Cinta Gita

Cinta Gita

last updateDernière mise à jour : 2026-05-06
Par:  YoonginaMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Note. 1 commentaire
57Chapitres
299Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Di koridor sekolah, nama Andreas adalah sebuah legenda. Tampan, berkarisma, dan dipuja hampir setiap mata. Namun, bagi Andreas, dunianya hanya berporos pada satu titik, Gita. Gadis sederhana yang berhasil mengunci seluruh perhatian sang idola dengan ketulusannya. Hubungan mereka bukan sekadar cinta monyet, itu adalah ikatan yang begitu kuat, hingga semua orang percaya mereka takkan terpisahkan. ​Sampai pada kelulusan SMA membawa mereka pada sebuah perpisahan. Memaksa keduanya melepas genggaman tangan dan melangkah ke arah yang berbeda. Perpisahan yang membawa mereka bertemu dengan lingkungan baru, dan orang-orang baru yang mulai masuk ke dalam kehidupan mereka. ​"Cinta bukan tentang siapa yang paling lama berada di sampingmu, tapi tentang siapa yang hatinya tidak pernah pergi meski raganya menjauh." - Gita -

Voir plus

Chapitre 1

BAB 1 : PUTUS

"Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan.

​Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek geng gaul sekolahku, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberi harapan lebih.

​"Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis.

​Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang.

Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Mungkin saja begitu.

​"Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah.

​"Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu," canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku.

​"Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh."

​"Masa? Tapi mukanya merah."

​"Enggak, ya! Ngaco."

​Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Jujur, ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya.

​Mungkin orang akan bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Yoga, pacarku, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama.

​Jangan pikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah.

​"Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga.

​"Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum.

​"Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya."

​"Dih, gombal!"

​Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang berbeda sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongannya.

​"Besok mau jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba.

​"Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK."

​"Gue antar ya?"

​"Enggak usah, enggak enak sama yang lain."

​"Oke, kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?"

​"Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut. Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda.

​"Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?"

​Aku menghela napas. "Ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku penasaran. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi.

​"Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?"

​Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung.

​"Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana. Aku adalah anak bungsu, "Ade" adalah panggilan sayang orang rumah untukku. Nama asliku Gita.

​"Siapa, Ma?" tanyaku tanpa beranjak dari kursi.

​"Yoga!"

​Jantungku mencelos. Aku bergegas masuk ke rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Padahal Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris.

​Aku tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Dengan wajah berseri, aku menekan tombol hijau.

​"Halo, Yoga."

​"Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya.

​"Aku lagi—"

​"Selingkuh?"

​Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras.

​"Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati.

​"Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?"

​"Bukan gitu—"

​"Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!"

​Aku terdiam mematung. Layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan.

​Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener'.

Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku.

​Itu dari Yoga. Sebuah foto.

​Air mataku tumpah seketika. Foto itu memperlihatkan Andreas yang sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu.

​Yoga ada di sini? batinku hancur. Aku mencoba meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga.

​Aku tidak sanggup menahannya sendiri. Aku menumpahkan tangis dalam pelukan Mama yang kebingungan melihatku gemetar menatap ponsel.

​"Kenapa, Sayang?" tanya Mama sambil mengusap punggungku.

​"Yoga... mutusin Ade, Ma. Dia nuduh Ade selingkuh," jelasku terisak.

​"Malu, atuh, De. Masa nangis kayak anak kecil," ujar Mama lembut menenangkan. "Sudah, jangan nangis."

​"Gita, kenapa, Tante?" Suara Andreas yang terdengar khawatir tiba-tiba muncul di ruang tengah.

​"Itu, ada Andreas. Sudah, si Yoga jangan ditangisi," hibur Mama.

​Aku melepaskan pelukan Mama dan mengusap wajah yang basah. Dengan mata memerah dan napas sesak, aku menatap Andreas yang tampak bingung.

​"Gue diputusin," ucapku parau.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Ratih Kusuma
Ratih Kusuma
wkwkwk jadi inget masa sekolah paling indah. senengnya, sedihnya, degdegannya, begitu nyata pemirsa.
2026-04-25 11:32:08
1
0
57
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status