Chapter: Bab 5 Gairah Di Atas RanjangMalam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Bab 4 Kebenaran Yang DirahasiakanKepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memutar tubuhnya untuk menghadap pada pemilik suara tadi. “Kau mengagetkanku, Tuan Ken ... zo. Hmm, namamu Tuan Kenzo, kan, kalau tidak salah?”Gadis itu membiarkan punggungnya bersandar pada dinding dekat pintu ruang kerja Xavier yang sedikit terbuka.Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, lalu menatap Kenzo dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. “Aku ada di sini hanya untuk memastikan kalau pemilikku saat ini dalam keadaan baik dan penuh semangat ... tapi sepertinya dia sedang sibuk.”Mata gadis itu mengunci pandangan Kenzo. Ia sangat tahu betul kalau pria yang saat ini ada di hadapannya bukan hanya sekedar asisten pribadi saja, melainkan ia pun adalah mata dan telinga bagi X
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Bab 3 Topeng KepalsuanSemburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang dingin dan mungkin mulai belajar untuk kejam.Ia berusaha untuk berdiri dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat kurang tidur.Di depan cermin besar di pojok kamar, Aura berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat. Luka di hatinya tidak mungkin bisa hilang hanya dalam satu malam saja. Ia akan membungkusnya dengan sutra yang terlihat cantik di pandang mata.“Selamat datang di neraka yang baru, Aura,” gumamnya dengan dibarengi seringaian devil yang menakutkan.Ia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar pribadinya, lalu membiarkan air hangat membasuh debu penolak
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Bab 2 Sangkar Emas Sang PenguasaMansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangunan itu di dominasi oleh kaca yang gelap dan beton ekspos. Di kelilingi oleh hutan pinus, yang seolah membentengi rahasia di dalamnya dari dunia luar yang penuh dengan kemunafikan.Mobil terhenti tepat di depan lobi utama yang diterangi oleh cahaya lampu yang temaram. Aura turun dengan langkah kaki yang gontai. Kakinya yang beralas sepatu pantofel tipis terasa gemetar saat menyentuh lantai granit yang dingin. Hujan telah mereda, menyisakan rasa dingin yang seakan menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat Aura memeluk dirinya sendiri.“Ikut aku,” perintah Xavier singkat dan acuh. Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dijaga oleh barisan pria dan wanita yang berpakaian serba hitam, denga
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Hancurnya Harga DiriMalam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yang melilit dan menyesakkan napasnya.Di depannya, duduk seorang pria berwajah arrogant yang namanya bahkan tidak ada yang berani menyebut secara lantang. Xavier Valerius.Pria itu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya, mengenakan setelan jas custom made berwarna hitam gelap. Matanya tajam, dengan tatapan sedalam palung laut dan memancarkan aura predator yang membuat suhu di ruangan itu terasa seperti kekurangan oksigen.Di atas meja jati di hadapannya tergeletak sebuah map dokumen, dan sebuah cek dengan sepuluh angka nol yang tertulis nyata. Ya, angka senilai sepuluh miliar.“Tandatangani sekarang juga, Bramasta!” Suara Xavier rendah, namun memiliki otoritas yang mutlak.Bramasta Wijaya, p
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19