Chapter: Hubungi PamanCaleb memijat pelipisnya begitu pintu lift terbuka. Hari ini benar-benar melelahkan. Perasaannya terkuras habis hanya karena seorang wanita bernama Aurelia.Baru saja ia melangkah memasuki lobi hotel, langkahnya kembali terhenti."Caleb!"Caleb mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menoleh. "Maya."Wanita itu berjalan menghampirinya dengan gaun merah yang membalut tubuhnya sempurna. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, sementara senyum percaya diri tak pernah lepas dari bibirnya."Aku sudah menunggumu."Caleb mengernyit. "Apa yang kau lakukan di sini?" Ia tidak repot-repot menyembunyikan nada jengkelnya. Karena berkat kehadiran wanita itu, Aurelia yang manis kembali membentengi diri.Maya langsung merangkul lengannya dengan manja. "Bertemu tunanganku, tentu saja."Caleb menatap lengan yang bergelayut padanya selama beberapa detik sebelum melepaskannya perlahan."Berhenti mengatakan omong kosong."Senyum Maya memudar. "Itu bukan omong kosong.""Buatku, iya.""Kau masih saja sedingin i
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Kau Mencintainya?Brak!Caleb menutup pintu rumah itu lebih keras. Bukan karena ia marah.Ehm, mungkin sedikit marah.Tidak. Ia sangat marah!"Sialan!" Kembali ia membanting pintu mobilnya. Wajah Aurelia masih terngiang-ngiang. Bagaimana wanita itu menangis. Bagaimana wanita itu merasa bersalah terhadap Clarissa. Dan bagaimana saat dia mengatakan bahwa dia hanya salah mengartikan rasa. "Aku hanya salah mengartikan rasaku padamu saat itu."Caleb mendengus pelan. "Pembohong."Entah Aurelia sedang membohonginya atau membohongi dirinya sendiri, Caleb belum tahu. Yang jelas, malam ini ia tidak ingin sendirian dengan pikirannya.Pria itu mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya kasar. "Perempuan keras kepala," gumamnya.Empat puluh menit kemudian. Mobil Caleb berhenti di halaman rumah Roland. Ia turun begitu saja tanpa repot mengetuk pintu. Sudah terlalu sering ia keluar masuk rumah itu."Roland. Astaga... kau_" Kalimatnya terputus."Brengsek!" Roland langsung mengumpat begitu melihat Caleb berdiri di
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: Berhenti Membahas ItuAurelia membeku. Jemarinya saling bertaut. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia tidak berbalik, tetapi seluruh tubuhnya menegang.Apa yang baru saja dikatakan Caleb?Suara pria itu masih terngiang jelas di telinganya."Aku menikahi Clarissa, bukan karena aku mencintainya."Aurelia memejamkan mata rapat."Jangan," bisiknya lirih. "Jangan katakan hal-hal seperti itu." Suaranya terdengar begitu rapuh hingga ia sendiri nyaris tidak mengenalinya."Aku tidak berbohong.""Tapi kau sedang menghina orang yang sudah meninggal."Kalimat itu membuat Caleb terdiam. Aurelia akhirnya berbalik. Matanya sudah memerah, meski belum ada air mata yang jatuh. "Clarissa adalah kakakku.""Aku tahu.""Dia mencintaimu."Caleb diam."Dia adalah istri yang baik.""Aku tahu.""Dan dia meninggal sebagai istrimu."Setiap kalimat yang keluar dari bibir Aurelia terdengar seperti pisau yang perlahan mengiris dadanya sendiri. "Lalu sekarang kau mengatakan semua itu?" suaranya mulai bergetar. "Untuk apa?"Caleb menatapn
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bukan Karena Cinta"Apa katamu?!"Aurelia menatap Caleb seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya.Caleb justru tampak santai. "Kau mendengarku dengan sangat jelas.""Aku tidak cemburu.""Baik."Jawaban Caleb terlalu sederhana. Dan entah kenapa hal itu malah membuat Aurelia semakin kesal."Jangan mengatakan 'baik' dengan nada seperti itu.""Nada seperti apa?""Nada yang membuatku terdengar seperti pembohong."Caleb mengangguk pelan. "Baik."Aurelia mengembuskan napas keras. Caleb hampir tersenyum."Tidak lucu.""Aku tidak tertawa.""Itu lebih menyebalkan.""Kalau begitu aku minta maaf.""Tidak ada yang memintamu untuk minta maaf.""Tidak."Aurelia memejamkan mata sesaat. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana pria ini bisa membuat tekanan darahnya naik hanya dengan beberapa kalimat."Kau tahu apa masalahmu?" tanyanya."Banyak orang bilang aku terlalu tampan." Aurelia menatapnya datar, meski ia cukup kaget dengan jawaban narsis tersebut.Caleb berdeham. "Baiklah. Mungkin bukan itu.""Kau terla
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Kau Sungguh Cemburu?"Ayah akan pergi meninggalkan kita?"Pertanyaan Maxi membuat Aurelia tertegun. Ia menunduk menatap putranya. Wajah bocah itu terlihat murung.Aurelia tidak tega memutuskan harapan Maxi. Tapi ia jauh lebih tidak sanggup jika harus memberikan ucapan yang tidak bisa ia penuhi. Siapa yang menjamin Caleb akan tinggal? "Max."Putranya mendongak menatapnya."Caleb tidak tinggal bersama kita."Bahu kecil Maxi langsung turun. Aurelia bisa melihat perubahan ekspresi itu dengan jelas. Dan itu membuat hatinya ikut tidak nyaman."Caleb punya kehidupannya sendiri."Maxi menunduk. "Dan kita punya kehidupan kita sendiri."Ah, betapa dewasanya kalimat yang terlontar dari mulut seorang anak berusia lima tahun."Ya," suaranya sampai bergetar.Aurelia melirik wajah putranya sekali lagi. Melihat kesedihan yang tidak berhasil disembunyikan bocah itu. Hatinya langsung mencelos. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Maxi ke dalam pelukannya."Hei."Maxi langsung membalas pelukannya. "Aku di sini.""Aku tahu."
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: Aurelia CemburuJantung Aurelia berdebar tidak karuan mendengar pertanyaan itu.Apa kita masih bisa?Kalimat sederhana. Sangat sederhana, tapi efeknya luar biasa. Karena Aurelia tidak tahu apa yang sebenarnya Caleb maksud.Masih bisa apa? Masih bisa menjadi teman? Masih bisa sedekat dulu? Atau...Pikiran itu langsung ia hentikan sebelum berkembang lebih jauh. Tidak. Ia tidak ingin memberikan harapan semu pada dirinya sendiri.Jangan mulai. Jangan membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya, Aureli. Dia tidak pernah menyukaimu.Tatapan Caleb masih tertuju padanya. Menunggu jawaban yang entah kenapa terasa begitu penting. Dan Aurelia sama sekali tidak siap menjawabnya."Ayah."Suara Maxi langsung menyela. Aurelia hampir ingin memeluk putranya saat itu juga. Ia terselamatkan."Hm?" Caleb mengalihkan pandangan."Boleh tambah es krim?"Aurelia diam-diam mengembuskan napas panjang. Ia lolos dari kewajiban untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk sementara.Caleb menatap sisa pizza di meja. Kemudian menatap
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: 22. SAH"Kau terlihat sangat menawan." Zoe bersiul memuji ketampanan Aland yang ternyata tidak memudar sama sekali meski tidak terawat selama bertahun-tahun. Yah, kalau dari awal setelan pabriknya sudah oke, pasti akan tetap oke. "Kupikir setelan tuxedo ini tidak cocok untukmu." Aland tampil begitu memukau dengan tuxedo warna putih pilihan Zoe. Setiap detail pakaian tersebut menunjukkan keanggunan dan ketampanannya. Tuxedo putih tersebut sangat pas dengan tubuhnya yang tinggi, beruntung bobot tubuhnya sudah mulai bertambah.Kemeja putih yang dikenakannya melengkapi tuxedo dengan sangat sempurna, menciptakan kontras yang elegan. Dasinya ditenun dengan rapi, memberikan sentuhan klasik pada penampilannya. Lengkungan kerah tuxedo yang dipadukan dengan dasi hitam membuatnya terlihat sangat berkelas. Aland juga memilih sepatu kulit hitam yang mengkilap dan sesuai dengan tuxedo putihnya. Semua elemen penampilannya saling melengkapi, menciptakan citra seorang pria yang sangat rupawan dan berwibawa p
Last Updated: 2023-11-01
Chapter: 21. Tidak Ada Batasan"Apa kau berencana untuk hidup selamanya denganku?" Pertanyaan Aland mengandung sarkasme. Sofia tertegun mendengar pertanyaan tidak terduga itu. Sejujurnya dia juga tidak tahu bagaimana konsep pernikahan dadakan ini. Namanya pernikahan tentu hanya sekali seumur hidup. Setidaknya begitu lah Sofia memaknainya. Namun, beberapa perkataan Aland yang seolah sengaja ingin mencecarnya, menunjukkan bahwa Aland tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali."Pastinya kau akan pergi meninggalkanku begitu kau berhasil mencapai tujuanmu, bukan?""Kenapa kau harus menduga-duga sampai sejauh itu.""Itu bukan dugaan. Tapi kenyataan. Hanya wanita gila yang mau menikah dengan pria lumpuh impoten. Dan jelas kau bukan wanita gila.""Bisa tidak kau tidak bicara terlalu sinis.""Wuaaahh, wanita alim penuh nurani rupanya merasa tersinggung."Sofia mengembuskan napas jengah. Aland pria keras kepala, tidak akan ada habisnya sindiran pedas yang dilayangkan pria itu padanya jika ia terus meladeninya. Tapi, j
Last Updated: 2023-10-21
Chapter: 20. Kami Akan Menikah"Mulai!" Zoe memberikan aba-aba.Baik Sofia atau pun Aland tidak memperlihatkan gerakan menyentak, tetapi tubuh mereka tiba-tiba tegang dan saling menggenggam dengan erat."Kamu ingat taruhannya?" Sofia mempertahankan ekspresi wajahnya tetap terlihat tenang. Tidak mempertontonkan pada Aland betapa keras usaha yang ia kerahkan untuk tetap mempertahankan pergelangan tangannya tetap lurus.Aland tidak merespon. Pria itu lebih memilih fokus pada pertarungan daripada perjanjian sepihak yang dicetuskan oleh Sofia. Andai Maurin tidak meragukannya, Aland tidak akan merespon ide konyol wanita yang bertarung dengannya ini. Astaga, ia tidak tahu apa ia harus terkejut atau tertawa. Menikah karena kalah tarung panco, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Aku tahu kau ingat dengan kesepakatannya." Sofia kembali berkata. "Tapi aku akan mengingatkanmu sekali lagi. Jika aku menang, kita akan menikah." Sofia tidak menambahkan kemungkinan jika dia kalah, karena dia sangat yakin bahwa kemenangan a
Last Updated: 2023-10-15
Chapter: 19. Aku Siap!"Bagaimana kalau kita adu panco?"Aland kira ide menikah dengan Sofia lah yang paling menggelikan, tidak tahunya cara menerima usulan ide tersebut lah yang paling tidak masuk akal hingga berhasil membuatnya ingin marah juga tertawa dalam saat bersamaan. Bagaimana bisa adu panco dijadikan acuan untuk sebuah pernikahan. "Bagaimana, apa jawabanmu?" Desak Sofia yang terlihat seolah ia memang ingin menjadi nyonya Amstrong. Aland berani mempertaruhkan apa pun bahwa Sofia sama sekali tidak tertarik padanya. Aland mendongak, matanya menyipit memandangi tubuh ramping di balik baju yang begitu longgar. Lalu, tatapan Aland jatuh pada tangan femininnya yang lentur. Tatapan Aland kembali naik ke atas. Ke wajah Sofia yang minim akan polesan. Bahkan bibir Sofia sedikit pucat, pertanda gadis itu tidak mengenakan kosmetik sama sekali."Kau sungguh ingin menikah denganku?" Aland hanya bertanya basa basi. "Ya, jika aku menang."Dan Sofia yakin ia akan menang 100 persen. Dalam keadaan normal, jika pri
Last Updated: 2023-10-13
Chapter: 18. KesepakatanAland berbaring hanya mengenakan celena pendek ketat berwarna hitam. Sementara Abel mulai memberikan pijatan ditubuhnya. Pijatan Abel mungkin tidak semenyiksa pijatan Sofia, tapi Aland benar-benar tidak nyaman dengan sentuhan wanita itu. "Pijat lah di titik yang seperlunya saja," ucapnya dengan dingin meski ia sendiri tidak yakin apa memang ada titik-titik tertentu.Abel tertawa renyah, tidak ambil hati dengan ucapan dingin yang dilontarkan Aland. "Aku lah terapisnya, Aland. Kau tinggal menikmati, maksudku tinggal menunggu hasil." Pijatan Abel naik ke betis, terus maju ke paha bagian dalam, tangannya terus saja bergerak, bukannya memberi pijatan tapi wanita itu justru dengan sengaja berusaha untuk merangsangnya. Aland merasa mual dan jijik, belum lagi tatapan Abel yang fokus pada organ bagian intimnya. Celana renang super ketat yang ia kenakan tentulah akan dengan mudah mempertontonkan reaksi atas sentuhan Abel. Organ intimnya tetap saja tidur dengan nyaman, tidak memberikan reaksi
Last Updated: 2023-10-10
Chapter: 17. Dia Terapis HebatSetelah dipecat, setelah pertikaian antara dirinya dan Aland yang tidak berkesudahan, Sofia pergi mengunjungi ibunya di panti. Ia juga menginap di sana selama satu minggu. Selama satu minggu tersebut, Mr. Amstrong datang mengunjungi mereka, membujuk agar Sofia bersedia pulang meski bukan sebagai terapis Aland lagi. Entah ini kabar baik atau buruk, Aland bersedia mendapat perawatan dari terapis lain. "Apa yang akan kulakukan di sana, Uncle?" Tanya Sofia saat Mr. Amstrong kembali datang dan mengajaknya pulang."Banyak hal yang bisa kau lakukan di sana," sahut pria itu dengan tatapan hangat khas kebapakan. "Itu adalah rumahmu. Bukankah kau putriku?"Benar, Sofia juga sangat menghormati pria tua di hadapannya ini. Orang yang memiliki kontribusi atas pencapaian yang ia dapatkan sekarang. Ia sangat menghormati Mr. Amstrong juga menyayangi pria itu. Sejujurnya, Sofia tidak akan sanggup menolak apa pun permintaan Mr. Amsrtong. Sambil tersenyum, dia menganggukkan kepala. "Ya, aku akan sela
Last Updated: 2023-10-09
Chapter: Happy Ending"Wueekk!" Emily memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pucat pasi, seakan menahan sakit yang luar biasa.Ellard pun terbangun begitu mendengar Emily muntah. Dengan sigap ia berlari ke dalam toilet."Kau baik-baik saja?" tanya Ellard penuh khawtir. "Wajahmu pucat. Apa kau memakan sesuatu yang salah?"Emily mengernyit, menatap bingung ke arah Ellard melalui cermin besar yang ada di hadapannya."Aku suamimu, kita sudah menikah beberapa tahun," jelas Ellard sebelum Emily sempat bertanya."Aku merasa mual," adu Emily dengan wajah meringis menahan sakit."Akan kupanggil Morin untuk memeriksa," Ellard pun menuntun Emily ke luar dari dalam toilet. Ia juga membantu Emily untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengambil ponse untuk menghubungi saudarinya -Morin."Emily mual dan muntah. Tolong kau periksa dia," ucap Ellard to the point begitu panggilannya terhubung. "Sekarang juga!" imbuhnya penuh tekanan."M
Last Updated: 2021-07-29
Chapter: Aku Adalah SuamimuEmily melihat jam tangannya. Pukul 16.01. Belum waktunya pulang jam kantor tapi Ellard sudah berada di kamar mereka."Kau pulang cepat hari ini?" Emily berjalan mendekat ke arahnya.Ellard mengangguk sambil tersenyum. "Mulai hari ini aku akan bekerja dari rumah," menarik Emily agar duduk di atas pangkuannya."Kenapa?""Perusahaan membosankan. Kau juga selalu ingkar janji. Tidak pernah datang tepat waktu," Ellard mengecup tengkuk Emily.Emily hanya diam karena tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa."Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Emily mengalihkan topik."Aku sedang mencari fotoku yang paling keren," sahut Ellard sembari menunjukkan layar laptopnya."Untuk apa?" tanya Emily dan mulai memperhatikan satu persatu foto Ellard."Aku akan memajangnya di kamar kita. Di setiap sudut ruangan." Ellard menatapnya teduh. Kembali perasaan berkecamuk menghampirinya. Pembicaraan Emily dan Frans kini terdengar jelas di telingan
Last Updated: 2021-07-29
Chapter: Alzheimer"Aku akan datang membawakan makan siang untuk kita," Emily berjinjit dan mendaratkan satu kecupan hangat di pipi kanan Ellard."Aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu. Segera angkat teleponku jika aku menghubungimu," Ellard mengusap lembut kepala Emily.Sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan Emily disaat benaknya menyisakan banyak tanya yang menuntut jawaban ada apa gerangan yang terjadi dengan istrinya.Kejanggalan-kejanggalan sikap Emily sangat mengusiknya. Jika mengikuti kata hatinya, ingin rasanya ia membawa Emily ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.Ellard sebenarnya sudah memiliki dugaan-dugaan atas apa sebenarnya yang sedang dialami Emily. Apa pun itu sesungguhnya ia tidak peduli. Hanya saja yang ia khawatirkan hal itu bisa melukai dan menyakiti Emily. Sungguh ia tidak akan sanggup lagi untuk melihat Emily terluka. Untuk itu lah ia juga menahan diri agar tidak bertanya secara terang-terangan kepada Emil
Last Updated: 2021-07-27
Chapter: Kau Mahkotaku"Argghhhhh!!" teriakan Emily sontak saja membuat Ellard terbangun dari tidur nyenyaknya."Ada apa, sayang?" Ellard menatap Emily khawatir. Apa gerangan yang membuat Emily histeris di pagi hari. Ya, Ellard melirikkan mata ke arah nakas dan melihat jam weker yang menunjukkan jam 05.30."Apa kau mengalami mimpi buruk?" mengulurkan tangan berniat untuk memeluk dan menenangkan Emily.Plak!Emily dengan kasar menepis tangan Ellard dan baru lah pria itu menyadari cara Emily menatapnya begitu berbeda. Seperti orang asing yang takut melihat keberadaannya."Emily?" panggil Ellard penuh hati-hati, tapi jangan tanya jantungnya yang memompa, berpacu lebih cepat. Ke mana tatapan teduh yang selalu Emily tunjukkan padanya selama ini. Apakah Emily mulai berubah fikiran. Pertanyaan demi pertanyaan menyerang batinnya, membuat perasaannya semakin tidak menentu."SIAPA KAU?! KENAPA KAU ADA DI KAMARKU?!"Butuh beberapa d
Last Updated: 2021-07-27
Chapter: Ada Yang Salah“Selamat datang!” Emily merentangkan kedua tangannya menyambut kepulangan Ellard.Mendapat sambutan ceria dari Emily, Ellard mengulum senyumnya. Segera meletakkan tas kerjanya, Ellard pun membawa Emily ke dalam pelukannya. “Kau sangi sekali,” bisik Ellard dengan nada menggoda.“Aku sengaja melakukannya untuk membuatmu senang. Apa kau terhibur? Aku berdandan untukmu,” seru Emily dengan wajah merona.Perasaan Ellard dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Tadinya ia menolaj untuk bekerja dalam waktu dekat. Namun Emily terus saja membujuknya, dengan syarat akan sering mengunjungninya ke kantor. Baru hari pertama bekerja, Emily sudah mengingkari janjinya. Ellard menantikan kedatanganya namun istrinya tak kunjung datang. Ia uring-uringan tidak jelas. Mencoba menghubungi telepon rumah, namun istrinya tidak berada di sana membuatnya semakin galau.Namun begitu melihat sambutan Emily yang manis, kegalau
Last Updated: 2021-07-21
Chapter: Aku Takut Melupakannya“Apakah kita akan tinggal di sini?” tanya Ellard begitu mereka kembali ke dalam kamar. Ellard masih merasa tidak nyaman jika berlama-lama duduk bersama Rebcca. Beruntung Morin dan Jovan ada jadwal operasi sehingga mereka segera pergi setelah sarapan.“Apa kau keberatan?” Emily yang merapikan tempat tidur menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Ellard yang duduk manis di sofa seraya memperhatikannya.“Aku tidak keberatan, hanya saja kita juga memiliki rumah,” Ellard beralasan. Faktanya ia memang tidak menyukai harus tinggal di dalam satu atap bersama Rebecca.“Rumahnya sudah kujual,” cicit Emily dengan wajah memelas.Ellard mengerjap, mencoba mencerna kalimat yang baru saja dicetuskan oleh Emily.“Apa kau mengatakan bahwa kau sudah menjual rumah kita, sayang?”Emily menganggukkan kepala, “Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku kesepian. Rumah itu selalu
Last Updated: 2021-07-21