai kakak. "Kakak?" ulang Nerlina pelan. "Aku tidak tahu sejak kapan kamu masih menganggap dirimu sebagai kakakku. Bukankah dari awal kamu tidak pernah menganggapku adik?" Raisa yang berdiri di belakang Reno langsung menatap Nerlina dengan kesal. Baginya, Nerlina selalu menjadi seseorang yang datang untuk mengambil kembali semua yang dulu ia miliki. Ia be
Nerlina menatap wanita yang berdiri di samping pria itu. Ia mengenalnya. Selama bertahun-tahun, gadis itu selalu menjadi alasan kenapa ia merasa tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari keluarga Hartono. Gadis yang dulu selalu dipuji, selalu dibela, dan selalu dianggap sebagai anak yang lebih membutuhkan perhatian dan gadis yang selalu membuatnya tersisih dari keluarganya. Namun, Nerlina tidak lagi ingin mempermasalahkan masa lalu. Ia datang ke sini bukan untuk mencari pengakuan dari keluarganya. "Nerlina, kamu mau apa kemari?" tanya pria paruh baya itu. Nerlina tersenyum tipis. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Saya datang bukan karena ingin kembali ke keluarga Hartono, Ayah," jawab Nerlina tenang. "Saya datang karena ingin mengikuti Open inovasi yang perusahan anda lakukan, saya kemari hanya untuk mewakili Suryani group." Perkataan itu membuat suasana ruangan menjadi hening. Beberapa anggota direksi saling melihat. Mereka tahu hubungan Nerlina da
"Jonathan, apa ada investasi dari perusahaan lain untuk kembali menekan kerugian dari perusahaan ini?" suara lemah Baskara kembali terdengar. Jonathan yang ditanya bosnya hanya terdiam, ia kembali menatap ke arah tabletnya mencoba mencari tahu porposal kerjaan yang cukup menguntungkan. Hingga tangannya yang tengah me geser geser tablet itu berhenti. Pandangannya beralih ke arah Baskara yang tengah mengusap usap wajahnya kasar. "Tuan Baskara, sepertinya perusahaan Hartono tengah mengadakan open innovation untuk AI, bukankah kita tengah meneliti tentang AI?" Baskara yang semula menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya yang sempat kehilangan harapan kini kembali sedikit menyala. "Open innovation?" ulang Baskara pelan. Jonathan mengangguk. Ia memperbesar layar tabletnya, memperlihatkan informasi mengenai program yang sedang dibuka oleh perusahaan Hartono. "Mereka sedang mencari proposal pengembangan AI yang bisa memberikan dampak besar untuk industri. Mereka tidak han
Baskara terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu. Tatapan Wulan yang tajam membuatnya tahu bahwa istrinya sudah mulai menghubungkan semua kejadian. "Kamu masih ingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu?" tanya Baskara pelan. Wulan menggenggam berkas di tangannya lebih erat. "Apa benar ini ulah keluarga Wicaksono?" Baskara mengangguk kecil. "Beberapa perusahaan yang tiba-tiba menarik diri dari kerja sama kita memiliki hubungan dengan mereka. Awalnya aku mengira hanya kebetulan, tapi semakin banyak laporan yang masuk, semakin jelas kalau ada seseorang yang sengaja menekan Suryani Group." Wulan terdiam. Nama keluarga itu kembali muncul seperti bayangan masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi. "Apa benar mereka? Bukankah mereka tengah menutupi skandal dari putranya, sangat tidak mungkin mereka kembali berulah?" "Aku belum punya bukti yang cukup," jawab Baskara. "Tapi aku tahu cara mereka bekerja. Mereka tidak akan menyerang secara langsung. Mereka akan menghancurkan p
Wulan bangkit dari duduknya, ia menatap ke arah Jonathan yang belakangan ini cukup kelelahan. Ia segera berjalan ke arah Jonathan yang masih fokus dengan laptopnya. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan Baskara?" Jonathan segera mendongakkan kepalanya, ia menatap ke arah Wulan dengan tatapan ragu ragu. Mendengar pertanyaan itu Jonathan bingung ingin memberikan alasan apa, karena ia sudah di berikan wejangan oleh Baskara untuk tidak menceritakan masalah perusahan kepada Wulan dan yang lain. "Jonathan, katakan! Kenapa kamu diam saja!" Jonathan terdiam. Jemarinya yang sejak tadi bergerak di atas keyboard perlahan berhenti. Ia menatap layar laptopnya beberapa detik, seolah berharap bisa menemukan jawaban di sana. Namun tatapan Wulan yang penuh kekhawatiran membuatnya tidak bisa terus menghindar. "Perusahaan sedang goyah Nyonya, beberapa klien membatalkan kerja sama dan beberapa investor menarik investasinya." Jonathan terdiam, di dalam hatinya ia terus merapalkan kata ma
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan
Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab
Raka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu. "Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya. Raka masih diam, seolah ia







