LOGINAnin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge
"Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me
Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas
Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p
Nabas menyusuri jalan setapak berkerikil menuju sebuah bangunan kafe berkonsep industrial-minimalis yang terletak persis di seberang gerbang samping kampus. Suara musik indie ber-aliran pop-akustik terdengar halus dari pengeras suara luar kafe. Di sudut area teras terbuka, dua sosok yang sangat familiar baginya sedang duduk di meja kayu panjang dikelilingi draf kertas kalkir dan laptop yang menyala. Dean dan Kea. "Panjang umur lo, Bas!" seru Dean begitu mendapati figur tegap Nabas melangkah mendekati meja mereka. Dean—pemuda berambut ikal dengan kaus oblong hitam bercak cat kayu—menepuk kursi kosong di sampingnya. "Gue kira lo diculik sama klien proyek interior lo dari pagi." Nabas menyeringai tipis, menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu. "Sembarangan lo. Urusan proyek luar harus kelar tepat waktu, biar pundi-pundi rupiah tetap mengalir deras." Kea langsung menyodorkan tumpukan kertas modul kalkulus ke hadapan Nabas dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat. "Alasan lo proyek mulu, B
Nabas melangkah turun dari taksi, membetulkan letak ransel hitam di bahunya, lalu merapatkan jaket menghalau hawa dingin malam yang menyengat kulit. Sebelum menuju pintu utama, ia mengamati sekeliling selasar jalan. Matanya menyapu sudut-sudut gelap parkiran, deretan pohon mangga di seberang rumah, hingga memastikan tidak ada mobil sedan milik Zaki atau orang-orang suruhannya yang mengintai. Setelah merasa benar-benar aman, Nabas menekan tombol bel dan memasukkan kode sandi pintu yang sudah diperbarui. Pintu kayu tebal berukir itu bergeser terbuka dari dalam. Anin berdiri di sana dalam balutan piyama sutra berlengan panjang berwarna merah marun. Kacamata berbingkai tipis masih terpasang ramping di wajahnya, sementara rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas dengan jepit rambut plastik, memperlihatkan tengkuk mulusnya yang terbuka. "Kamu sudah sampai, Yo...," bisik Anin pelan, melangkah mundur sedikit memberi ruang bagi Nabas untuk masuk. Nabas melangkah melintasi ambang pintu,







