author-banner
brownies coklat
brownies coklat
Author

Novels by brownies coklat

Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!

Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!

Olivia tidak menyangka kepindahannya ke Jakarta akan membawanya bertemu kembali dengan Kafka, sosok penguasa sekolah yang ditakuti semua SMA Budi Karya. Di balik topeng bengis yang ia pasang setiap hari, siapa sangka bahwa sebenarnya laki-laki itu hanyalah seonggok anak mami? "Daripada lo gue jadiin target. Gue mau jadi pacar lo, nggak?" ujar Kafka menyodorkan tawaran paling masuk akal agar rahasia memalukan itu tetap terkubur. Olivia terdiam cukup lama. Pertanyaannya yang salah atau pria itu yang gila? "Bukannya harusnya gue yang mau jadi pacar lo?" Kafka tersenyum tipis. "Oke, gue mau." Olivia mematung di tempat, matanya membelalak tak percaya mendengar jawaban itu. Sial, apa yang baru saja dia lakukan? Sadar, Oliv! Setelah pertemuan pertama, harusnya sadar! Peraturan pertama bertemu Kafka, jangan sampai jatuh cinta sama dia!
Read
Chapter: Bab 7.
“Inget ya Olivia, mulai hari ini sampai seterusnya lo akan selalu berangkat dan pulang sekolah bareng gue,” Kafka membuka seatbelt nya dan keluar dari mobil untuk membukakan pintu bagi Olivia.Ini hari pertama mereka berangkat sekolah bersama, kafka yang memaksa. Padahal Olivia sudah sengaja menghindari cowok itu sejak kemarin, tapi cowok itu terus menerus berusaha mengejarnya. Kini, Olivia sama seperti tawanan yang akan selalu diawasi setiap saat.“Tapi—”“Nggak ada penolakan.” Potong Kafka.Olivia membuka seatbelt nya dan memasang wajah memelas, “Kafka, lo duluan aja deh masuk ke sana, gue belakangan aja. Nggak enak kalau pada lihatin kita.”Kafka tak bergeming, tangan laki-laki itu masih setia memegang pintu mobilnya di sisi Olivia.“Turun.” titah Kafka.Olivia berdecak sebal, Kafka selalu seperti ini. Tidak mau dibantah dan terus memberikan perintah.Olivia turun dari mobil Kafka tepat saat bel masuk sekolah berbunyi.Koridor sekolah sudah dipenuhi oleh anak-anak yang berlarian me
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 6.
Olivia duduk termenung sendirian di kedai minimarket dekat rumahnya, sudah hampir larut malam dan Kafka belum juga menghubunginya sejak kemarin cowok itu pamit pergi duluan.Ia tahu urusan keluarga yang Kafka maksud adalah Tante Ratna meninggal, Olivia akui ia khawatir keadaan cowok itu. Tapi ia masih enggan untuk memulai menghubunginya duluan.Hari ini Kafka tidak masuk sekolah dan pengumuman tentang Bundanya meninggal bahkan sudah bergema di seluruh sekolah sejak pagi tadi, tapi Olivia tidak mendapatkan kabar apapun dari cowok itu selain dari Mama.Mama mengirimkan foto Kafka yang sedang berdiri di pinggir kolam renang, menggunakan pakaian serba hitam. Yang paling membuat Olivia tertegun lama adalah tatapan mata kosong milik Kafka, sangat kontras sekali dengan tatapan yang Olivia lihat kemarin di kantin.Dan lagi, Olivia tidak melihat ada jejak air mata di wajah Kafka. Bagaimana bisa cowok itu menahan tangisannya di saat keluarganya sedang berduka begini?Olivia masih menyimpan rasa
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 5.
Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di koridor mendadak diam. Kafka tidak melepaskan cengkeramannya, justru dia menarik Olivia mendekat sampai bahu mereka bersentuhan.“Jalan di samping gue, jangan ketinggalan," bisik Kafka dingin, namun terdengar sangat otoriter."Lepasin, Kaf. Lo bikin gue makin jadi bahan omongan," desis Olivia, berusaha melepaskan diri namun sia-sia karena Kafka justru mempererat rangkulannya.Kafka tidak peduli. Dia membawa Olivia berjalan menuju kantin. The Syndicate lainnya duduk di meja pojok, menatap mereka dengan wajah tidak percaya. Mereka tampak bingung, mengapa ketua mereka yang biasanya dingin malah bersikap "protektif" terhadap gadis yang baru saja mereka siram es teh kemarin."Duduk," perintah Kafka sa
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 4.
Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak pulang sekolah beberapa hari lalu dengan seragam basah, bau menyengat, dan wajah sembab. Puluhan pertanyaan sudah coba diutarakan Mama dan Papa, tapi Olivia masih membatu, enggan membahas masalah itu. Untuk pertama kalinya, ia dirundung di sekolah barunya atas kesalahan yang bahkan tidak ia buat. “Liv,” suara Mama menyapa dari arah belakang. Tangan lembut wanita itu mengusap kepalanya dan mengecup ubun-ubunnya dalam. “Ada Kafka di ruang tamu.”Deg.Cowok jelek itu lagi.“Aku nggak mau ketemu siapapun,Ma. Bilang aja aku lagi tidur atau lagi apa gitu, asal jangan suruh aku nemuin dia.” imbuhnya. “Lagian dia tau darimana sih rumah kita?”Mama menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti.
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 3.
Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang catnya sudah mengelupas. Ia meletakkan tas ranselnya di samping tubuh, lalu sesekali melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan kirinya. Ia sengaja datang ke tempat sepi ini karena Kafka yang memintanya setelah tadi siang ia meminta bicara. Cowok itu menyuruhnya datang tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Namun, hingga detik ini, batang hidung Kafka sama sekali belum kelihatan. Padahal, suara bising dari gerbang depan menandakan bahwa sebagian besar murid sudah meninggalkan area sekolah sejak tiga puluh menit yang lalu.Olivia meremas jemarinya sendiri, berusaha mengusir rasa cemas yang perlahan mulai merayap di dadanya. “Wihh, ada anak baru di lapak kita. Berani ben
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 2.
“Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan Olivia yang tadi sedang menulis langsung terhenti, wajahnya pias tapi ia berusaha menetralkan, “Tiba-tiba banget?”“Ya lagian aneh, masa lo ngga sadar?” Tanya Sarah, ia menggeser bukunya mendekat ke meja Olivia sambil mencondongkan tubuhnya. “Kafka tuh manusia yang paling nggak bisa dideketin, bisa-bisanya dia pas ngeliat lo langsung narik lo gitu, kepincut sama lo deh kayaknya?”“Gue?”Mana mungkin!Sarah berseru, “Kafka kemarin beda banget auranya.”Olivia mendorong wajah Sarah yang ia rasa terlalu menutupi setengah buku catatannya. “Aura atau aur-auran? Jangan aneh.”Sarah langsung berbisik, takut teman lain mendengar pembicaraan mereka. “Gue serius, Liv ...” Sarah menjeda ucapannya kar
Last Updated: 2026-06-12
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status