Chapter: Diawasi"Masa melumpuhkan satu bocah kencur saja kau tidak bisa?!"Suara melengking Maya dari seberang telepon menghantam gendang telinga Joseph tanpa ampun. Wanita itu mendengus gusar, menyemburkan kemarahannya.Joseph menggeram kesal, meremas ponsel di genggamannya hingga urat-urat di punggung tangannya menegang. "Seolah kau bisa melakukannya dengan mudah, Maya!""Gerakanmu lambat sekali, Paman Joseph!" cerca Maya tajam. "Sepertinya lebih baik aku menyewa pembunuh profesional lain untuk membereskan bocah itu!""Jangan berani-berani kau ingkar janji!" ancam Joseph dengan nada memburu. "Aku sudah memantau pergerakannya beberapa hari ini. Aku melihat bocah itu sekarang!"Tanpa menunggu balasan Maya, Joseph memutuskan panggilan secara sepihak. Pria paruh baya itu menarik topi hitamnya lebih rendah, melangkah mengikis jarak menuju gerbang utama sekolah swasta eksklusif tersebut. Sudah tiga hari ia mengawasi gerak-gerik Maxi. Rencananya kian terdesak, sementara iming-iming uang tunai dan bag
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Kau MenolakkuSepanjang perjalanan pulang di dalam mobil tadi, Aurelia bersikeras menyembunyikan senyumnya. Bayangan raut wajah Caleb yang memohon dan protektif saat membungkamnya di bioskop terus berputar di kepalanya.Pertanyaan halus merayap di benak Aurelia, Apa pria kaku ini begitu mencintaiku?Namun, sesaat setelah harapan itu mencuat, Aurelia buru-buru menggelengkan kepala. Mengingat kembali masa lalu saat Caleb menolaknya mentah-mentah dan membuat benteng jarak begitu tebal di antara mereka membuat dadanya mengencang. Desahan panjang sempat lolos dari bibirnya di dalam mobil."Ada yang salah?" tanya Caleb yang menyetir, menoleh dengan kening berkerut."Tidak ada," sahut Aurelia singkat dengan senyum tipis."Kuharap kita tidak akan membahas film sialan itu lagi," gumam Caleb seraya mempererat pegangannya di kemudi."Sepakat," balas Aurelia.Begitu mereka melangkahkan kaki menembus pintu depan rumah, Maxi langsung berlari kencang dari ruang keluarga, menghambur lurus ke dalam pelukan A
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Jangan Katakan Itu"Aku tidak suka kau membela karakter wanita itu!"Aurelia melipat kedua tangannya di depan dada, mendelik tajam pada suaminya di tengah keramaian area luar bioskop.Caleb lagi-lagi tertawa renyah, mengacak pelan puncak kepala Aurelia. "Aku tidak sedang membela siapa pun di sini, Aureli. Aku hanya mencoba melihatnya dari sudut pandang kedua belah pihak.""Caleb, selingkuh itu bentuk cacat moral paling mendasar!" tegas Aurelia dengan nada berbisik dan menusuk tajam."Suami yang tidak sanggup membuat istrinya merasa nyaman dan dicintai juga sebuah kegagalan, Aureli," sahut Caleb tenang, menyapu pandangan pada manik mata istrinya yang menyala. "Jika keduanya sama-sama memelihara ego, ikatan pernikahan itu lambat laun hanya akan berubah menjadi neraka."Caleb memiringkan kepalanya sedikit, mengikis jarak di antara mereka. "Sekarang katakan padaku, apa kau lebih memilih bertahan mati-matian di dalam neraka itu, atau memilih untuk mengakhirinya?"Aurelia menahan napas, bibirnya tertutu
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Perkara Film"Kenakan ini nanti malam."Kalimat datar Caleb terucap begitu santai, tanpa peduli tiga karyawan butik yang berdiri tak jauh dari mereka langsung memekik pelan. Wajah para pekerja wanita itu bersemu merah, buru-buru menunduk untuk menyembunyikan senyum dikulum.Aurelia merampas lingerie malam berenda tipis berpotongan renda cerah itu dari tangan suaminya. Kulit wajahnya terasa membara seketika. "Kau ini!" bentak Aurelia berbisik, memasukkan kain minim itu ke dasar keranjang belanjaannya agar tertutup pakaian lain.Caleb justru menyunggingkan senyum tipis, setia mengekor di belakang Aurelia. Pria itu menolak duduk di sofa tunggu VIP yang disiapkan manajer toko. Langkah kakinya dengan sabar mengikuti ke mana pun Aurelia bergerak mengitari rak-rak pakaian mewah.Beberapa karyawan toko sibuk berbisik-bisik di dekat kasir, mengagumi betapa beruntungnya Aurelia memiliki suami setampan dan sepeduli Caleb. Aurelia tersenyum dalam hati menyimak bisikan itu. Ia sendiri sempat menduga Caleb
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Belanja"Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka melihat wanita lain berada terlampau dekat denganmu!" Aurelia memalingkan wajahnya, melontarkan pengelakan kecil yang terdengar sama sekali tidak meyakinkan. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara matanya bersikeras menatap dinding kaca ruang kerja. Caleb menyunggingkan senyum tipis, menatap iris mata istrinya dengan binar penuh godaan. "Aku sama sekali tidak melihat perbedaannya, Aureli." Aurelia langsung melotot tajam, memutar tubuhnya menghadap pria itu. "Kau sengaja ingin membuatku kesal padamu?" "Itu hal terakhir di dunia ini yang ingin kulakukan padamu," sahut Caleb lembut. Pria itu menyuapkan sendok terakhir masakan Aurelia ke dalam mulutnya, lalu meletakkan wadah bekal yang telah bersih ke atas meja. "Bagaimana dengan pekerjaanmu di galeri hari ini?" "Sangat membuatku repot," jawab Aurelia, namun senyum bangga yang merekah lebar di bibirnya menepis sepenuhnya keluhan itu. Caleb mengulurkan tangan, jemarinya mengusa
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bekal Makan Siang"Wah, serius sekali sampai tidak sadar aku datang."Suara bernada dingin itu menginterupsi keheningan ruang kerja utama Hamilton Corp. Aurelia berdiri tegap di ambang pintu yang sengaja tidak ia ketuk terlebih dahulu.Dua sosok di dalam ruangan itu seketika menoleh. Mora, wanita berpenampilan glamor itu, sedang membungkuk terlampau rendah di samping kursi kerja Caleb. Gaun kerjanya bercelah rendah, memamerkan bagian atas dadanya tepat di samping bahu tegap sang direktur utama. Jarak di antara keduanya teramat dekat, seolah tidak ada batasan profesionalisme di sana.Melihat pemandangan itu, dada Aurelia terasa terbakar seketika. Hawa panas meluap hingga ke lehernya.Senyum hangat langsung mengembang di wajah Caleb begitu iris matanya menangkap sosok Aurelia. Pria itu menyapu bersih aura dingin yang melekat padanya, buru-buru berdiri mengabaikan berkas di mejanya."Kau datang?!" Caleb melangkah cepat menyambut Aurelia, melingkarkan kedua lengan kokohnya untuk memeluk tubuh sang is
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: Bukan Malam Pertama"Apa kau hanya penasaran dengan rambutku, Al?" Aland tersenyum dengan mimik wajah nakal. "Terlalu munafik jika aku mengatakan tidak." Sofia tertawa singkat. "Maaf, kau harus kecewa. Aku tidak akan menanggalkan jilbabku hanya demi memuaskan rasa penasarannya." Aland mendengus, tapi tidak berkomentar apa pun. Sofia pun segera membantunya menanggalkan pakaiannya. Aland hanya diam saat Sofia melakukan tugasnya. Melepaskan dasi, membuka kancing jas. Sofia berhenti sejenak saat tangannya harus membuka kancing kemeja itu satu persatu. Aland melihat keraguan di matanya. Pria itu seketika terkekeh. Kekehan sinis, bukan geli. Sofia mengangkat pandangannya. "Apa?" "Kau tidak sedang merayu, bukan?" Hidung Sofia mengerut sejenak. "Merayu?" "Kau bertingkah seperti gadis lugu begitu ingin membuka kancing bajuku." Sofia melongo, detik berikutnya dia tertawa. "Astaga, apa sangat terlihat sekali. Hais, aku sedang berusaha dan kau malah merusaknya." Sofia memasang wajah pura-pura kesa
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: 22. SAH"Kau terlihat sangat menawan." Zoe bersiul memuji ketampanan Aland yang ternyata tidak memudar sama sekali meski tidak terawat selama bertahun-tahun. Yah, kalau dari awal setelan pabriknya sudah oke, pasti akan tetap oke. "Kupikir setelan tuxedo ini tidak cocok untukmu." Aland tampil begitu memukau dengan tuxedo warna putih pilihan Zoe. Setiap detail pakaian tersebut menunjukkan keanggunan dan ketampanannya. Tuxedo putih tersebut sangat pas dengan tubuhnya yang tinggi, beruntung bobot tubuhnya sudah mulai bertambah.Kemeja putih yang dikenakannya melengkapi tuxedo dengan sangat sempurna, menciptakan kontras yang elegan. Dasinya ditenun dengan rapi, memberikan sentuhan klasik pada penampilannya. Lengkungan kerah tuxedo yang dipadukan dengan dasi hitam membuatnya terlihat sangat berkelas. Aland juga memilih sepatu kulit hitam yang mengkilap dan sesuai dengan tuxedo putihnya. Semua elemen penampilannya saling melengkapi, menciptakan citra seorang pria yang sangat rupawan dan berwibawa p
Last Updated: 2023-11-01
Chapter: 21. Tidak Ada Batasan"Apa kau berencana untuk hidup selamanya denganku?" Pertanyaan Aland mengandung sarkasme. Sofia tertegun mendengar pertanyaan tidak terduga itu. Sejujurnya dia juga tidak tahu bagaimana konsep pernikahan dadakan ini. Namanya pernikahan tentu hanya sekali seumur hidup. Setidaknya begitu lah Sofia memaknainya. Namun, beberapa perkataan Aland yang seolah sengaja ingin mencecarnya, menunjukkan bahwa Aland tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali."Pastinya kau akan pergi meninggalkanku begitu kau berhasil mencapai tujuanmu, bukan?""Kenapa kau harus menduga-duga sampai sejauh itu.""Itu bukan dugaan. Tapi kenyataan. Hanya wanita gila yang mau menikah dengan pria lumpuh impoten. Dan jelas kau bukan wanita gila.""Bisa tidak kau tidak bicara terlalu sinis.""Wuaaahh, wanita alim penuh nurani rupanya merasa tersinggung."Sofia mengembuskan napas jengah. Aland pria keras kepala, tidak akan ada habisnya sindiran pedas yang dilayangkan pria itu padanya jika ia terus meladeninya. Tapi, j
Last Updated: 2023-10-21
Chapter: 20. Kami Akan Menikah"Mulai!" Zoe memberikan aba-aba.Baik Sofia atau pun Aland tidak memperlihatkan gerakan menyentak, tetapi tubuh mereka tiba-tiba tegang dan saling menggenggam dengan erat."Kamu ingat taruhannya?" Sofia mempertahankan ekspresi wajahnya tetap terlihat tenang. Tidak mempertontonkan pada Aland betapa keras usaha yang ia kerahkan untuk tetap mempertahankan pergelangan tangannya tetap lurus.Aland tidak merespon. Pria itu lebih memilih fokus pada pertarungan daripada perjanjian sepihak yang dicetuskan oleh Sofia. Andai Maurin tidak meragukannya, Aland tidak akan merespon ide konyol wanita yang bertarung dengannya ini. Astaga, ia tidak tahu apa ia harus terkejut atau tertawa. Menikah karena kalah tarung panco, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Aku tahu kau ingat dengan kesepakatannya." Sofia kembali berkata. "Tapi aku akan mengingatkanmu sekali lagi. Jika aku menang, kita akan menikah." Sofia tidak menambahkan kemungkinan jika dia kalah, karena dia sangat yakin bahwa kemenangan a
Last Updated: 2023-10-15
Chapter: 19. Aku Siap!"Bagaimana kalau kita adu panco?"Aland kira ide menikah dengan Sofia lah yang paling menggelikan, tidak tahunya cara menerima usulan ide tersebut lah yang paling tidak masuk akal hingga berhasil membuatnya ingin marah juga tertawa dalam saat bersamaan. Bagaimana bisa adu panco dijadikan acuan untuk sebuah pernikahan. "Bagaimana, apa jawabanmu?" Desak Sofia yang terlihat seolah ia memang ingin menjadi nyonya Amstrong. Aland berani mempertaruhkan apa pun bahwa Sofia sama sekali tidak tertarik padanya. Aland mendongak, matanya menyipit memandangi tubuh ramping di balik baju yang begitu longgar. Lalu, tatapan Aland jatuh pada tangan femininnya yang lentur. Tatapan Aland kembali naik ke atas. Ke wajah Sofia yang minim akan polesan. Bahkan bibir Sofia sedikit pucat, pertanda gadis itu tidak mengenakan kosmetik sama sekali."Kau sungguh ingin menikah denganku?" Aland hanya bertanya basa basi. "Ya, jika aku menang."Dan Sofia yakin ia akan menang 100 persen. Dalam keadaan normal, jika pri
Last Updated: 2023-10-13
Chapter: 18. KesepakatanAland berbaring hanya mengenakan celena pendek ketat berwarna hitam. Sementara Abel mulai memberikan pijatan ditubuhnya. Pijatan Abel mungkin tidak semenyiksa pijatan Sofia, tapi Aland benar-benar tidak nyaman dengan sentuhan wanita itu. "Pijat lah di titik yang seperlunya saja," ucapnya dengan dingin meski ia sendiri tidak yakin apa memang ada titik-titik tertentu.Abel tertawa renyah, tidak ambil hati dengan ucapan dingin yang dilontarkan Aland. "Aku lah terapisnya, Aland. Kau tinggal menikmati, maksudku tinggal menunggu hasil." Pijatan Abel naik ke betis, terus maju ke paha bagian dalam, tangannya terus saja bergerak, bukannya memberi pijatan tapi wanita itu justru dengan sengaja berusaha untuk merangsangnya. Aland merasa mual dan jijik, belum lagi tatapan Abel yang fokus pada organ bagian intimnya. Celana renang super ketat yang ia kenakan tentulah akan dengan mudah mempertontonkan reaksi atas sentuhan Abel. Organ intimnya tetap saja tidur dengan nyaman, tidak memberikan reaksi
Last Updated: 2023-10-10
Chapter: Happy Ending"Wueekk!" Emily memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pucat pasi, seakan menahan sakit yang luar biasa.Ellard pun terbangun begitu mendengar Emily muntah. Dengan sigap ia berlari ke dalam toilet."Kau baik-baik saja?" tanya Ellard penuh khawtir. "Wajahmu pucat. Apa kau memakan sesuatu yang salah?"Emily mengernyit, menatap bingung ke arah Ellard melalui cermin besar yang ada di hadapannya."Aku suamimu, kita sudah menikah beberapa tahun," jelas Ellard sebelum Emily sempat bertanya."Aku merasa mual," adu Emily dengan wajah meringis menahan sakit."Akan kupanggil Morin untuk memeriksa," Ellard pun menuntun Emily ke luar dari dalam toilet. Ia juga membantu Emily untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu mengambil ponse untuk menghubungi saudarinya -Morin."Emily mual dan muntah. Tolong kau periksa dia," ucap Ellard to the point begitu panggilannya terhubung. "Sekarang juga!" imbuhnya penuh tekanan."M
Last Updated: 2021-07-29
Chapter: Aku Adalah SuamimuEmily melihat jam tangannya. Pukul 16.01. Belum waktunya pulang jam kantor tapi Ellard sudah berada di kamar mereka."Kau pulang cepat hari ini?" Emily berjalan mendekat ke arahnya.Ellard mengangguk sambil tersenyum. "Mulai hari ini aku akan bekerja dari rumah," menarik Emily agar duduk di atas pangkuannya."Kenapa?""Perusahaan membosankan. Kau juga selalu ingkar janji. Tidak pernah datang tepat waktu," Ellard mengecup tengkuk Emily.Emily hanya diam karena tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa."Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Emily mengalihkan topik."Aku sedang mencari fotoku yang paling keren," sahut Ellard sembari menunjukkan layar laptopnya."Untuk apa?" tanya Emily dan mulai memperhatikan satu persatu foto Ellard."Aku akan memajangnya di kamar kita. Di setiap sudut ruangan." Ellard menatapnya teduh. Kembali perasaan berkecamuk menghampirinya. Pembicaraan Emily dan Frans kini terdengar jelas di telingan
Last Updated: 2021-07-29
Chapter: Alzheimer"Aku akan datang membawakan makan siang untuk kita," Emily berjinjit dan mendaratkan satu kecupan hangat di pipi kanan Ellard."Aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu. Segera angkat teleponku jika aku menghubungimu," Ellard mengusap lembut kepala Emily.Sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan Emily disaat benaknya menyisakan banyak tanya yang menuntut jawaban ada apa gerangan yang terjadi dengan istrinya.Kejanggalan-kejanggalan sikap Emily sangat mengusiknya. Jika mengikuti kata hatinya, ingin rasanya ia membawa Emily ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.Ellard sebenarnya sudah memiliki dugaan-dugaan atas apa sebenarnya yang sedang dialami Emily. Apa pun itu sesungguhnya ia tidak peduli. Hanya saja yang ia khawatirkan hal itu bisa melukai dan menyakiti Emily. Sungguh ia tidak akan sanggup lagi untuk melihat Emily terluka. Untuk itu lah ia juga menahan diri agar tidak bertanya secara terang-terangan kepada Emil
Last Updated: 2021-07-27
Chapter: Kau Mahkotaku"Argghhhhh!!" teriakan Emily sontak saja membuat Ellard terbangun dari tidur nyenyaknya."Ada apa, sayang?" Ellard menatap Emily khawatir. Apa gerangan yang membuat Emily histeris di pagi hari. Ya, Ellard melirikkan mata ke arah nakas dan melihat jam weker yang menunjukkan jam 05.30."Apa kau mengalami mimpi buruk?" mengulurkan tangan berniat untuk memeluk dan menenangkan Emily.Plak!Emily dengan kasar menepis tangan Ellard dan baru lah pria itu menyadari cara Emily menatapnya begitu berbeda. Seperti orang asing yang takut melihat keberadaannya."Emily?" panggil Ellard penuh hati-hati, tapi jangan tanya jantungnya yang memompa, berpacu lebih cepat. Ke mana tatapan teduh yang selalu Emily tunjukkan padanya selama ini. Apakah Emily mulai berubah fikiran. Pertanyaan demi pertanyaan menyerang batinnya, membuat perasaannya semakin tidak menentu."SIAPA KAU?! KENAPA KAU ADA DI KAMARKU?!"Butuh beberapa d
Last Updated: 2021-07-27
Chapter: Ada Yang Salah“Selamat datang!” Emily merentangkan kedua tangannya menyambut kepulangan Ellard.Mendapat sambutan ceria dari Emily, Ellard mengulum senyumnya. Segera meletakkan tas kerjanya, Ellard pun membawa Emily ke dalam pelukannya. “Kau sangi sekali,” bisik Ellard dengan nada menggoda.“Aku sengaja melakukannya untuk membuatmu senang. Apa kau terhibur? Aku berdandan untukmu,” seru Emily dengan wajah merona.Perasaan Ellard dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran. Tadinya ia menolaj untuk bekerja dalam waktu dekat. Namun Emily terus saja membujuknya, dengan syarat akan sering mengunjungninya ke kantor. Baru hari pertama bekerja, Emily sudah mengingkari janjinya. Ellard menantikan kedatanganya namun istrinya tak kunjung datang. Ia uring-uringan tidak jelas. Mencoba menghubungi telepon rumah, namun istrinya tidak berada di sana membuatnya semakin galau.Namun begitu melihat sambutan Emily yang manis, kegalau
Last Updated: 2021-07-21
Chapter: Aku Takut Melupakannya“Apakah kita akan tinggal di sini?” tanya Ellard begitu mereka kembali ke dalam kamar. Ellard masih merasa tidak nyaman jika berlama-lama duduk bersama Rebcca. Beruntung Morin dan Jovan ada jadwal operasi sehingga mereka segera pergi setelah sarapan.“Apa kau keberatan?” Emily yang merapikan tempat tidur menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Ellard yang duduk manis di sofa seraya memperhatikannya.“Aku tidak keberatan, hanya saja kita juga memiliki rumah,” Ellard beralasan. Faktanya ia memang tidak menyukai harus tinggal di dalam satu atap bersama Rebecca.“Rumahnya sudah kujual,” cicit Emily dengan wajah memelas.Ellard mengerjap, mencoba mencerna kalimat yang baru saja dicetuskan oleh Emily.“Apa kau mengatakan bahwa kau sudah menjual rumah kita, sayang?”Emily menganggukkan kepala, “Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku kesepian. Rumah itu selalu
Last Updated: 2021-07-21