Share

Bab 5

Author: Toyusa
last update publish date: 2026-06-13 16:08:22

Mira baru saja keluar dari kamar mandi diluar– bangunan semen tua yang dingin dan lembab di ujung area pekerja. 

Tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang dililitkan seadanya, sementara rambutnya yang masih basah meneteskan butiran air ke bahu dan lehernya. 

Baru beberapa langkah menuju kamarnya, ia mendadak menghentikan langkah ketika mendengar suara desahan.

“Ah… ahh… ahh..”

Siapa disana?!

Ini kamar mandi luar. Berada di pekarangan belakang rumah Brata. Seperti biasa, hanya bunyi nyaring jangkrik yang saling bersahutan di antara pepohonan. 

Area itu merupakan wilayah yang nyaris tak pernah didatangi keluarga inti, hanya para pelayan dan pekerja kasar yang beraktivitas di sana. 

Karena itulah, Mira sama sekali tidak menyangka akan ada suara.

Apalagi sampai suara desahan.

Mira mengendap-endap. Pria itu… Brata Yuda. 

Majikannya itu tampaknya menyandar ke tembok, kemejanya terbuka di bagian atas. Napasnya memburu tidak teratur, disertai desahan rendah yang tertahan di tenggorokan. Tangan besarnya meremas kemeja sendiri, seolah sedang menahan gejolak panas yang membakar tubuhnya. 

Kemeja yang dikenakannya masih sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan wajahnya yang masih pucat.

Mira terpaku. Dia tahu persis kenapa pria itu bisa seperti ini. 

Vitamin yang dia berikan sebagai "obat penurun demam" bekerja terlalu efektif kalau yang meminumnya tidak tersalurkan. 

Saat Mira hendak berbalik, kakinya menginjak ranting kering. Krak.

Brata tersentak, kepalanya menoleh cepat. Mata pria itu merah, sayu, namun menatap Mira dengan intensitas yang mengerikan. 

Mira panik, dia berusaha lari, tapi kakinya justru terpeleset lumpur. Tubuhnya limbung, jatuh tepat di depan Brata dengan posisi handuknya yang nyaris melorot.

Brata bergerak secepat kilat, mencengkeram lengan Mira untuk menahannya agar tidak tersungkur ke tanah. 

Suhu tubuh Brata yang panas menyengat menembus kulit Mira, dan tanpa sengaja, tangan Mira yang menahan keseimbangan tepat mendarat di atas bagian vital pria itu yang terasa keras menonjol di balik celana kainnya.

Napas Brata mendesis kasar, sentuhan itu membuat erangan pria itu pecah.

"Mir..." suaranya serak dan berat.

Mira terdiam, napasnya ikut memburu. Dia bisa merasakan detak jantung pria itu beradu dengan miliknya. Alih-alih menarik diri, Mira justru mengeratkan cengkramannya, menatap langsung ke mata Brata yang kini dipenuhi gairah.

"Ndoro... ndoro panas sekali," bisik Mira pelan. “Ndoro masih… demam?”

"Bisa bangun sendiri, atau mau saya bantu?" tanya Brata, suaranya rendah, nyaris seperti geraman. Dia tidak menarik tangannya dari pinggang Mira dan berdiri.

"Ndoro?" Mira terkejut merapikan diri saat berdiri. Tangannya refleks mencengkeram simpul handuk di dadanya. 

"Kenapa Ndoro ada di sini?"

Brata tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat berhenti sesaat pada sosok Mira yang berdiri beberapa langkah di depannya, tetapi hanya sesaat.

Ia segera memalingkan wajah, menghembuskan napas pelan seolah memaksa dirinya sendiri untuk tidak memandang lebih lama.

"Saya yang seharusnya bertanya," ucapnya tenang. "Kenapa kamu keluar hanya memakai handuk seperti itu?"

"Saya pikir sudah malam dan tempat ini selalu sepi, Ndoro. Saya tidak tahu kalau Ndoro masih di belakang."

Brata menarik lengan Mira dengan kasar hingga gadis itu berdiri, namun handuk yang melilit tubuhnya semakin longgar. Napas pria itu masih menderu, matanya terkunci pada wajah Mira dengan tatapan yang sangat menuntut.

"Kamu lihat apa tadi?" suara Brata rendah, mengintimidasi.

Mira menunduk, pura-pura gemetar sambil merapatkan handuknya yang nyaris jatuh. "T-tidak, Ndoro... saya hanya lewat, saya tidak lihat apa-apa..."

"Jangan berbohong." Brata melangkah maju, memojokkan Mira ke dinding gudang yang lembap. "Kamu sudah lihat semuanya, kan? Kamu lihat keadaan saya sekarang."

Mira menatap sekeliling, memastikan tidak ada pelayan lain yang lewat, lalu memberanikan diri menatap mata Brata. "Saya... saya hanya merasa Ndoro sedang tidak sehat."

"Saya tidak butuh simpati," potong Brata dingin. Dia mencengkeram dagu Mira, memaksa gadis itu menatapnya lurus. "Karena kamu mengganggu saya, tolong bantu saya, Mira.”

“B—Bantu bagaimana, Ndoro?" bisik Mira, sengaja memancing. 

Ia menatap mata Mira lekat-lekat, menuntut gadis itu untuk berhenti bersandiwara. “Karena kamu mengganggu saya. Tolong, bantu milik saya”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 17

    Menjelang siang, tiba waktunya Ratna meminum obat pereda nyeri dan vitamin pasca-persalinan.​Mira menyiapkan nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa butir pil. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia merogoh saku celemeknya.Di sana terdapat sebuah sapu tangan pria berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'B.Y' di sudutnya. Itu sapu tangan milik Brata yang ia temukan jatuh di kolong meja kerja kemarin sore, saat ia bersembunyi dari amukan Ratna.​Dengan sangat sengaja, Mira menyelipkan sapu tangan itu ke dalam saku daster lusuhnya, membiarkan sedikit bagian kain berinisial itu menyembul keluar, cukup untuk ditangkap oleh mata yang jeli.​Saat Mira mendorong pintu kamar utama, suasana di dalam terasa sangat suram. Tirai tertutup rapat, dan Ratna duduk bersandar di ranjang dengan wajah ditekuk, memancarkan aura permusuhan yang kental.​"Permisi, Nyonya. Waktunya minum obat," ucap Mira lembut, melangkah masuk dengan kepala menunduk

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 16

    Kokok ayam jantan dari kejauhan membelah kabut pagi. Di ruang makan, keheningan yang mencekam menyelimuti meja, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen yang terdengar.​Ratna duduk di kursi rodanya, wajahnya tampak pucat pasi dengan perban tipis di dahinya, akibat benturan kemarin. Tatapannya kosong, namun setiap kali ia melirik ke arah Mira yang sedang menyajikan sarapan, matanya akan menyipit tajam seperti silet yang siap mengiris.​Brata sendiri lebih banyak diam. Pria itu menyembunyikan tangannya di bawah meja, jemarinya terus bergerak gelisah. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menyimpan rahasia besar di balik topeng ketegasannya.​"Mas," suara Ratna memecah keheningan, terdengar serak dan dingin. "Aku ingin pelayan ini dipecat hari ini juga."​Tangan Mira yang sedang menuang air putih ke gelas Ratna sedikit bergetar. Ia sengaja menumpahkan beberapa tetes air ke taplak meja, lalu dengan wajah ketakutan, ia segera mengambil serbet untuk membersihkannya.​"Maaf,

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 15

    "Mira! Buka pintunya!" suara itu berat dan berwibawa.​Itu suara Brata.​Mira buru-buru mengambil kemeja yang tadi ia buang ke lantai dan memakainya asal-asalan, bahkan tanpa mengancingkannya dengan benar. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melompat dari ranjang dan membuka kunci pintu.​Pintu terbuka. Brata berdiri di sana dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Tatapan pria itu tajam, namun ada raut kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu langsung melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sekali dorongan.​"Ndoro? Ada apa? Nyonya... bagaimana?" tanya Mira, berusaha memasang wajah bingung dan sedikit ketakutan.​Brata tidak menjawab. Pria itu menyapu pandangannya ke kamar yang sempit dan remang tersebut, lalu berhenti pada wajah Mira yang masih memerah dengan sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya sirna. Brata mendekat, memangkas jarak hingga mereka nyaris bersentuhan.​"Tadi itu... hampir saja," bisik Brata, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 14

    ​"B–Bi Sumi..." sahut Mira gugup, refleks menundukkan kepala.​"Aku tanya, dari mana saja kamu, Nduk?!" desak Bi Sumi, melangkah mendekat dengan raut wajah mengeras. "Nyonya Ratna mengamuk keliling rumah mencarimu sampai jatuh pingsan! Dan kamu... tiba-tiba muncul dari arah lorong depan dengan baju yang kusut seperti ini. Habis dari mana kamu, hah?!"​Mira memaksakan bahunya bergetar, memanggil kembali air mata buatan yang selalu menjadi senjata utamanya.​"S-saya takut, Bi..." isak Mira, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Waktu dengar Nyonya teriak-teriak memanggil nama saya... saya ketakutan. Saya ingat Nyonya mau menampar saya tadi pagi. Jadi... jadi saya lari ke gudang belakang, Bi. Saya sembunyi di balik tumpukan karung beras..."​Bi Sumi memicingkan mata, tak percaya begitu saja. "Gudang belakang? Lalu kenapa kamu muncul dari arah lorong ruang kerja Ndoro Brata?"​"S-saya baru berani keluar setelah keadaan sepi, Bi. Saya memutar lewat lorong depan karena pintu belakang dikunci

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 13

    "MIRA! KELUAR KAMU!" jeritan Ratna melengking, memantul di dinding ruangan.Amarah seolah mematikan seluruh saraf sakit di tubuhnya. Ratna bergerak liar di atas kursi rodanya, memutar kursi itu ke sana kemari untuk menyisir ruangan seperti orang kesetanan. Dengan napas memburu, ia menyibak tirai beludru tebal di dekat jendela secara kasar, menarik paksa pintu lemari arsip hingga engselnya berderit, lalu menendang tumpukan koran di sudut ruangan hingga berhamburan. ​"Keluar kamu, perempuan murahan! Aku tahu kamu sembunyi di ruangan ini! MIRA!!"​Di bawah meja, Mira menekan punggungnya sejauh mungkin ke sudut gelap kolong tersebut. Ia mematung, bahkan tidak berani berkedip. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya. ​"Ratna, cukup! Hentikan kegilaan ini!" Brata melangkah cepat, berusaha mencengkram lengan istrinya untuk menghentikan kursi roda itu.Wajah pria itu pias, campur aduk antara panik setengah mati dan amarah yang memuncak. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 12

    "Kenapa pintunya dikunci, Mas?!" bentak Ratna lagi.Terdengar suara berdecit yang menyayat hati– suara putaran roda kursi yang beradu dengan lantai kayu lorong. Ratna, dengan napas tersengal dan peluh yang membanjiri pelipisnya, memaksakan kedua tangannya memutar roda kursi roda itu sekuat tenaga. Kakinya yang lunglai dan tidak berdaya hanya terbalut selimut tipis, tampak menyedihkan sekaligus mengerikan karena rasa curiga yang terus membakarnya sejak pagi.​Brata segera menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, matanya melotot memberi isyarat panik agar Mira sama sekali tidak mengeluarkan suara. Pria itu menahan napas, berharap istrinya kehabisan tenaga dan menyerah.​"Bi Sumi bilang kamu masuk ke sini dan belum keluar sama sekali!" seru Ratna dari balik pintu. Terdengar bunyi benturan kursi roda ke daun pintu kayu. "Aku tahu kamu ada di dalam, Mas! Buka pintunya!"​Hening mencekam. Brata menahan napasnya, tidak berani bergerak satu inci pun. Ia berharap istrinya kehabisan tenaga dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status