Se connecterDi koridor sekolah, nama Andreas adalah sebuah legenda. Tampan, berkarisma, dan dipuja hampir setiap mata. Namun, bagi Andreas, dunianya hanya berporos pada satu titik, Gita. Gadis sederhana yang berhasil mengunci seluruh perhatian sang idola dengan ketulusannya. Hubungan mereka bukan sekadar cinta monyet, itu adalah ikatan yang begitu kuat, hingga semua orang percaya mereka takkan terpisahkan. Sampai pada kelulusan SMA membawa mereka pada sebuah perpisahan. Memaksa keduanya melepas genggaman tangan dan melangkah ke arah yang berbeda. Perpisahan yang membawa mereka bertemu dengan lingkungan baru, dan orang-orang baru yang mulai masuk ke dalam kehidupan mereka. "Cinta bukan tentang siapa yang paling lama berada di sampingmu, tapi tentang siapa yang hatinya tidak pernah pergi meski raganya menjauh." - Gita -
Voir plusSebulan sudah aku menjalani hubungan manis bersama Andreas. Selama itu pula aku merasakan, suasana jalan-jalan sore yang selalu Andreas lakukan setiap weekend. Merelakan bangun tidur lebih pagi agar bisa mengantarku ke sekolah dan menjemputku setiap hari. Seakan dunia milik berdua, tiada hari tanpa bertemu."Aku nggak mau, Yang. Malu." Aku menolak untuk kesekian kalinya saat Andreas memintaku ikut kumpul dengan gengnya. Masalahnya satu, mereka berkumpul di rumah mantan pacar Andreas yang dijadikan 'markas'."Nggak apa-apa, masa udah sebulan kita jadian kamu masih nggak mau ketemu temen-temen aku?"Melihat wajah tampannya yang sedang cemberut itu, pertahananku perlahan runtuh. Aku tidak tega menolak permintaannya kali ini."Ya udah. Tapi sebentar aja, ya," jawabku, yang langsung disambut senyum kemenangannya. "Sebentar, aku ganti baju dulu." "Nggak usah cantik-cantik. Temenku laki semua," candanya dari luar.Aku hanya tertawa mendengar candaan konyolnya itu dan berlalu ke kamar.
Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman. Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya. "Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana. "Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. "Enggak, kok." "Terus?" "Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel. "Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?" Aku menghela na
"Git! Lo denger nggak? Gengnya Selvi lagi ngomongin lo sama Andreas!" Nila tergopoh-gopoh menghampiri mejaku tepat saat bel istirahat memecah keheningan kelas. "Katanya, Andreas itu gebetannya Erni." Mata Nila membelalak cemas, seolah berita yang ia bawa adalah sebuah hukuman gantung untukku. "Serius?" Azizah, teman sebangkuku, langsung ikut nimbrung dengan wajah syok. "Mampus lo, Git! Mending lo jauhin Andreas dari sekarang. Lagian, lo nggak usah ketinggian deh mimpinya, cari cowok yang biasa-biasa aja kenapa, sih?" Aku menghela napas, mencoba tetap tenang. "Kalian kenapa, sih? Aku sama Andreas nggak ada apa-apa, kok." "Bohong! Nggak mungkin!" sambar Azizah cepat. "Udah jelas-jelas kemarin lo berdua pelukan di bus!" Belum sempat aku membela diri dari cecaran mereka, suara derap kaki yang berlari mendekat membungkam mulutku. "Git, dicariin Erni. Katanya lo disuruh ke ruang latihan dance sekarang. Ada apa, sih? Kayaknya serius banget, gengnya sampai kumpul semua d
Sesuai janji Andreas semalam, sore ini dia mengajakku pergi. Jalan-jalan sore, katanya. Jadilah, sepulang dari GBK, Andreas membawaku ke rumahnya untuk mengambil motor. Pasti kalian penasaran kenapa Andreas bisa satu bus denganku tadi, kan? Ternyata, dia melihatku saat aku naik angkot menuju halte Transjakarta. Karena tidak berhasil mengejar, Andreas memesan ojek online menuju halte yang dia kira akan kudatangi. Tak menemukanku di sana, dia berniat mencariku langsung ke GBK. Beruntungnya, kami malah satu bus karena Andreas naik dari halte sebelumnya. Begitulah ceritanya kenapa makhluk itu tiba-tiba sudah ada di dalam bus sebelum aku masuk. Kalau kata orang, pertemuan tak sengaja di tempat yang sama itu tandanya jodoh. Ah, Gita. Bisa aja kamu ini! "Assalamualaikum," ucap Andreas saat membuka pintu rumahnya yang sederhana namun asri. Aku yang pernah punya pengalaman buruk di rumah Yoga, tidak pernah disambut baik oleh orang tuanya, merasa ragu untuk melangkah masuk. Kh
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.