Chapter: Hadiah Beracun dan Awal dari Mimpi BurukPerjalanan pulang ke Villa Lilithana terasa seperti evakuasi sirkus yang gagal. Xayyan, yang masih setengah sadar karena pesona "bando kelinci" Vanya, duduk di kursi penumpang sambil memeluk boneka beruang berukuran jumbo yang dimenangkan Callista. Ia memandangi boneka itu seolah-olah itu adalah wajah Vanya."Zey, menurutmu kalau aku memberinya boneka ini, dia akan langsung melamarku tidak?" tanya Xayyan dengan mata berbinar.Zeyana, yang sedang sibuk menghapus video Xayyan yang sedang menari balet tadi siang, memutar bola matanya hingga nyaris terlepas. "Xay, Vanya itu bahkan tidak tahu kau punya nama atau tidak. Dia cuma tahu kau adalah 'ATM berjalan dengan pomade berlebih.' Tolong, jangan buat aku muntah di mobil mewah ini."Callista, yang duduk di kursi depan, hanya bisa menatap jalanan yang melesat. "Sudahlah, Zey. Biarkan dia bermimpi. Lagipula, kalau dia menikah dengan Vanya, setidaknya aku punya alasan untuk tidak pernah mengundang mereka makan malam di sini. Win-win solution.
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Predator dalam BayanganDi area restoran fine dining yang suasananya lebih mirip perpustakaan karena saking tenangnya, Rayden duduk dengan punggung tegak layaknya seorang diktator yang sedang menunggu laporan invasi. Di depannya, Arsenia sedang sibuk mengomel tentang ketidaktersediaan taplak meja sutra asli di restoran tersebut. Seharusnya ini adalah momen "romantis," namun pikiran Rayden melayang jauh ke lantai tiga mall, tepat ke titik koordinat GPS yang terus berkedip di layar ponselnya. Ia telah memasang pelacak magnetik super kecil di bagian dalam tas Callista pagi tadi, sebuah teknologi yang biasanya digunakan agen intelijen untuk melacak musuh negara, namun kini ia gunakan hanya untuk mengintai mantan tunangannya yang sedang asyik bermain arcade."Ray, lihat deh, pelayannya lama sekali. Apa mereka tidak tahu siapa kita? Aku sudah menunggu sepuluh menit dan air mineralnya bahkan belum datang!" Arsenia terus mengeluh, nadanya melengking seperti rem mobil yang aus. "Apa kau tidak bisa menelepon manajerny
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Mesin Pencapit dan Harga OtakPuncak dari segala ketololan yang terjadi hari itu—sebuah momen yang akan dicatat dalam buku sejarah keluarga Lilithana sebagai "Hari di Mana Logika Mengundurkan Diri"—terjadi di area arcade. Area itu penuh dengan bunyi gemerincing koin, musik elektronik yang berdentum, dan jeritan frustrasi para pemain. Namun, di antara semua itu, ada satu pusat perhatian yang menyedot energi seluruh ruangan: mesin pencapit boneka beruang raksasa berwarna pink yang terlihat lebih sombong daripada pemiliknya.Vanya berdiri di depan mesin itu, menatap boneka beruang tersebut dengan tatapan yang seolah-olah boneka itu adalah satu-satunya harapan hidupnya. Ia mulai merengek, nada suaranya dicemprengkan hingga mencapai frekuensi yang sanggup memecahkan kaca jendela toko di seberang mall."Duh... bonekanya lucu banget... tapi aku kan nggak punya tenaga buat gerakin tuasnya... aku kan cuma gadis kecil yang lemah..." Vanya menutup wajahnya dengan tangan, bahunya terguncang hebat. "Jepitannya terlalu kuat bua
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Eskalator Maut dan Pahlawan KesianganDrama dimulai di eskalator Grand Astoria Mall, tepat di depan toko peralatan rumah tangga yang entah kenapa terasa menjadi saksi bisu dari komedi paling absurd abad ini. Vanya berdiri di depan mesin penanjak otomatis itu, menutup mulut dengan tangan kecilnya, mengeluarkan suara cicitan yang begitu melengking dan bernada tinggi—sejenis frekuensi yang hanya bisa didengar oleh anjing, kucing, dan orang-orang yang telinganya sudah mati rasa karena terlalu sering melihat sandiwara."Duh... eskalatornya bergerak cepat sekali... aku takut terjepit... gimana ini?" rintih Vanya, suaranya gemetar seperti daun yang ditiup angin topan. "Aku kan kecil banget, nanti kalau aku terhisap ke dalam mesinnya gimana? Aku tidak mau jadi bagian dari gir eskalator!"Pengunjung lain yang sedang antre di belakangnya hanya bisa melongo. Eskalator itu bergerak dengan kecepatan standar mall pada umumnya—kecepatan yang bahkan siput yang sedang berolahraga pun bisa mengejarnya. Namun, bagi Vanya, mesin itu adalah m
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Tragedi Bando Kelinci dan Misi Penyelamatan Botol AirPagi yang cerah di Grand Astoria Mall seharusnya menjadi zona bebas stres bagi keluarga Lilithana dan Ardianto. Bayangkan sebuah mall mewah dengan lantai marmer yang mengilap, toko-toko desainer yang harganya sanggup membuat jantung berhenti berdetak, dan aroma kopi mahal yang menyerbak. Setelah drama kepindahan Rayden dan Arsenia yang legendaris, villa terasa begitu lengang—terlalu lengang hingga Xayyan, si pembuat onar kelas kakap yang energi kinetiknya sanggup menggerakkan turbin pembangkit listrik, merasa jiwanya sekarat karena kekurangan bahan untuk dijahili. Keputusan pun bulat: mereka akan menyerbu mal untuk "cuci mata," sebuah euphemisme halus untuk "mencari keributan di tempat umum dengan gaya yang elegan."Callista memimpin barisan dengan gaya boss babe yang mutlak. Mengenakan setelan jas kasual berwarna putih tulang, kacamata hitam desainer, dan sepatu kets putih yang bersihnya melampaui moralitas politisi, ia tampak seperti arsitek jenius yang sedang memantau proyek gedung
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Predator di Taman BelakangMalam itu, Villa Lilithana terasa lebih hidup daripada biasanya. Setelah drama "Pita Jeruk" dan "Sari Nipis" yang legendaris, Callista memutuskan untuk merayakan kemerdekaannya dengan gaya yang sangat tidak anggun: memesan sepuluh loyang pizza ekstra keju dan mengadakan pesta dansa konyol bersama adik-adiknya.Di ruang tamu, Xayyan baru saja kalah taruhan dalam permainan kartu "siapa yang paling bodoh". Sebagai hukumannya, ia dipaksa menari balet menggunakan daster bunga-bunga milik pelayan, lengkap dengan iringan lagu dangdut koplo yang diputar lewat speaker besar. Di tangannya, ia memegang irisan jeruk nipis yang harus ia makan setiap kali ia melakukan gerakan "pirouette" yang gagal."Ayo Xay! Lebih meliuk lagi! Jangan seperti patung beton yang sedang kejang!" teriak Callista sambil tertawa sampai perutnya kram, sementara Rayyan merekam kejadian memalukan itu dengan ponselnya.Namun, di tengah hiruk-pikuk tawa dan musik yang memekakkan telinga, insting predator Callista mendadak ber
Last Updated: 2026-06-21