FAZER LOGINShen jin Xiuying, adalah seorang dokter dari abad ke-21 yang ahli dalam pengobatan serta menciptakan ramuan untuk mengobati berbagai penyakit. Dia mengalami kecelakaan saat dia akan menemui ibunya yang tengah menunggu dirinya di sebuah cafe. Dia pun dinyatakan koma oleh dokter. Tanpa disangka, arwah Shen jin Xiuying melakukan perjalan waktu dan masuk ke tubuh seorang Putri yang merupakan anak seorang selir dari kerajaan Ruyi. Yi XiuYing dan ibunya selalu mendapatkan perlakukan tidak adil dari saudara dan para selir kaisar Ruyi yang lainnya hanya karena nyonya Yi dulunya seorang pelayan. Segala tipu muslihat dilakukannya oleh mereka untuk menyingkirkan Yi Xiuying. Kehidupan Shen jin Xiuying, berubah 180° ketika kekaisaran Bai Li Yuan mengirimkan undangan perjamuan untuk mencari seorang selir dari kalangan manusia. Kerajaan Bai Li Yuan adalah kerajaan yang sangat besar dan terkenal akan kekuatannya. Namun, tidak ada yang tahu di mana letak kerajaan tersebut karena kaisar sendiri membuat pembatas gaib. Demi kejayaan kerajaan Ruyi, kaisar memutuskan untuk menjalin hubungan dengan melakukan pernikahan putrinya dengan kaisar tersebut. Tidak sangka kalau para putri-putrinya dari selir yang disayanginya malah menolak permintaan sang raja. Sang selir malah mengusulkan untuk melimpahkan pernikahan tersebut kepada Shen jin. Nyonya Yi tidak setuju jika Putrinya menjadi istri dari kaisar Bai Li Yuan yang sudah memiliki banyak selir dan juga terkenal akan dengan kekejamannya. Shen jin diam terpaku. Dia pun mengingat akan ibunya Wu Ruonan yang selalu menyuruhnya untuk mencari seorang suami. "Apakah ini karma untuk diriku yang selalu membantahmu? Ibu maaf kan aku. Aku ingin kembali, aku tidak mau disini," batinnya. Karena tidak tega melihat nyonya Yi yang selalu ditindas oleh selir dan Putri yang lainnya, dengan tekadnya Shen jin pun menerima pernikahan itu. Sebelumnya, dia memberikan syarat pada raja Ruyi agar nyonya Yi mendapat perlakuan adil seperti istri yang lainnya dan raja Ruyi pun menyetujui persyaratan Shen jin.
Ver maisLangkah kaki Tian Ming dan Xiu Jie terdengar pelan namun mantap saat mereka memasuki bangunan mewah di jantung kota. Pilar-pilar tinggi menjulang, lampu gantung berkilau di langit-langit, dan aroma dupa halus menyambut mereka begitu pintu utama terbuka.Di lantai dua, tersembunyi di balik tirai tipis, seorang wanita cantik berdiri diam. Matanya tajam mengamati dua pria yang baru saja masuk. Wajahnya muram, seperti menyimpan badai yang siap meledak kapan saja."Sepertinya, wanita itu yang dikatakan oleh mata-mataku," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar menahan emosi. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.Di lantai bawah, seorang prajurit berpakaian biasa menghampiri Tian Ming dan Xiu Jie. Ia menunduk hormat, menunggu perintah."Beritahu Selir Xiyue, kami berdua ingin bertemu dengannya," ucap Tian Ming tenang, namun tegas.Prajurit itu mengangguk cepat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju lorong di sisi kanan ruangan.Sementara itu, di balik
Langkah kaki Xiu Jie terdengar ringan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Begitu pintu kayu itu terbuka, ia menoleh ke belakang, menatap Tian Ming yang mengikutinya sejak dari aula utama."Ada apa kau mengajakku kemari?" tanyanya datar, sembari menutup pintu perlahan.Tian Ming berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Tatapannya tidak setegas biasanya. "Aku ingin mengajakmu untuk menjemput Selir Xiyue," ucapnya akhirnya.Namun, Xiu Jie menangkap sesuatu yang janggal dari raut wajah sang jenderal. Ada kegelisahan yang tak biasa."Tapi... aku takut Selir Xiyue tidak mau ikut kita ke istana," lanjut Tian Ming, suaranya nyaris seperti bisikan.Xiu Jie mengangkat alis, lalu berjalan santai ke meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah apel merah, mengelapnya sekilas dengan lengan bajunya, lalu duduk di atas tempat tidur."Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanyanya sambil menggigit apel. "Memangnya Selir Xiyue memberikan perintah khusus padamu?"Tian Ming menghela napas, lalu
Ye Jinjing berdiri terpaku, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Jenderal Tian Ming barusan membuat hatinya seperti disiram bara. Matanya menatap tajam ke arah pria itu, tapi Tian Ming tak menoleh sedikit pun.“Xiu Jie, ikut denganku,” perintah Tian Ming, suaranya tegas dan tak memberi ruang untuk dibantah.“Ah… iya, Jenderal!” sahut Xiu Jie tergagap. Ia buru-buru meletakkan cangkir teh yang masih hangat ke atas meja batu, lalu berlari kecil menyusul Tian Ming yang sudah lebih dulu melangkah keluar.Sebelum benar-benar pergi, Xiu Jie sempat menoleh ke arah Ye Jinjing. Ia menyeringai nakal, lalu menjulurkan lidah singkat, seolah mengejek. Ye Jinjing mendengus kesal. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang mendidih. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, lalu menghentakkan kakinya ke lantai.“Dasar menyebalkan!” gumamnya dengan suara rendah namun tajam. “Awas saja kau, Xiu Jie. Kalau rencanaku berhasil… kau akan ku usir dari rumah ini tanpa membawa ampun.”****Seme
Di ruang kerja istana utama, Raja Mamba duduk diam. Wajahnya muram, tatapannya kosong menembus jendela. Pikirannya melayang entah ke mana, hingga suara ketukan pintu mendadak membuyarkan lamunannya.Ia menghela napas panjang, lalu berseru dengan nada malas, "Masuklah."Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berseragam jenderal melangkah masuk dan memberi hormat dalam-dalam."Lapor, Yang Mulia," ucap Jenderal Tian Ming dengan suara tegas namun hati-hati. "Rombongan kereta kuda Selir Xiyue telah tiba di kota Bai Li Yuan. Selir Xiyue...," ia terdiam sejenak, menimbang kata-kata.Raja Mamba menoleh perlahan, suaranya dingin. "Lanjutkan."Tian Ming menunduk sedikit, lalu berkata, "Selir Xiyue menitip pesan... Ia meminta agar Yang Mulia menjemputnya sendiri di penginapan."Hening sejenak. Lalu suara Raja Mamba meledak, "Lancang!" serunya, berdiri dari kursinya. "Aku sudah cukup murah hati mengizinkannya datang ke istana ini. Sekarang dia minta dijemput?"Tian Ming tetap menunduk, tak
Langkah Xiu Jie baru saja menjejak halaman depan kediaman Jenderal Tian Ming ketika suara langkah berat dan cepat terdengar dari arah dalam. Ia menoleh, dan benar saja—Jenderal Tian Ming muncul dengan wajah tegang dan sorot mata tajam. "XIU JIE!" seru sang jenderal, suaranya menggema di antara tia
Xiu Jie membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram, tapi ia berusaha menyapu seluruh ruangan dengan tatapan lemah. Dinding kayu, aroma herbal, dan cahaya redup dari lentera membuatnya sadar bahwa ia masih hidup—meski nyaris tidak.Di sampingnya, seseorang tertidur dengan kepala bersandar di
Malam semakin larut dan angin yang berhembus mulai terasa menusuk ke tulang. Di dalam aula utama, suasana tegang menyelimuti. Shen Jin berdiri mematung, matanya tak lepas dari sosok gadis yang terbaring lemah di atas dipan. Wajahnya pucat, tapi ada sesuatu yang terasa familiar... terlalu familiar.
Langkah kaki Xiu Jie terasa berat, seolah lantai marmer istana menahannya untuk tetap tinggal. Wajah orang di depannya tak menunjukkan belas kasihan, hanya tatapan dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Sambil mundur pelan, Xiu Jie mengedarkan mata ke sekeliling, mencari celah agar bisa kabur


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais