Se connecterDi koridor sekolah, nama Andreas adalah sebuah legenda. Tampan, berkarisma, dan dipuja hampir setiap mata. Namun, bagi Andreas, dunianya hanya berporos pada satu titik, Gita. Gadis sederhana yang berhasil mengunci seluruh perhatian sang idola dengan ketulusannya. Hubungan mereka bukan sekadar cinta monyet, itu adalah ikatan yang begitu kuat, hingga semua orang percaya mereka takkan terpisahkan. Sampai pada kelulusan SMA membawa mereka pada sebuah perpisahan. Memaksa keduanya melepas genggaman tangan dan melangkah ke arah yang berbeda. Perpisahan yang membawa mereka bertemu dengan lingkungan baru, dan orang-orang baru yang mulai masuk ke dalam kehidupan mereka. "Cinta bukan tentang siapa yang paling lama berada di sampingmu, tapi tentang siapa yang hatinya tidak pernah pergi meski raganya menjauh." - Gita -
Voir plus"Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan.
Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih. "Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu. "Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah. "Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu," canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku. "Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh." "Masa? Tapi mukanya merah." "Enggak, ya! Ngaco." Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Jujur, ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya. Mungkin orang akan bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Yoga, pacarku, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama. Jangan pikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah. "Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga. "Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya." "Dih, gombal!" Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang berbeda sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongannya. "Besok mau jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba. "Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK." "Gue antar ya?" "Enggak usah, enggak enak sama yang lain." "Oke, kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?" "Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut. Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda. "Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?" Aku menghela napas. "Ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku penasaran. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi. "Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?" Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung. "Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana. Aku adalah anak bungsu, "Ade" adalah panggilan sayang orang rumah untukku. Nama asliku Gita. "Siapa, Ma?" tanyaku tanpa beranjak dari kursi. "Yoga!" Jantungku mencelos. Aku bergegas masuk ke rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Padahal Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris. Aku tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Dengan wajah berseri, aku menekan tombol hijau. "Halo, Yoga." "Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya. "Aku lagi—" "Selingkuh?" Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras. "Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati. "Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?" "Bukan gitu—" "Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!" Aku terdiam mematung. Layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan. Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener'. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku. Itu dari Yoga. Sebuah foto. Air mataku tumpah seketika. Foto itu memperlihatkan Andreas yang sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu. Yoga ada di sini? batinku hancur. Aku mencoba meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga. Aku tidak sanggup menahannya sendiri. Aku menumpahkan tangis dalam pelukan Mama yang kebingungan melihatku gemetar menatap ponsel. "Kenapa, Sayang?" tanya Mama sambil mengusap punggungku. "Yoga... mutusin Ade, Ma. Dia nuduh Ade selingkuh," jelasku terisak. "Malu, atuh, De. Masa nangis kayak anak kecil," ujar Mama lembut menenangkan. "Sudah, jangan nangis." "Gita, kenapa, Tante?" Suara Andreas yang terdengar khawatir tiba-tiba muncul di ruang tengah. "Itu, ada Andreas. Sudah, si Yoga jangan ditangisi," hibur Mama. Aku melepaskan pelukan Mama dan mengusap wajah yang basah. Dengan mata memerah dan napas sesak, aku menatap Andreas yang tampak bingung. "Gue diputusin," ucapku parau.Author's POV Suara ketukan di depan pintu kamar kosnya pagi ini memaksa Andreas terbangun dari tidurnya. Dengan langkah berat yang masih diselimuti rasa kantuk, ia berjalan pelan menuju pintu. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian semalam tentang Gita, tentang perdebatan mereka, dan tentang bagaimana gadis itu lari meninggalkan kos nya dalam keadaan menangis. Andreas sempat mengejar dan memanggil Gita agar kembali karena malam sudah larut. Tapi gadis itu sudah masuk kedalam taksi dan Andreas bergegas memotret nomor plat taksi untuk memastikan keselamatannya. Tiba di depan pintu, Andreas memutar kunci dan pintu terbuka, sosok Salsa berdiri di sana dengan wajah yang ditekuk masam. "Lama banget sih, Ndre? Aku bawain sarapan buat kamu," cetus Salsa tanpa permisi langsung melesat masuk ke dalam ruangan. Andreas mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Salsa, Ngapain pagi-pagi ke sini? Kan aku sudah bilang hari ini aku ada jadwal pagi di rumah sakit."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam denyut di kepalaku yang kian menggila. Pagi ini, suhu tubuhku benar-benar tak bersahabat akibat kehujanan semalam. Sialnya, aku sendirian di rumah karena Mama sedang menginap di rumah Kak Ana untuk menjaga keponakanku yang jatuh sakit. Dengan sisa tenaga, aku memaksakan diri bangkit. Bayangan sikap dingin Ale yang pergi begitu saja dengan Sandra dan meninggalkanku, benar-benar membekas dalam benakku. Terus terang, hatiku sakit. Namun, aku harus mengikhlaskan apa pun keputusan Ale. Kebohongan selalu punya harga yang harus dibayar dan mungkin kehilangan Ale adalah konsekuensi pahit yang harus kutelan bulat-bulat. Semalaman aku menyadari kalau Ale memang pantas mendapatkan gadis yang jauh lebih baik, yang derajatnya setara dengan keluarganya, bukan seorang pembohong sepertiku. Sambil terbatuk-batuk, aku melangkah gontai ke dapur. Aku harus mengisi perut dan minum obat karena siang nanti aku harus ke rumah sakit untuk terakhir kalinya. Aku p
Sentuhan Andreas terasa semakin jauh melampaui batas, dan tiba-tiba saja kesadaran itu membisik relung hatiku. Ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Seketika, bayangan wajah Ale yang tulus terlintas begitu saja. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorong tubuh Andreas sekuat mungkin hingga ia terjatuh ke sisi tempat tidur. "Aku salah sudah datang ke sini!" ucapku lirih dengan suara bergetar. Sambil terisak, aku merapikan rambut dan pakaianku yang sempat tersingkap, lalu bergegas menuju pintu. Namun, saat jemariku baru saja memutar kunci, sebuah tangan kokoh menahanku dengan cepat. "Tunggu, Gita!" "Lepas! Kamu keterlaluan, Ndre!" jeritku di tengah tangis yang pecah tak terkendali. Rahang Andreas mengeras, dadanya naik-turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Ia mengembuskan napas panjang, menatapku dengan sorot kekecewaan yang begitu dalam. "Aku antar pulang," ujarnya rendah. "Nggak perlu!" "Ini sudah malam, Gita. Bahaya." Aku menepis tangannya dengan
"Apa yang kamu katakan pada Ale?" aku menahan amarah saat mendengar suara tenang Andreas dari seberang sana. Setelah kepergian Ale dari rumahku, aku yakin, kalau Andreas telah mengatakan semuanya pada Ale. Tentang masa lalu ku bersamanya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Sahut Andreas masih dengan nada yang tenang. "Ndre, kamu gila! Kamu benar-benar mengatakan kalau kamu mantan pacarku?" Diam sejenak, Andreas seperti memikirkan jawaban atas pertanyaanku. "Faktanya memang aku mantan pacarmu kan, Git? Jadi, apa yang salah?" "Andreas! kamu sudah menghancurkan hubunganku dengan Ale." "Kalian putus?" pertunangan itu batal? baguslah." Air mata tumpah di pipiku. Aku tidak menyangka kalau Andreas bertindak dalam diam untuk menghancurkan hubunganku dengan Ale. "Apa mau kamu, Ndre? setelah empat tahun pergi menggantung hubungan kita, lalu kembali ke Jakarta bersama gadis lain, dan menghancurkan hubunganku dengan Ale! Kamu mau sakitin aku kayak apa lagi, Ndre!" aku sudah t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires