Chapter: Bab 5 Penipu"Silahkan duduk." Om Indra menuntun Pak Andre dan kliennya, Pak Toni, ke salah satu meja kafe yang tak terlalu ramai. Selang beberapa menit, Sulis masuk mengenakan jaket besar dan tebal milik ayahnya yang tertinggal di kursi belakang mobil. Penutup kepala dan masker menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia berjalan menunduk dan duduk di meja kosong di sebelah ayah dan omnya. Sulis mengambil ponselnya, jarinya begitu sibuk mengutak-atik layar. Pak Andre menangkap sosok yang memakai jaket di sebrang mejanya. Matanya menyipit seolah memperhatikan detail yang ia kenal ada di pakaian itu. Namun Pak Andre tak ambil pusing. Ia mengangkat tangan kepada waiters dan memesan minuman untuk kedua rekannya. Map tebal terbuka di atas meja, memperlihatkan gambar perumahan yang sempurna. Pak Toni duduk bersandar dengan senyum tipis di wajahnya. "Jadi begini, Pak Andre ... sebenarnya sudah lama saya punya lahan ini, lokasinya strategis dan di sekitarnya juga ramai. Cuma baru bisa saya kembangkan sek
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Bab 4 Harus masukSulis menutup buku diarinya. Ia meregangkan badan yang kaku karena terlalu lama duduk dan menulis. "Ternyata banyak juga yang harus dilakuin." Ia bersandar ke kursi, menatap langit-langit rumah dengan tatapan penuh harap. "Takdirku bisa berubah nggak yah?"Cukup lama Sulis termenung, hingga akhirnya dia duduk tegak dan mulai membaca rencana pertama. "Nggak, pasti berubah. Aku bakal mulai sama rencana yang pertama dulu, cegah ayah biar nggak ketemu sama Om Indra di tukang sate." ujarnya yakin.***Jalanan pagi itu dipenuhi kendaraan yang bergerak tertib, Sulis memandangi dunia dari balik jendela. Kosong. Sementara pikirannya berkelana ke mana-mana. Pak Andre sesekali melirik dari belakang kemudi, "Ada yang kamu pikirin, Lis?" Sulis terperanjat kaget, ia menoleh dan melempar senyum lebar, "Nggak, Yah. Cuma kepikiran skripsi." "Hmm ..." Pak Andre mengangguk. "Tumben kamu mau ikut Ayah, biasanya kamu main sama temen-temen kamu." Sulis menatap jalanan di depannya, ingatan tentang teman
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Bab 3 RencanaSetelah beberapa saat Sulis terdiam, ponselnya bergetar, bertanda pesan masuk. Nama Rohmat terpampang jelas tepat di depan layar. "Gimana Lis? Kamu jadi dijodohin hari ini?" isi chat dari orang yang paling ingin Sulis hindari. Sulis mengernyit. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil menghela napas panjang, "Lagi pusing-pusingnya malah dapet chat dari orang kayak dia." Sulis menopang dagunya dengan tangan dan siku bertumpu di pahanya, "Gimana caranya biar aku bisa putus sama Rohmat dan juga nggak dijodohin?" Suara detik jam dinding terasa memekakan telinga, Bu Mira dan Pak Andre tengah sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu saat Sulis masih termenung. Pikirannya terus bergelut dengan waktu, sampai akhirnya ia bangkit dari duduknya. "Oke! Begitu aja!" ucapnya dengan bersemangat. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai keluarga Pak Joshua sampai di depan rumah Sulis. "Bu, anakmu mana?" tanya Pak Andre yang belum melihat Sulis dari pagi. "La
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Bab 2 Aku... kembali?"Gue berharap... gue bukan anak lo." Suara Ridwan pelan dan dalam, namun terasa lebih menohok dan menyakitkan dari suara tinggi Rohmat. Ridwan berlalu pergi, meninggalkan Sulis yang masih membeku, tak tahu harus bereaksi apa. Air mata Sulis jatuh tanpa diminta.Ridwan membanting pintu dengan keras.BRAK!Sulis terperanjat kaget, ia tersadar dari lamunannya. Sunyi. Tatapan Sulis mendadak kosong. "A-anakku..." Tanpa sadar, ia bersandar ke dinding. Lututnya terasa lemas hingga membuat tubuhnya merosot perlahan ke lantai. Tangannya gemetar hebat. Dan tak lama, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Tubuhnya meringkuk. Bukan karena sakit fisik, tapi sesak di dada akibat luka yang tak terlihat. Isakannya terdengar lirih, begitu menyayat hati. Anak yang dulu ia sayangi sepenuh hati, kini berubah membencinya. Bahkan tak mengharapkan kehadirannya. *** Langit malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Tidak ada sinar bulan, hanya kepulan awan hitam. Sinar kilat menyambar, menyibak kege
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 1 Tak dianggapPRANG! Pecahan gelas terlempar kemana-mana. Sulis refleks menutup mata dan telinganya dengan kuat. Tubuhnya gemetar dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Pecahan beling kecil terpental ke kakinya, meninggalkan goresan yang lumayan dalam di kulit. Erangannya ia tahan, ia tahu apa yang akan terjadi jika suaranya terdengar ke luar rumah. Udara di ruangan itu terasa menekan dada Sulis. Rohmat, suaminya, berdiri dengan tangan mengepal. Dadanya naik turun. Rahangnya mengeras setelah melempar gelas yang berisi kopi ke lantai. "Otak lo kemana? Itu kopi rasanya asin!" teriak Rohmat. "M-maaf, Mas. Saya salah ambil toples..." Napas Sulis tercekat, ia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan bicaranya. "...lagian saya belum tidur Mas, jadi mata saya berkunang-kunang." Rohmat mengangkat tangannya tinggi-tinggi. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Sulis. Saking kerasnya, Sulis sampai terjatuh ke lantai. "Alesan aja lo, sialan. Istri nggak berguna!" Rohmat meraih kerudung Su
Last Updated: 2026-04-22