Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!
Olivia tidak menyangka kepindahannya ke Jakarta akan membawanya bertemu kembali dengan Kafka, sosok penguasa sekolah yang ditakuti semua SMA Budi Karya. Di balik topeng bengis yang ia pasang setiap hari, siapa sangka bahwa sebenarnya laki-laki itu hanyalah seonggok anak mami?
"Daripada lo gue jadiin target. Gue mau jadi pacar lo, nggak?" ujar Kafka menyodorkan tawaran paling masuk akal agar rahasia memalukan itu tetap terkubur.
Olivia terdiam cukup lama. Pertanyaannya yang salah atau pria itu yang gila?
"Bukannya harusnya gue yang mau jadi pacar lo?"
Kafka tersenyum tipis. "Oke, gue mau."
Olivia mematung di tempat, matanya membelalak tak percaya mendengar jawaban itu. Sial, apa yang baru saja dia lakukan? Sadar, Oliv! Setelah pertemuan pertama, harusnya sadar! Peraturan pertama bertemu Kafka, jangan sampai jatuh cinta sama dia!
Read
Chapter: BAB 183"Gue sama sekali nggak mengerti maksud lo ngomong kayak gitu, apa?" Kafka menoleh, mendapati wajah ketus Olivia. Peluhnya menetes dari kening. "Maksud omongan gue yang mana?" "Lo pikir gue akan bunuh diri?" Kafka mengangguk. "Gue pikir lo akan beneran bunuh diri, Oliver tadi hubungin gue. Dia nyariin lo, pas dia bilang lo belum pulang ke rumah. Pikiran gue kalut, gue bingung harus cari ke mana lagi," akunya. Keheningan kembali menyelimuti kedua insan yang duduk saling bertolak belakang. Sejak tadi, Olivia tidak mau untuk menatap Kafka. Entah kenapa, tiba-tiba rasa kesalnya menguap ke udara, tergantikan oleh rasa rindu yang mendadak datang. "Kalau nggak berniat buat balik sama gue, nggak usah ngasih harapan." Kafka menghela napas. Panjang dan berat. "Ngasih harapan, gimana? Gue selama juga nggak pernah macam-macam." Olivia terkekeh. Di sela kekehannya sebenarnya dia ingin menangis, lagi. Pandangannya menatap lurus ke depan, pada dinding yang sudah retak. Dinding putih itu ter
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: BAB 182."Mas ganteng itu baru aja dari sini, Kak."Olivia menoleh saat mendapati suara petugas kebersihan di minimarket yang biasa dia kunjungi. "Kafka?" "Iya, mas ganteng itu juga sempat ngelihatin lantai dua. Tapi nggak naik ke atas, cuma ke sini beli kertas kado aja kayaknya." Olivia tersenyum. Kakinya tetap melangkah menuju lantai dua, menyusul petugas kebersihan yang sedang berbicara dengannya. Wanita itu melangkah cepat sekali, seperti sudah terbiasa dengan naik turun tangga sempit di minimarket ini."Kasihan sekali, murung wajahnya. Saya sih, nggak berani tanya." Angin malam di lantai dua minimarket ini selalu menjadi candunya, dari ketinggian ini dia bisa melihat gemerlap lampu-lampu dari rumah-rumah warga. Sepertinya Olivia tidak akan kembali lagi ke sini. Mungkin, tempat ini menjadi salah satu tempat yang akan Olivia hindari. "Putus, ya?"Olivia sontak menoleh, menatap bertugas kebersihan yang sedang mengelap meja di sebelahnya. "Kok tahu?""Mukanya sama suramnya kayak mas ga
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 181."Aku mau pindah sekolah." Suara Olivia yang melengking ketika memasuki rumah membuat Oliver yang sedang menonton televisi di ruang tamu menoleh. Mendapati Olivia yang melangkah mendekatinya dengan tubuh basah kuyup, tatapannya tidak lagi ceria. Oliver menyadari perubahan ini. Dia langsung bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh adiknya tanpa mempertanyakan alasannya. Tidak ada suara tangisan, tidak ada omelan. Olivia sungguh hening. "Mau pindah ke mana?" tanya Oliver. Pakaiannya juga ikut basah saat merengkuh tubuh Olivia. Dia sempatkan untuk meminta handuk kepada Mbok untuk Olivia. "Pindah ke SMA Rajasa, sekolah Abang dulu." "Nggak mau ke sekolah lain?" Oliver menuntun Olivia untuk duduk di karpet. Dia mengecilkan volume televisi, mendengarkan adiknya yang mungkin saja akan berbicara lebih panjang. "Nggak mau balik ke sekolah kamu yang dulu?" Olivia menggeleng. "Kenapa SMA Rajasa?" "Biar Kafka semakin benci aku." Oliver memundurkan tubuhnya, memberi jarak pada
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 180."Olivia, lo bisa kan dengerin penjelasan gue dulu? Lo butuh tau yang sebenarnya terjadi tuh apa." Olivia menggeram tertahan. "Mau lo tuh apa sih? Setelah sebelumnya lo bikin gue ngerasa jadi orang paling bahagia, terus sekarang lo jatuhin gue? Lo jahat, Kaf." Kafka menghela napa pendek. Sejak tadi Olivia tidak sudah-sudahnya memarahinya. Kafka tahu ini kesalahannya, tidak membicarakan tentang rencana masa depannya kepada Olivia. Tapi, tidakkah Olivia juga harus berusaha mendengarkan dulu? "Kalau lo mau bahagia, ya ayo sama gue. Dengerin penjelasan gue, dengerin semua alasan dibalik semua keputusan gue." Kafka menarik lengan Olivia saat gadis itu hendak menyebrang. Di mana letak penglihatan gadis itu? Jelas-jelas ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, tapi dia nekat menyebrang. "Lo lihat jalanan dong, jangan bego kayak gitu. Nggak usah bunuh diri segala!" teriak Kafka di depan wajah Olivia. Olivia tidak marah. Dia hanya diam mematung, menatap lurus Kafka. "Nggak ada yang ma
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: BAB 179.Olivia terlambat ke sekolah dan ini bukanlah hal yang biasa Kafka saksikan sepanjang mereka sekelas. Setahu Kafka, Olivia adalah orang yang sangat tepat waktu. Tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk belajar.Hari ini ada ulangan harian, jam pelajaran pertama sudah selesai. Namun, Olivia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sudah Kafka tanyakan kepada ketua kelas, tidak ada informasi tentang izin tidak masuk Olivia hari ini.Dan itu membuat sesuatu di dalam diri Kafka terusik.Rio yang duduk di belakang Kafka mendorong pelan pundak Kafka, saat melihat Olivia melangkah memasuki kelas tepat saat ulangan kedua hendak mulai. Kafka dan Rio sama-sama menajamkan pendengaran mereka saat Olivia berbicang dengan wali kelasnya di meja guru.Ingin sekali Kafka berlari menuju meja itu dan meminta penjelasan kepada Olivia tentang perubahannya yang drastis.Kemarin, gadis itu masih baik-baik saja saat mengobrol dengannya. Kenapa tiba-tiba hari ini menjauhinya seakan Kafka itu hama?"Olivia!"
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: BAB 178.Lampu di kamar Olivia masih menyala hingga tengah malam, si empunya kamar sedang duduk termenung di balkon. Tidak menghiraukan angin malam yang berhembus semakin kencang menerpa wajahnya.Tetesan gerimis mulai turun membasahi tepi balkon, cipratan airnya mengenai kaki Olivia. Dia sempat menunduk sebentar, menatapnya tidak peduli. Lalu, kembali lagi mendongak, menatap langit pekat yang membawa angin dingin.Setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya yang menghabiskan waktu berjam-jam, Olivia tidak lagi berminat turun ke bawah untuk sekedar makan malam.Dia lebih memilih duduk sendirian bersama keheningan malam, meratapi betapa sedihnya dia ketika nanti hubungannya dengan Kafka benar-benar berakhir.Ternyata benar, apa yang Kafka ucapkan tempo hari tentang LDR, tidak semua orang bisa menyelesaikannya hingga tuntas. Tidak semua orang betah dengan jarak.Tanpa janji bertemu, tanpa komunikasi langsung.Olivia saat itu yakin bisa menjalaninya karena dia yakin dengan Kafka. Tapi … seka
Last Updated: 2026-09-03