LOGINMira baru saja melangkah keluar dari kamar mandi luar– sebuah bangunan semen tua yang lembab dan berlumut di ujung area belakang rumah.
Tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang dililitkan seadanya sebatas dada, memperlihatkan bahu dan lehernya yang terbuka. Rambut panjangnya yang basah kuyup meneteskan butiran-butiran air, mengalir turun melewati tulang selangkanya, menyisakan jejak dingin di kulitnya. Mira merapatkan kedua lengannya, berniat mempercepat langkah menuju kamar pelayan. Namun, baru tiga langkah ia berjalan melewati deretan pohon mangga yang rimbun, kakinya mendadak terpaku ke tanah. “Arghh…” Sebuah suara memecah sunyinya malam. Mira menahan napas. Bulu kuduknya meremang. Siapa di sana? Ini adalah pekarangan belakang rumah yang sangat luas dan gelap. Hanya ada bunyi nyaring jangkrik yang saling bersahutan dan cahaya lampu taman yang temaram. Area ini adalah wilayah kotor yang nyaris tak pernah didatangi oleh majikannya. Nyonya Ratna sangat membenci bau tanah lembab, sementara Tuan Brata biasanya sibuk di ruang kerja atau kamarnya. Namun, erangan tertahan itu terdengar lagi. Kali ini lebih berat, parau, dan diiringi deru napas yang memburu. Bukan suara binatang. Apalagi penyusup. Itu jelas suara seorang pria yang sedang menahan sesuatu yang menyiksa. Rasa penasaran membuat Mira mengurungkan niat untuk kembali ke kamar. Ada dorongan kuat yang membuatnya tetap tinggal. Ia justru mengendap-endap dengan telanjang kaki, menapaki rumput basah mendekati sumber suara yang berasal dari balik dinding gudang penyimpanan. Matanya memicing, berusaha menembus kegelapan malam yang pekat. Begitu ia mengintip dari balik tumpukan kayu, jantung Mira seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, di sudut dinding bata yang remang-remang, berdiri bayangan seorang pria tegap– Brata Yuda. Majikannya itu bersandar lemas pada dinding yang dingin, dengan kepala mendongak ke atas dan mata terpejam erat. Kemeja rapi yang selalu dikenakannya kini terbuka berantakan hingga memperlihatkan dadanya yang naik-turun dengan liar, mengkilat oleh keringat meski udara malam sangat dingin. Mira mematung. Matanya membelalak perlahan saat menelusuri pemandangan di depannya, hingga pandangannya jatuh ke bawah. Tangan kanan pria itu bergerak naik turun di balik celana kainnya yang setengah melorot. Brata tengah memuaskan dirinya sendiri. Pria berwibawa itu tampak begitu kacau, mencari pelampiasan yang putus asa atas rasa frustasi dan gairah yang tak tersalurkan di ranjangnya sendiri. Urat-urat di lehernya menonjol saat ia mengerang pelan, tenggelam dalam siksaan nikmat yang ia ciptakan sendiri. Di balik wajahnya yang seolah terkejut, sudut bibir Mira perlahan berkedut. Ia tahu persis apa pemicunya. Vitamin "penurun demam" yang ia berikan di ruang kerja tadi adalah racikan khusus dari kampungnya. Obat yang seharusnya membakar gairah, yang jika tidak disalurkan, akan membuat tubuh peminumnya terasa seperti direbus hidup-hidup. Dan Ratna– istrinya yang gila itu, jelas tidak memberikan apa yang pria itu butuhkan. Mira mundur satu langkah dengan sangat hati-hati. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Mengetahui kelemahan majikannya adalah senjata yang luar biasa. Ia berniat pergi dari sana sebelum ketahuan, namun nahas, perhitungan kakinya meleset. Telapak kakinya menginjak ranting mangga yang kering. KRAK! Suara kayu yang patah terdengar keras, memecah keheningan malam. Gerakan tangan Brata terhenti seketika. Tubuh pria itu menegang kaku. Kepalanya menoleh dengan cepat, setajam elang yang menyadari keberadaan mangsanya. Mata pria yang memerah dan sayu itu langsung menembus kegelapan, mengunci sosok Mira yang berdiri mematung hanya dalam balutan handuk tipis. “Apa yang kamu lakukan disini, Mira?!”Di ruang kerjanya, Brata mengamuk membabi buta, menghancurkan segala benda yang ada di atas meja kerjanya hingga hingga berjatuhan dan berserakan di atas karpet. Tumpukan dokumen beterbangan, lampu baca terjungkal, bahkan laptop mahalnya ikut terhempas ketika tangannya menghantam meja dengan kasar. Napas Brata memburu, dadanya naik turun dengan keras, sampai akhirnya tubuhnya terasa kehilangan tenaga dan ia menjatuhkan diri ke kursi, lalu menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Namun, di tengah keputusasaan yang menggelapkan akal sehatnya, memori Brata kembali berputar pada detik-detik saat ia berdiri di depan brankas besi yang setengah terbuka itu. Ada sesuatu yang janggal. Di atas lantai safe house yang seharusnya berdebu dan lama tak tersentuh, ia melihat jejak basah sepatu bot dengan sol bergerigi, serta secercah abu cerutu langka yang baunya masih menguar tipis di udara. Haryo
Satu jam kemudian, rumah itu kembali riuh oleh jeritan panik Ratna yang mengaku liontin berlian peninggalan ibunya hilang. Para pelayan segera berhamburan mencari ke berbagai sudut rumah, membuka laci, memeriksa kamar, bahkan menggeledah ruangan-ruangan yang jarang digunakan. Suasana rumah mendadak kacau, masing-masing orang sibuk mencari tanpa tahu di mana sebenarnya benda berharga itu terakhir kali terlihat. Tepat di tengah kekacauan tersebut, pintu utama mendadak didorong terbuka dengan kasar. Brata pulang dengan wajah merah padam dan napas memburu. Kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, sementara urat di pelipisnya menonjol jelas. Wajah pria itu menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi. "Ada apa ini?!" bentak Brata begitu melihat para pelayan mondar-mandir tanpa arah. Ratna segera memutar kursi rodanya dan menghampiri sang suami. Wajahnya tampak panik, matanya berkaca-kaca, seolah benar-benar berada dalam keadaan terdesak. "Mass... liontin berlian penin
Begitu Brata pergi, Ratna masih terpaku di kursi rodanya, pikirannya dipenuhi tuduhan yang baru saja dilontarkan suaminya sebelum berangkat mengecek langsung ke lokasi tersebut.Menjebaknya ke safe house yang diawasi polisi?Ratna sama sekali tidak mengerti dari mana tuduhan itu berasal. Ia memang menyimpan alamat tempat tersebut sebagai alat tawar, tetapi tidak pernah sedikit pun berniat mengirim Brata ke sana dengan tujuan mencelakakannya. Jika Brata sampai tertangkap polisi, rencananya untuk mendapatkan kembali saham perusahaan justru akan berantakan. Ia masih membutuhkan suaminya untuk menandatangani pengalihan saham itu.Untuk apa ia menghancurkan rencananya sendiri?Rahang Ratna mengeras. Satu kemungkinan mulai memenuhi pikirannya.Seseorang sudah membisikkan hal itu kepada Brata. Dan di rumah ini, hanya ada satu orang yang cukup dekat dengan suaminya sekaligus cukup pandai mempengaruhi pikirannya.Mira.Amarah dan rasa terhina bercampur jadi satu di dadanya. Ia difitnah atas se
Keesokan harinya, Ratna duduk kaku di kursi rodanya dengan paspor bersampul hijau dan tumpukan dokumen usang peninggalan ayahnya di pangkuan. Matanya menatap tajam ke arah Brata yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Pria itu tampak sangat kacau– kantung matanya menghitam dan ia hanya mengenakan pakaian rumahan yang kusut"Aku sudah menelepon pengacara dan notaris kenalan Bapak," ucap Ratna tanpa basa-basi, suaranya terdengar mendesak. "Mereka bersedia datang ke rumah ini siang ini juga. Pengalihan saham bisa diproses menggunakan paspor ku sebagai pengganti KTP yang dicuri pelayan kesayanganmu itu. Siapkan dirimu, Mas. Waktu dari bank tinggal empat hari."Ratna mengira Brata akan menunjukkan kepanikan yang sama, tetapi pria itu justru terdiam. Matanya perlahan turun menatap paspor di pangkuan istrinya sebelum kembali terangkat dengan sorot yang jauh lebih dingin daripada yang Ratna duga. Brata kemudian berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya."Batalkan kedatangan merek
"Aku tidak tahu, Mira," desah Brata dengan suara serak, menjatuhkan keningnya ke bahu gadis itu. Pria yang biasanya begitu tegas dan sulit digoyahkan itu kini terlihat lelah dan putus asa. "Bank hanya memberiku sisa waktu lima hari. Ratna tahu persis aku sedang dikejar dengan waktu. Dia terus mendesakku agar segera menandatangani akta pengalihan saham itu, atau dia tidak akan pernah memberikan kata sandinya. Kalau aku melewati batas lima hari ini... aku akan kehilangan rumah ini, sisa perusahaanku, semuanya."Di balik bahu Brata, tatapan Mira perlahan berubah. Otaknya segera bekerja menghitung kemungkinan yang ada. Lima hari bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menghancurkan rencana Ratna jika Brata bisa dibuat menunda keputusan. Kalau pria itu panik dan menyerahkan separuh sahamnya sekarang, Ratna akan kembali mendapatkan kendali atas perusahaan dan posisi Mira akan semakin sulit. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Sebelum Brata benar-benar mengambil keputusan, ia ha
Dua hari berlalu seperti neraka bagi Brata. Batas waktu penyitaan dari pihak bank semakin dekat dan tekanan itu terus menghimpitnya dari segala arah.Di saat yang sama, Ratna dengan cerdik memanfaatkan keputusasaan itu dengan mengurung diri dikamar tamu, menolak memberikan kata sandi maupun lokasi harta rahasia Haryo sebelum Brata membaliknamakan separuh saham kepadanya.Namun, yang paling menguras kewarasan Brata selama empat puluh delapan jam terakhir bukanlah ancaman bank atau tuntutan Ratna. Melainkan diamnya Mira.Gadis itu masih berada di rumah, tetapi sikapnya berubah seolah-olah ia telah menjadi orang lain. Tidak ada lagi secangkir kopi hitam yang diam-diam tersaji di meja kerjanya setiap malam, tidak ada lagi sapaan lembut ketika ia berpapasan, bahkan pijatan ringan di pundak saat ia kelelahan di kursi pun tidak pernah diberikan lagi.Mira tetap menjalankan semua pekerjaannya seperti biasa, menyapu, mengepel, mencuci, dan menyiapkan kebutuhan rumah, tetapi semuanya dilakukan







