LOGIN"Dia pergi demi melindungiku. Dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mengungkap alasan di balik kepergiannya." Bagiku, Andreas adalah segalanya. Cowok tampan dan paling dipuja di SMA yang memilih menambatkan hatinya padaku, gadis sederhana yang biasa saja. Semua orang percaya kami takkan terpisahkan. Namun di hari menjelang kelulusan, Andreas menghilang tanpa kabar. Empat tahun berlalu, disaat orang baru telah masuk kedalam hidupku, Andreas muncul kembali. Namun bukan untuk pulang, melainkan bersanding dengan gadis lain. Saat kebenaran yang menjadi alasan Andreas pergi mulai terungkap, hatiku kembali diuji. Sanggupkah aku dan Andreas memperjuangkan cinta yang sejak awal tak pernah pergi, atau terpaksa untuk saling merelakan? karena kami sama-sama telah terikat dengan orang baru.
View MoreAku Gita. Nama panjangku Sagita Maira. Aku duduk di bangku SMA kelas XII. Keseharianku hanya ke sekolah, tempat les, bermain dengan ketiga temanku dan menemani kekasihku main basket atau sekedar duduk di taman sekolah, menunggu jam lesnya tiba.
Kisah asmaraku cukup tenang dan damai-damai saja. Karena kebetulan, kekasihku Yoga, yang berasal dari keluarga kaya raya, harus menjalani segala tuntutan orang tuanya yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Bagi mereka, orang sukses itu adalah orang yang berpendidikan tinggi! Jadi, Yoga yang hanya anak tunggal, terpaksa harus membuang waktu masa remajanya di bangku sekolah dan kursus di berbagai tempat bergengsi. Tapi entah kenapa, aku merasa nyaman berhubungan dengan Yoga yang justru jarang memiliki waktu selain bertemu di sekolah. Apa kalian juga pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah ada waktu untuk bersama? bahkan mampu bertahan berada dalam hubungan itu sampai lima tahun lamanya tanpa restu orang tua? Itulah yang aku jalani saat ini. Sampai suatu hari, seseorang datang dan menawarkan hatinya padaku. Dia adalah, Andreas Arkadewa, laki-laki sangat tampan yang menjatuhkan pilihannya pada gadis biasa sepertiku. *** "Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan. Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek itu, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah setelah berkali-kali mendapatkan penolakanku. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberinya harapan lebih. "Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. Jujur saja, aku tertarik. Aku normal. Semua gadis pasti akan terpesona melihat ketampanannya. Tapi bukan itu masalahnya sekarang, karena jauh dari tempatku berada, Yoga tengah berkutat dengan tugas-tugas les nya dan hati nuraniku mengatakan, aku harus membuat batasan pada laki-laki lain termasuk Andreas. Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Bukan Underestimated pada diri sendiri. Tapi ini fakta! Aku hanyalah seorang gadis dengan berat badan empat puluh lima kilogram dan tinggi seratus 160cm, sangat tidak menarik. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Ya, mungkin saja begitu. "Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah yang daunnya sedikit tertiup hembusan angin malam. "Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu, takut ketahuan cowok lo ya?" canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku. "Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh." "Masa? Tapi mukanya merah." "Enggak, ya! Ngaco." Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Sebenarnya ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya. Mungkin kalian bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Sebelumnya sudah aku ceritakan kenapa Yoga tidak pernah punya waktu untuk mengajakku jalan atau sekedar makan di Luar. Yoga, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama. Dan satu lagi, jangan pernah berpikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah. "Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga. "Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya." "Dih, gombal!" Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang tidak satu sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongan. Ajaibnya, peringkat kelas sebagai juara satu selalu diraihnya. Kurang apa coba? udah ganteng, cerdas pula. Sudah bisa ketebak kan, ada berapa gadis yang sudah berstatus sebagai mantan Andreas Arkadewa. "Besok mau olah raga jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba. Membuatku terperanjat. "Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK." "Kebetulan kalau begitu. Gue antar ya?" "Eng—enggak usah, gue enggak enak sama yang lain." Jawabku spontan seperti orang ketakutan. Andreas menatapku hingga kedua bola matanya membelalak. Sepertinya dia kaget karena aku bisa menolaknya selama ini. "Wah, baru kali ini gue bener-bener ditolak sama cewek." Ucap Andreas tersenyum, "hebat juga cowok lo ya, bisa punya pacar setia kayak lo. Tahan godaan." Tawanya renyah menatapku antara rasa kagum dan sedikit kecewa. "Kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?" Sepertinya laki-laki ini benar-benar menyukaiku, bukan Ge er, tapi sungguh, Andreas pantang menyerah. "Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut hehehe... Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda. "Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?" Aku menghela napas menatapnya, "Ya ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku menyerah. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi. Lagipula, Andreas setuju kami hanya berteman, tidak lebih. "Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?" Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung. "Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana romantis yang sempat terbentuk sesaat. Tambahan informasi, aku ini adalah anak bungsu, "Ade" itu panggilan sayang orang rumah untukku. "Siapa, Ma?" teriakku dari depan teras, tanpa beranjak dari kursi. 'Apa mungkin Yoga?' tebakku dalam hati, penuh harap. Jantungku yang tidak bisa lagi berdetak tenang ditempatnya, membuatku bergegas masuk kedalam rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga itu jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Dan Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris. Tebakanku benar, aku pun tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Bergegas aku menekan tombol hijau sebelum panggilan berakhir. "Halo, Yoga." "Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya. "Aku lagi—" "Selingkuh?" Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras. "Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati. "Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?" "Bukan gitu—" "Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!" Aku terdiam mematung hingga layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan. Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener', cukup melukai hatiku. Yoga tidak pernah bicara sekasar ini padaku. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku. Itu dari Yoga. Sebuah foto. Aku membukanya, dan mengerti kenapa Yoga bisa salah paham. Foto itu memperlihatkan Andreas sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu. Yoga ada di sini? batinku, mencoba mengedarkan pandangan kearah luar. Aku meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga. "Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. "Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se
Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. "Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh
Restoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. "Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny
"Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews