Share

Bab 66 Pelayan

Author: Namorae
last update publish date: 2026-06-05 14:43:55

Baskara hanya tersenyum ke arah istrinya sedangkan Zevran segera mengambil alih kue besar itu dan menaruhnya dimeja kecil di depan Wulan.

"Ayo ma kita potong kuenya," ujar Zevran menyodorkan satu pisau kecil yang sudah dihiasi pita.

Wulan tersenyum ia segera memotong kue berlapis emas itu. Potongan pertama ia berikan kepada suaminya dan potongan kedua ia berikan kepada Putra sulungnya. Wulan merasa sangat bahagia pada hari ini, setelah beberapa minggu terlahir kembali ini adalah momen yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 222 Hilang Kendali

    Baskara, Wulan dan Bagas segera bergegas menuju tempat dimana Julian berada. Namun sebelum Wulan pergi, ia mendekat ke arah Jonathan yang tengah menunggunya. "Kalian duluan saja, aku harus berbincang dengan Jonathan," jelasnya. Baskara dan Bagas hanya mengangguk, mereka segera bergegas menuju ke dalam mobil. Sedangkan Wulan menatap Jonathan dengan tatapan tanda tanya. "Sudah kamu dapatkan soal Reina, Jonathan?" tanyanya. Jonathan mengangguk, ia menyodorkan map coklat kepada Wulan. Wulan segera menerimanya dan bergegas menemui Baskara dan Bagas yang sudah menunggunya. Setelah beberapa menit mobil itu melaju, sampailah mereka di rumah tempat dimana Julian berada. Wulan segera turun lebih dahulu, disusul Baskara dan Bagas di belakangnya. Ia menoleh ke arah Bagas. "Dimana putramu?" tanyanya. Bagas terdiam sejenak mendengar pertanyaan Wulan. Tatapannya langsung berubah serius, seolah ada sesuatu yang berat yang harus ia sampaikan. "Di dalam," jawab Bagas singkat. Ia

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 221 Percaya

    "Bagas, jawab!" suara Kakek Suryani terdengar berat. "Apa maksudmu datang ke keluarga kami dengan tujuan tertentu?" Bagas masih menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal erat, berusaha menahan rasa bersalah yang semakin menghimpit dadanya. "Aku..." Bagas menarik napas panjang. "Aku tidak bisa mengatakannya," ujarnya, pelan. Baskara kembali menarik kerah pria itu, ia benar benar kesal dengan saudara sepupunya itu. Tatapan Baskara berubah tajam. "Katakan sialan!" teriaknya. Wulan segera menahan tangan suaminya itu, ia mencoba menenangkan Baskara agar pria itu tidak hilang kendali. "Sudah Baskara, biar Bagas nenangin diri dulu," jelasnya. Baskara segera melepaskan cengkeraman tangan itu, ia segera menjauh dari Bagas. Sedangkan Wulan memilih untuk menanyakan menganggtikan suaminya. "Aku tahu kau takut putramu kenapa napa, tapi dengan kau menghancurkan keluarga Suryani. Apakah pria itu bakal membantumu nanti?" Bagas terdiam mendengar pertanyaan Wulan. Kalimat itu sederhan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 220 Tertangkap Basah

    Setelah beberapa hari Bagas memutuskan untuk tinggal di villa keluarga Suryani. Wulan mulai merasa bahwa gelagat pria itu benar benar janggal, apa lagi saat ia sempat memergokinya masuk ke ruang kerja milik Baskara. Hingga saat ini, Wulan tengah berdiri di balik tembok untuk mendengar Bagas yang tengah berbicara oleh seseorang. Untungnya, kali ini Wulan bisa mendengar jelas ucapan Bagas dengan seorang pria yang entah siapa. "Saya akan menyelesaikan kali ini tuan, tolong jangan sakiti putraku," ujar Bagas. Wulan yang menguping pembicaraan itu mengernyit. "Selesaikan? Sakiti?" gumamnya. Hingga saat ia kembali menguping pembicaraan itu, satu kata yang diucapkan Wulan membuatnya benar benar terkejut. "Saya akan menghancurkan keluarga ini, tunggu sebentar lagi tuan," ujarnya. Wulan yang tahu bahwa Bagas datang ke keluarga Suryani untuk melakukan hal keji, segera keluar dari tempat persembunyianya dan berdiri di hadapan pria seusianya itu. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 219 Deeptalk kakek

    Kalimat itu membuat Kakek Wicaksono yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya kembali bertemu. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, tidak ada amarah yang meledak di antara mereka. Hanya ada dua pria tua yang sama-sama membawa luka dari masa lalu. "Aku tahu kau akan mengatakan itu," jawab Kakek Wicaksono pelan. Kakek Suryani menghela napas berat. Tangannya masih menggenggam tongkat dengan erat. "Tapi aku juga tahu, selama ini kau membenciku karena kau berpikir aku adalah penyebab kematian Laras. Aku mengatakan sejujurnya, aku tidak pernah membunuh Laras." Kakek Wicaksono terdiam. "Bagaimana aku tidak membencimu?" balasnya lirih. "Putriku meninggal setelah hubungan kalian hancur. Reno juga meninggal. Semua orang mengatakan bahwa keluarga Suryani adalah penyebab penderitaan Laras dan saat Laras izin untuk mengatakan bahwa Bagas adalah putra Reno, ia malah kecelakaan dan meninggal." Kakek Suryani menutup matanya sejenak. Ia kembali membuka

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 218 Cucu

    Bagas terdiam mendengar perkataan Baskara. Tatapan pria itu berubah sedikit tajam, seolah ia sudah menduga bahwa keluarga Suryani tidak akan langsung percaya kepadanya. "Aku datang bukan untuk mengambil apa yang menjadi milik keluarga Suryani," jawab Bagas tenang. Baskara menyipitkan matanya. "Lalu untuk apa?bukankah sudah jelas kau pasti kesini hanya untuk meminta bagianmu dari keluarga Suryani?" Bagas terdiam sejenak, ia tersenyum miring dan segera mendudukkan dirinya di sofa. Tatapannya masih tajam. "Aku baru tahu Baskara Suryani memang begitu pintar? Karena kau sudah bertanya aku akan mengatakan sejujurnya." Bagas mengambil satu dokumen dari tasnya, ia melempar ke arah meja. Baskara buru buru mengambilnya dan membaca semua huruf huruf yang tergores di kertas putih itu. Matanya terbelalak saat ia menatap satu angka. " Lima puluh persen saham?" Baskara segera menyodorkan kertas itu kepada Kakek Suryani. Membaca itu kakek Suryani benar benar kesal, ia kembali mengetuk n

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 217 Reno dan Laras

    Wulan menatap layar tablet itu lebih lama. Semakin ia membaca setiap kalimat yang tertulis dalam laporan tersebut, semakin pikirannya terasa kacau. Nama Reno Suryani, Laras Wicaksono, dan Bagas Wicaksono seakan kembali membuka luka lama yang selama ini berusaha ditutup oleh keluarga mereka. Ia tahu bahwa Reno dan Laras memang pernah tinggal serumah, tetapi ia tidak menyangka Laras sedang hamil anak dari Reno. "Ini..." Wulan mengangkat wajahnya menatap Jonathan. "Apakah laporan DNA ini benar-benar asli?" Jonathan mengangguk pelan. "Kami sudah memeriksanya, Nyonya Wulan. Laporan ini berasal dari laboratorium yang cukup terpercaya. Namun, kami masih belum bisa memastikan bagaimana sampel itu bisa diuji dan apakah ada kemungkinan manipulasi." Baskara mengambil nafas panjang. Tatapannya berubah tajam. "Bagas melakukan ini bukan tanpa alasan," ucap Baskara dingin. "Dia sengaja membuka masa lalu paman Reno di depan publik. Dia ingin menghancurkan nama keluarga Suryani, agar semua or

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 5 Zevran Suryani

    Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 4 Rencana

    Raka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu. "Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya. Raka masih diam, seolah ia

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 3 Raka Suryani

    Wulan tidak menjawab pertanyaan sang putra keduanya itu, tanpa aba-aba justru menarik daun telinga Raka dan menyeret melewati kerumunan murid-murid lain menuju ke arah taman sekolah. Wulan segera melepaskan tangan setelah merasa puas memberikan pelajaran pada sang putra. Raka yang merasa kesakitan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 2 Kesempatan Kedua

    Wulan menatap ke sekeliling mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami, terlihat suasana kamar yang bernuansa putih dengan berbagai foto yang tampak familiar bagi Wulan Suryani. Hingga terdengar suara pintu kamar yang terbuka yang membuatnya sontak menoleh."Siapa itu?" ujarnya pelan ia masih bel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status